
Sepasang bola matahari dan bulan meledak dahsyat di udara.
Saat berbenturan dengan telapak tangan Hung Gei.
Tubuh Hung Gei terpental kebawah.
Saat tubuhnya sedang melayang ke bawah, tombak yang tadi Hung Gei tancapkan di atas tanah.
Sebelum dirinya terbang keatas menyambut datangnya serangan bola matahari dan bulan.
Tiba-tiba melesat keatas, mengikuti kibasan tangan Hung Gei.
Tombak itu melesat dengan cepat, membelah udara.
"Wunggg...!"
Saking kencangnya, tombak tersebut mengeluarkan bunyi berdengung.
Guo Yun melihat serangan balasan dari Hung Gei tiba.
Tiba-tiba Guo Yun menghilang dari posisinya dengan Wu Ying Ru Tian.
Sehingga tombak hanya melewati, area kosong.
Guo Yun tahu tahu dengan pedang biru dan merah di tangan, bergerak memberikan serangan kesana kemari memutari seluruh tubuh Hung Gei.
Hung Gei yang pergerakan nya tertahan oleh 4 tebasan sapu jagad yang mengurung nya.
Setelah dirinya terjatuh menabrak tanah.
Dia tidak leluasa bergerak, di tambah dengan pergerakan sepasang pedang yang begitu cepat.
Setelah Guo Yun melewatinya, tubuh Hung Gei pun perlahan lahan tumbang keatas tanah.
Dengan ledakan di sekujur titik nadi utamanya.
Darah muncrat dari titik titik lukanya.
Hung Gei jatuh terjerambab keatas tanah diam tidak bergerak lagi.
Guo Yun di ujung yang lain, terlihat langsung menyimpan sepasang pedangnya, kedalam cincin penyimpanan nya.
Setelah itu tanpa menoleh Guo Yun meninggalkan tempat itu, di mana terlihat tombak putih dengan ronce emas, jatuh dengan bagian ujung Hua Ci menancap di atas tanah, tidak jauh dari mayat Hung Gei.
Dengan bagian ekor tongkat menghadap langit, terlihat sedikit bergoyang-goyang.
Guo Yun sendiri melesat dengan santai, mempercepat pergerakan nya menuju kota Dan Yang.
Kota yang kini sudah jadi puing puing, setelah terakhir kalinya mengalami kebakaran hebat di sana.
Saat melewati kota tersebut menuju tepi sungai, Guo Yun hanya menghela nafas panjang, menyesali kota yang tadinya indah karena perang, kini hanya menjadi puing puing reruntuhan kota mati yang tak terurus.
Tidak perlu berapa biaya, dan berapa waktu yang akan di habiskan, untuk mengembalikan kota tersebut, kembali seperti semula.
Sambil berlari dan termenung, Guo Yun akhirnya tiba juga di tepi sungai.
Di mana markas pasukan nya di bangun di sana.
Terlihat ribuan kapal sudah siap menanti untuk di berangkatkan.
Pasukan Harimau Hitam terlihat sedang sibuk memindahkan ransum dan amunisi kedalam kapal kapal yang berjajar rapi di tepi sungai.
Begitu melihat kehadiran Guo Yun, dua petugas penjaga, langsung berteriak keras sambil berlutut memberi hormat.
"Yang Mulia Raja Negara Yue tiba..!"
"Semoga Yang Mulia Panjang Umur..!"
"Kalian berdua berdirilah,.tak perlu peradatan.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum lembut.
Tak lama kemudian berturut turut Jendral Wen dan Jendral Nan hadir di sana.
Memberi hormat menyambut kedatangan Guo Yun.
Melihat kedatangan kedua jendral kepercayaannya, Guo Yun sambil tersenyum berkata,
"Bagaimana persiapan kita di sini..?"
",Ada perkembangan informasi apa dari Xian Yang..?"
tanya Guo Yun sambil berjalan mengikuti Jendral Wen dan Jendral Nan menuju markas.
"Yang Mulia lihat siapa yang datang bergabung dengan kita.."
ucap Jendral Wen sambil menunjuk kearah depan.
Guo Yun melihat dua orang berpakaian perang Jendral Qin, berjalan dengan wajah tersenyum lebar menghampirinya.
Lalu mereka berdua langsung berlutut di hadapan Guo Yun.
