
Bila memungkin mereka akan mencoba menguasai tempat penyimpanan bahan peledak itu.
Guo Yun dari jauh mengamati Jendral Nan berhasil memasuki kota Dan Yang.
Dia pun tersenyum lega, lalu bergerak untuk kembali ke arah pasukannya, yang sedang berkemah di dalam hutan Cemara alami diatas puncak bukit tersebut.
Tapi baru berjalan beberapa langkah, Guo Yun terpaksa menghentikan langkahnya.
Saat melihat keatas, dia melihat di udara, ada seorang pria paruh baya, yang berpakaian baju pendeta Tao.
Dia datang menunggangi sebilah pedang, bergerak cepat menghadang di depan jalannya.
Melihat kemampuan orang itu, Guo Yun menebak dia lagi lagi akan menghadapi seorang senior dari ranah dewa abadi.
Mampu bergerak menunggangi pedang, itu bukan hal sepele.
Hanya manusia setengah dewa, yang memiliki kesaktian sulit di ukur, yang akan memiliki kemampuan seperti itu.
Setelah tiba di hadapan Guo Yun, orang itu baru melayang ringan turun dari atas badan pedangnya.
Setelah pria itu melayang turun, dan hinggap di atas tanah dengan sangat ringan.
Pedang tunggangan nya, yang cukup besar, langsung mengecil dan kembali kebentuk normal, seperti pedang pada umumnya.
Pedang itu oleh pemiliknya langsung di masukkan kedalam gelang penyimpanan nya.
Guo Yun tidak heran melihat gerakan seperti sulap, yang bisa mengeluarkan dan menyimpan benda benda miliknya ataupun sekitarnya menghilang begitu saja.
Karena dia sendiri juga punya alat seperti itu.
Hanya beda bentuk saja, pria paruh baya itu, melingkar dipergelangan tangan.
Sedangkan milik Guo Yun terlihat melingkar di jari tangan nya.
"Anak muda maaf, apakah aku sedang berhadapan dengan saudara Guo Yun..?"
Guo Yun menghela nafas panjang, dia sadar, sebentar lagi masalah baru akan muncul.
Tapi dia tidak punya pilihan, meski enggan, Guo Yun tetap mengangguk dan membalas penghormatan pria itu dan berkata,
"Benar sekali, aku adalah Guo Yun.."
"Kalau boleh tahu senior ini siapa,? apa maksud tujuan senior mencari ku.?"
tanya Guo Yun bersikap setenang mungkin.
Pria itu sambil tersenyum ramah berkata,
"Aku bernama Ling Thian, aku dari partai Ling Yun Pai, di utus oleh guru dan tetua perguruan ku di gunung Pai Yun San."
"Khusus datang mengundang mu ikut dengan ku ke Ling Yun Pai, untuk menjelaskan kenapa Senior Cia Hong, Jian Sheng, bisa tewas terbunuh oleh mu.."
ucap Ling Thian ramah tapi tegas.
Guo Yun menatap kearah Ling Thian dengan sikap waspada dan berkata,
"Tolong sampaikan permintaan maaf ku, ke guru dan tetua paman, untuk sementara waktu aku masih banyak kesibukan.."
"Aku belum bisa memenuhi undangan mereka.."
"Mengenai permasalahan ku dengan kakek Cia, itu adalah masalah pribadi.."
__ADS_1
"Kami bertarung lewat duel adil, yang menang bertahan, yang kalah tewas, itu adalah resiko yang cukup adil.."
"Tolong bantu sampaikan kepada mereka, itulah penjelasan ku.."
ucap Guo Yun tenang.
Sebagai respon Ling Thian terlihat menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf aku tidak bisa memenuhi permintaan anda, anak muda.."
"Tugas ku jelas, mati ataupun hidup aku harus membawa mu menghadap mereka.."
"Hidup harus ketemu orang nya, matipun harus lihat jasadnya.."
ucap Ling Thian tegas.
Ling Thian ini bukan orang sembarangan, 100 tahun yang lalu.
Dia sudah menggertarkan dunia persilatan dengan julukan Pedang Nomor Satu Dunia.
Dia bisa terlihat masih seperti pria awet muda, ini semua berkat tenaga saktinya, yang menjaga dia tetap terlihat awet muda.
Di Ling Yun Pai sebuah partai yang sudah menjadi legenda dan sangat misterius.
Posisinya di sana hanya di bawah Guru dan para tetua nya saja.
