
Di tengah penantian hujan gerimis mulai turun, Si Si dan Gongsun Li buru buru mencari tempat berteduh sambil terus mengamati kearah jembatan.
Guo Yun masih bertahan di sana, tapi saat hujan semakin deras.
Akhirnya Guo Yun memutuskan meninggalkan tempat tersebut, karena dia datang tadi, tidak membawa persiapan payung.
Tepat di saat Guo Yun membalikkan badannya hendak meninggalkan jembatan.
Dari sisi lain jembatan, akhirnya terlihat seseorang yang muncul mengenakan caping dan mantel hujan jerami, sambil membawa sebatang payung di tangan terus berjalan naik keatas jembatan.
Guo Yun yang hampir pergi, mendengar suara langkah kaki yang sedang mendekatinya dari arah belakang.
Dia tidak jadi melanjutkan langkahnya, Guo Yun kembali membalikkan badannya.
Menatap tajam kearah orang yang baru saja datang tersebut.
Suasana di tempat itu yang agak gelap karena Langit mendung sedang hujan lebat.
Bulan tertutup awan, bersembunyi dalam peraduannya, membuat Guo Yun sulit melihat dengan jelas siapa orang yang baru saja datang, dan kini berdiri di hadapannya.
"Siapa kamu, !? lepaskan caping mu !? Lu Bu Wei kah kamu..!?"
tanya Guo Yun memastikan agar jangan sampai kesalahan tangan.
Orang itu diam tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan.
Lalu melepaskan caping penutup kepalanya, dan mengangkat sedikit payungnya.
Samar samar Guo Yun melihat wajah Lu Bu Wei di sana, kebetulan ada kilat menyambar tidak jauh dari jembatan tempat mereka berdiri.
Sehingga muncul cahaya menerangi tempat itu sekilas.
Meski hanya sekilas, tapi sudah cukup bagi Guo Yun untuk melihat dengan jelas siapa wajah orang yang berdiri di seberangnya itu.
Melihat wajah tersebut, tanpa berbasa basi lagi Guo Yun langsung menunjukkan ujung jarinya satu menghadap keatas langit, yang lainnya menghadap kearah bumi.
"Thian..!"
Bentak Guo Yun.
Seberkas tulisan emas huruf langit, berkilauan turun dari angkasa menyatu kedalam tubuhnya.
Lalu Guo Yun kembali berteriak,
"Ti..."
Kembali muncul tulisan huruf tanah, muncul dari bawah kaki Guo Yun.
Lalu menyusul menyatu kedalam tubuhnya.
Dari sepasang telapak tangan Guo Yun muncul bayangan energi rembulan di tangan kiri, energi bola matahari di tangan kanan.
"Rooaaarrrrrrr..!"
Setelah melepaskan raungan menggertarkan, Guo Yun langsung menghilang dari posisinya.
Saat muncul lagi sepasang tangannya yang sarat energi Thian Ti Sen Kung sambil melepaskan jurus Je Ye Sen Cang.
Sudah tiba di hadapan lawannya.
Lawannya dengan sikap tenang mengangkat kedua tangannya menyambut serangan Guo Yun.
"Blaaaarrr..!"
__ADS_1
Terdengar bunyi ledakan dahsyat saat kedua pasang telapak tangan bertemu di udara.
Guo Yun yang merasa ada yang janggal dan tidak beres buru buru menarik kembali kekuatan nya sebisa mungkin.
Guo Yun pernah berbenturan beradu telapak tangan dengan Lu Bu Wei.
Dia juga pernah mencicipi kedahsyatan kekuatan Lu Bu Wei.
Sangat berbeda jauh dengan lawan di hadapannya ini.
Lawannya ini bukan hanya tidak memilki hawa energi kekuatan dahsyat.
Dia bahkan sama sekali tidak menunjukkan ada kekuatan apapun dalam telapak tangannya.
Selain itu sepasang telapak tangannya juga begitu hangat dan lembut mirip dengan telapak tangan istri istri nya.
Hal hal mengherankan inilah yang membuat Guo Yun buru buru menarik kembali kekuatan nya.
Tapi sayangnya pertemuan benturan sudah terjadi, sebagian tenaga Guo Yun sudah tidak bisa di tarik kembali.
Sudah terlanjur menerjang lawannya.
"Aihhhhh,...!"
terdengar suara jerit ngeri, dari tubuh lawan nya yang terpental jauh kebelakang.
Dari mulut lawannya terlihat dia menyemburkan darah segar.