"Terimalah salam hormat kami Yang Mulia ."
ucap kedua jendral tersebut.
Guo Yun buru buru membangunkan mereka berdua dan berkata,
"Syukurlah kalian berdua masih selamat, di mana jendral Kho ? apa dia tidak bersama kalian..?"
Jendral Liu dan Jendral Sun tersenyum sedih dan berkata,.
"Dalam perjalanan menyeberangi sungai, identitas kami bocor di pelabuhan.."
"Demi agar tidak semua tewas di sana, kakak Kho dia mengorbankan diri, dia meledakkan diri nya, kearah kepungan pasukan Qin."
"Sengaja menimbulkan keributan, agar kami berdua bisa lolos.."
ucap Jendral Liu dengan kepala tertunduk sedih.
Guo Yun mengangguk prihatin dan berkata,
"Sudahlah tidak perlu di sedihkan, dia sudah berbahagia di sana.."
'Setidaknya tidak perlu melihat perang lagi.."
"Mari kita yang teruskan perjuangannya.."
ucap Guo Yun sambil menepuk lembut pundak Jendral Liu dan Sun.
"Ohh iya, bagaimana keadaan keluarga Jendral Kho dan kalian berdua "
tanya Guo Yun sambil menatap Jendral Liu dan Jendral Sun.
"Berkat informasi cepat dari yang mulia, dan sambutan penjagaan dari permaisuri Gong dan selir Si Si.."
"Mereka semua sudah selamat, sekarang sedang menuju kerajaan Yue."
ucap Jendral Liu menjelaskan.
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Baguslah, setidaknya aku tidak terlalu malu dengan Jendral Kho, bila suatu hari bertemu diatas sana.."
Kedua Jendral itu mengangguk kecil menanggapi ucapan prihatin Guo Yun.
Guo Yun kini menoleh kearah Jendral Wen dan Nan, menunggu penjelasan mereka yang terpotong tadi.
Jendral Wen mengerti, dia segera memberi penjelasan.
"Persiapan kita sudah 100%, semua sudah siap di berangkatkan.."
"Cuma arah angin hari ini kurang bagus, aku rasa besok pagi pagi berangkat lebih pas.."
ucap Jendral Wen menjelaskan.
Selesai Jendral Wen menjelaskan situasi persiapan mereka.
Jendral Nan segera menyambungnya,
"Mengenai situasi informasi kota Xian Yang, kurasa Jendral Liu dan Sun yang lebih paham.."
Jendral Liu dan Sun segera menceritakan gambaran situasi di kota Xian Yang.
Situasi di ibukota Xian Yang sendiri terjadi perubahan besar besaran.
Keadaan sedang berubah dan bergolak hebat.
Semua berawal dari Lu Bu Wei yang berusaha mengurangi intensitas pertemuan rahasia nya dengan Ibu Suri Zhao Ji.
Untuk menghindari kecurigaan Yin Zheng, yang mulai mengendus aroma perselingkuhan mereka berdua.
Dia memilih beralasan sibuk dan sering berdinas luar, berperang ke berbagai kerajaan, dengan cara ini dia mencoba menjauhi Zhao Ji selingkuhannya yang hiper itu.
Tapi hal ini justru menimbulkan kemarahan Zhao Ji, di istana dia mulai berulah.
Sebagai wali dan ibu kandung dari Ying Zheng, dia mulai sering turun tangan mengacaukan kebijakan yang di buat oleh Lu Bu Wei.
Dia mulai banyak mencopot orang orang kepercayaan Lu Bu Wei dari jabatannya, menggantinya dengan orang orang yang pro dengan kebijakannya.
Beberapa kali ransum militer dan peralatan perang pasukan Lu Bu Wei, di kurangi jatahnya.
Juga di tunda tunda keberangkatannya, sehingga berulang kali.
__ADS_1
Li Bu Wei yang sedang berada di garis depan menghadapi peperangan berat melawan Sun Pin dari Qi.
Hampir saja mengalami kekalahan telak, karena kehabisan ransum makanan pasukan nya, juga kekurangan persenjataan.
Sehingga untuk bertahan, Lu Bu Wei terpaksa merogoh kocek tebalnya sendiri.
Sebagai seorang pedagang, tentu pekerjaan rugi ini, dia tidak suka.
Meski hartanya berlimpah tidak akan habis.
Tapi dia tetap merasa tidak senang, untuk itu dia terpaksa pulang ke ibukota Xian Yang.
