
Paham.. Ya Fu ( ayah angkat.)"
ucap Ying Zheng dengan kepala tertunduk, tanpa berani mengangkat kepalanya sama sekali.
Dia hanya menggunakan tangannya memegangi pipinya, yang terasa panas tebal dan kebas.
"Ying Zheng aku katakan pada mu, meski kamu putra ku, bila kamu terus tidak berkompeten seperti ini."
"Kamu jangan salahkan ayah, bila nanti mencari yang lain menggantikan mu.."
Ying Zheng tak berani menjawab, dia hanya bisa mengangguk patuh.
Lu Bu Wei sambil menghela nafas panjang, dia menatap kearah Ying Zheng, dengan penuh perasaan sayang.
"Sudahlah,..ambil topi mu, kenakan lagi, kembalilah ke istana.."
"Ingat lebih bijak dalam mengambil keputusan, utamakan tujuan besar.."
ucap Lu Bu Wei memberi nasehat.
Setelah itu dia berjalan duluan meninggalkan tembok benteng kota yang terlihat sepi.
Sejak hari itu, Ying Zheng benar benar berubah total, dia berubah menjadi seseorang, yang memilki ambisi yang tidak berbatas.
Dia juga berubah menjadi pemuda yang rajin belajar dan rajin menyesuaikan diri, dalam berbagai situasi dan kondisi.
Dia juga belajar sabar, menyimpan semua amarah dan perasaannya, agar tidak pernah bisa di lihat dan di ketahui oleh bawahannya, apalagi lawannya.
Dia berubah menjadi karakter, yang penuh misteri, tidak ada yang bisa menebak, apa yang sedang di pikirkan olehnya.
Dia benar benar belajar banyak dari Guo Yun dan Lu Bu Wei, kedua karakter itu, dia ambil point terbaiknya, untuk dirinya sendiri.
Guo Yun sendiri setelah pergi sembahyang di depan makam Gongsun Yan Lai Fu dan Xiao Tie.
Di mana mereka bertiga di makamkan di gedung kediaman Guo Yun.
Guo Yun membantu memakamkan papan kayu pusara Ji Ao, tepat di sebelah makam Gongsun Yan.
"Kakak Yan, aku sudah membawanya kembali."
"Kalian berkumpul lah kembali di bawah sana ."
"Tolong bantu lindungi Li mei yang sampai saat ini belum ada kejelasan, di mana keberadaannya.."
ucap Guo Yun penuh khidmat, sambil berlutut di depan makam Gongsun Yan.
Selesai sembahyang Guo Yun, buru buru langsung kembali ke markas militer nya, dia menulis sepucuk surat untuk Zhang Yi, agar memindahkan pasukannya kembali ke camp militer di Xian Yang.
Selesai menulis, surat itu, dia berikan kepada dua pengawal yang sengaja di utus oleh Lu Bu Wei.
Cerita nya untuk membantu segala keperluan dan kebutuhannya.
Tapi sebenarnya, mereka berdua adalah spion, yang di taruh oleh Lu Bu Wei, untuk mengawasi dirinya.
Guo Yun tidak menolaknya, tapi dengan alasan surat itu, Guo Yun meminta mereka berangkat.
Untuk mengantarkan surat itu ke Zhang Yi.
Akhir nya tinggal satu orang yang ikut di sisi Guo Yun pagi siang malam.
Sedangkan yang satunya lagi berangkat untuk mengantar surat.
__ADS_1
Tersisa satu orang, Guo Yun lebih mudah mengecoh nya.
Dengan racun bius, Guo Yun sering membuat pengawal itu tertidur, saat dalam tugas.
Sehingga dia bebas menjalankan aksinya, melakukan penyelidikan dan mencari saksi yang tahu, atas insiden yang terjadi di kediaman nya.
Terutama kemana perginya Xiao Li dan Gongsun Li istrinya, yang tidak mungkin menghilang begitu saja, tanpa kabar dari jejak sama sekali.
Tapi sampai pasukannya kembali, penyelidikan Guo Yun selalu menemui jalan buntu.
Karena semua saksi, yang berhubungan dengan insiden itu.
Semuanya sudah di eksekusi dengan tuduhan mata mata negara Chu.
Tidak ada satupun saksi yang di biarkan hidup.
Tak lama setelah pasukan Guo Yun kembali, barisan besar pasukan Wang Jian juga ikut kembali ke markas mereka.
Malam itu terlihat Guo Yun bersama kelima ajudannya, sedang berdiskusi, bagaimana cara meningkatkan kemampuan pasukan mereka.
Selagi diskusi sedang berlangsung, tiba tiba pengawal yang menjaga kemah utama berteriak lantang.
