
Di dalam kemah utama, dimana terlihat Li Kui dan Li Ba memimpin rapat bersama keempat Jendral nya, Jendral Lim Jendral Guan , Jendral Xing, dan Jendral Fu.
Mereka berdiri mengeliling sebuah peta yang di gelar di atas meja.
Li Ba menatap kearah peta dan berkata,
"Kelihatannya ada perubahan dari dugaan awal kita, kelihatannya musuh tidak akan dengan mudah, mundur mengosongkan benteng.."
"Menurut kalian bagaimana kita akan menyingkapi hal ini..?"
"Kira kira ada ide apa dari kalian berempat..?"
Jendral Lim memberi hormat dan berkata,
"Diam diam masuk kedalam kota Chen mencari informasi yang akurat."
"Baru tentukan langkah berikutnya.."
Jendral lain mengangguk setuju, akan pendapat dari Jendral Lim tersebut.
"Ada ide lainnya, selain ide ini..?"
"Jangan khawatir, ungkapkan saja, di sini kita mencari ide terbaik.."
ucap Li Ba sambil menyapukan pandangannya.
Saat bertatapan mata dengan Li Ba, Jendral Guan menggelengkan kepalanya, begitu pula dengan Jendral Xing.
Li Ba mengalihkan pandangan nya kearah Jendral Fu dan berkata,
"Bagaimana dengan mu ?"
Jendral berdehem sekali membersihkan tenggorokan nya sebelum berkata,
"Bukankah menurut informasi dari almarhum Jendral Yong, seluruh kota Chen di tanami peledak.."
"Mengapa kita tidak mulai dari sana saja, kita temukan ledakkan Booom..!"
"Selesai sudah, mereka semua akan terkubur di sana.."
ucap Jendral Fu serius.
"Lalu apa rencana mu ? sehingga kamu bisa tahu lokasi dan bagaimana kamu akan meledakkan nya ."
tanya Li Ba sambil menatap Jendral Fu dengan heran.
Jendral Fu terdiam sejenak dan berkata,
"Ide ini agak aneh belum tentu berhasil.."
Li Ba menatap dengan penuh penasaran dan berkata,
"Katakan saja,.. jangan ragu.."
Jendral Fu pun akhirnya berkata dengan suara pelan setengah berbisik.
Sehingga semua yang hadir harus mendekatinya untuk mendengarkan rencana nya itu.
Tidak terdengar jelas apa yang di katakan nya, tapi semua yang hadir terlihat mengangguk angguk setuju.
Hingga akhirnya Jendral Fu berhenti menerangkan, Li Ba berkata dengan sangsi.
"Apa bisa ide itu..?"
Jendral Fu mengangkat kedua tangannya dan bahunya.
Dia terlihat pasrah, percaya tidak, mau lakukan atau tidak kini sepenuhnya ada di pilihan Li Ba dan Li Kui.
Karena saat ini, posisi mereka berdua lah yang tertinggi dalam pasukan tersebut.
Li Ba menoleh kearah Li Kui, Li Kui menghela nafas panjang dan berkata,
"Layak di coba, semestinya bisa dan cukup masuk akal.."
"Tapi semua kembali lagi ke kehendak Thian.."
"Bila dia ingin membantu kita, tidak ada yang tidak mungkin.."
ucap Li Kui mengemukakan pendapat nya.
Li Ba menatap kearah keempat jendral nya, kemudian berhenti pada Jendral Fu dan berkata,
"Baiklah kita lakukan saja..seperti ide mu itu.."
"Siap panglima.."
jawab keempat orang itu kompak.
"Kalian sekarang kembalilah untuk istirahat, besok pagi saat matahari terbit, kita akan mulai menjalankan rencana kita.."
ucap Li Kui mengakhiri rapat tersebut.
Keempat Jendral bawahan mereka memberi hormat, lalu meninggalkan tenda
Setelah keempat bawahan itu pergi, Li Ba berkata ayo kak kita makan minum dengan santai.
"Pengawal..!'
teriak Li Ba.
Seorang pengawal bergegas masuk, sambil berlutut memberi hormat dia berkata,
"Ada pesan panglima..?"
"Cepat siapkan makan minum buat kami.."
ucap Li Ba santai.