Melakukan pencarian pria pria berbakat, yang bisa menyenangkan Ibu Suri Zhao Ji.
Setelah melakukan seleksi berulang ulang, akhirnya dia menemukan seorang artis Opera bernama Lao Ai.
Lao Ai tidaklah setampan dirinya, tapi Lao Ai punya kelebihan lain yang membuat Lu Bu Wei tertarik untuk menjatuhkan pilihan padanya.
Kelebihan Lao Ai ini, adalah dia memilki perkakas besar panjang dan kuat, yang kabar beredarnya.
Saking besar dan kuatnya, perkakas Lao Ai di kabarkan mampu mengangkat Roda pedati.
Setelah Lu Bu Wei menemuinya, dan melihat pertunjukan kemampuan Lao Ai.
Lu Bu Wei akhirnya memutuskan memasukkan Lao Ai kedalam istana.
Dia di masukkan kedalam istana, dengan data palsu sebagai seorang Kasim.
Dengan sogokan kesana kemari kepada para kepala Kasim istana.
Akhirnya Lao Ai berhasil di selundupkan kedalam istana, sebagai Kasim yang khusus ditempatkan untuk melayani di sisi permaisuri Zhao Ji.
Akhirnya skenario Lu Bu Wei berhasil, Ibu Suri hiper itu tidak lagi menganggu urusan nya lagi.
Dia terlalu larut dengan mainan barunya yang luar biasa memuaskan itu.
Lao Ai sang Kasim palsu itu, mulai mendapatkan tempat di hati ibusuri Zhao Ji.
Bahkan secara diam diam Lao Ai karirnya mulai naik dari kasim menjadi pengawal.pribadi.
Kemudian naik menjadi kepala pengawal istana, komandan pengawal istana, hingga Jendral senior yang membawahi seluruh keamanan kota raja.
Terakhir dia malah naik menjadi bangsawan, setelah Ibu Suri Zhao Ji di hamili olehnya.
Kejadian menghebohkan ini, mulai memunculkan bibit bibit permusuhan dan ketidakpuasan Ying Zheng.
Sebagai pewaris tunggal kerajaan Qin yang sah.
Dia mulai secara diam diam menentang kebijakan ibu kandungnya sendiri.
Pertempuran adu politik dan strategi, mencari pendukung untuk saling menjatuhkan, mulai terlihat secara tidak nyata.
Puncak nya adalah setelah Ibu Suri Zhao Ji melahirkan sepasang anak kembar hasil hubungannya dengan Lao Ai.
Pertengkaran saling sikut secara diam diam, berubah menjadi perang terbuka.
Ying Zheng yang takut posisinya akan di lengser di gantikan oleh kedua adiknya yang seibu beda ayah.
Akhirnya berdiri keluar melakukan perlawanan dan ingin melakukan penertiban.
Tapi kurang beruntung bagi Ying Zheng, seluruh kekuasaan militer istana kini jatuh ketangan Lao Ai dan Ibu Suri Zhao Ji.
Sedangkan Lu Bu Wei, yang ikut berdosa menjadi penyebab munculnya masalah ini.
Dia memilih berpangku tangan, karena bila Ying Zheng menang.
Dirinya tetap tidak akan lolos dari pemberontakan penggulingan Raja Ying Zheng ini.
Selain itu pertimbangan lain Lu Bu Wei, dia akan lebih mudah mengontrol kedua pangeran kecil yang masih bayi.
Permaisuri yang tidak terlalu cerdik dan banyak sisi gelapnya, juga Lao Ai yang hanya bermodal perkakas tidak punya otak.
Ketimbang nanti harus berurusan dengan darah dagingnya sendiri, di mana otak serigala kecil itu, tidak kalah dengan nya.
Bahkan serigala kecil.itu memiliki satu kelebihan tega tegas dan sadis, demi mencapai tujuan nya.
Demi keselamatan pribadinya, dia akhirnya hanya bisa memilih membiarkan nya saja.
Membiarkan situasi terus berlanjut, menerima tawaran kerjasama dari Zhao Ji.
Agar mendukungnya, melengserkan posisi Ying Zheng sebagai raja, yang memilki potensi besar mengancam dirinya dan kelanggengan kekuasaannya.
Tanpa mendapatkan dukungan dari Lu Bu Wei.
