
"Cuma itu ?"
tanya Nyonya kepala desa balik.
"Ya cuma itu.."
ucap Si Si sabar.
Ini nyonya kepala desa sungguh mujur, karena yang datang tanya jalan Si Si.
Bila yang datang tanya jalan Gongsun Li, sudah bisa di pastikan sejak tadi sudah habis semua gigi nyonya sombong ini.
"Ohh kalau cuma itu saja, tak perlu kamu cari kepala desa.."
"Kamu boleh langsung ambil jalan kecil di hutan sebelah timur sana.."
"Di sana ada sebuah pondok sederhana, di dalam tinggal Liu Lau Po, kamu minta petunjuk saja sama dia.."
"Dia pasti bisa membantu mu.."
ucap Nyonya sombong dan jutek itu dengan tatapan mata sinis, dan tidak bersahabat.
Si Si tidak menanggapi sikap para ibu ibu di sana, tujuan kedatangannya memang cuma cari informasi, bukan cari ribut dengan ibu ibu desa yang kurang ramah itu.
"Terimakasih atas petunjuknya.."
"Kalau begitu kami permisi dulu.."
ucap Si Si memberi hormat dengan sopan, setelah itu dia segera mundur dari sana.
Beberapa pengawal wanita, juga mengikuti Si Si meninggalkan tempat itu tanpa berkata-kata.
Saat keluar dari mulut desa, Si Si tidak sengaja melihat ada seorang kakek yang roda gerobaknya terperosok kedalam lubang.
Bagaimana pun kakek itu mendorong nya, gerobak itu sulit keluar dari lubang tersebut.
Hanya berayun-ayun di sana sana saja.
Melihat hal itu Si Si menjadi tidak tega dia segera memberi kode kepada pengawal nya.
Agar ikut dengan nya pergi membantu kakek itu, mendorong gerobaknya keluar dari dalam lubang.
"Kakek biar kami bantu.."
ucap Si Si sambil tersenyum lembut.
Dia dan beberapa pengawal nya segera turun tangan membantu.
"Ehh nona nona tidak usah nanti pakaian kalian jadi kotor.."
"Biar saya minta bantuan ke pemuda desa saja.."
ucap Kakek itu merasa tidak enak hati.
Si Si tersenyum dan berkata,
"Tidak perlu khawatir kek, pakaian kotor bukan kah tinggal di cuci saja.."
"Mari kami bantu.."
ucap Si Si dan pengawalnya mulai membantu dorong sambil berteriak
"satu dua tiga,..!"
__ADS_1
"Ya berhasil..!"
Gerobak itu akhirnya berhasil keluar dari dalam lubang tersebut.
Kakek itu dengan gembira menatap kearah Si Si dan rombongannya.
"Nona nona semuanya, terimakasih banyak, bila bukan karena bantuan kalian semuanya, entah sampai kapan aku harus berkutat di sini.."
ucap Kakek itu penuh syukur.
"Bukan masalah kek, lihat orang lain dalam masalah saling tolong menolong itu wajar kek.."
"Kakek sebenarnya mau kemana ? " kenapa cuma seorang diri..?"
tanya Si Si berbasa basi.
Kakek itu tersenyum dan berkata,
"Aku yang tua bernasib buruk ini memang hanya hidup sebatang kara.."
"Putra tunggal ku di tarik paksa pihak Qin, untuk pergi ikut wajib militer, tidak tahu masih hidup atau mati juga tidak jelas.."
"Istri ku sudah lama tiada, sedangkan menantu ku, dia sudah ganti menikah lagi, setelah putra ku pergi.."
"Jadi ya tersisa aku Si tua Bangka yang belum mau mampus ini seorang diri.."
ucap kakek itu sambil tersenyum polos.
"Barang apa yang kakek bawa itu..?"
tanya Si Si lagi.
"Ohh ini hanya kulit binatang buruan, juga beberapa potong daging hewan buruan yang hendak saya jual.ke desa."
'Ohh ya nona nona sendiri, di jaman perang yang tidak putus putus, orang jahat di mana mana, mengapa malah berkeliaran sampai kemari.."