Guo Yun tersenyum tawar dan berkata,
"Kalau begitu, kita juga hanya bisa selesaikan lewat adu kemampuan saja.."
"Menang jadi penguasa, kalah jadi tahanan.."
ucap Guo Yun sudah bersiap siap dengan kuda kuda Je Ye Sen Cang.
Seluruh tubuhnya sudah di penuhi hawa Thian Ti Sen Kung.
Ling Thian mengulurkan tangannya kedepan, pedang yang tadi di tungganginya.
Tiba-tiba muncul kedepan, menyatu dalam genggaman tangannya.
Pedang di dalam genggaman tangannya adalah sebuah pedang pusaka, yang terus menerus memancarkan hawa dingin, cahaya biru juga memancar memenuhi sekitarnya.
Melihat lawan sudah mengeluarkan pedang, yang kelihatannya bukan pedang sembarangan.
Tidak mau kecolongan oleh pedang Mestika di tangan Ling Thian.
Guo Yun pun terpaksa mengeluarkan pedang darah ditangan kanan nya.
"Lihat pedang..!"
ucap Ling Thian.
Pedang nya di gerakkan kedepan, berubah menjadi puluhan titik cahaya biru.
Menyerang bagian depan tubuh Guo Yun, dengan kecepatan sulit diikuti oleh pandangan mata.
Thian Sia Ti Ie Cien ( Pedang Nomor Satu Dunia ) bukan dia peroleh dengan di tiup.
Jadi baru serangan pembuka pun, sudah terlihat sangat berbahaya.
Guo Yun tidak berani berayal, dia langsung memutar pedang darahnya, berubah menjadi segulung sinar merah.
__ADS_1
Menangkis serangan yang datang , dengan ilmu pedang Pa Feng Cien Fa ( Ilmu pedang 8 arah mata angin ), salah satu ilmu yang di warisnya dari ayah angkatnya Fan Li.
Kemudian di sempurnakan oleh ingatan kehidupan lampau nya, sebagai Panglima Wen Zhong.
Pemilik asli ilmu pedang ini, kini di dukung oleh Thian Ti Sen Kung dan Wu Ying Ru Tian.
Ilmu pedang ini membuatnya seperti seekor harimau, yang tumbuh sayap.
Sangat ganas juga kuat, tidak bisa dianggap remeh, seperti saat perjumpaan pertama nya dengan Ching Ke.
Kini Pa Feng Cien Fa, milik Guo Yun telah bertranformasi.
"Trangggg,...!"
"Trangggg,...!"
"Trangggg,...!"
"Trangggg,...!"
"Trangggg,...!"
"Trangggg,...!"
"Trangggg,...!"
"Trangggg,...!"
Dalam satu pergerakan cepat, delapan kali benturan pedang secara keras terjadi di udara.
Hingga bunga api berpijar kemana mana.
Guo Yun dan Ling Thian yang saling merapat kini terpisah.
Baik Guo Yun maupun Ling Thian sama sama merasa tangan mereka, yang memegang pedang kesemutan, juga terasa sedikit linu dan sedikit mati rasa.
Tapi sesaat kemudian, setelah mereka masing-masing mengalirkan hawa murni ke lengan mereka.
Keadaan lengan mereka pun pulih, hampir secara serentak mereka berdua kembali bergerak saling serang.
Bayangan tubuh mereka muncul dan menghilang kesana kemari, saling serang dan saling menangkis serangan lawan.
Dalam satu gebrakan, puluhan jurus telah mereka keluarkan.
Tapi keadaan mereka masih terlihat seimbang.
Hanya suara dentingan pedang memekakkan telinga, dan bunga api berpijar di mana mana, yang terus mengikuti arah pergerakan mereka, yang terlihat sebentar muncul kemudian menghilang.
Berpindah pindah tempat, dengan cahaya biru merah berseliweran di udara.
Setelah puluhan jurus berlalu, masih belum terlihat hasil.
Masing masing mulai bersiap mengeluarkan jurus andalan mereka masing-masing.
Di sekitar tubuh Guo Yun terlihat udara yang berputar putar halus mengelilingi tubuhnya.
Sebelum akhirnya dengan teriakan keras,
"Haiiittt..!"
Tubuh Guo Yun memecah diri menjadi 8 bayangan, masing masing bergerak dengan satu jurus pedang mematikan, terarah ke 8 penjuru tubuh Ling Thian.
__ADS_1