LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
TANGGUNG JAWAB SEORANG KAKAK


__ADS_3

Cui Ming Koai Jen sudah bersiap dengan sepasang cakarnya yang bersinar kemerahan.


Tapi bahunya keburu di tahan oleh Wu Ti Sin Tong,


"Kakak tahan emosi mu, lebih baik kita baca dulu isi suratnya jangan bertindak sembarangan.."


"Nanti Cu Cu semakin kesal,.."


"Ayolah duduk dulu.."


ucap Wu Ti Sin Tong menarik Cui Ming Koai Jen untuk kembali duduk.


Wu Ti Siaw Jen memberi kode mata agar Gongsun Li dan Si Si segera mundur dari sana.


Gongsun Li mengangguk paham, dia menyimpan kembali kedua belatinya.


Lalu dia menarik Si Si meninggalkan kediaman Li Kui.


Si Si baru bisa menghela nafas lega setelah mereka berdua keluar dari tempat itu.


"Kakak tadi kamu serius ingin melawan nya .?"


tanya Si Si sambil menoleh menatap wajah Gongsun Li yang terlihat masih kesal.


Gongsun Li akhirnya menghela nafas panjang dan berkata,


"Aku tahu kita bukan lawannya, apalagi mereka berdua hadir di sana.."


"Tapi aku juga tidak bisa Mandah, membiarkan dia berbuat seenak hati, menginjak orang sesuka hati.."


"Aku tadi sungguh ngeri melihat ekspresi kakek itu, untung tidak terjadi apa-apa.."


ucap Si Si lega.


Gongsun Li tersenyum menoleh kearah Si Si..dan berkata,


"Mereka yang beruntung, bila terjadi sesuatu dengan kita, kamu pikir dengan sifat Yun ke ke dia akan diam saja.."


"Kini sepuluh orang aneh itu pun bukan lagi lawannya."


"Mereka mau pukul anjing juga harus lihat siapa pemiliknya.."


ucap Gongsun Li mulai bisa tersenyum kembali.


"Kakak mau jadi anjing, kakak aja, aku gak mau.."


"Hi..hi..hi..!"


ucap Si Si sambil tertawa.


"Hahhh,.. dasar nakal, lihat bagaimana aku menyiksa mu.."


ucap Gongsun Li sambil mengejar Si Si yang sudah melarikan diri.


Sambil tertawa tawa dan berkata,


"Ampun kak..! ampun..! hi.hi..hi..!"


Kedua istri Guo Yun sambil bercanda mereka kembali kekediaman mereka.


Setelah puas bercanda di jalan, saat tiba di rumah Si Si berkata dengan serius.


"Kak kita berdua tidak mungkin bisa pergi lihat keadaan paman ketiga ."


"Kota ini tidak boleh kosong.."


"Tapi apa kita tidak seharusnya mengabari hal ini ke Yun ke ke dan paman kedua..?"


ucap Si Si terlihat serius.


Gongsun Li mengangguk dan berkata,


"Kamu benar, aku akan buatkan surat, segera kita kirimkan ke Yun ke ke dan paman kedua, agar mereka bisa membantu adik Cu Cu.."


Gongsun Li segera bergegas pergi ke ruang baca, untuk menulis surat buat Guo Yun dan Cu Cu.


Ditempat kediaman Li Kui, begitu Cui Ming Koai Jen dan Wu Ti Siaw Jen, membaca surat informasi itu.


Mereka berdua saling pandang,


"Cu Cu benar ini salah kita, ehh bukan ini murni salah mu.."


ucap Wu Ti Siaw Jen cepat


"Hei jangan bicara sembarangan, nanti jangan salahkan aku tidak bersungkan dengan mu.."


ucap Cui Ming Koai Jen dingin.


Wu Ti Siaw Jen tidak menanggapi ancaman kakaknya, dia malah terus berkata,


"Kau berani menyangkal demi leluhur, kau tidak memberinya minum darah iblis mu..?"


"Kau,..! bagaimana kamu bisa tahu .!?"


bentak Cui Ming Koai Jen dengan mata melotot.


"Kau pikir aku bodoh, bocah polos itu juga murid ku.."


"Dia tiba tiba bisa kebal seperti mahluk aneh macam mu, bila tidak minum itu apa dia bisa..?"


tanya Wu Ti Siaw Jen penuh kemenangan.


