
"Demi kebahagiaan putri ku, dan keutuhan rumah tangga ku, aku siap untuk itu..!"
"Aku menerima nya Yang Mulia.."
Jawab Zhou Wei gagah."
Guo Yun mengangguk puas, lalu dia berkata sambil.melihat kearah Ling Wu,
"Ling Wu sebagai kepala keluarga Ling saat ini, bagaimana menurut mu..?"
Ling Wu maju memberi hormat dan berkata,
"Aku mengikuti pengaturan Yang Mulia.."
Guo Yun mengangguk lalu dia menoleh kearah Ping Mei, tanpa berkata, Guo Yun langsung mengibaskan tangannya kearah Ping Mei.
"Arggghhh..!!"
Jerit Ping Mei terkejut.
"Blukkk..!"
Tubuhnya terpental hingga jatuh meringkuk diatas tanah.
Ping Mei terlihat meringis dan menahan nyeri dengan wajah pucat, sambil memegangi perut bawahnya.
Darah segar membasahi gaun putihnya dari sela sela celananya.
Baik Ling Tai maupun Zhou Wei, mereka berdua terlihat terkejut dan maju bersamaan menghampiri Ping Mei.
Hampir bersamaan mereka, ikut berlutut di samping Ping Mei.
"Ping Mei kamu baik baik saja kah..?"
Tanya Zhou Wei khawatir.
Di saat bersamaan Ling Tai juga bertanya,
"Ping Mei bagaimana keadaan mu..?"
Ping Mei menjauh dari Zhou Wei, dia memilih mendekat ke Ling Tai dan berkata pelan.
"Perut bawah ku nyeri sekali, dan aku sedikit pendarahan.."
Melihat sikap istrinya, Zhou Wei sambil menghela nafas panjang, dia bangkit berdiri lalu mundur menjauh dengan wajah sedih.
Dia terpaksa membiarkan istrinya di bantu Ling Tai bangkit berdiri, dan bersandar dalam pelukan Ling Tai.
Ling Tai menatap kearah Guo Yun dan berkata,
"Yang Mulia sebenarnya apa yang terjadi ? mengapa Yang Mulia tiba tiba menyerang Ping Mei..?"
Guo Yun sambil tersenyum tenang berkata,
"Tenang saja aku hanya menotok titik meridian Qu Wu Ping Mei.."
"Tidak akan membahayakan nyawanya, hanya saja sesuai janji mu tadi.."
"Bila kamu menang, kamu akan menerima apapun kondisi Ping Mei, dan akan menyayangi putrinya, seperti putri mu sendiri.."
"Agar kamu tidak melanggar janji mu, aku sudah merusak rahim Ping Mei, selamanya, dia tidak akan pernah bisa punya anak lagi.."
"Hanya itu saja, kamu juga sudah dapat istri dapat anak, kurasa hal itu bukan lagi masalah.."
Ucap Guo Yun santai.
__ADS_1
Ping Mei mendengar hal itu wajahnya langsung pucat, dia buru buru menatap kearah Ling Tai dengan cemas.
Sedangkan Ling Tai dia hanya bisa menyimpan kebencian dan kekesalan nya di dalam hati.
Karena dia tidak berani melawan ataupun bersikap tidak sopan terhadap Guo Yun.
Ling Tai dengan wajah dingin mengibaskan tangannya dari pegangan tangan Ping Mei.
Dia bergerak mundur menjauhi Ping Mei dan berkata dengan suara dingin,
"Ping Mei semua sudah jadi begini, maaf aku rasa hubungan kita sebaiknya di akhiri saja ."
"Aku tidak bisa mempertaruhkan masa depan ku, dengan mengurus mu dan mengurus anaknya.."
"Pertaruhan ini telah berakhir, aku memilih mengundurkan diri, tidak jadi mengikutinya lagi.."
Ucap Ling Tai yang sikapnya tiba tiba berubah 180°.
Kini Ping Mei dengan wajah bercucuran air mata dan di penuhi rasa ketakutan.
Dia mencoba mendekati Ling Tai dan berkata,
"Ling Kung Ce tidak kah kamu menghendaki Ping Mei lagi..?"
"Lupakah Ling Kung Ce akan segala janji dan ucapan mu selama ini..?"
Ling Tai melangkah mundur menjauh dan berkata,
"Maaf Ping Mei bukan aku ingkar janji dan tidak mencintai mu.."
