
"Ehh maaf nona, aku tak sengaja.."
"Aku.."
ucap Guo Yun gugup, sambil mundur menjauh.
Tapi orang ke 7 dari Chi Sa, yang nama aslinya adalah Kim Bwee.
Dia adalah gadis yang sangat berpengalaman, sekali lihat saja dia tahu.
Meski Guo Yun terlihat berusaha menjaga jarak, tapi tatapan sepasang mata Guo Yun ,yang liar, tidak bisa terlewat dari penglihatannya.
Sambil tersenyum malu, Kim Bwee berkata,
"Tidak apa-apa tuan muda, tak perlu di pikirkan, Kim Bwee tidak masalah.."
"Bisa melayani tuan muda, itu adalah kebanggaan dan keberuntungan Kim Bwee."
ucap Kim Bwee dengan suara lembut.
Sambil melemparkan kerlingan dan senyum maut, yang menghantarkan listrik bagi Guo Yun.
Guo Yun yang pada dasarnya mengidap penyakit aneh, mendapatkan pancingan dan sambutan seperti itu
Seluruh tubuhnya langsung panas dingin, Libidonya langsung meledak ledak.
Tanpa bisa di tahan sepasang matanya terus mencuri lihat kearah sepasang bukit kembar Kim Bwee, yang membusung kedepan.
Kim Bwee pura pora malu, dan membereskan baju di bagian tersebut, yang agak kendor.
Gerakan nya itu justru semakin mengundang tatapan mata penasaran Guo Yun.
Kim Bwee tiba tiba menutup matanya dan membalikkan badannya, sambil berkata,
"Ihh Tuan muda nakal.."
Lalu dia dengan wajah merah berlari meninggalkan tempat tersebut.
Kim Bwee yang berpengalaman langsung mengeluarkan segala triknya, membuat Guo Yun penasaran dengan dirinya.
Guo Yun yang menyadari, kenapa Kim Bwee bersikap begitu.
Itu semua karena Kim Bwee tadi saat sedang menunduk, secara tidak sengaja.
Dia telah melihat Rudalnya yang sedang mengamuk.
Seluruh wajah Guo Yun semakin merah padam, dia semakin salah tingkah dan gelisah.
Chi Sa yang lainnya, diam diam di balik topeng, mereka semua menertawai Guo Yun yang terlalu mentah.
Tidak tahu mampus, sebentar lagi pasti akan menjadi santapan adik ke 7 mereka, yang liar dan lebih ganas dari ular.
Semua ini tentu saja tidak terlepas dari penglihatan Lu Bu Wei, tapi dia berpura pura tidak tahu dan berkata,
__ADS_1
"Ayo Yun er, kita segera kembali ke Xian Yang saja dulu.."
"Agar bisa menyusun rencana lebih lanjut..yang lebih matang."
ucap Lu Bu Wei sambil menepuk bahu Guo Yun, dan membimbingnya meninggalkan tempat tersebut.
Guo Yun yang tidak menyadari bahaya, dia melangkah semakin jauh, dan masuk kedalam perangkap yang sudah Lu Bu Wei siapkan untuknya.
Saat mereka berada dalam perahu penyeberangan, Lu Bu Wei berkata,
"Yun er, demi keamanan dan keselamatan mu, paman sarankan sebaiknya kamu kenakan topeng emas ini.."
"Dengan begitu, musuh tidak akan mengenali mu."
"Saat berhadapan, kamu akan menang selangkah, karena mereka tidak ada yang mengenali mu."
Guo Yun berpikir sejenak, kemudian dia menerima sebuah topeng setan emas dari Lu Bu Wei dan langsung mengenakannya.
Kim Bwee tidak berkata apa-apa, dia memilih duduk di bangku, tepat di depan Guo Yun, yang mana dia terlihat memunggungi Guo Yun.
Posisi duduk ini memberikan keuntungan godaan, yang terlihat seperti tidak sengaja, tapi sangat efektif.
Karena saat angin berhembus, wangi dari tubuh dan rambutnya, akan langsung menerpa kearah Guo Yun.
Selain itu, dia juga sengaja memamerkan lekuk bagian belakang tubuhnya, yang aduhai menghadap kearah Guo Yun.
Ditambah dengan memamerkan kulit tengkuknya, yang mulus dan jenjang, ini akan menjadi pelengkap yang semakin sempurna.