"Aku malas meladeni mu, aku mau ke Shang Qiu lihat keadaan nya.."


ucap Cui Ming Koai Jen berdalih untuk menutupi rasa bersalahnya.


Sebelum Li Kui meninggalkan pulau, dia Cui Ming Koai Jen karena khawatir dengan cucu menantu yang di sayang nya itu.


Dia takut Li Kui bertemu lawan berat dan tewas seperti almarhum putranya.


Dia tahu Cu Cu sangat mencintai pemuda jujur dan polos itu, kalau terjadi sesuatu dengan nya.


Cui Ming Koai Jen tidak berani membayangkan perbuatan bodoh apa yang akan di lakukan oleh cucunya itu.


Untuk itu, Dia memang sengaja, menyuruhnya minum darahnya, juga menyalurkan sebagian tenaganya.


Membuka jalan darah di tubuh Li Kui, dan mendorong darah iblis berputaran di seluruh tubuh cucu menantunya itu.


Hal itu yang membuat Li Kui memiliki kemampuan dan kekebalan sama persis dengan nya.


Hal ini selain dirinya dan Li Kui tidak ada yang tahu, bahkan Cu Cu pun tidak.


Kini bertambah satu yang tahu dan curiga dengan nya, tentu saja dia harus buru buru menghindar.


Begitu selesai berbicara, kakek mayat hidup itu sudah tidak terlihat lagi di sana.


Dia sudah terbang jauh meninggalkan kediaman Li Kui.


Wu Ti Siau Jen yang tidak mau kalah, dia pun bergegas menyusul kakak nya.


Di tempat lain Guo Yun yang baru saja menerima surat dari Gongsun Li, dengan wajah berseri seri dan penuh kerinduan, dia segera masuk kedalam kemahnya, setengah berbaring santai sambil membaca isi surat dari istrinya yang dingin dan cuek itu.


Tapi aslinya sangat hangat bila mereka bersama, bahkan paling hangat diantara ke tiga istrinya.


Masakan nya pun selalu membuat dia merindu dan sulit melupakan nya.


Gongsun Li adalah cinta pertamanya yang penuh perjuangan, baru berhasil dia menahlukkan hati gadis yang keras dan dingin itu.


Teringat semua itu, Guo Yun sambil tersenyum membaca isi surat yang tulisannya sangat dia kenal.


Tulisan halus indah dan rapi, dia tidak akan pernah bisa lupa.


Karena lewat tulisan inilah, gadis itu pernah mengungkapkan isi hatinya dan meminta dia jangan menyerah dan terus berjuang untuk mendapatkan nya.


Tapi begitu membaca isi surat tersebut, ekspresi wajah Guo Yun pun berubah.


Senyum di wajahnya seketika hilang, Guo Yun terlihat serius membacanya.


Setelah selesai membacanya, Guo Yun meremas kertas itu hancur menjadi bubuk.


"Akkhh,.. ini salah ku, aku yang mencelakai adik ketiga.."


"Tidak bisa aku harus pergi melihat keadaan nya ."


ucap Guo Yun pelan.


Dengan langkah buru buru dia langsung berjalan keluar dari dalam kemahnya.


"Pengawal .."


ucap Guo Yun.


"Siap Yang Mulia ."


jawab dua orang pengawal maju memberi hormat padanya.


"Sampaikan pada Jendral Wen dan Jendral Nan,aku ada urusan penting mau pergi beberapa hari.."


"Setelah beres aku akan segera kembali.."


ucap Guo Yun meninggalkan pesan.


"Siap Yang Mulia,akan akan segera sampaikan.."


"Ada pesan lain Yang Mulia..?"


tanya kedua pengawal itu penuh hormat.


Tidak ada, itu saja.."


ucap Guo Yun singkat.


Belum sempat kedua pengawal itu menyadarinya.


Guo Yun sudah terbang jauh meninggalkan perkemahan di tepi sungai.


Guo Yun melesat cepat menuju kearah Utara.


Di tempat lain Li Ba yang mendapatkan surat yang sama dengan wajah cemas, dia segera pergi menemui kedua Jendral bawahannya.


"Jendral Lim Jendral Fu, aku ada keperluan mendadak harus segera pergi ke kota Shang Qiu.."


"Kalian berdua tolong bantu awasi pembuatan kapal, sambil menunggu aku kembali.."


