LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
PEMBICARAAN KERJA SAMA


__ADS_3

Ying Zheng di wakili oleh Meng Thian Meng Yu, Wang Jian dan Wang Ben.


4 Jendral andalan nya sudah memperkuat perbatasan wilayah An Yi dan Luo Yang Chen..


Meng Thian dan Meng Yu memimpin di Luo Yang Chen.


Sedangkan Wang Jian dan Wang Ben bertahan di An Yi.


An Yi adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan Xian Yang.


Hanya dengan menyeberangi sungai Huai, baik dari pasukan Lu Bu Wei maupun pasukan Ying Zheng akan bisa langsung bertemu.


Sama dengan kota pertahankan mereka di Dan Yang.


Guo Yun menoleh kearah ketiga istrinya dan berkata,


"Aku ke ruang kerja sebentar, kalian teruskan saja ."


"Bukan masalah besar,..tenang saja..."


ucap Guo Yun lembut.


Min Min menatap Guo Yun dengan mata sedikit berkaca kaca dan berkata,


"Yun ke ke maaf aku..."


Guo Yun tersenyum lembut, dia maju memeluk Min Min dan menciumi keningnya.


"Tidak apa apa, kamu tidak boleh menyalahkan diri, ini keputusan bersama.."


"Tidak ada yang bisa memaksa ku, bila aku sendiri tidak menyetujuinya.."


"Kamu tenanglah, jaga dan temani Yun er saja .."


ucap Guo Yun.


Lalu dia pun melangkah meninggalkan tempat itu, langsung menuju ruang kerjanya.


Saat duduk di hadapan meja kerja nya, Guo Yun menulis sepucuk surat.


Setelah itu dia memasukkan kedalam amplop menyegelnya.


"Zhong San gunakan kuda cepat kirimkan surat ini ke Da Liang, harus sampai ketangan Ying Zheng langsung.."


"Katakan padanya aku menantinya di Shang Qiu, untuk pembicaraan lebih detil.."


"Menurut mu kita utus siapa kesana..?"


tanya Guo Yun.


Zhong San berpikir sejenak lalu berkata,


"Paman Fu, Jendral Fu adalah yang paling tepat."


Guo Yun tersenyum, mengangguk dan berkata,


"Ku pikir kamu akan rekomendasi paman mu Zhang Yi.."


"Tidak Yang Mulia, surat ini butuh cepat, paman Zhang Yi sudah tua, dia tidak akan cocok."


ucap Zhong San mengemukakan alasannya.


Guo Yun mengangguk dan berkata,


"Baiklah jalankan saja, bukan masalah.."


"Ohh iya panggilkan Jendral Lim Guan Xing kemari, juga paman mu Zhang Yi, Li Ba , Ling Tong dan Zhou Tai mereka semua juga suruh kemari."


ucap Guo Yun tenang.


Zhongshan mengangguk dan berkata,


"Siap dilaksanakan.."


"Ada lagi Yang Mulia,..?"


tanya Zhongshan penuh hormat.


"Tidak ada, cukup.."


ucap Guo Yun cepat, dan dia memberi kode agar Zhongshan mundur dari sana.


Zhongshan setelah memberi hormat, dia segera mengundurkan diri dari tempat itu.


Setelah Zhongshan pergi, Guo Yun melangkah menuju tepi jendela duduk di sana.


Dia menatap kearah awan dan berkata,


"Kelihatannya prahara akan segera tiba, hari hari ketenangan ku sudah hampir berakhir."


"Baiklah kita hadapi saja, yang harus terjadi terjadilah."


ucap Guo Yun seorang diri.


Sesaat kemudian lamunannya buyar, saat terdengar suara Li Ba, Zhang Yi, Ling Tong dan Zhou Tai sedang ngobrol dan tertawa gembira di depan kamarnya.


Guo Yun sambil tersenyum melangkah pergi menyambut teman teman lamanya.


"Kalian sudah datang masuk lah, jangan banyak peradatan ini bukan sidang istana.."


ucap Guo Yun sambil tersenyum santai.


Keempat orang itu mengangguk, mereka sudah biasa.


Terhadap mereka Guo Yun memang selalu lebih santai.


Batasan atasan bawahan tidak dia terapkan, hanya saat sidang istana saja.


Keempat saudaranya itu mengerti sendiri.


Tak lama mereka duduk dan ngobrol bersama, pelayan pun otomatis datang menyuguhkan makanan dan minuman ringan.


Saat pelayan pergi Jendral Lim Guan Xing pun tiba, mereka juga ikut bergabung.


Setelah semua sudah hadir lengkap Guo Yun pun berkata,


"Saat ini hampir semua sudah berkumpul, kecuali Han Wei dan Ying Wu.."


Semua yang hadir mengangguk dan berkata,


"Ya, sudah lama juga kita tidak melihat mereka berdua..


