
"Hei manusia hitam, kamu tidak capek apa terus menyerang, kamu lihat matahari semakin terik..!"
"Bagaimana bila kita istirahat makan siang dulu, sore baru kembali melanjutkan nya..!?"
ucap Si topeng Emas sambil menangkis dan bergerak mundur mundur.
"Mimpi sana,..!"
"Jangan harap..!"
"Mati sana...!"
"Hiaaatt..!"
jawab Yan Liang dengan penuh percaya diri.
"Trangggg...!"
Sepasang senjata mereka bertemu di udara dengan sangat kuat.
Api berpijar saat kedua senjata berbenturan dan saling bergesekan.
Kini senjata mereka berdua saling menempel, mereka saling dorong sambil mengerahkan seluruh kekuatan mereka.
"Hiaaahh..!"
Dengan satu bentakan keras, si topeng emas berhasil mendorong Yan Liang dan kudanya mundur 3 langkah kebelakang..
Setelah berhasil mendorong Yan Liang,. dengan gerakan cepat si topeng emas, menarik tali kekang kudanya.
Berputar arah, memacu kudanya melarikan diri.
"Bangsat kecil,..! jangan kabur..!"
"Berikan nyawa mu..!"
teriak Yan Liang marah sambil melakukan pengejaran.
Si Topeng Emas terus memacu kudanya melarikan diri, meninggalkan Yan Liang, seperti hendak kembali ke arah pasukannya.
"Hiaaahh..!"
Dengan satu bentakan keras Yan Liang membuat kuda nya melompat tinggi di udara.
Melampaui kuda Si Topeng Emas yang sedang berusaha melarikan diri di bawah.
Saat kudanya melompat melewati Si Topeng Emas, Yan Liang dari atas langsung menebaskan golok panjang nya, kearah kepala Si Topeng Emas.
"Wussss..!"
"Trangggg..!"
Si Topeng Emas berhasil menangkisnya, sekaligus Si Topeng Emas memberatkan tekanannya.
Dengan ilmu selaksa kati, sehingga kudanya tidak kuat dan terlihat roboh kebawah.
Tapi hal ini hanya Si Topeng Emas dan kudanya saja yang tahu, orang lain justru mengira.
Saking kuatnya tebasan itu, saat beradu tenaga, si topeng emas dan kudanya sampai roboh.
Yan Liang pun beranggapan begitu, sambil tertawa bangga dia berkata,
"Hei Bocah menyerahlah, asal kamu merangkak melewati se Lang kangan ku, aku berjanji akan mengampuni nyawa kecil mu..!"
"Ha,.ha...ha...ha...ha..!"
Saat dia sedang asyik tertawa itulah, dia tidak menyadari.
Dari arah timur dan selatan ada kembang api, yang di lepaskan tegak lurus ke arah udara.
Melihat hal itu yang di tunggu tunggu nya telah tiba, Si Topeng Emas langsung membiarkan kudanya bangkit kembali.
__ADS_1
Lalu dia kembali memacu kudanya melarikan diri, melihat hal ini tentu saja Yan Liang melakukan pengejaran dengan penuh antusias dan berteriak.
"Mau lari kemana kamu bocah..!?"
Saat kuda Yan Liang semakin mendekati kuda yang di tunggangi oleh Si Topeng Emas.
Si Topeng Emas, tiba tiba membalikkan badannya melepaskan 3 anak panah kearah Yan Liang dengan cross bownya dari jarak dekat secara berturut turut.
"Serrrrrrr,..!
"Serrrrrrr,..!
"Serrrrrrr,..!
"Trangggg,..!"
"Trangggg..!"
"Creebbbb..!"
"Arggghh..!"
Yan Liang berhasil menangkis 3.dari dua anak panah itu, tapi anak panah ketiga, berhasil membuatnya menjerit kesakitan.
Sebelah matanya tertembus oleh anak panah yang di lepaskan oleh Si Topeng Emas.
Yan Liang langsung jatuh terjungkal dari atas punggung kudanya.
Dia terlihat terjungkal jatuh bergulingan di atas tanah.
Di tempat lain Pan Hong yang melihat ada tanda tanda tidak beres, sebelum Yan Liang terluka oleh anak panah dan jatuh dari atas punggung tunggangan nya.
Dia sudah memberi kode ke salah satu Jendral nya yang bernama Zhang He.
Seorang jendral bertubuh kecil pendek tapi kekar.
Zhang He melihat kode dari Pan Hong, dia langsung memacu kudanya keluar dari barisan.
Tepat saat Yan Liang bangkit dari posisinya dengan keadaan Linglung dan bingung.