"Tuan mau pergi berapa lama ? aku rasa kapal kapal kita paling lama 5 hari lagi sudah siap berangkat.."

__ADS_1


ucap Jendral Fu mengingatkan.


Li Ba menghela nafas panjang dan berkata,


"Sulit di pastikan, tapi aku akan usahakan secepatnya.."


"Bola ada perubahan rencana, aku pasti akan secepatnya kabari kalian lewat burung merpati.."


ucap Li Ba serius.


"Siap Tuan.."


jawab Jendral Lim yang paham situasi tidak mau menunda waktu atasan nya, yang punya isi tidak stabil itu.


Jendral Fu segera ikut menyadarinya, dia buru buru memberi hormat dan tidak banyak bicara lagi.


Li Ba mengangguk cepat, lalu dia melompat keatas punggung tunggangannya.


Melarikan kudanya dengan cepat kearah Utara.


Sementara itu di kota Shang Qiu yang terlihat sepi seperti kota hantu, tanpa penghuni sama sekali.


Di puncak menara tertinggi di kota itu, terus terdengar suara berkumandang.


Sebentar tertawa, sesaat kemudian menangis, di Bukit hutan Pinus.


Suara itu bisa terdengar dengan jelas oleh jendral Guan dan Jendral Xing.


Tapi mereka berdua hanya bisa mengawasi dari jauh dengan wajah cemas.


Tapi tidak ada yang berani pergi menghampiri asal suara itu.


Hingga hari ketiga akhirnya terdengar suara derap kaki kuda mendekati bukit hutan Pinus.


Di mana pasukan harimau hitam membuat kemah di sana, kedatangan penunggang kuda itu langsung di laporkan pasukan pengintai ke jendral Xing.


Jendral Xing yang mendapat laporan, buru buru pergi menyambut kedatangan penunggang kuda itu.


Jendral Guan terlihat ikut mendampingi Jendral Xing, pergi menyambut kedatangan orang tersebut.


Begitu bertemu kedua Jendral itu langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan penunggang kuda itu, yang bukan lain adalah Li Ba.


Dari semua orang yang terhubungi, posisi Li Ba adalah yang terdekat dengan Shang Qiu, sehingga dia bisa tiba duluan, meski menunggang kuda.


"Kalian berdua berdirilah,"


ucap Li Ba sambil melompat turun dari punggung kudanya.


"Bagaimana perkembangan situasi terkini..?"


tanya Li Ba cepat.


Jendral Guan pun angkat bicara,


"Sama saja seperti laporan kami sebelumnya.."


"Belum ada perubahan, tuan Li Kui masih tetap ada di puncak menara, kota kosong."


"Di mana dia hampir tiap malam masih suka tertawa dan menangis sendiri.


Li Ba mengangguk dan berkata,


"Baiklah kalau begitu biar aku pergi melihatnya..."


"Tuan maaf, apa tuan tidak menanti kedatangan yang lainnya, mungkin bantuan dari Guiji, atau mungkin Yang Mulia Guo Yun sendiri yang kemari..."


Li Ba tersenyum dan berkata,


"Aku pergi lihat saja dulu, mereka menyusul saja ."


ucap Li Ba ringan, penuh percaya diri.


"Tapi tuan harus berhati hati, Tuan Li Kui, saat ini mungkin sudah kehilangan kesadarannya karena tersesat latihan.."


"Dia tidak mengenal siapa pun, dia memilki nafsu berburu tinggi, kemampuan nya juga agak di luar nalar.."


"Harap tuan memikirkan nya lagi, tidak nekad.'


ucap Jendral Guan terlihat khawatir.


Li Ba tersenyum penuh percaya diri dan berkata,


"Terimakasih, atas informasinya, aku akan berhati hati menghadapi nya. "


Selesai berkata, Li Ba sudah melompat keatas panggung kudanya.


Lalu dia memacu kudanya meninggalkan bukit hutan Pinus langsung menuju kota Shang Qiu.


Setelah Li Ba pergi, Jendral Guan menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Masih tidak berubah, selalu gegabah dan tidak sabaran.."


"Semoga saja tidak terjadi apa apa..?"


ucap Jendral Xing menyambung ucapan rekannya.


Selagi mereka berdua sedang berbincang sendiri membahas sikap dan perilaku Li Ba.