"Baik panglima.."
jawab pengawal itu cepat.
Setelah memberi hormat dia langsung permisi dari sana.
Tidak lama kemudian makanan sederhana pun tersaji diatas meja.
"Ayo adik Kui,..cepat makan,..cepat tidur..besok masih banyak kerjaan menanti kita."
Li Kui mengangguk, lalu dia ikut makan menemani Li Ba.
Li Kui tidak bisa seperti Li Ba yang memilki nafsu makan tinggi.
Li Kui hanya makan sekedarnya saja, berbeda dengan Li Kui, Li Ba justru terlihat makan seperti orang kalap, mirip orang yang tidak makan tiga hari.
Hampir semua makan diatas meja dialah yang menghabiskan nya.
Li Kui menunggu hingga Li Ba selesai makan baru berkata dengan hati hati.
"Kak setelah kota Chen, kita akan menempuh jalan masing masing sesuai pesan kakak pertama betul..?"
"Bagaimana menurut kakak kedua..?"
Li Ba menatap kearah Li Kui dan berkata,
"Tentu saja, Adik Kui.."
"Apapun perintah kakak, aku tidak akan pernah meragukannya..kamu tahu itu.."
"Tapi aku ragu kak, aku tidak tenang setelah kejadian tadi pagi.."
ucap Li Kui berterus terang.
Li Ba menatap Li Kui dan berkata,
"Apa kamu meragukan kemampuan ku..?"
Li Kui menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kalau itu aku tidak pernah ragu.."
"Lalu..?"
tanya Li Ba sambil menatap kearah Li Kui.
"Kakak kedua, kalau kemampuan aku tidak ragu, yang aku ragu adalah emosi kakak.."
"Aku takut kakak tidak bisa bersikap tenang sehingga terjatuh kedalam jebakan lawan, seperti pagi tadi itu.."
ucap Li Kui serius.
Li Ba sambil tertawa menepuk pundak Li Kui dan berkata,
"Aku tahu maksud baik mu, kamu jangan khawatir, aku akan selalu ingat pelajaran hari ini.."
"Aku juga akan selalu ingat nasehat mu, untuk bersikap tenang dan tidak emosi saat di Medan tempur.."
"Bagaimana ? apa begini kamu bisa lebih tenang..?"
Li Kui mengangguk dan berkata,
"Demi kelancaran aku sudah putuskan Jendral Lim dan Jendral Fu akan menemani kakak.."
"Aku harap kakak bisa dengarkan masukkan mereka berdua dengan baik.."
"Jangan ragukan mereka, bila ragu jangan gunakan mereka.."
ucap Li Kui mengingatkan.
Li Ba mengangguk dan berkata,
"Baiklah,..baiklah..kamu atur saja.."
"Aku sudah ngantuk,.. aku mau tidur,.. mau mimpi Sian er ku.."
"Kamu gak boleh ikutan.."
ucap Li Ba sambil tertawa.
__ADS_1
Li Kui pun ikut tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Begitulah sifat kakak keduanya, sangat berbeda dengan kakak pertama nya.
Bagaikan langit dan bumi, kakak keduanya sangat sederhana polos jujur dan mudah ketebak.
Baik sedang gembira maupun sedih atau marah.
Sebaliknya kakak pertamanya adalah karakter yang cerdas luar biasa, emosi dan jalan pikirannya jangan harap bisa di tebak.
Tapi pada intinya mereka berdua adalah saudara yang sangat baik dan setia kawan.
Makanya Li Kui sangat nyaman bersama mereka berdua.
"Kakak pertama meminta kami menempuh jalan terpisah, dia pasti punya maksud dan tujuannya.."
"Sudahlah jalankan saja.."
batin Li Kui sebelum dia berbaring dan memejamkan matanya.
Keesokan paginya, begitu matahari terbit, Li Ba dan Li Kui sudah memimpin pasukan harimau hitam mengepung pintu gerbang timur kota Chen.
"Wang Jian kura kura tua keluarlah..!!"
"Jangan tahu bersembunyi saja..!"
teriak Li Ba lantang di depan gerbang kota.
Tapi setelah di tunggu beberapa waktu, Wang Jian tidak juga muncul.