"Lapor,..! Jendral Wang mohon menghadap..!"
"Persilakan masuk..!"
jawab Guo Yun dari dalam.
Pengawal itu membuka Kerai penutup pintu kemah dan mempersilahkan Jendral Wang Jian untuk masuk.
"Kakak Wang kemarilah,.. duduk lah bersama kita.."
Wang Jian mengangguk, begitu duduk dia pun berkata,
"Ada kabar terbaru yang baru masuk .."
"Apa itu..?"
tanya Guo Yun sambil menatap kearah Wang Jian.
"Si penjilat Li Sin masuk kedalam jebakan Xiang Yan, 150.000 pasukan yang di bawanya, gugur semua.."
ucap Wang Jian bercerita dengan penuh semangat.
Guo Yun sedikit terkejut mendengar berita kurang baik itu.
Dia buru-buru berkata,
"Bagaimana dengan Li Sin sendiri ? Meng Thian bagaimana..?"
Wang Jian sambil tersenyum puas berkata,
"Li Sin tewas, kedua putranya Li Tek dan Li Pai juga tidak terkecuali."
"Jendral Meng Thian selamat, karena tidak sepaham dengan rencana Li Sin.."
"Jadi dia membawa 50.000 pasukannya, dalam perjalanan pulang.."
Mendengar Meng Thian selamat, Guo Yun pun menghela nafas lega.
Hubungan nya dengan Meng Thian cukup baik, Meng Thian adalah seorang pahlawan yang layak di hormati, menurut pemikiran Guo Yun yang pernah bekerja sama dengan Jendral itu.
__ADS_1
"Syukurlah bila Jendral Meng selamat.."
ucap Guo Yun pelan.
Guo Yun tidak sayang Li Sin dan kedua putranya mampus, tapi dia sedikit prihatin dengan 200.000 pasukan Qin, yang menemani Li Sin terkubur di medan perang.
"Kakak Wang setelah ini kira kira apa pergerakan Qin..?"
tanya Guo Yun ingin tahu.
"Aku berani pastikan paling lama 3 hari, kita pasti akan segera di panggil pergi menghadap.."
ucap Wang Jian penuh keyakinan.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Kalau kakak Wang aku yakin.."
"Kalau aku sepertinya sulit.."
Kelima ajudan Guo Yun pun ikut tersenyum menanggapi ucapan atasan mereka.
Mereka juga sependapat, ada roti di depan mata, itu pasti bukan jatah mereka.
Jatah mereka adalah tinggal bungkusnya, atau karena sesuatu dan lain hal, roti itu tidak bisa di ambil.
Itu baru tiba giliran mereka, tapi mereka tidak berkecil hati.
Justru itu ujian buat mereka, selama bersama Guo Yun, mereka tidak akan mundur.
Wang Jian tersenyum kecut, dia paham maksud ucapan saudaranya.
Hal itu tidak heran, dia sudah menyaksikan sendiri, apa yang saudaranya ini terima.
Selama bergabung dengan Qin, dia seperti sepotong tulang, di buang sayang, di makan tidak bisa.
Guo Yun tersenyum dan menepuk bahu Wang Jian dan berkata,
"Terimakasih informasinya kak, ayo kita bersulang.."
"Kami semua mendoakan semoga kakak sukses dan pulang membawa kemenangan memuaskan.."
"Wakili adik mu memberi ganjaran pada Xiang Yan si bedebah itu.."
ucap Guo Yun sambil mengangkat cawan nya, bersulang kearah Wang Jian.
Zhang Yi, Ling Tong, Zhou Tai, Han Wei dan Ying Wu, juga ikut mengangkat cawan mereka tinggi tinggi sambil tersenyum gembira.
Mereka menyulangi Wang Jian, Wang Jian yang hobby minum arak, dia menyambutnya sambil tertawa gembira.
Wang Jian baru keluar dari tenda Guo Yun, setelah tubuhnya limbung, dengan di kawal oleh dua orang anggota pasukan harimau hitam.
Wang Jian diantar kembali hingga tiba di markas militernya.
Sementara itu di dalam tenda Guo Yun, terlihat ke 5 ajudannya yang mabuk total tidur malang melintang.
Hanya tersisa Guo Yun yang tetap sadar,, Guo Yun berjalan keluar dari tendanya melihat kearah langit.
"Andai saja arak bisa menyapu bersih kerinduan ku, aku tentu tak perlu menderita seperti saat ini.."
"Li er kamu di mana..? apa kamu baik baik saja..? apa sebenarnya yang terjadi ? di mana kalian saat ini..?"
__ADS_1