Akhirnya Ying Zheng kalah, dia berhasil di kudeta oleh Lao Ai.
Hanya berkat dukungan beberapa orang yang setia dengan raja ZhuangXiang.
Beberapa pejabat penting, yang mendukung Ying Zheng melarikan diri, mereka juga ikut melarikan diri.
Diantaranya adalah Kasim Zhao Gao, Kepala para menteri kanan Fan Sui, kepala para menteri kiri Li Si, kepala tabib istana Xu Fu, Jendral Meng Thian, Meng Yu kakak beradik, Jendral Wang Jian, dan kepala komandan penjaga pintu gerbang Utara Zhang Han.
Beberapa orang penting inilah yang ikut dengan Raja Ying Zheng menghilang tanpa jejak.
Setelah istana kerajaan Qin, berhasil mereka kudeta, dan di ambil alih kekuasaannya oleh Ibu Suri Zhao Ji dan Lao Ai gundik kesayangan Ibu Suri Zhao Ji.
Kini Xian Yang secara keseluruhan berada di bawah kendali Ibu Suri Zhao Ji, bersama komplotan nya
Sedangkan pasukan besar kerajaan Qin kini berada di tangan Lu Bu Wei yang berada di perbatasan negara Qi.
Di mana dia memilih bersikap netral dalam kasus ini, memilih fokus menahlukkan Qi di perbatasan barat.
Guo Yun agak tercengang mendengar perkembangan situasi yang terjadi.
Tapi setelah berpikir beberapa saat, dia akhirnya memutuskan akan tetap menahlukkan Xian Yang.
Memancing kedatangan Lu Bu Wei, dia sudah tidak punya jalan mundur.
Siapapun penguasa di Xian Yang saat ini, sedikit banyak pasti akan berpengaruh buat Lu Bu Wei.
Jadi dia pasti akan pulang, bila Xian Yang dalam bahaya.
Berpikir sampai di sana, tekad Guo Yun pun bulat.
Dia segera berkata kepada keempat jendral di hadapannya.
"Jendral Wen Jendral Nan Jendral Liu Jendral Sun..terima perintah.."
ucap Guo Yun tegas.
"Siap Yang Mulia,.."
jawab mereka berempat kompak, sambil berlutut dengan kaki sebelah..
"Besok pagi sebelum matahari terbit, kalian berempat pimpin seluruh pasukan berangkat langsung menuju dermaga Han Jin.."
"Kita harus merebut dermaga itu dalam tempo sesingkat singkatnya.."
"Dari sisi selatan kita akan menggempur kota Xian Yang, setelah menahlukkan pelabuhan Han Jin.."
"Siap Yang Mulia..!"
jawab keempat orang itu kompak.
"Baguslah, kalau begitu kalian boleh kembali untuk bersiap siap.."
ucap Guo Yun mengakhiri pertemuan tersebut..
Tapi sebelum pergi Jendral Liu berkata,
"Maaf Yang Mulia, di Xian Yang ada dua pelabuhan, di selatan pelabuhan Han Jin.."
"Di Utara pelabuhan Gong Yu, bila kita semua fokus ambil Han Jin, bagaimana dengan pelabuhan Gong Yu..?"
tanya Jendral Liu, bertanya sambil mengingatkan.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Terimakasih Jendral Liu, aku sudah tahu itu.."
"Di Gong Yu sudah ada saudara kedua ku Li Ba yang mengurusnya."
"Dia di bantu Jendral Lim, Guan Xing, Fu. pasukan mereka sekitar 300.000 hampir 400.000.."
"Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
ucap Guo Yun menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan Hua Rong Tao ?"
tanya Jendral Nan mengingatkan.
Guo Yun mengangguk, dan berkata,
"Tempat kan saja beberapa orang untuk memantau situasi di sana."
"Bila ada pergerakan dari pasukan Lu Bu Wei bergerak kembali ke ibukota lewat jalur itu."
"Segera berikan kabar.."
Jendral Nan mengangguk dan berkata,
"Baik aku akan segera mengaturnya.."
__ADS_1
Jendral lainnya juga memberi hormat, lalu meninggalkan tempat tersebut.
Guo Yun melanjutkan langkahnya menuju kemah utamanya.
Sambil berjalan Guo Yun tersenyum sendiri, mengingat cerita tentang Lao Ai tadi.