Li Ba kembali berteriak,
"Hei Wang Jian,..! apa kamu begitu pengecut, hingga sekedar menunjukkan wajah pun tidak berani..!?"
"Wang Jian ! kamu benar benar memalukan leluhur marga Wang..!"
"Mengapa kamu tidak ganti marga saja jadi marga Thai..!"
"Itu lebih cocok untuk karakter seperti mu..!"
Marga Thai bila di gabung dengan nama Jian akan menjadi Thai Jian.
Thai Jian adalah pembesar kebiri, alias punggawa raja yang sudah di potong anu nya.
Sehingga dia bebas berkeliaran di istana, tanpa perlu di khawatirkan untuk berselingkuh dengan para penghuni istana belakang, yang haus belai kasih pria.
Ucapan Li Ba ini sangat menghina, jarang ada orang yang bisa menahannya, bila mendengar hinaan seperti itu.
Tapi Wang Jian adalah siapa, dia adalah Jendral yang sangat berpengalaman.
Salah satu dari dua jendral besar kerajaan Qin yang sangat di percaya oleh Yin Zheng.yang jarang percaya pada siapapun.
Jendral lainnya selain Wang Jian adalah Meng Thian, Jendral besar penakluk barat, sebelum sempat di geser oleh Guo Yun posisinya.
Wang Jian sebenarnya ada muncul dan melihat dari atas tembok kota.
Tapi dia memakai seragam prajurit biasa, mengenakan helm, yang sedikit di tarik kebawah.
Sehingga wajahnya tidak terlihat dengan jelas.
Apalagi bila di lihat dari tempat Li Kui dan Li Ba berada.
Wang Jian yang cerdik memilih tidak menunjukkan diri bukan takut, tapi karena dia memang tidak mau meladeni.
Li Ba yang memilki kemampuan memanah jarak jauh yang amat sangat mengerikan.
Bila dia muncul lalu tewas ditangan Li Ba maka keseluruhan rencana pimpinan mereka, akan hancur berantakan.
Tujuannya adalah bertahan sebisa mungkin, biarkan musuh tidak curiga, saat mereka menang nanti .
Sehingga mereka akan masuk kedalam jebakan yang mereka siapkan untuk menjebak mereka.
Satu hal yang pihak Qin ataupun Wang Jian sadari adalah Jendral Yong sudah membocorkan rahasia jebakan mereka itu.
Li Ba melihat tantangan dan ejekan nya tidak membuahkan hasil.
Dia lalu memberi kode agar pasukan tameng dan pasukan panahnya maju, untuk melakukan serangan keatas tembok sana.
Sesaat kemudian pasukan harimau hitam yang berbaris rapi pun berderap maju, memasuki jarak tembak pasukan Qin yang berjaga di atas tembok.
Panah mulai berhamburan dari kedua belah pihak, memenuhi udara, sebelum mencapai sasarannya.
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! "
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! "
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! "
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! "
Kedua belah pihak mulai saling serang dengan sengit, perlahan-lahan korban mulai berjatuhan.
Li Ba dan Li Kui menyerahkan barisan pasukan di bawah sana kepada keempat jendral.
Sedangkan mereka berdua dengan hawa pelindung melindungi diri, dan meretur serangan yang menghampiri mereka.
Mereka melayang kearah bagian atas tembok kota.
Sebagian anak panah runtuh membentur perisai hawa sakti yang melindungi tubuh mereka.
Sebagian lagi mereka retur kembali.
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! "
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! "
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! "
"Arggghh..! Arggghh..! Arggghh..!"
"Arggghh..! Arggghh..! Arggghh..!"
Suara jerit kesakitan pasukan Qin yang terkena anak panah returan mereka berdua.
Memenuhi sebagian tembok kota, yang sedang berusaha bertahan di sana.
Saat mereka berdua hampir mendarat di bibir tembok kota.
Tombak tombak panjang di kerahkan untuk menyambut dan mencegah mereka mendarat.
Tapi dengan pukulan petir nya, Li Ba menghancurkan pengepung dan tombak panjang yang diarahkan kedirinya agar tidak bisa mendarat.
"Brakkkk..!"
Ujung mata tombak itu, pada meledak, patah, hancur berantakan."
Pukulan sepasang tangan yang mengandung hawa sakti udara. kosong.
