LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
GUA BAWAH TANAH


__ADS_3

Gongsun Li dan Xiao Li, yang jatuh dari lereng gunung Ba Gong, tubuh mereka berdua melayang masuk kedalam jurang.


Mereka berdua terjatuh kedalam sungai Yang Tze, yang membentang luas di bawah tebing gunung Bagong


"Byuuur..!"


"Byuuur..!"


Air muncrat tinggi di dua tempat berbeda, yang cukup berjauhan.


Baik Xiao Li maupun Gongsun Li,


mereka sama sama tidak bisa berenang.


Begitu tercebur ke dalam sungai, mereka langsung tenggelam kedasar sungai.


Dengan gerakan panik dan sempat menelan beberapa teguk air, mereka berdua sempat timbul kepermukaan sungai megap megap.


Sebelum kemudian mereka tenggelam kembali, karena tidak bisa berenang.


Secara reflek mereka sempat berteriak,


"Tolonggggg..!!"


Tapi hanya sekali terdengar, mereka keburu tenggelam.


Mereka sempat beberapa kali timbul ke permukaan, dengan tubuh terseret arus sungai Yang Tze yang deras.


Xiao Li lebih beruntung kerah bajunya secara kebetulan, saat tubuhnya sedang timbul, tersangkut dahan pohon, yang agak menjorok ketengah sungai.


Sehingga dia berhasil keluar dari dalam sungai, dengan memanjat keatas dahan pohon.


Saat tubuh Gongsun Li yang juga terseret arus lewat di bawahnya.


Xiao Li tidak mampu menolongnya.


Dia hanya bisa melihat dengan sedih tanpa mampu memberikan pertolongan.


Di mana tubuh Gongsun Li terus terseret arus sungai Yang Tze, hilang timbul di permukaan air.


Sebelum akhirnya membelok tajam di ujung depan, sehingga Xiao Li tidak bisa melihatnya lagi.


Dengan wajah sedih dan di penuhi penyesalan dan rasa bersalah, Xiao Li berkata pelan.


"Maafkan aku nyonya muda, aku sungguh tak berguna..'


Sambil menahan Isak, Xiao Li merambat di atas dahan pohon itu dengan hati hati, hingga sampai di pinggiran sungai.


Xiao Li dengan hati hati melompat turun dari atas pohon.


Dengan langkah terseok seok.


Xiao Li meninggalkan tepi sungai itu, dia berjalan tanpa arah dan tujuan.


Bagi Xiao Li yang terpenting saat ini adalah menemukan perkampungan dulu.


Dari sana dia baru bisa menentukan arah pergerakannya, untuk menemukan tuan muda nya.

__ADS_1


Dia harus menceritakan semua yang di alaminya, agar Guo Yun tahu siapa sebenarnya si bangsat Ying Zheng itu.


Sehingga Guo Yun bisa waspada dan berhati-hati, tidak sampai jatuh kedalam perangkap si bangsat itu.


Sementara Xiao Li melanjutkan perjalanan nya mencari pemukiman penduduk.


Di tempat lain Gongsun Li yang timbul tenggelam terseret arus sungai.


Akhirnya dia benar benar tenggelam sepenuhnya, tidak timbul timbul lagi ke permukaan.


Gongsun Li yang menelan air cukup banyak, dan tidak bisa bernafas.


Akhirnya pandangannya menjadi gelap, dia sepenuhnya kehilangan kesadaran.


Tapi karena takdir belum menghendaki kematiannya, saat tenggelam kedasar sungai.


Sebuah arus bawah yang sangat kuat tiba tiba muncul menyeret tubuh Gongsun Li masuk kedalam sebuah gua .


Dalam keadaan pingsan, tubuh Gongsun Li terus terseret masuk kedalam gua panjang, yang terletak di bawah sungai.


Tidak tahu berapa lama mengikuti arus arung jeram, di dalam terowongan air itu.


Gongsun Li akhirnya terdampar di bebatuan landai di bagian pinggiran arung jeram, yang airnya sedang berbelok tajam.


Gongsun Li tergolek dalam posisi tertelungkup dengan seluruh pakaian compang camping.


Luka robek berdarah di tubuhnya juga terlihat di beberapa bagian tubuhnya.


Wajahnya pun mengalami beberapa luka gores ringan.


Gongsun Li terus tergeletak di sana, hingga akhirnya dia siuman dengan sendirinya.