Dia jadi sedikit penasaran dan ingin membuktikan kebenaran dari cerita yang beredar.
Keesokan paginya, kapal kapal perang milik pasukan harimau hitam berbaris rapi, mengikuti arah angin.
Dengan mengembangkan layar, mulai bergerak meninggalkan lembah tepi sungai Huai.
Mereka mengikuti arah angin terus bergerak kearah selatan.
Di sisi lain Li Ba juga memimpin keempat Jendral nya meninggalkan tepi sungai Huai yang tidak jauh dari kota Xin Cheng, langsung menuju pelabuhan Gong Yu.
Menjelang sore pasukan kapal perang harimau hitam sudah mendekati pelabuhan Han Jin.
Begitu pelabuhan tersebut terlihat, kapal kapal perang Guo Yun mulai melontarkan batu menghujani pelabuhan tersebut.
Setiap kapal mencoba coba mencari posisi untuk melontarkan batu kearah pelabuhan yang menjadi sasaran mereka.
Dari pihak pasukan Qin yang bertahan menjaga pelabuhan Han Jin.
Mereka tidak punya alat pelontar, sedangkan anak panah mereka, tidak mungkin bisa mencapai kapal perang Guo Yun yang berada di luar jangkauan anak panah mereka.
"Byuuur..! ,"Byuuur..! "Byuuur..!"
"Byuuur..! ,"Byuuur..! "Byuuur..!"
"Byuuur..! ,"Byuuur..! "Byuuur..!"
Air sungai muncrat tinggi terkana hantaman batu.
Di mana kapal kapal perang pasukan harimau hitam, masih sedang mencari posisi untuk sasaran tembak mereka, yang akurat.
Setelah percobaan berulang kali, akhirnya lontaran batu mereka mulai sampai mendarat tepat di mulut dermaga Han Jin.
"Braakkk..!" Braakkk..!"
"Braakkk..!" Braakkk..!"
"Braakkk..!" Braakkk..!"
Batu batu mulai beterbangan menghancurkan pelabuhan Han Jin.
Pasukan Qin yang bertahan di sana, terpaksa mundur menjauhi pelabuhan, menyelamatkan diri dari hantaman batu besar.
Dimana batu besar setelah jatuh dia akan bergulir melindas apapun yang di lewati nya
Bagi pasukan Qin yang terlambat mundur, mereka akan di lindas oleh batu batu itu tanpa ampun.
kapal.kspal perang harimau hitam, mulai bergerak mendekati pelabuhan Han Jin sedikit demi sedikit.
Sambil terus melaporkan batu batu sebesar perut kerbau, kearah pasukan Qin.
Kapal kapal pasukan harimau hitam memaksa pasukan Qin mundur semakin menjauhi pelabuhan Han Jin.
Sehingga pasukan harimau hitam, mulai bisa mendarat di tepi pelabuhan dan bergerak naik kearah dermaga.
Tanpa resiko di hujani anak panah, setelah 100.000 pasukan harimau hitam mendarat.
Membentuk pasukan tameng dalam formasi rapat, mulai bergerak maju, sedikit demi sedikit.
Pergerakan kapal perang yang menyerang dengan pelontar batu mulai di hentikan.
Setelah serangan hujan batu, mulai di hentikan, pasukan Qin di bawah pimpinan Lao Cin adik bungsunya Lao Ai.
Dia mulai memimpin pasukan Qin bergerak maju, menghujani pasukan harimau hitam dengan hujan anak panah.
Tapi serangan anak panah mereka, berhasil di antisipasi dengan cukup baik oleh pasukan Tameng harimau hitam yang terlatih dan disiplin dalam bergerak.
Guo Yun yang menyaksikan pasukannya di hujani anak panah dari jarak jauh.
Dia segera melayang kedepan meninggalkan kapalnya.
Guo Yun berhasil mendarat ringan di tepi dermaga, sambil mengeluarkan sepasang pedang merah birunya.
Kemudian dia melanjutkan dengan terbang di udara, melewati pasukannya di bawah sana.
Tanpa memperdulikan hujan anak panah yang datang, Guo Yun yang seluruh tubuhnya terlindungi oleh Thian Ti Sen Kung Hu Ti.
Dia terus menembus hujan anak panah yang datang kearah nya.
Anak anak panah itu sebelum berhasil melukai Guo Yun, sudah rontok dengan sendirinya.
