
Ya,..ya,..kakek dan paman kakek memang yang paling sakti sedunia.."
ucap Cu Cu sambil menahan tawa.
"Kamu ini selalu saja anggap remeh kakek mu,.."
"Hei bocah kenapa kamu cengengesan, ? seperti monyet habis cium terasi.."
"Apa kamu juga ikut ikutan menertawai calon kakek mertua mu ini..?"
tanya si kakek kurus itu sambil mempelototi Li Kui.
"Ehh,.. ohh,.. bukan, maksud ku,..aku.."
ucap Li Kui gugup.
"Udah udah kakek,.. kakek jangan menindasnya.."
"Kakek keluar sana berlatih, lihat paman kakek terus rajin berlatih, kalau kakek nanti kalah sama kakek paman, bukankah itu sangat memalukan ?.."
ucap Cu Cu sambil menarik kakeknya keluar dari dalam gua.
"Kamu ini hanya tahu mengejek kakek saja, lihat selera mu.."
ucap kakek Cu Cu yang terpaksa melangkah keluar dari dalam ruangan, karena ditarik tarik oleh cucu nya.
"Emang kenapa dengan selera ku ? bukannya dia masih jauh lebih baik ketimbang orang orang hitam itu..?"
ucap Cu Cu sambil menahan tawa.
"Kamu ini tidak pernah serius, maksud kakek,.."
"Kakek lihat bocah itu gak ada bagusnya, masih lebih bagus bocah yang di pantai itu.."
ucap kakek Cu Cu berpendapat sambil menatap kearah cucunya.
"Bagaimana bila di ganti yang itu saja .?"
ucap Kakek Cu Cu sambil menatap serius ke cucunya.
"Kakek,.. kakek ini sudah pikun ya ? suami satu seumur hidup, mana bisa di tukar tukar seperti kelereng..?"
"Terlepas semua kekurangan dan kelebihannya, aku cuma menyukai nya, dan dia suami ku, itu adalah kenyataan yang tidak bisa dirubah, titik.."
ucap Cu Cu memasang wajah cemberut ke kakeknya.
"Ya,..Ya,.. kakek nyerah terserah kamu lah,.. kakek kan cuma kasih pendapat.."
"Kalau kamu suka dia, ya sudah kakek bisa apa, ? selain terima nasib, dan terima kenyataan."
"Hanya saja kasihan ilmu yang ku latih dengan susah payah, kalau semua harus menyertai ku masuk lubang kubur." ucap kakek Cu Cu mengomel panjang pendek sambil berjalan pergi dari sana.
Li Kui yang berjalan mengikuti di belakang kedua orang itu, tentu dia mendengar semuanya.
__ADS_1
Dia merasa sedikit terharu mendengar ucapan Cu Cu, meski dia tahu itu mungkin cuma cara Cu Cu menipu kakeknya, demi keselamatan mereka.
Tapi entah kenapa, Li Kui malah merasa senang bila itu adalah nyata.
Li Kui berjanji dalam hati, dia akan belajar dengan giat, tidak akan mengecewakan harapan Cu Cu dan kakeknya pada dirinya.
Terlepas ucapan Cu Cu tadi itu serius ataupun tidak.
Dia akan tunjukkan dirinya mampu dan layak untuk itu, orang lain bisa kenapa dia tidak, sama sama makan nasi kok,..
pikir Li Kui dalam hati penuh tekad.
"Eh kakak Kui ada di sini, ?"
ucap Cu Cu kaget dan malu, karena ucapannya tadi, telah kedengaran oleh Li Kui.
Li Kui tidak menjawab pertanyaan Cu Cu, dia memegangi kedua tangan Cu Cu dan berkata,
"Cu Cu kamu katakan terus terang pada kakak, apakah kamu serius dengan ucapan mu tadi..?"
"Katakan dengan jujur, kakak mau mendengarnya langsung dari mu.."
ucap Li Kui sambil menatap serius kearah Cu Cu.
"Kata kata yang mana kak ?"
ucap Cu Cu pura pura tidak tahu.
Dia takut salah dan jadi makin memalukan, jadi dia ingin memastikannya dari mulut Li Kui.
"Itu tentang,.. hubungan kita, tentang,.. pilihan mu itu.."
Cu Cu menatap Li Kui sekilas, lalu dia sambil tertunduk berkata,
"Meskipun bila itu benar, juga bisa apa..?"
"Cepat lambat kakak juga pasti akan pergi dari sini, ikut dengan mereka.."