"Kulihat nona nona juga bukan penduduk setempat sini.."
Si Si tersenyum dan berkata,
"Kakek tak perlu khawatir, kami semua meski wanita.."
"Tapi kami semua adalah orang militer, hidup di Medan perang tiap hari kami sudah biasa..'
"Kami mampir kemari, hanya ingin mencari informasi, informasi sudah dapat kami pun sekarang mau pergi.."
ucap Si Si apa adanya.
"Nona hendak mencari informasi apa kalau boleh yang tua ini tahu,? mungkin yang tua ini bisa membantu, sekedar balas Budi baik nona nona tadi.."
ucap Kakek itu serius.
Melihat ketulusan kakek ini, Si Si pun berkata,
"Kami ingin pergi temui Liu Lau Po yang tinggal di hutan sebelah timur sana."
"Kata ibu kepala desa tadi kami cukup lewat jalan kecil di hutan sebelah timur, nanti juga akan ketemu dengan pondok tempat tinggal Liu Lau Po.."
"Sungguh kebetulan aku lah Liu Lau Po yang di maksud, kira kira ada apa yang bisa saya bantu ke nona nona..?"
tanya Liu Lau Po cepat.
Si Si sangat girang, saat tahu kakek di hadapannya, ternyata adalah orang yang sedang di carinya.
__ADS_1
"Begini kek kami ingin pergi ke Shoucun, rapi kami tidak mau melewati jalan lembah merak api.."
"Apa ada jalan alternatif lain nya untuk tiba di sana..?"
tanya Si Si cepat.
Liu Lau Po mengangguk dan berkata,
"Ada tentu saja ada, kalian tenang saja.."
"Aku pasti akan bantu antarkan kalian kesana.."
"Harap kalian menunggu dulu di sini sebentar, aku mau pergi antar barang ku dulu ke dalam.."
"Setelah itu kita bisa berangkat sama sama.."
ucap Liu Lau Po cepat.
Si Si menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak kek, biar kami bantu kakek saja, biar lebih cepat.."
"Ehh mana boleh begitu.."
ucap Liu Lau Po merasa tidak enak hati.
Si Si tersenyum dan berkata,
"Kakek tidak perlu merasa tidak enak dan sungkan.."
"Membantu pekerjaan kakek cepat selesai itu juga termasuk membantu diri kami sendiri.."
"Makin cepat urusan kakek selesai bukankah makin cepat pula kami bisa tiba di tujuan kami.."
Liu Lau Po tersenyum tak berdaya, dan berkata,
"Nona kamu sungguh baik hati dan mulia, baiklah mari kita selesaikan pekerjaan ini secepatnya.."
"Setelah itu aku pasti akan bantu nona tiba di Shoucun dengan cepat dan selamat.."
ucap Liu Lau Po.
Tak lama kemudian rombongan itu pun kembali lagi ke desa.
Si Si dan pengawalnya, membantu Liu Lau Po mendorong gerobaknya.
Hingga akhirnya mereka tiba di depan sebuah toko besar, yang menjual berbagai macam bulu binatang buruan, juga berbagai macam binatang hutan, yang di kurung dalam kerangkeng besi.
"Ehh Liu Lau Po kamu telat lagi, mengantar pesanan, mana pesanan ku..?"
tanya Seorang nyonya setengah tua berambut keriting bertubuh pendek, bermata licik.
Dia lah nyonya kepala desa yang sombong dan arogan jutek tadi.
"Di sini nyonya, pesanan mu sudah lengkap, jangan khawatir.."
"Pesanan nyonya ini agak sulit dapatnya, makanya tidak bisa cepat cepat bisa diantar kemari."
"Man sini aku periksa..?"
ucap Si nyonya jutek itu, sambil mengecek barang yang tersusun rapi di gerobak Liu Lau Po.
Dengan kasar, nyonya bertubuh kecil pendek berambut keriting itu, mengacak ngacak barang barang Liu Lau Po yang tersusun rapi itu, dua lempar lempar seperti sampah.
__ADS_1