Guo Yun terus bergerak maju kedepan, setiap kali tubuhnya bergerak menurun, dia akan menotol ringan di atas bahu pasukan nya.
Di mana pasukannya, selalu menyambut nya, dengan teriakan penuh semangat.
Menyaksikan atraksi pimpinan mereka, yang memiliki kesaktian luar biasa itu.
Tak lama kemudian Guo Yun sudah tiba di hadapan pasukan Qin.
Dari udara, Guo Yun melepaskan dua tebasan biru merah dengan ilmu sapu jagad.
"Singggg...!"
"Singggg...!"
Dua berkas cahaya merah dan biru, bergerak dengan kecepatan tinggi.
Melibas pasukan Qin yang menghadang di depan nya.
"Brakkk...!"
"Brakkk...!"
Barisan pasukan Qin yang di lewati cahaya biru, tubuh mereka langsung terbelah dua, jatuh keatas tanah berubah menjadi potongan daging beku, yang di selimuti es.
Sedangkan pasukan Qin yang di lewati oleh cahaya merah, tubuh mereka juga terbelah dua.
Hanya saja mereka kini berubah menjadi potongan daging hangus terbakar.
"Singggg..!"
"Brakkkk..!"
Singggg..!"
"Brakkkk..!"
Singggg..!"
"Brakkkk..!"
Tebasan berulang kali di lepaskan oleh Guo Yun langsung mempermak porandakan pasukan Qin.
Panah panah pun berhenti, pasukan Qin porak poranda di hantam oleh tebasan sapu jagad yang dilepaskan oleh Guo Yun.
Dalam sekejap mata, seratus ribu pasukan Qin sudah malang melintang tidak karuan diatas tanah.
Termasuk Lao Cin sendiri dan dua orang bawahan nya, juga sudah jatuh malang melintang diatas tanah dengan tubuh terbelah.
Sisa pasukan Qin yang nyalinya sudah pecah langsung berlari meninggalkan lokasi pertempuran.
Guo Yun memberi kode agar pasukan nya tidak melakukan pengejaran.
Mereka bergerak dengan tenang dan teratur langsung menuju kota Xian Yang.
Dari atas sebuah bukit, Guo Yun dan keempat Jendral nya yang berdiri di posisi paling depan.
Dari atas punggung kuda, mereka mengawasi kota Xian Yang yang besar dan megah.
Terlindungi oleh tembok tebal dan tinggi, membentang luas dan panjang melindungi kota tersebut.
Diatas tembok terlihat beberapa menara pengawas berdiri kokoh di atas tembok kota.
Guo Yun memandang kagum kearah kota, yang dulu pernah menjadi kota kenangan nya , bersama Gongsun Li, Gongsun Yan dan Pangeran Ji Ao.
Beberapa saat kemudian Guo Yun baru memberi kode agar pasukannya, mengikutinya bergerak menuruni bukit.
Bergerak mendekati pintu gerbang selatan kota Xian Yang .
Saat pasukan Guo Yun mendekati pintu gerbang, tiba tiba pintu gerbang terbuka.
Jembatan tarik di turunkan, terlihat dua orang pemuda memimpin barisan pasukan Qin.
Keluar dari pintu gerbang tersebut, mereka berbaris rapi siap menghadapi kedatangan pasukan harimau hitam.
Sepasang pemuda ini bernama Lao Hu dan Lao Lung, mereka berdua adalah andalan Lao Ai. dalam menahlukkan jendral jendral setia Ying Zheng.
Seperti Meng Thian, Meng Yu, Wang Jian, mereka semua harus akui mereka bukan lawan tanding sepasang pemuda ini.
Sepasang pemuda ini terkenal dengan julukan sepasang Jendral Naga dan Harimau Xian Yang.
Mereka berdua adalah adik termuda Lao Ai yang sengaja di undang oleh Lao Ai dari istana Naga gurun pasir, di gurun Gobi yang.misterius.
Mereka berdua ini adalah murid penutup Dewa Naga Gurun Pasir, yang merupakan kakak seperguruan Mu Rong Fuk, yang pernah di kalahkan oleh Guo Yun beberapa waktu yang lalu.
Bila satu lawan satu, Mu Rong Fuk masih lebih unggul dari mereka.
Tapi bila satu lawan dua Mu Rong Fuk bukan tandingan kedua kakak beradik ini.
__ADS_1