Di mana tombak cagak tiga sedang di arahkan menusuknya dari belakang.
"Trangggg..!"
Tombak Si Topeng Emas berhasil ditangkis oleh Zhang He hingga melenceng arahnya.
Memanfaatkan situasi itu, Zhang He pun berteriak,
"Kakak Yan ayo ikut aku..!"
Zhang He sambil berteriak memacu kudanya, dia juga mengulurkan tangannya kearah Yan Liang.
Yan Liang segera menoleh kearah asal suara, lalu dia menyambutnya uluran tangan dari Zhang He.
Sekali sentak, Yan Liang pun kini duduk berboncengan dengan Zhang He, yang melarikan kudanya dengan cepat meninggalkan Si Topeng Emas.
Si Topeng Emas tidak melakukan pengejaran, dia hanya berteriak dengan sombong.
"Hei siapa yang tadi bilang ingin memenggal kepala ku..!"
"Ayo maju sini, kenapa malah kabur sih..!"
"Dasar ayam betina..!cuma pandai berkotek, rupanya.."
"Ha,..ha...ha..ha .!"
ucap Si Topeng Emas membalas mengejek Yan Liang dan Zhang He yang melarikan diri.
"Wen Zhou kamu maju beri dia pelajaran,.."
ucap Pan Hong tenang.
__ADS_1
Wen Zhou memberi hormat, kemudian memacu kudanya meninggalkan barisan langsung menghampiri dimana Si Topeng Emas, berada.
Wen Zhou adalah seorang pria dengan wajah sangar, dengan kumis tebal melintang diatas bibirnya.
"Ha..ha..ha..ha..!"
"Bagus bagus..!"
"Langsung di kirim gantinya dengan manusia berkumis Segede Ta Hi...!"
"Ha..ha..ha..ha..!"
ucap Si Topeng Emas memancing emosi dengan melontarkan ejekan yang menyangkut fisik.
Hal ini tentu saja, sangat menyakiti perasaan dan emosional lawannya.
Tapi justru ini yang di inginkan oleh Si Topeng Emas.
Dia tentu punya maksud dan strategi yang hanya di ketahui oleh dirinya sendiri.
"Bangsattt,..bawa nyawa mu kemari..!"
Teriak Wen Zhou marah sambil mengacungkan tombak nya kearah Si Topeng Emas.
Si Topeng Emas bersikap santai, menunggu hingga tombak Wen Zhou mendekati wajahnya.
Dia baru menggerakkan tombak nya menangkisnya.
"Trangggg..!"
Tombak Wen Zhou melenceng arahnya, orang lain hanya melihat tombak itu melenceng saja.
Tidak ada yang tahu kecuali Wen Zhou, bahwa tangannya yang memegang tombak terasa kaku dan gemetaran.
Hingga tombaknya terasa hampir terlepas dari pegangan tangannya.
Tanpa memperdulikan respon kaget Wen Zhou, Si Topeng Emas memacu kudanya mengelilingi Wen Zhou.
Sehingga menimbulkan debu beterbangan, mengaburkan pandangan penonton atas pertempuran yang sedang berlangsung di dalam kepulan debu dan pasir.
Si Topeng Emas emas di dalam kabut, melancarkan tusukan tombaknya, mengelilingi Wen Zhou.
Wen Zhou harus memutar mutar kudanya, untuk menghindar dari menangkis serangan Si Topeng Emas yang sangat cepat kuat dan ganas, serta sulit di tebak asal arahnya.
"Trangggg..!'
"Trangggg..!'
"Trangggg..!'
Terdengar suara senjata beradu berulang kali di dalam kabut.
Wen Zhou semakin terlihat kepayahan, sepasang telapak tangannya, yang memegang tombak sudah lecet lecet berdarah.
Terasa perih luar biasa, setiap kali harus menangkis serangan Si Topeng Emas yang semakin lama semakin kuat.
"Trangggg...!"
"Bukkkk,..!"
"Creebbbb...!"
"Arggghh..!"
Terdengar suara benturan senjata,Wen Zhou yang di gunakan untuk menangkis serangan Si Topeng Emas.
Tapi kuatnya serangan itu membuat tombak Wen Zhou terlepas dari pegangan tangannya.
Sebelum Wen Zhou sempat berbuat sesuatu, sebuah hantaman tombak ujung belakang tombak mendarat di punggungnya,.di susul dengan mata tombak menancap di dadanya.
Saat Tombak di cabut oleh si Topeng Emas, Wen Zhou hanya bisa menjerit kesakitan.
__ADS_1
.