
Guo Yun yang tidak berhasil menemukan keberadaan Sian er di antara orang orang itu.
Hatinya kembali cemas, Guo Yun setelah melakukan pengamatan selama beberapa waktu, tetap tidak menemukan ada pria lain di sana.
Akhirnya dia memungut 4 butir batu di sekitarnya, setelah itu dia berkata pelan,
"Ayo kita keluar.."
Li Kui mengangguk, lalu dia berjalan mengikuti Guo Yun dari belakang.
Guo Yun berjalan dengan tenang keluar dari balik semak belukar.
Melihat kemunculan Guo Yun yang tiba-tiba, salah satu pria itu langsung berteriak,
"Dabu Dabu Sa..!!"
Dabu Dabu Sa..!!"
Dia terus berteriak sambil menunjuk kearah Guo Yun.
Guo Yun hampir saja tertawa mendengar bahasa orang orang hitam itu.
Tapi begitu melihat mereka sudah bersiap dengan busur dan anak panah ditangan.
Sebelum mereka sempat melakukan serangan, Guo Yun sudah mendahuluinya dengan menembakkan 4 batu kecil, yang.langsung dengan tepat menghantam jalan darah mereka.
Keempat orang hitam itu, seketika berdiri mematung tidak bisa bergerak.
Tapi mereka masih bisa bersuara, keempat orang itu berlomba lomba berteriak keras,
"Sabu sabu bah,..! pirex...! pirex..!"
"Sabu sabu bah,..! pirex...! pirex..!"
"Sabu sabu bah,..! pirex...! pirex..!"
Para wanita terlihat berhamburan, menarik anak anak mereka masuk kedalam rumah.
Guo Yun sambil menahan senyum, dia berjalan mendekati keempat orang itu, dan berbicara dengan bahasa isyarat.
Menggambarkan di mana Sian er temannya berada.?
Kempat orang itu sepertinya mengerti, tapi mereka menggelengkan kepalanya dengan wajah ketakutan, sesekali mereka melirik kearah puncak gunung.
Melihat hal ini tanpa perlu di tanyakan lagi, Guo Yun yang bermata jeli dan cerdik.
Sudah bisa menebak Sian Sian pasti di bawa keatas puncak gunung oleh orang orang ini.
Bila di lihat dari jumlah wanita dan anak anak di perkampungan tersebut.
Guo Yun juga bisa menebak, sebagian besar para pria di desa ini, pasti sedang mengawal Sian Sian keatas puncak gunung.
Apa tujuan mereka, Guo Yun belum bisa menebaknya.
Guo Yun memberi kode pada Li Kui, agar naik kembali ke punggungnya.
Sesaat kemudian, dia sudah melesat meninggalkan tempat itu sambil memondong Li kui.
Guo Yun terus melesat cepat menyusul kearah puncak gunung, melewati halaman belakang, pondok pondok tempat tinggal manusia primitif itu.
Guo Yun menemukan jalan setapak di belakang pondok mereka, di sana dia juga kembali menemukan sebuah mutiara kecil.
__ADS_1
Tanpa berpikir dua kali, Guo Yun segera menyusuri jalan setapak itu naik menuju puncak gunung.
Dengan berlompatan ringan, sebentar saja Guo Yun sudah tiba di puncak gunung.
Di sana di sebuah tanah datar yang cukup luas, terlihat manusia primitif itu, semuanya sedang berlutut, di depan halaman dua pondok reyot yang berdiri di sana.
Di depan pondok reyot terlihat sebuah meja batu, di mana diatas meja batu terlihat Sian er di geletakkan di sana, dengan kaki tangan dan mulut terikat.
Melihat Sian er baik baik saja, Guo Yun pun menghela nafas lega.
Guo Yun menurunkan Li Kui dari pondongan nya dan berkata,
"Ayo kita maju.."
Li Kui mengangguk gagah, dia tidak terlihat takut sedikitpun.
Li Kui menghunus sebatang golok besar yang menjadi senjata andalannya.
Dia berjalan dengan tenang mengikuti di belakang Guo Yun.
Guo Yun dengan santai berjalan menghampiri orang orang itu, yang terlihat sedang berlutut,
seperti sedang membaca mantra persembahan.
Meski jumlah mereka tidak kurang dari 100 orang lebih, tapi Guo Yun maupun Li kui, mereka tidak terlihat takut sama sekali.
Melihat kedatangan Guo Yun, mereka kembali berteriak,
"Dabu Dabu Sa,..!"
"Dabu Dabu Sa,..!"