"Tapi permasalahan ini terlalu rumit, maafkan aku yang tidak pernah berpikir masalah akan berkembang hingga seperti ini.."
"Sekali lagi maaf Ping Mei, sebaiknya kita akhiri sampai di sini saja .."
Ucap Ling Tai,
Sesaat kemudian, begitu tersadar dari lamunan nya, Ping Mei langsung berlari mengejar kearah Ling Tai.
Dia dari arah belakang, langsung menubruk kearah Ling Tai, melingkarkan kedua tangannya erat erat.
Ping Mei memeluk perut Ling Tai erat erat, sambil menempelkan wajahnya di punggung Ling Tai.
"Ling Kung Ce ku mohon jangan pernah tinggalkan aku.."
"Aku berjanji akan menjadi istri yang terbaik untuk mu, aku sangat mencintaimu.."
"Ku mohon jangan pernah tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpamu.."
"Percayalah, aku sangat sangat mencintai mu, apapun kondisi mu, aku tidak akan pernah meninggalkan mu.."
"Ling Kung Ce kamu harus percaya itu, percaya dengan kebesaran cinta kita.."
Ucap Ping Mei memelas, dia terlihat sangat ketakutan bila harus kehilangan Ling Tai.
Tapi Ling Tai dengan wajah sedingin es, dia melepaskan pegangan tangan Ping Mei secara paksa.
Lalu dia membalikkan badannya, mendorong Ping Mei dengan kuat agar Ping Mei menjauhinya.
"Ahhhh..!"
Saking kuatnya Ping Mei sampai berteriak kaget dan terjatuh kebelakang.
Ling Tai sendiri sedikit kaget dan tidak menyangka, dorongannya bisa sekeras itu.
Dia telah kelepasan tangan, hatinya sedikit menyesal dan tidak tega.
__ADS_1
Tapi dia pada akhirnya memilih mengeraskan hati, membalikkan badannya melangkah pergi.
Ping Mei terlihat menangis sedih seorang diri di sana.
Tidak jauh dari posisi Ping Mei, Zhou Wei menatap kearah istrinya dengan tatapan mata tidak tega.
Di saat dia sedang meragu untuk menghampiri Ping Mei yang berulang kali menyakiti perasaan nya dan selalu menolaknya.
Zhou Ting putrinya tiba tiba hadir di sampingnya, menarik tangannya dan berkata,
"Ayah kasihan ibu,.. apapun salah ibu maafkan lah dia ayah.."
"Ayah..kasihan ibu ayah.."
"Ayah Ting Ting mau ibu ayah.."
Zhou Wei memejamkan sepasang matanya mendengar rengekan putrinya.
Dia mencoba menahan diri untuk tidak menangis, tapi tetap saja dua butir air bening keluar dari kedua sudut matanya.
Zhou Wei sesaat kemudian menghapus nya, lalu dia berjongkok di hadapan putrinya.
Zhou Wei menatap wajah sedih putri lekat lekat, dia lalu meraih kepala putrinya masuk kedalam pelukan nya.
Setelah mencium lembut kepala putrinya, Zhou Wei pun berkata,
"Baiklah Ting Ting , mari kita jemput ibumu pulang.."
Selesai berkata Zhou Wei pun menggandeng tangan putrinya berjalan menghampiri istrinya yang sedang menangis sedih seorang diri.
"Ibu..!"
Teriak Zhou Ting langsung berlutut memeluk ibunya di sana.
"Anak ku..maafkan ibu nak.."
"Semua salah ibu.."
"Ibu pantas menerimanya.."
"Ibu pantas menerimanya.."
Ucap Ping Mei sambil memeluk erat putrinya.
Ibu dan anak itu menangis sedih saling berpelukan.
Zhou Wei hanya berlutut diam di samping anak istrinya, dia hanya menatap mereka berdua dengan penuh haru.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Beberapa saat kemudian, Zhou Ting lah yang berkata,
"Ayah Ibu ayo kita pulang, Ting Ting lapar.."
Ping Mei menoleh kearah suaminya, dia menatap kearah suaminya dengan tatapan mata penuh sesal dan bersalah.
"Suami ku aku.."
Ucapan nya belum selesai.
Tubuhnya sudah berada dalam pondongan suaminya yang bertubuh tinggi besar itu.
"Cukup Idak ada yang perlu di katakan lagi.."
"Aku paham.."
__ADS_1
"Ayo kita pulang.."
Ucap Zhou Wei singkat.