Membuat semua mata tombak yang patah berhamburan, membalik kearah para pasukan tombak, yang ingin menghalangi Li Ba mendarat di atas tembok kota.
"Arggghh..! Arggghh..! Arggghh..!"
"Arggghh..! Arggghh..! Arggghh..!"
"Arggghh..! Arggghh..! Arggghh..!"
Suara jerit ngeri penuh kesakitan memenuhi suasana di atas sana.
Sebelum tubuh mereka yang terjengkang kebelakang, dengan mata tombak masih menancap di tubuh mereka.
"Blukkkk..!"
Tubuh pasukan tombak Qin terlihat tergeletak malang melintang tidak mampu melanjutkan pertempuran lagi.
Ada sebagian yang langsung tewas, sebagian lagi merintih rintih di sana, tidak mampu berdiri.
Li Ba sendirinya dengan mudah mendarat diatas tembok kota.
Begitu mendarat pukulan petir pun meledak kemana mana menghanguskan pasukan Qin yang terus menerus datang mengepung nya.
Begitu pula dengan kondisi di tempat Li Kui, dia juga mendapatkan sambutan yang hampir sama.
Tapi nasib para pengepung nya juga tidak berbeda jauh, mereka pada tewas oleh returan senjata mereka sendiri.
Setelah Li Kui berhasil mendarat, pembantai sadis pun terjadi.
Kemanapun sepasang tangannya bergerak pasti ada nyawa yang melayang dengan kepala berlubang terkena cakar iblis neraka.
Kalau Li Ba bergerak tenang dengan pukulan meledak ledak.
Sebaliknya Li Kui bergerak seperti bayangan hantu, yang bisa muncul dan menghilang di mana mana, menebar maut di antara pasukan Qin.
Kedua orang itu hadir di atas benteng kota Chen bagaikan momok mengerikan.
Kemanapun mereka bergerak pasti adalah puluhan nyawa melayang.
Pasukan Qin yang tidak putus hanya bisa mengepung tidak terlalu berani mendekat.
Mereka melakukan pengepungan kolektif dengan tameng dan tombak panjang.
Tapi meski begitu mereka tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
Terhadap Li Ba dia kebal karena terlindung tenaga pelindung Genta emas.
Terhadap Li Kui lebih lebih seluruh tubuhnya kebal senjata, senjata apapun tidak bisa menembus atau bahkan sekedar menggores tubuhnya.
Li Kui mewarisi kekebalan Cui Ming Koai Jen kakek mertuanya.
Bahkan pukulan dahsyat tenaga sakti sekali pun akan sulit merobohkan nya.
Sedangkan pada bagian serangan, pukulan Li Ba yang mengandung listrik bisa menyambar orang di balik tameng melewati media tameng logam di tangan mereka
Bahkan bisa merambat ke personil di sekitarnya ikut terkena sambaran listriknya.
Yang terkena akan tewas gosong tanpa ampun.
Sedangkan Li Kui juga serangannya tidak kalah mengerikan, cakar nya bisa dengan mudah menembus tameng bahkan bisa memanjang memendek sesuka hati, dan bisa bergerak kearah arah yang mustahil.
__ADS_1
Seolah olah dia tidak memiliki sambungan persendian.
Tapi bagaimana pun tenaga manusia ada batasnya, setelah mereka masing masing membantai 50.000 pasukan Qin.
Tapi pasukan Qin masih tidak berhenti masih terus berdatangan mengepung mereka.
Melihat situasi pasukan mereka di bawah sana juga tidak begitu baik.
Dalam satu bentakan keras, Li Ba dan Li Kui melepaskan serangan dahsyat mereka.
Membuka kepungan, kemudian tubuh mereka berdua melayang turun dari atas tembok benteng kota Chen.
Li Ba begitu mendarat di atas punggung kuda tunggangan nya.
Dia langsung berteriak,
"Pasukan mundur...!!"
Mendengar perintah Li Ba, keempat Jendral Lim Guan Xing Fu.
Segera menurunkan perintah lewat tiupan terompet.
Pasukan Harimau hitam mundur teratur dari tempat tersebut.
Pasukan Harimau Hitam mundur teratur, tanpa menghiraukan sorakan kemenangan pasukan Qin yang merayakan kemenangan mereka, untuk yang kedua kalinya.