Melihat hal ini, tanpa pikir panjang Guo Yun langsung melesat pergi menangkap tubuh lawannya.
Agar tidak sampai terjatuh terbanting kebawah jembatan.
Saat Guo Yun berhasil mendarat di atas jembatan sambil merangkul tubuh yang lunglai itu.
Tidak menunjukkan itu adalah tubuh seorang pria.
Saat kilat kembali menyambar lewat, Guo Yun kembali bisa melihat dengan jelas wajah Lu Bu Wei yang terlihat pucat pasi dengan kumis jenggot dan mulut berlumuran darah.
Selain itu Guo Yun juga melihat ada kejanggalan di dekat samping telinga, yang warna kulitnya agak berbeda.
Di sana seperti ada bekas tempelan, dengan sigap Guo Yun mencabut tempelan tersebut dan berkata,
"Siapa kamu sebenarnya..!?"
"Breettt ..!"
Tempelan tersebut tertarik lepas, sebuah topeng kulit berada dalam genggaman tangan Guo Yun.
Sesosok wajah cantik yang sedang tersenyum sedih hadir didepan Guo Yun.
Guo Yun langsung terkesiap,.saat samar samar melihat siapa orang yang dalam pelukannya tersebut.
Saat kilat kembali menyambar lewat, sehingga suasana kembali terang.
Kini Guo Yun bisa melihat dengan jauh lebih jelas siapa sosok tersebut.
Guo Yun langsung berteriak histeris,
"Tidakkkkk,....!!!!"
"Ini tidak benar..!!!"
"Mengapa bisa kamu...?!!!"
__ADS_1
"Ohhh tidak..! tidak..! tidak...!"
"Min Min tidak,..!"
"Jangan...!"
"Mengapa bisa kamu...!?"
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini...!?"
Teriak Guo Yun histeris.
Si Si dan Gongsun Li yang berada di tempat persembunyian, sangat kaget melihat kejanggalan sikap Guo Yun.
Mereka berdua segera dengan terburu-buru, berlari menghampiri jembatan di mana Guo Yun berada.
Untuk memastikan apa yang sedang terjadi, saat tiba di sana melihat siapa yang berlumuran darah dalam pelukan Guo Yun.
Kedua gadis jelita itu, hanya bisa berdiri Mematung di sana, tidak tahu apa yang harus mereka katakan.
Hanya airmata bercampur air hujan yang terus bercucuran membasahi wajah kedua gadis jelita tersebut.
Guo Yun sendiri yang terlihat berlutut sambil memeluk tubuh yang lunglai tersebut.
Dia terlihat sangat terpukul dan bersedih dengan kejadian yang sedang terjadi di depan mata nya.
Dia juga terlihat terus menggelengkan kepalanya, dengan airmata bercampur air hujan.
Dia terus menatap kearah wajah Min Min yang terlihat pucat pasi dengan mulut berlumuran darah, Guo Yun terlihat sulit percaya dan menerima kenyataan ini.
Min Min batuk batuk kecil dan kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Sambil memaksakan diri tersenyum, dia mengeluarkan sepucuk surat, lalu dia sisipkan di kantung baju Guo Yun dan berkata pelan,
"Bacalah,..kamu...kamu..akan..
mengerti.. semuanya...!"
Lalu Min Min mengangkat tangannya seperti ingin berusaha menyentuh wajah Guo Yun.
Tapi di tengah jalan, tangan nya terkulai kebawah bersamaan dengan sepasang matanya, yang terpejam rapat dan kepalanya pun ikut terkulai kedalam pelukan Guo Yun.
"Arggggghhh...!!"
"Tidakkkkkk...!!!"
"Jangannnn Min Min,.Jangan..!"
"Hikkss..hikkss,.. hikkss..!"
"Jangan pergi tinggalkan aku dengan cara seperti ini,..jangan..!"
Guo Yun menangis seperti anak kecil yang kehilangan induknya.
Dia terus menangis dan memeluk tubuh Min Min dengan erat.
Gongsun Li dan Si Si hanya bisa ikut berlutut di samping Guo Yun, menutupi mulut mereka dengan tangan, berusaha menahan suara Isak tangis mereka.
Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya Gongsun Li berkata dengan hati hati, sambil menyentuh pundak Guo Yun.
"Yun ke ke Tabahlah,.. yang pergi tidak akan pernah kembali.."
"Lebih baik kita cari tempat berteduh dan membaca apa isi pesan nya.."
__ADS_1