
Meng Da yang menyadari kesalahannya dan bahaya sedang mendekat.
Dia buru buru menarik kembali goloknya, dengan tubuh sedikit di rendahkan.
Golok besar dipalangkan disamping tubuhnya.
"Trangggg...!"
Terdengar suara benturan senjata tajam yang memekakkan telinga.
Pedang di tangan Liu Qin Lung, yang hanya sebatang pedang biasa.
Di mana dia mendapatkan pedang itu secara sembarang dari Medan pertempuran sebelumnya.
Kin berhadapan dengan golok pusaka Meng Da yang terbuat dari bahan baja pilihan.
Tentu saja pedang itu tidak kuat, saat keras beradu keras dengan senjata Golok pusaka Meng Da.
Pedang patah menjadi 4 potong di hantam oleh golok Meng Da.
Tapi Liu Qin Lung yang memilki kemampuan diatas rata rata, patahan pedang itu dia dorong dengan pukulan tangan kosongnya.
Sehingga pedang yang patah justru bergerak kembali menyerang Meng Da dari empat arah, seperti lontaran pedang terbang.
Meng Da yang tidak ingin menjadi korban lontaran patahan pedang lawannya.
Dia langsung memutar goloknya menjadi gulungan sinar, untuk menghalau datangnya serangan patahan pedang terbang lawannya.
"Trangggg..!' "Trangggg..!'
Trangggg..!' "Trangggg..!'
Keempat patahan pedang berhasil di tangkis hingga kembali patah menjadi 8 potong patahan pedang.
Tapi patahan pedang yang semakin banyak itu, seperti bernyawa, terus bergerak mengejar Meng Da.
Meng Da menjadi kelabakan di buatnya, karena jaraknya dan patahan pedang yang bergerak kembali menyerangnya begitu dekat.
Dia tidak sempat menghindar lagi, memutar golok besarnya yang berat sepertinya juga akan sulit.
"Trangggg..!" "Trangggg..!"
"Trangggg..!" "Trangggg..!"
Dari 8 potongan pedang yang datang, hanya 4 yang berhasil dia tangkis.
Sedangkan 4 batang lainnya, menancap masing masing dua di paha dan dua di pangkal bahu.
"Creebbbb..!!!" "Creebbbb..!!!"
"Arggghhh..!"
Jerit Meng Da kesakitan, tapi bukan karena 4 patahan pedang yang menancap di tubuhnya.
Melainkan di saat dia sedang sibuk menangkis patahan pedang.
Liu Qin Lung telah bergerak cepat mengitari Meng Da, tanpa Meng Da menyadarinya.
Liu Qin Lung telah menyarangkan kedua cakar nya, yang terisi penuh hawa sakti pukulan geledek cahaya hijau.
Tepat menghantam punggung Meng Da, hingga kedua tangan Liu Qin Lung menembus daging tulang hingga muncul di depan dada Meng Da.
Sambil menjerit kesakitan, Meng Da mencoba menoleh kearah belakang dengan penuh penasaran.
__ADS_1
Meng Da yang sudah tidak berdaya menggunakan sisa tenaganya menusukkan golok besarnya kearah belakang melewati ketiaknya sendiri.
"Singggg..!"
"Dessss..!"
"Blukkkk..!"
Tapi niatnya terbaca oleh Liu Lau Puo sebelum dia menggerakkan goloknya melakukan penikaman kearah belakang.
Liu Qin Lung sudah lebih dulu, menyarangkan tendangan nya kearah pinggang Meng Da.
Sehingga Meng Da terpental nyungsep kedepan, jatuh menyembah tanah untuk yang terakhir kalinya.
Karena setelah itu berikutnya, Meng Da tidak akan pernah mampu untuk bisa bangkit kembali, melihat matahari esok.
Setelah menyelesaikan Meng Da, Liu Qin Lung melihat pasukan Qin telah menyerahkan diri.
Melepaskan senjata tidak melanjutkan perlawanan lagi, setelah atasan mereka tewas.
Bagaimana pun Liu Qin Lung adalah mantan dari pasukan Qin.
Hubungan nya dengan pasukan Qin yang kini menyerah, dulu nya mereka pernah menjadi teman.
Dua tidak tega menghabisi mereka semua nya, seperti yang Gongsun Li lakukan.
Liu Qin Lung menyapukan pandangannya sejenak, akhirnya dia berkata,
"Hari ini demi mengingat hubungan lama, aku berikan kalian kesempatan hidup.."