Pasukan harimau hitam di bawah pimpinan Li Ba terus mundur dan menghilang dari sana.
Wang Jian yang menunggu selama 3 hari, tetap tidak menemukan pergerakan serangan balasan dari pasukan harimau hitam.
Dia segera mengirim pasukan mata mata untuk mencari informasi keberadaan pasukan harimau hitam.
"Lapor Jendral, pasukan harimau hitam dan seluruh kemahnya sudah tidak ada lagi di balik bukit sana. "
ucap kepala mata mata yang di utus oleh Wang Jian untuk mencari informasi.
Wang Jian terdiam mendengar laporan tersebut.
Semudah ini mereka mundur, menyerah ini sedikit agak tidak mungkin.
batin Wang Jian.
Dia segera menoleh kearah kepala mata mata nya dan berkata,
"Pasukan sebesar itu tidak mungkin menghilang begitu saja."
"Selidiki kembali cepat, cari tahu juga kemana mereka pergi ? apa yang terjadi..?"
ucap Wang Jian cepat.
"Baik Jendral, permisi.."
ucap kepala mata mata itu memberi hormat lalu mengundurkan diri dari hadapan Wang Jian.
Wang Jian berdiri termenung di atas menara benteng, menatap kearah pasukan mata matanya, yang sedang bergerak menyusul kearah bukit.
"Adik Yun maaf kita berada di posisi yang berlawanan, kakak hanya menjalankan tugas.."
"Kakak juga tidak menginginkan nya, ini adalah hal yang paling tidak kakak inginkan.."
gumam Wang Jian menyesal.
Tidak terasa seminggu pun berlalu, keadaan kota Chen mulai kembali berjalan normal.
Rakyat yang tadinya mengungsi kini mulai kembali lagi ke kota Chen.
Situasi terlihat aman terkendali,.diatas menara benteng kota, terlihat Wang Jian, sedang berdiri mendengarkan laporan dari kepala mata mata nya yang baru pulang mencari informasi.
"Lapor Jendral,.. Pasukan harimau hitam telah benar benar pergi meninggalkan kota Chen."
"Aku menyaksikan sendiri mereka terbagi dalam dua kelompok, yang satu sepertinya kembali ke kota Cai, sedangkan kelompok lainnya bergerak menuju kota Dan Yang."
Ucap kepala Mata mata menyampaikan informasi dengan sikap penuh hormat.
"Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa mereka berpencar..?"
tanya Wang Jian heran.
"Lapor Jendral menutut informasi dari pasukan mata mata ku, yang sempat berbaur dengan pasukan harimau hitam.."
"Telah terjadi pertengkaran dan perkelahian hebat antara kedua Panglima mereka, akibat perselisihan pendapat.."
ucap mata mata itu penuh hormat.
"Apa berita mu bisa di percaya.?"
tanya Wang Jian kaget dan agak sulit percaya.
Bisa di pastikan hampir 100% benar Jenderal, karena dari level terbawah sampai teratas.."
"Mereka semua menyaksikan sendiri perkelahian dahsyat itu.."
Wang Jian meninju telapak tangan nya sendiri, dengan wajah gembira.
Dia berkata,
"Kelihatannya langit memang sedang bekerja membantu kita.."
"Bagus sungguh bagus, Komandan Cai Mao kerja mu bagus..sekali ini.."
"Aku akan pertimbangkan kenaikan pangkat mu setelah ini.."
"Kembalilah ke kesatuan mu, pertahankan prestasi mu.."
ucap Wang Jian terlihat gembira.
Komandan kepala mata mata juga tersenyum gembira,
Dia segera memberi hormat dan berkata,
"Terimakasih banyak Jendral, Cai Mao pamit permisi dulu.."
Setelah memberi hormat Cai Mao dengan perasaan gembira buru buru meninggalkan menara diatas benteng kota.
Tak lama kemudian Wang Jian juga ikut meninggalkan menara benteng kota.
3 hari kemudian di 4 penjuru pintu gerbang kota Chen, terlihat Jendral Lim Guan Xing Fu, mereka masing masing terlihat menyamar menjadi seorang pemburu.
