LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
BERTEMU WU MING LAU JEN


__ADS_3

Guo Yun setelah duduk di dalam kereta, sambil memeluk jasad Min Min dia berkata pelan.


"Paman kusir tolong carikan sebuah tempat yang tenang dan tinggi, antarkan kami kesana ."


Ucap Guo Yun dari balik kereta.


"Suap Yang Mulia,..!"


Jawab kusir kereta itu cepat.


Dia segera memacu kereta meninggalkan pelabuhan Hu Yang.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, mereka mulai memasuki sebuah kawasan hutan bambu, yang terletak diatas sebuah bukit yang menghadap kearah sungai Wei di bawah sana.


Udara mulai terasa sejuk, sehingga Guo Yun yang penasaran dengan perubahan cuaca yang terasa.


Dia segera membuka tirai penutup jendela kereta nya


Melihat sejenak keadaan di luar sana.


Guo Yun pun bertanya ke kusir kereta nya.


"Paman kusir, di mana kita saat ini..?"


"Kita sedang memasuki kawasan Bukit Malaikat, tepatnya ada di hutan bambu Dewa Tanpa Nama.."


Jawab Kusir kereta dari luar sana.


Yu Ming mengerutkan keningnya, saat mendengar nama yang di sebutkan oleh kusir kereta nya.


"Dewa Tanpa Nama, ( Wu Ming Sian Jen )..?"


"Apa ini tempat tinggal kakek dewa itu..?"


Baru saja Guo Yun berucap.


Kereta kuda tiba tiba berhenti.


"Ada apa paman kusir, ? kenapa kereta berhenti tiba tiba..?"


"Tidak tahu Yang Mulia, kuda kita tiba tiba tidak mau berjalan lagi.."


"Mereka mogok berjalan..'


Ucap Kusir kereta bingung.


Kusir kereta mencoba menggunakan pecutnya, untuk memecut kuda nya.


"Cetar..!" Cetar..!" Cetar..!" Cetar..!"


"Hieeehh...! Hieeehh...! Hieeehh..!"


Hanya terdengar suara cambuk dan suara ringkik kuda, tapi kereta tetap saja tidak bergerak.


Melihat keadaan ini, Guo Yun pun berkata,


"Paman kusir, biarlah kereta di sini saja.."


"Aku akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja.."

__ADS_1


Ucap Guo Yun dari balik kereta.


"Baiklah Yang Mulia,.. kelihatannya memang hanya bisa seperti itu.."


"Biar aku saja yang membantu dan mengantar Yang Mulia, kedalam sana.."


Ucap kusir kereta cepat.


Dia kemudian buru buru melompat turun dari kereta.


Pergi membuka pintu belakang kereta, mengangkat kain tirai penutup kereta keatas atap kereta.


Saat pintu kereta terbuka, kusir kereta melihat Guo Yun sedang memindahkan Min Min kedalam kereta dengan sangat berhati hati .


Setelah memasukkan Min Min kedalam peti, menyusul semua peralatan sembahyang Guo Yun masukkan kedalam peti.


Guo Yun seorang diri memanggil peti besar dan berat itu di pundaknya.


Kusir kereta hanya bisa berdiri bengong diam di sana, dengan sepasang mata terbelalak kaget.


"Paman kusir cukup tunggu di sini saja, biar aku sendirian saja, yang kedalam sana.."


Ucap Guo Yun sambil berjalan melewati sang kusir kereta, yang berdiri bengong di sana.


Guo Yun terlihat ringan saja, memikul peti mati yang besar dan sangat berat itu.


Dia berjalan dengan langkah santai memasuki hutan bambu yang rindang dan lebat.


Meski terlihat berjalan santai, tapi sebentar saja Guo Yun sudah menghilang dari pandangan mata kusir kereta nya, yang berdiri bengong diam di tempat.


Setelah melangkah ratusan meter memasuki hutan bambu hijau itu, Guo Yun sayup sayup mendengar suara alunan musik kecapi yang halus dan lembut.


Semakin lama suara kecapi semakin terdengar dengan jelas.


Hingga akhirnya Guo Yun menemukan dari mana asal suara kecapi yang lembut dan menenangkan hati itu.


Ternyata pemain kecapi itu adalah seorang kakek berbaju, berjenggot dan berambut putih.