"Dabu Dabu Sa,..!"
Sementara itu, Sian Sian setelah melihat kedatangan Guo Yun dan Li Kui disana.
Sepasang matanya langsung berbinar binar penuh harap.
Dia langsung tersenyum lebar, memperlihatkan sederetan giginya yang putih seperti mutiara.
Hanya saja dia tidak bisa bergerak maupun bersuara, karena sedang terikat, kaki tangan dan mulutnya.
Manusia primitif itu, di bawah pimpinan kepala suku mereka, yang mengenakan topi bulu burung.
Terlihat berteriak teriak,
"Dabu Dabu mo sole,..Ba..Ba..Ba..!*
Seluruh bawahan nya langsung mengangkat senjata badik mereka, menerjang kearah Guo Yun dan Li Kui.
Sambil berteriak teriak histeris, mereka langsung menebaskan badik mereka dengan tujuan ingin menghabisi Guo Yun.
Melihat hal ini Guo Yun juga tidak mau bermurah hati terhadap mereka.
Guo Yun mencabut pedangnya.
"Tranggg,..! Tranggg,..! Tranggg,..!"
"Tranggg,..! Tranggg,..! Tranggg,..!"
"Tranggg,..! Tranggg,..! Tranggg,..!"
__ADS_1
"Tranggg,..! Tranggg,..! Tranggg,..!"
Terdengar suara pedang beradu, Fei Yang dan Li Kui bergerak menangkis semua serangan yang datang.
"Sreettt, .! Sreettt, .! Sreettt, .!"
"Sreettt, .! Sreettt, .! Sreettt, .!"
"Sreettt, .! Sreettt, .! Sreettt, .!"
"Sreettt, .! Sreettt, .! Sreettt, .!"
Terdengar bunyi tebasan pedang Guo Yun merobek leher dan tubuh orang orang yang menyerangnya.
Guo Yun membalas menyerang dengan pedang walet emas menggunakan ilmu Pedang Cui Mo Cien Fa.
"Arggggghhh,..! Arggggghhh,..!"
"Arggggghhh,..! Arggggghhh,..!"
"Arggggghhh,..! Arggggghhh,..!"
"Arggggghhh,..! Arggggghhh,..!"
Dalam sekejap mata para pengeroyoknya pada berteriak kesakitan dan tersungkur keatas tanah berlumuran darah.
Menghadapi orang orang seperti ini, Guo Yun juga tidak mau berbelas kasihan, karena dia mengasihani mereka.
Mereka belum tentu mau mengasihaninya, cara terbaik adalah melakukan pembantaian, agar mereka jerih dan mundur sendiri.
Li Kui juga cukup lumayan, dia sudah menjatuhkan beberapa orang pengeroyoknya.
Dalam sekejap tubuh tubuh manusia primitif itu pada berserakan di sana, merintih rintih kesakitan tidak sanggup bangun.
Sebagian yang terkena Tebasan di lehernya oleh pedang Guo Yun nasib mereka paling parah.
Darah menyembur nyembur dari leher seperti keran bocor, sedangkan tubuh mereka kejang kejang, seperti ayam habis kena sembelih.
Sisa manusia primitif terlihat jerih, mereka tidak berani mendekat apalagi menyerang Guo Yun dan Li Kui.
Di bawah pimpinan kepala suku mereka, yang mengenakan topi bulu burung, dia kembali berteriak,
"Dabu Dabu pa pa he,.. pahe kan..!"
Sisa manusia primitif itu kini mengangkat busur dan anak panah mereka, diarahkan ke Guo Yun dan Li Kui.
Begitu anak panah mereka di lepaskan, Li Kui buru buru memutar goloknya sambil bergerak mundur kebelakang.
Guo Yun justru melakukan hal sebaliknya, dia bergerak maju sambil memutar pedangnya menangkis semua anak panah yang datang.
Setiap anak panah yang tertangkis oleh Guo Yun, akan di returkan ke pemanahnya sendiri.
"Arghhhh,..! Arghhhh,..! Arghhhh,..!"
Arghhhh,..! Arghhhh,..! Arghhhh,..!"
Arghhhh,..! Arghhhh,..! Arghhhh,..!"
Arghhhh,..! Arghhhh,..! Arghhhh,..!"
Teriakkan kesakitan berkumandang dari para pemanah, yang terkena anak panah mereka sendiri.
__ADS_1
Mereka pada jatuh bertumbangan keatas tanah dengan tubuh kejang kejang mata mendelik keatas.
Tidak sampai semenit mereka sudah pada tewas.