Di mana mereka masing masing terlihat membawa seorang bawahan mereka, yang juga ikut menyamar menjadi pemburu, sambil menenteng seekor anjing yang lehernya terikat tali.
Di mana tali kendalinya di pegang erat oleh bawahan Keempat jendral, yang sedang menyamar itu.
Mereka masing masing kelompok terlihat mengikuti antrian, berbaur dengan penduduk, pedagang, petani, pemburu, dan berbagai bidang profesi lainnya.
Mereka mengikuti antrian, untuk masuk kedalam kota Chen.
Karena keadaan sudah tenang dan normal, pemeriksaan yang di lakukan pasukan penjaga kota, terhadap orang orang, yang hendak memasuki kota Chen menjadi lebih longgar.
Tidak lagi seketat sebelum sebelum nya.
Hal ini memudahkan Jendral Lim Guan Xing Fu dan ajudan mereka, dengan mudah masuk kedalam kota Chen berbaur dengan masyarakat.
Setelah memasuki kota Chen secara berpencar keempat Jendral itu dan ajudan mereka bergerak mengikuti penciuman anjing mereka.
Anjing anjing berburu itu, sebelumnya sudah di latih, untuk menemukan bau bubuk bahan peledak.
Sehingga begitu memasuki kota Chen, mereka langsung bergerak cepat menuju titik titik, di mana bubuk bahan peledak di kota itu di tanam dan tersimpan rapi.
Dengan mengikuti arah yang di tunjukkan oleh anjing mereka, mereka berhasil menemukan satu persatu, tempat bahan peledak itu di simpan, di seluruh penjuru kota tersebut.
Aksi ini supaya tidak menyolok, hanya ajudan mereka yang menuntun anjing yang bergerak.
Sedangkan ke empat Jendral itu hanya berjalan jalan santai di dalam kota Chen, mereka berpura pura melihat lihat dan berbelanja keperluan pemburu.
Di setiap titik bahan peledak di simpan, selalu terlihat ada pasukan penjaga, yang menyamar menjadi penduduk biasa, berjaga jaga di sekitar lokasi.
Tapi karena aksi ajudan keempat Jendral itu dan anjing mereka hanya sekedar lewat tidak berhenti lama di sana.
Hal ini tidak menimbulkan kecurigaan pasukan penjaga itu.
Saat mereka lengah, ajudan keempat Jendral itu, sambil menuntun anjing mereka.
Mereka melemparkan sebungkus barang terselip di dekat tumpukan bubuk bahan peledak berada.
Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut, pergi menuju lokasi lain dan melakukan aksi yang sama.
Menjelang sore setelah tugas mereka selesai, rombongan yang terdiri dari dua orang dan seekor anjing berburu.
Mereka bergerak santai dari 4 arah pintu gerbang, meninggalkan kota Chen.
Selepas kepergian mereka, keesokan harinya, di kediaman Jendral Wang dia kembali di temui kepala regu mata mata nya.
"Cai Mao ada berita penting apa yang kamu bawa,? sehingga pagi pagi sudah memohon menghadap..?"
tanya Wang Jian sambil menyiram tanaman pohon kerdil di hadapan nya.
"Lapor Jendral,.. keadaan kembali gawat.."
Mendengar laporan anak buahnya, Wang Jian pun menghentikan sementara kegiatannya dan berkata,
"Apa yang terjadi Cai Mao..?"
"Begini Jendral, aku baru saja mendapat kabar pasukan harimau hitam sedang bergerak menuju kemari.."
Gayung di tangan Wang Jian sedikit gemetar, dengan suara setenang mungkin Wang Jian berkata,
"Di mana posisi mereka sekarang ? kelompok yang mana yang kembali kemari..?"
"Kedua duanya kembali Jendral, kemungkinan besok malam mereka akan tiba kemari.."
"Paling lambat lusa pagi mereka pasti.."
Belum selesai laporan Cai Mao, Wang Jian sudah bergerak terburu buru meninggalkan tempat tersebut dan berkata,
"Cai Mao tolong pantau terus dan laporkan pada ku..!"
Wang Jian menyelesaikan pesan nya tanpa menoleh, dengan langkah buru buru dia langsung meninggalkan taman bersantai nya.
__ADS_1
Saat tiba di ruang tengah, Wang Jian langsung berteriak,
"Pengawal..!!"