Kakek ini Guo Yun pernah bertemu di Ling Yun San dulu, dialah Wu Ming Lau Jen, manusia setengah dewa.


Di mana dia juga adalah guru dari Attila sahabatnya dari kerajaan barat sana.


Wu Ming Lau Jen terlihat sedang duduk bersila di atas sebuah batu datar, sambil memangku kecapinya.


Melihat kedatangan Guo Yun, kakek itu pun menghentikan permainan kecapinya dan berkata,


"Anak muda kita kembali bertemu.."


"Bisa bertemu adalah jodoh, jodoh habis kita pun akan berpisah..'


"Begitulah bertemu dan berpisah, berpisah kemudian bertemu, semua karena jodoh dan takdir alam.."


"Semua berjalan sesuai takdir alam, sangat normal, tidak ada yang perlu di sesalkan ataupun di sedihkan bila waktu perpisahan itu sendiri tiba.."


Ucap Wu Ming Lau Jen berbicara sendiri, seperti orang sedang berpuisi dan menyanyi.


Sesaat kemudian dia baru menatap lembut kearah Guo Yun dan berkata,


"Anak muda bagaimana keadaan mu, kelihatannya kurang baik..?"

__ADS_1


Guo Yun menurunkan peti mati berisi jenazah Min Min di sampingnya dengan hati hati.


Setelah itu Guo Yun duduk bersila di samping peti menghadap ke arah kakek tua itu.


Sepasang tangan Guo Yun bersedekap di depan dada memberi hormat kearah kakek itu.


"Senior berikanlah petunjuk pencerahan bagi junior yang sedang di selimuti kegelapan hidup ini.."


Ucap Guo Yun dengan kepala tertunduk.


Kakek Wu Ming Lau Jen tersenyum lembut dan berkata,


"Anak muda, kamu termasuk seorang pemuda langka yang seribu tahun belum tentu ada.."


"Menguasai ilmu militer, ilmu silat, ilmu sastra, ilmu astronomi, tiada yang kamu tidak bisa.."


"Harta kekuasaan Nama Cinta sua kamu punya, apalagi yang membuat mu merasa hidup mu terasa gelap..?"


Ucap Wu Ming Lau Jen sambil tersenyum lembut.


Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,


"Aku bersedih, harus kehilangan satu persatu, orang orang yang ku cintai dan sayangi.."


"Terakhir ini aku malah kehilangan istri yang mengorbankan nyawa nya demi aku.."


"Mohon senior bisa memberikan sedikit pencerahan, agar hati ku tidak lagi bersedih."


"Anak muda kita berjodoh bertemu di sini, siapapun yang berjodoh dengan ku.."


"Aku pasti akan mengabulkan satu keinginan dan permohonannya."


"Tapi sebelum aku mengabulkannya, aku sedikit ingin berbicara dari hati ke hati dengan mu anak muda.."


"Anggap saja ini bonusnya.."


Ucap Wu Ming Lau Jen sambil tersenyum lembut.


"Apa itu senior, katakan saja junior mohon pengajarannya.."


Ucap Guo Yun dengan kepala tertunduk penuh hormat.


Kakek itu mengangguk sambil tersenyum lembut penuh welas asih dia berkata,


"Anak muda aku mau bertanya pada mu, menurut mu istri mu yang meninggal itu sedih atau bahagia.. setelah kematiannya..?"


Guo Yun terhenyak oleh pertanyaan kakek itu, sesaat dia termenung dan kemudian berkata,


"Aku tidak tahu pasti senior, mungkin dia menderita dan sedih seperti saya, karena harus berpisah dari saya dan anak anak yang sangat dia cintai.."


"Mungkin berarti kamu tidak pasti.. benar..?"


"Kamu sendiri tidak yakin dan tidak pasti benar.. ?"


"Menurut mu, selama ini menjadi istri mu dan ibu dari anak anak apakah dia sudah sepenuhnya bahagia..?"


"Tidak pernah kah dia bersedih berduka, marah, kecewa, dan lain sebagainya atas ketidakpuasan hidupnya..?"


"Apa semua keinginannya sudah tercapai semuanya..?'

__ADS_1


Tanya Wu Ming Lau Jen sambil tersenyum lembut, terus menatap kearah Guo Yun.


__ADS_2