Li Ba sendiri sudah bergerak mendekati pintu gerbang kota Shang Qiu.


"Pergilah,..Jangan mengusik ku..!"


Li Ba tentu mengenali suara itu, dengan santai dia tetap menggerakkan kudanya memasuki gerbang pintu kota Shang Qiu yang terbuka lebar.


Baru saja Kuda Li Ba melewati pintu gerbang kota, sesosok bayangan berambut riap riap tanpa mengenakan pakaian terlihat melayang turun dari puncak menara


Menghadang di depan Li Ba dan berkata,


"Enyahlah,..! atau kamu akan menyesal..!"


"Adik ini aku Li Ba, apa kamu tidak mengenali ku lagi.."


ucap Li Ba sambil melompat turun dari punggung kudanya.


Lalu dia melangkah mendekati Pemuda tanpa baju dan berambut riap riapan dengan janggut kumis brewok tak terurus menutupi wajahnya.


Dan yang paling mengerikan adalah sepasang matanya yang merah seperti darah, dengan bola mata berputar putar liar.


Pemuda itu adalah Li Kui yang sedang kurang waras, tapi mendengar suara Li Ba yang familiar.


Dia terlihat meragu sesaat, sebelum akhirnya dia berteriak keras.


"Growwww...!'


"Enyahlah, bila sayang nyawa..!"


"Pergi cepat..!"


Bentak Li Kui kembali bersikap liar ganas dan garang


Li Ba terkejut dengan suara Auman singa yang di lepaskan oleh Li Kui.


Li Kui terlihat jelas tidak mengenalinya lagi.


"Adik Kui, ini aku Li Ba kakak kedua mu, dengarlah aku datang khusus untuk mu.."


"Kamu tenanglah,.."


ucap Li Ba mencoba melangkah mendekat.


"Groowaaarrrrrrr,..!"


"Wusss...!"


"Wusss,..!"


Terlihat sepasang cakar Li Kui yang mengeluarkan cahaya kemerahan mencoba menyerang kearah Li Ba yang nekad, memaksa mendekat.


Dengan penuh percaya diri, Li Ba menyambutnya dengan sepasang tinju Petir nya.


"Wutttt..!"


"Wutttt..!"


"Zzzzzzzzt..!"


"BLazzzz...!"


Terlihat bola petir putih berkilauan melesat bagaikan seekor Naga petir menyambar kearah Li Kui.


"Blaaaarrr...!"


Li Ba terlihat terpelanting kebelakang seperti di terjang tenaga raksasa.


Sedangkan Li Kui sambil menggereng keras, dia sudah terbang melayang menyusul kerah Li Ba dengan sepasang cakarnya yang mengeluarkan cahaya merah darah.


Selama ini Li Kui selalu bersikap rendah hati dan pengalah terhadap Li Ba.


Dalam berbagai kesempatan adu tanding saat berlatih berdua,Li Kui selalu mengalah dan menyimpan kemampuan sebenarnya.


Dia hanya mengandalkan keunikan pergerakan elastis tubuh dan kekebalannya, untuk mengimbangi Li Ba.


Dia tidak pernah benar benar serius menghadapi nya, sehingga Li Ba selalu berpikir mereka seimbang.


Bahkan dalam beberapa kali pertemuan melawan musuh berat, Li Ba hanya menganggap Li Kui mampu mengimbangi lawan berat, karena keunikan ilmu silatnya.


Sehingga mengejutkan lawan, bukan kemampuan nya yang sebenarnya.


Sehingga Li B selalu percaya diri bila berhadapan dengan Li Kui.


Ini lagi lagi adalah satu kesalahan Li Ba yang terlalu merasa dirinya hebat, dia lupa akan nasehat dari gurunya.


Hari ini dia terbentur batu dan merasakan pil.pahitnya.


Li Kui yang sedang kesurupan, sudah bukan dirinya yang dulu lagi.


Seluruh tubuh nya, di kelilingi hawa gelap penuh dengan nafsu membunuh mangsa apapun di hadapannya.


Li Ba yang baru bangun sambil menggertakkan gigi, tidak mau kalah, dia langsung membentuk pertahanan Genta Emas melindungi seluruh tubuhnya.


Li Ba kini menyadari kedahsyatan serangan Li Kui yang sedang tidak main main.


Dia tidak berani berayal, langsung mengerahkan Ilmu pelindung Genta emas level puncaknya yaitu level sepuluh.


