
Li Kui sambil tersenyum dengan wajah sedikit merah berkata,
"Bagi orang lain, tempat itu mungkin berbahaya.."
"Tapi bagi ku tempat itu justru tidak, karena istri ku tinggal di sana, kakek nya penguasa di sana.."
ucap Li Kui sejujurnya.
Kakek Huang sumpitnya sampai terlepas dari pegangan tangannya, mendengar penjelasan Li Kui.
"Kui er maksud mu, Cui Ming Koai Jen dan Wu Ti Siaw Jen mereka berdua kakek mertua mu..?"
"Kamu tidak sedang bercanda kan..?"
tanya Kakek Huang terbelalak menatap kearah Li Kui.
Li Kui mengangguk dan berkata,
"Kebetulan kedua senior itu, kini menjadi kakek dan paman kakek mertua ku."
"Akkhh sungguh sungguh di luar dugaan,.. "
ucap Kakek Huang sulit percaya.
Kalau Guo Yun yang terpilih menjadi murid kedua setan berkemampuan seperti dewa itu.
Kakek Huang mungkin akan memakluminya, tapi Li Kui pemuda polos berwajah pas pas an, ini sungguh sulit percaya.
Tapi begitulah yang namanya jodoh, jodoh dan kematian semua sudah di atur.
Sesaat kemudian kakek Huang pun berkata,
"Tadinya aku ingin kalian berdua tinggal sedikit lebih lama menghibur cucu ku.."
"Tapi kini semua terpaksa ku batalkan, "
"Yun er aku sarankan dari sini kamu lebih baik di antar oleh anak buah ku saja, untuk kembali ke Ling San.."
"Sedangkan Kui er aku sarankan, sebaiknya dia segera kembali ke pulau menemui istrinya.."
"Bila kelamaan Kui er pergi, kedua setan tua itu terusik oleh kesedihan cucu mereka.."
"Lalu mereka kemari dan ke Ling San berbuat onar, bukan mustahil pulau Peng Lai dan Zhuangzi Su Yuan akan mereka ratakan.."
"Kui Zi Sian Seng sudah lama menghilang tanpa kabar, bila mereka muncul kembali kedunia ramai.."
"Aku khawatir tidak akan ada orang yang mampu menjinakkan kedua orang bertabiat aneh itu.."
ucap kakek Huang serius.
Guo Yun mengangguk setuju, dia pernah berhadapan, dia tahu betul.
Kakek Cu Cu memang memiliki kemampuan yang sulit di ukur, belum lagi paman kakeknya yang belum pernah dia temui itu.
Bila mereka berdua bergabung, entah apa jadinya dunia.
Guo Yun menoleh kearah Li Kui dan berkata,
__ADS_1
"Adik Kui kurasa omongan dari kakek Huang sangatlah tepat.."
"Kita harus mempertimbangkannya.."
ucap Guo Yun serius.
"Tapi kak aku sudah berjanji akan mengantar mu pulang pergi, aku tidak boleh ingkar janji.."
ucap Li Kui merasa bersalah.
Guo Yun menepuk pundak Li Kui dan berkata,
"Adik Kui lelaki sejati terkadang harus memilih, ada hal yang harus di lakukan meski hati kita menolaknya."
"Dengarkan aku, daripada kamu mengantar ku, padahal aku bisa diantar oleh anak buah kakek Huang.."
"Aku lebih suka kamu kembali ke pulau, belajar ilmu dengan giat, warisi ilmu kedua kakek mertua mu itu.."
"Saat kita berkumpul kembali, kita bisa berjuang bersama-sama, dan berpetualang bersama, itu pasti akan jauh lebih menarik.."
Li Kui sambil menghela nafas panjang akhirnya mengangguk setuju.
"Baiklah kakak Yun, kurasa itu memang yang terbaik.."
"Aku ikut saja,.."
ucap Li Kui pelan.
Guo Yun menepuk pundak Li Kui menenangkan nya dan berkata,
"Saudaraku aku yakin suatu hari nanti, kita pasti akan kembali berkumpul bersama..kamu tenang saja hari depan masih panjang ."
"Terimakasih kakak Yun.."
Kakek Huang sambil tertawa berkata,
"Ayo semuanya kita makan dengan puas, karena setelah ini, kita juga tidak ada yang tahu."