"Tinggalkan tempat ini, kembali ke Qin.!?"
"Di mana di pertemuan kita berikutnya, aku tidak bakal memberikan kalian pengampunan lagi..!'
ucap Liu Qin Lung tegas.
Sisa pasukan Qin yang menyerah langsung berkata,
"Terimakasih atas pengampunan nya Jendral Liu, kami semua memilih ikut dengan Jendral Liu..!"
"Mulai hari ini nyawa kami adalah milik Jendral..!"
ucap mereka kompak.
Liu Qin Lung tersenyum lebar dan berkata,
"Ayo bangunlah saudara saudara ku, selamat bergabung.."
"Aku berjanji akan sehidup semati bersama kalian semuanya.."
"Mari kita Songsong masa depan yang jauh lebih cerah.."
ucap Liu Qin Lung memberi semangat kepada seluruh bawahan nya.
Liu Qin Lung membiarkan mereka semua saling mengenal dan bersukacita sejenak.
Karena pasukan yang dia pimpin kini adalah pasukan campuran dari pasukan harimau hitam dan pasukan mantan Qin.
Liu Qin Lung ingin memberikan mereka suasana kompak dan akrab, agar tidak ada jurang pemisah.
Sehingga mereka bisa bekerja sama dengan baik sesuai arahannya, maupun arahan pimpinan tertinggi nya.
Menjelang sore Liu Qin Lung memutuskan membawa pasukannya yang kini bertambah menjadi 60.000 personil.
__ADS_1
Bergerak menuju arah barat mengejar kearah Meng Yu pergi.
Liu Qin Lung tidak tenang membiarkan Gongsun Li atasan yang kuat galak tegas, tapi agak bertemperamen dan kurang tenang.
Menghadapi Meng Yu yang cerdas dan banyak siasatnya.
Jadi dia memilih tidak menuruti perintah Gongsun Li, selesai tugas langsung kembali ke Shoucun untuk berkumpul.
Tapi dia memilih menyusul kearah Gongsun Li pergi.
Di tempat lain Si Si yang melakukan pengejaran kearah selatan di mana Meng Li pergi.
Akhirnya dia dan pasukannya berhasil menyusul Meng Li hingga tiba di tepi sungai Han.
Di mana tanpa punya perahu, Meng Li dan pasukan nya, tertahan di sana.
Mereka membuat pertahanan di sana bersiap siap untuk melakukan perang terakhir.
Meski harus hancur, mereka siap membawa Si Si dan pasukannya, ikut dengan mereka ke alam baka.
Si Si yang melihat lawannya membuat perkemahan di sebuah lembah di tepi sungai Han, yang berarus deras.
Dia diam diam menghela nafas panjang di dalam hati.
"Jendral Zhou bagaimana menurutmu pertempuran ini..?"
tanya Si Si sambil terus mengawasi pertahanan berlapis lapis, yang di buat oleh pasukan Qin di lembah sana.
Zhou Tai menghela nafas panjang dan berkata,
"Bila kita memaksa bergerak ke sana, ini akan menjadi suatu pertempuran yang sulit.."
"Tapi tidak kesana juga tidak mungkin, tidak menempuh bahaya bagaimana kita mau menangkap anak harimau..?"
ucap Zhou Tai yang terlihat dilema dan sedang memutar otak.
Memikirkan cara jitu agar bisa menghindari pertempuran sulit itu.
Si Si mengangguk setuju dengan pendapat Zhou Tai, dia juga kurang setuju untuk maju menyerang secara frontal.
Setelah mengamati saling diam dalam beberapa waktu akhirnya Si Si berkata,
"Jendral Zhou, aku serahkan pengawasan di sini pada mu.."
"Kecuali mereka mencoba naik kemari menyerang kita, bila tidak sebisa mungkin hindari perang terbuka.."
ucap Si Si mengingatkan.
"Yang Mulia mau ke mana,?"
"Bagaimana bila aku suruh beberapa komandan, memimpin, barisan pasukan terbaik kita melakukan pengawalan..?"
ucap Zhou Tai khawatir.
Si Si tersenyum dan berkata,
"Tidak perlu,.. terimakasih Jendral Zhou atas perhatiannya.."
"Biar aku bawa beberapa laskar wanita ku saja, menyertai ku.."
"Orang banyak malah menyulitkan kebebasan pergerakan ku.."
"Jendral tidak perlu khawatir, aku hanya pergi sebentar saja, tidak akan ada masalah.."
__ADS_1
ucap Si Si sambil tersenyum lembut.