Guo Yun seperti sebuah gunung berapi aktif yang sedang tidur, bila meletus tentu akan sangat luar biasa.
Kim Bwee sudah membayangkan, apa yang akan dia peroleh, bila berhasil membangkitkan gunung api tidur itu.
Kim Bwee tidak akan pernah menyangka, bermain main dengan Guo Yun.
Dia hanya akan menggali lubang kubur bagi dirinya sendiri.
Guo Yun sangat bersyukur, wajahnya tertutup topeng, sehingga tidak ada orang yang menyadari wajahnya sedang merah membara.
Tapi Guo Yun lupa leher dan daun telinganya, tidak tertutupi, di sekitarnya adalah orang berpengalaman semua.
Mereka mana mungkin bisa tidak tahu dengan perubahan yang terjadi padanya.
Hanya saja mereka semua berpura pura tidak tahu, tentang apa yang sedang terjadi.
Beberapa hari kemudian, rombongan tersebut akhirnya tiba di Xian Yang.
Mereka langsung menuju istana, tapi di depan Ying Zheng, Lu Bu Wei hanya memperkenalkan Guo Yun sebagai Si topeng Emas rekrutan barunya.
Dia tidak membuka identitas Guo Yun, Lu Bu Wei khawatir Ying Zheng, yang sangat membenci Guo Yun.
Tidak bisa menahan diri, malah mengacaukan rencana, yang sudah dia susun rapi buat Guo Yun.
Selesai melapor sebentar ke Ying Zheng, Lu Bu Wei langsung membawa Guo Yun menuju gudang senjata di Istana.
__ADS_1
"Yun er ini adalah gudang senjata pusaka istana, kamu pilihlah salah satu senjata, yang menurut mu cocok dengan mu.."
Guo Yun berkeliling melihat lihat, dan memeriksa semua senjata yang ada di sana.
Guo Yun memilih sebatang tombak cagak tiga, lalu dia simpan kedalam cincinnya.
Senjata itu menurut Guo Yun akan sangat berguna, saat dia bertempur diatas kuda.
Selanjutnya Guo Yun menghampiri deretan pedang ternama, dari berbagai jaman dan dinasti.
Pilihan Guo Yun akhirnya jatuh pada sebatang pedang, yang selalu mengeluarkan cahaya merah saat Guo Yun mendekat.
Saat Guo Yun menjauh, cahayanya akan meredup, seolah olah pedang pusaka itu sedang memilih tuanya sendiri.
"Paman ini pedang apa ? kelihatannya agak unik..?'
tanya Guo Yun sambil menatap pedang cahaya merah itu lekat lekat.
"Ohh itu,.. katanya sih pedang darah, aku menemukannya, saat berhasil.menahlukkan ibukota negara Chu, Shoucun.."
"Tapi sayangnya kota tersebut, kini sudah jatuh kedalam kekuasaan sekolompok bandit dari Wu Yue."
"Mereka memanfaatkan situasi di mana kita sedang sibuk, menghadapi invasi dari Zhao dan Xiongnu.."
"Mereka melakukan serangan dadakan dan merebutnya dari kita.."
"Mereka bahkan beberapa kali berusaha mencoba menyerang Xian Yang.."
"Untungnya Xian Yang di lindungi oleh sungai Huai, yang menjadi pelindung alami.."
"Sehingga mereka selalu gagal, sebelum sempat mendarat.."
ucap Lu Bu Wei menceritakan situasi di Shoucun, memancing penasaran Guo Yun.
Tapi Guo Yun tidak begitu tertarik dengan urusan perebutan wilayah.
Saat ini dia lebih tertarik dengan pedang di hadapannya.
"Paman bolehkah aku memiliki nya ?"
tanya Guo Yun, yang terlihat penasaran dan antusias.
Lu Bu Wei tersenyum dan mengangguk,
"Terserah kamu Yun er, kamu mau senjata yang mana, ambil saja.."
Mendengar ijin dari pamannya, tanpa sungkan lagi, Guo Yun mengulurkan tangannya menyentuh Pedang Darah itu.
Begitu tangan Guo Yun bersentuhan dengan gagang pedang itu.
Pedang itu langsung mengeluarkan sinar merah, menerangi seluruh ruangan penyimpanan pusaka.
Guo Yun sendiri berdiri diam tidak bergerak seperti patung.
__ADS_1