"Tangggg..!"

__ADS_1


"Tangggg...!"


Benturan pertama berhasil menahan serangan dahsyat Li Kui.


Meski sepasang kuda kuda kaki Li Ba goyah, dan sedikit terdorong.


Tapi pada keseluruhan nya, dia masih termasuk berhasil menahan serangan dahsyat tersebut.


Li Kui yang serangan pertama nya tertahan, dia langsung memekik keras.


"Hiaaaa...!"


"Dunggg...!"


"Dunggg...!"


"Brakkkk..!"


"Pyaar....!"


Serangan berikutnya, bunyinya langsung berbeda, karena kekuatan pukulan Li Kui di tingkatkan levelnya.


Pada benturan kelima kalinya, Li Ba dan Genta emas nya terpental mundur.


Genta emas nya mulai terlihat banyak retakan di sana sini.


Hingga pada benturan terakhir, sepenuhnya Genta emas hancur berkeping keping.


Tubuh Li Ba terpental menabrak tembok benteng kota hingga temboknya ambruk kebelakang.


Sebelum Li Ba sempat memperbaiki posisinya, kembali terdengar suara lengkingan Li Kui memenuhi tempat itu.


"Hiaaaa...!"


Li Kui kembali datang dengan sepasang cakar merah nya, yang di penuhi hawa inti neraka.


Melihat serangan sudah dekat, tiada pilihan lain, Li Ba mengeluarkan ilmu warisan kakek Huang, kakek mertuanya.


Muncul bayangan tapak merah yang sangat banyak menyambut kearah semua titik penting di bagian depan tubuh Li Kui.


Tapi Li Kui mengabaikan nya, dua terus melesat menyerang ke arah Li Ba dengan ganas.


Tubuh Li Kui yang menerima serangan tapak merah, hanya sedikit bergetar.


Dia terlihat tidak begitu terpengaruh, oleh serangan tersebut.


Karena tubuh Li Kui memang terlindungi oleh kekebalan gaib, yang sulit ditembus oleh senjata maupun serangan sekuat apapun.


Li Ba melihat serangannya, tidak berhasil menghalau kedatangan Li Kui yang sedang kesurupan.


Dia buru buru melepaskan pukulan kedua tangan dan kakinya keatas tanah.


"Blaarrr,...!" Blaarrr,...!" Blaarrr,...!"


"Blaarrr,...!"


Memanfaatkan daya dorong itu tubuh Li Ba melayang mundur menjauh.


Bertepatan dengan itu terdengar bunyi ledakan dahsyat di mana Li Ba berbaring tadi.


"Booommm..!"


Sebuah lubang menganga besar, besar terlihat, saat debu pasir batu yang menghalangi daya pandang tersapu angin.


Li Ba sudah mendarat di tempat yang agak jauh, menatap ngeri kearah lubang yang tercipta oleh pukulan Li Kui barusan.


Bila tidak keburu menghindar tadi tubuhnya pasti akan hancur menjadi serpihan terkena pukulan dahsyat tersebut.


Li Kui sendiri melayang keluar dari dalam lubang sambil menyeringai dingin dengan mata berputar putar liar.


Dia kembali melesat kearah Li Ba dengan sepasang cakar merah yang tangannya bisa memanjang berusaha menjangkau Li Ba.


Saat Li Ba sedang menghimpun hawa petir langit tingkat ke 9, bersiap menyambut serangan yang datang.


Di hadapan Li Ba muncul sesosok pria ganteng bertubuh sedang.


"Kakak Yun kamu datang..!"


teriak Li Ba gembira.


Guo Yun menoleh sedikit membalas senyuman Li Ba sebelum dia mengerahkan Thian Ti Sen Kung.


Membentuk perisai yang mengeluarkan cahaya keemasan menyilaukan mata.


"Blaaaarrr..!"


Sekali ini sepasang tangan Li Kui terdorong mundur memendek kembali ke asalnya.


Sepasang mata Li Kui berbinar berputar-putar liar.


Menatap kearah Guo Yun dengan penuh nafsu membunuh.


Guo Yun dengan senyum lembut berkata,


"Cukup adik Kui, jangan di teruskan lagi.."


"Ini semua salah ku,.. tidak seharusnya aku melibatkan mu dalam kekacauan ini.."