"Sampai kapan kita baru bisa makan minum berkumpul seperti hari ini.."
Guo Yun dan Li Kui mengangkat cawan mereka bersulang dengan kakek Huang.
Setelah itu mereka bertiga makan minum dan ngobrol sepuasnya.
Menjelang sore, kakek Huang secara pribadi mengantar Li Kui dan Guo Yun hingga dermaga.
Menurut pengaturan dari Kakek Huang, dia sudah menyiapkan sebuah kapal layar besar, dan sebuah kapal layar kecil, yang sangat stabil buat Fei Yang dan Li Kui.
Kakek Huang mengatur, Guo Yun dan Li Kui akan berangkat bersama dengan kapal layar besar.
Anak buahnya yang sudah mahir, yang akan menjadi nahkoda kapal mereka.
Hingga nanti tiba di daerah kabut merah.
Li Kui baru membawa kapal yang lebih kecil.
Bergerak seorang diri kembali ke pulau neraka.
__ADS_1
Sedangkan Guo Yun dan yang lainnya, akan terus melanjutkan perjalanan kembali ke daerah selatan, menuju sungai Yang Tze, hingga tiba di Ling San.
Mengikuti pengaturan dari Kakek Huang, Guo Yun dan Li Kui menjadi lebih tenang dan santai, mereka tidak perlu terlalu sibuk dan capek seperti waktu mereka datang.
Saat kapal yang membawa Li Kui dan Guo Yun meninggalkan pulau Peng Lai.
Dari kejauhan sana di sebuah puncak menara pengawas.
Terlihat Sian Sian berdiri seorang diri, dengan airmata bercucuran, melepas kepergian dua orang sahabat nya.
Yang selama ini selalu dengan setia mendampinginya, melewati berbagai suka duka bersama sama.
Hingga akhirnya dia bisa kembali dengan selamat ke sisi kakeknya.
Sian Sian memilih tidak datang mengantar langsung, dia khawatir dirinya tidak sanggup menerima perpisahan ini.
"Selamat jalan kakak Yun, kakak Kui,..Sian Sian berjanji bila sudah mewarisi seluruh kemampuan kakek.."
"Sian Sian pasti akan pergi mencari kalian.."
gumam Sian Sian sambil melambaikan tangannya kearah kapal, yang terus bergerak menjauhi pulau Peng Lai.
Sementara itu di pulau neraka sendiri, seminggu setelah Li Kui pergi.
Cui Ming Koai Jen, setelah keluar dari ruang berlatih, dia langsung mencari cucunya kesana kemari.
Akhirnya dia berhasil menemukan cucu kesayangannya sedang berdiri termenung sendirian.
Di sebuah puncak batu karang tertinggi dari pulau neraka.
Kakek Cui Ming Koai Jen segera menyadari dan bisa menduga, pasti suami cucunya telah pergi meninggalkan nya.
Dengan melayang ringan, kakek itu sudah hadir di samping cucunya.
Tubuhnya yang jangkung seperti tiang galah yang tertiup angin bergoyang kesana kemari.
Tapi sepasang kakinya seperti mengakar pada batu karang tempatnya berpijak.
Sehingga dia hanya terlihat melambai kesana kemari tertiup angin, tapi tidak sampai terjungkal dari puncak karang dan terbawa angin..
"Cucu ku, apa yang terjadi,? mengapa kau biarkan mereka pergi..? lalu bersedih seorang diri di sini..?"
"Dengan kemampuan mu, kakek rasa meski pemuda tampan itu ingin membawa suami mu pergi.."
"Dia juga belum tentu mampu.."
ucap kakek Cui Ming Koai Jen tanpa menoleh kearah cucunya.
Tatapan mata nya yang tajam di arahkan ke lautan luas, dan gugusan karang di depan sana.
Sambil menghela nafas dan menghapus dua air bening yang runtuh.
Cu Cu berkata pelan,
"Aku yang membiarkan mereka pergi kek.."
"Ahkkh,..mengapa kamu begitu bodoh cucuku, dia adalah seorang pria.."
__ADS_1
"Setelah kalian telah,.. dan wajah mu juga seperti ini, mana mungkin dia akan kembali lagi.."
ucap Cui Ming Koai Jen mengeluh.