Dia sedikit berdesis menahan perih di seluruh tubuhnya.


Beberapa waktu berlalu, setelah tenaganya sedikit pulih, dia baru mencoba bangkit duduk.


Untungnya dia hanya mengalami luka lecet lecet di sekujur tubuhnya.


Tidak sampai mengalami luka patah tulang, sehingga dengan tubuh sedikit bergoyang goyang dan agak sempoyongan.


Gongsun Li berjalan pelan pelan menyusuri bantaran aliran arus bawah tanah itu.


Keadaan gua yang remang remang, membuat Gongsun Li harus berhati-hati dalam melangkah.


Dalam keadaan gelap remang remang, Gongsun Li melihat kantong bajunya di bagian dada mengeluarkan cahaya samar samar.


Dia buru buru mengeluarkan tusuk konde pemberian Guo Yun.


Setelah tusuk konde itu di keluarkan, cahaya biru langsung menyinari gua yang agak gelap itu.


Dengan mengangkat tusuk kondenya tinggi tinggi, Gongsun Li bisa melihat dengan lebih jelas keadaan di sekitarnya.


Batu biru yang menjadi hiasan tusuk konde itu lah, yang mampu mengeluarkan cahaya.


Sehingga bisa di gunakan sebagai penerangan darurat.


Gongsun Li kembali bisa melanjutkan langkah kakinya dengan lebih tenang.

__ADS_1


Karena kini sudah ada penerangan yang membantunya, dia terus bergerak menelusuri gua tersebut.


Langkah Gongsun Li akhirnya terhenti oleh sebuah dinding batu yang menghadang di depan nya.


Sampai di sini arus sungai mengalir melewati bagian bawah tebing, yang memilki celah..


Gongsun Li terpaksa menghentikan langkahnya, dia mengeluh dengan kecewa melihat kondisi di hadapan nya.


Dengan menggunakan batu hiasan tusuk kondenya sebagai penerangan.


Gongsun Li mencoba melakukan pemeriksaan lebih teliti, dinding tebing yang menghalangi jalannya itu.


Tapi setelah beberapa waktu memeriksa, Gongsun Li akhirnya memilih duduk di sana, bersandar di tebing untuk melepas lelah.


Dia tidak berhasil menemukan apa pun di sana, selain dinding tebing yang padat dan keras.


Gongsun Li sudah sempat menggunakan ujung belakang belatinya, untuk mengetuk ngetuk dinding tebing itu.


Tapi hasilnya nihil, dinding batu itu sangat keras dan padat, tidak ada tanda tanda celah di belakang nya.


Gongsun Li duduk bersandar di dinding tebing sambil termenung pasrah.


"Yun ke ke,.. maafkan aku,.."


"Kamu jangan bersedih, lupakan saja aku.."


"Kelihatannya kita berjodoh, tapi tidak di takdirkan untuk hidup bersama."


ucap Gongsun Li putus asa.


Selagi Gongsun Li sedang duduk termenung pasrah.


"Critt..!" "Critt..!" "Critt..!" "Critt..!"


"Ehh suara apa itu..?"


ucap Gongsun Li kaget.


Dia buru-buru berdiri dari posisi duduknya, menatap kearah seberang sungai arung jeram dengan penuh penasaran.


Gongsun Li mencoba mengangkat batu di tangan nya tinggi tinggi.


Untuk melihat kearah seberang sungai bawah tanah itu.


Tapi hasilnya seberang sana terlihat gelap gulita, tidak terlihat apa apa.


Seberang sungai tidak mampu dijangkau oleh cahaya batu permata di tangan Gongsun Li.


Letaknya terlalu jauh, karena sungai yang membatasinya terlalu lebar.


Cahaya hiasan konde tidak mampu menjangkau nya.


Dengan di penuhi rasa penasaran Gongsun Li dengan hati-hati, mencoba masuk kedalam arus sungai, sambil berpegangan pada dinding tebing.


Dari semata kaki hingga air kini sepinggang, Gongsun Li masih belum berhasil melihat kearah seberang sana.


Gongsun Li menjadi nekad, sambil berpegangan erat pada dinding tebing itu.

__ADS_1


Dia terus melangkah maju setindak demi setindak.


Di saat dia hampir menghentikan usahanya, karena air kini sudah sampai ke dagu, sedikit lagi akan menutupi mulutnya.


__ADS_2