Li Kui menanggapinya dengan senyuman menyeringai.


Kemudian dia langsung melesat kearah Guo Yun mengerahkan kekuatan Inti neraka yang lebih dahsyat.


Untuk di hantamkan kearah Guo Yun.


"Boooom..!"


Lagi lagi Thian Ti Sen Kung yang tenang membuat serangan Li Kui yang ganas dan keji terpental mundur.


Li Kui tidak berputus asa, dia terus mengulang dan mengulang nya lagi, hingga dia mencapai puncak kekuatan maksimal.


Di mana tangan kanan melancarkan pukulan inti neraka yang mengeluarkan cahaya merah.


Sedangkan tangannya yang lain mengeluarkan cahaya putih transparan, berisi pukulan inti bumi.


Tubuh Li Kui berubah menjadi 8 bayangan menyerang dari 8 arah.


Tapi seluruh tubuh Guo Yun telah tertutup oleh kubah cahaya emas.


Semua serangan Li Ba tertahan di sana.


"Booommm..! Booommm..!"


"Booommm..! Booommm..!"


"Booommm..! Booommm..!"


"Booommm..! Booommm..!"


Tujuh bayangan tubuh Li Kui hancur hilang tak berbekas.


Hanya tersisa tubuh asli Li Kui yang terpental mundur oleh tenaganya sendiri yang membalik.


Li Kui terjengkang bergulingan kebelakang, tapi karena seluruh tubuhnya kebal.


Dia langsung melompat bangun, sesaat kemudian dengan teriakan keras.


"Arrggghhh...!"


Dia kembali melayang dari atas kebawah menghujamkan sepasang tangannya kearah kubah perisai Guo Yun.


"Bangggg...!"


Lagi lagi kubah perisai ciptaan Guo Yun tak bergeming, adalah Li Kui sendiri yang terpental jauh hingga menabrak dinding tembok kota yang roboh hancur berantakan tertimpa tubuh Li Kui.


Tapi Li Kui sedang kesurupan, berapa kuat pun terpental, dia akan terus kembali menyerang tanpa henti.


Meski dia kebal tapi pukulan dahsyat yang terus menerus membalik, akhirnya membawa dampak buruk bagi tubuhnya.


Organ penting didalam tubuh nya tergetar hebat, Li Kui mulai terlihat batuk batuk dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Adik Kui cukup hentikan kata ku..!"


"Jangan memaksa, kamu bisa tewas..!'


teriak Guo Yun khawatir.


Guo Yun bukan khawatir dengan dirinya, dia justru dari awal hingga akhir dia sangat mengkhawatirkan keselamatan Li Kui.


Bila bukan karena Li Kui adalah saudara nya yang sangat dia sayangi.


Dengan pukulan Je Ye Sen Cang, dari tadi pun Li Kui sudah dia lumpuhkan.


Apalagi bila dia kerahkan ilmu memindahkan Hawa Memusnahkan Jiwa.


Dalam sekejab Li Kui pasti tidak akan bisa berkutik.


Tapi Guo Yun mana mungkin tega turun tangan berat terhadap saudaranya sendiri.


Di dalam lubuk hatinya pun, dia sudah sangat menyesal, Li Kui jadi seperti ini karena membantunya.


Bila tidak Li Kui juga tidak bakal tersesat latihan seperti ini.


"Blaaaarrr...!"


Li Kui lagi lagi datang menyerang, hasilnya dia kembali terpelanting.


Sekali ini dia bahkan kesulitan untuk bangun berdiri, setelah dia memuntahkan darah segar yang sangat banyak dari mulutnya.


Tapi meski begitu sepasang mata nya tetap bersinar garang.


"Adik Kui anggaplah ku mohon padamu jangan lakukan lagi..!"


ucap Guo Yun yang sudah tidak sanggup meneruskan pertarungan nya.


Dengan berlinang airmata, Guo Yun sudah menarik dan menyimpan perisai pelindung Thian Ti Sen Kung nya.


Guo Yun menjatuhkan diri berlutut dengan sepasang tangan terbentang dia berkata,


"Adik Kui, bila nyawa ku, bisa membuat mu sadar kembali, ambillah aku rela..!"


"Silahkan saja..!"


"Kakak jangan,..apa yang kakak lakukan..!?"


bentak Li Ba kaget.

__ADS_1


__ADS_2