"Jadi lebih baik anggap saja semua itu cuma sandiwara, sehingga akan lebih mudah untuk kakak juga untuk kita."
ucap Cu Cu dengan nada sedih, dan sedikit putus asa.
Li Kui mengangguk dan tersenyum lebar, dia menarik Cu Cu kedalam pelukannya dan berkata,
"Kamu tak perlu katakan lagi, aku sudah mengerti.."
"Adik Cu Cu, aku Li Kui punya kelebihan apa, ? harta harta gak punya, ilmu ilmu juga tidak ada, bahkan membaca menulis pun tidak lancar."
"Soal ketampanan dan kegagahan, itu jelas jauh dari ku, di luar sana masih banyak yang lebih berkali kali lipat dari ku.."
"Bisa mendapatkan perhatian dari mu saja, aku sudah sangat bersyukur, bagaimana mungkin aku punya berkeberatan..?"
"Adik Cu Cu, bila kamu percaya pada ku, jadilah istri ku."
__ADS_1
"Mari kita jalani pernikahan yang sebenarnya.."
Cu Cu menjauhkan dirinya sedikit dari pelukan Li Kui, lalu dia berkata, dengan mata sedikit berkaca kaca,
"Kakak Kui sebaiknya lihat dulu wajah ku, baru ambil keputusan itu.."
"Semua masih belum terlambat, untuk mengambil keputusan itu."
"Lebih baik aku yang kecewa sekarang, daripada kelak aku harus lihat kakak Kui, kecewa menyesal dan lari ketakutan setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.."
Perlahan-lahan Cu Cu membuka penutup wajahnya di hadapan Li Kui.
Ternyata wajah Cu Cu meski dari sisi kiri dia adalah gadis yang memilik kecantikan sempurna.
Tapi bila di lihat dari sisi kanan, dia terlihat agak sedikit mengerikan.
Hal ini di karenakan pada wajah sisi kanannya, tepatnya pada area bagian pipi kanannya, terdapat sebuah tompel hitam besar, mirip kulit tebal luka koreng yang mengering.
Cu Cu sudah mempersiapkan diri nya untuk kemungkinan terburuk, wajahnya terlihat sedih dan putus asa.
Tapi respon yang di tunjukkan oleh Li Kui justru di luar dugaannya.
Li Kui memegang dagu Cu Cu yang runcing, agar sedikit mendongak keatas.
Kemudian dengan lembut, Li Kui mendaratkan ciuman nya, justru pada wajah sisi kanan Cu Cu yang rusak.
Cu Cu tidak bisa menahan rasa bahagia dan harunya, dia langsung maju menubruk kedalam pelukan Li Kui, sambil menahan Isak, dengan airmata bercucuran, dia berkata pelan,
"Mengapa ?"
Li Kui sambil membelai rambut Cu Cu dengan lembut dia berkata,
"Kamu mungkin sudah lupa dengan ucapan ini, tapi bagi ku tidak.."
"Bila kamu ingin tahu mengapa,? maka ucapan inilah, yang menjadi alasan ku, ingin menggunakan seluruh sisa hidupku untuk mendampingi mu.."
ucap Li Kui kemudian dia meniru ucapan Cu Cu ke Kakek nya tadi.
"Kakek,.. kakek ini sudah pikun ya ? suami satu seumur hidup, mana bisa di tukar tukar seperti kelereng..?"
"Terlepas semua kekurangan dan kelebihannya, aku cuma menyukai nya, dan dia suami ku, itu adalah kenyataan yang tidak bisa dirubah, titik.."
ucap Li Kui sambil tersenyum haru, setelah menyelesaikan ucapan yang meniru ucapan Cu Cu sebelumnya.
"Cu Cu kamu bisa maka aku juga bisa.."
ucap Li Kui sambil kembali menciumi sisi wajah Cu Cu yang jelek.
Cu Cu sudah tidak bisa berkata kata, selain mengangguk, dan mempererat pelukannya, dia hanya bisa tersenyum penuh haru dan bahagia.
"Adik Cu Cu mulai saat ini dan seterusnya, sebagai suami mu, aku melarang mu mengenakan cadar mu kemanapun juga.."
"Aku ingin kamu menjadi dirimu sendiri, tanpa perlu memikirkan pandangan orang lain.."
__ADS_1
"Kamu mau kan adik Cu Cu,..?'
ucap Li Kui sambil menatap Cu Cu dengan penuh permohonan.