"Tidak tahu bagaimana keadaan mereka berdua di Bei Qi dan Nan Qi..?"


ucap Li Ba pelan.


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Mereka berdua cukup baik kalian tenang saja."


"Mereka sudah berkeluarga, kedua wilayah yang mereka jaga kini sangat aman."


"Justru kita yang sebentar lagi, tidak bisa hidup santai lagi.."


"Masa istirahat kita sudah usai.."


ucap Guo Yun sambil menatap serius wajah wajah, rekan lamanya satu persatu.


Mereka semua menatap kearah Guo Yun dengan penuh penasaran.


Guo Yun kini berubah menjadi serius dan berkata,


"Kita baru saja dapat kabar cepat dari Xian Yang.."


"Rekan kita saudara kita Jendral Wei dan Nan telah gugur, begitu pula dengan seluruh keluarga mereka.."


ucap Guo Yun sedih bercampur geram.


"Apa yang terjadi kak..?"


tanya Li Ba penasaran.


"Lu Bu Wei berhasil membujuk Jendral Liu dan Sun untuk melakukan kudeta.."


"Xian Yang kini sudah lepas dari tangan kita."


ucap Guo Yun pelan.


"Ehh serigala tua itu, bukannya giginya sudah kakak cabut semua..?"


Guo Yun tersenyum pahit dan berkata,


"Dia berhasil mengundang Ling Yun Lao Jen dan Dewa Naga Gurun Pasir keluar membantunya.."


"Selain itu dia juga di bantu oleh suku Xiong Nu dari perbatasan barat."


Semua yang hadir di sana, sedikit terkejut mendengar informasi terbaru tersebut.


"Lalu apa rencana kita..?"


tanya Li Ba mewakili yang lainnya.


"Kalian dan seluruh pasukan terbaik kita akan segera berangkat menuju Dan Yang.."


ucap Guo Yun pelan.


"Adik Ba kamu yang memimpin mereka, biar jendral Lim menjadi asisten mu.."


"Kakak Zhang, kamu temani aku ke Shang Qiu, aku ada janji ketemu seseorang disana."


"Bisa kan ?"


tanya Guo Yun sambil menoleh kearah Zhang Yi.


Zhang Yi mengangguk cepat.


menanggapi pertanyaan Guo Yun.


"Biar aku sudah tua, tapi aku juga tidak mau diam menunggu mati di ibukota.."


"Akan lebih bangga bila orang militer seperti kita mati di Medan perang.."


"Benar tidak saudara saudara ku sekalian.."


ucap Zhang Yi sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Benar sekali kak Zhang..!"


jawab yang lainnya kompak, mereka pun kembali bersulang dan tertawa bersama.


Guo Yun menatap haru ke wajah rekan rekan lamanya satu persatu dan berkata,


"Terimakasih saudara saudara ku semuanya,.."


"Mari kita bersulang untuk teman teman dan saudara saudara kita yang sudah gugur dan pergi mendahului kita ."


Mereka dengan kompak mengangkat cawan mereka keatas.


"Tringgg..!"


Terdengar suara cawan beradu di udara, setelah itu dengan sekali tegak habislah isi cawan tersebut.


Setelah menghabiskan isi cawan, Guo Yun kembali mengisi cawan rekan rekannya dan berkata,


"Adik Ba kamu pimpin saudara kita yang lainnya langsung menuju ke kota Dan Yang.."


"Buatlah pertahanan dan kapal di sana, sambil menunggu aku kembali bersama kalian.."


"Kita akan ambil kembali Xian Yang.."


ucap Guo Yun.


Li Ba mengangguk dan berkata,


"Kakak boleh tenang, kami pasti akan mempertahankan Dan Yang, sambil menunggu kakak kembali.."


Guo Yun mengangguk, lalu dia kembali mengajak mereka bersulang.


"Yang Mulia,.. menghadapi Lu Bu Wei dan pasukannya, aku rasa bukan masalah.."


"Tapi bagaimana yang mulia akan menghadapi dua orang dewa dunia persilatan itu secara sekaligus..?"


ucap Jendral Lim yang selalu berhati hati, menatap Guo Yun dengan serius.


Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,


"Kamu benar Jendral Lim, mereka berdua itu memang akan jadi batu sandungan berat ku.."


"Tapi mereka sebagai orang dunia persilatan tentu berbeda, mereka akan merasa malu dan gengsi untuk melakukan keroyokan..."


"Kami pasti akan bertanding cepat lambat, tapi aku percaya tidak akan ada pengeroyokan, ataupun memanfaatkan situasi mengantri melawan ku.."


ucap Guo Yun menjelaskan.


Jendral Lim Mengangguk dan berkata,


"Semoga saja begitu.."


"Bagaimana dengan pihak Yun Zheng..?"


tanya Jendral Lim kembali.


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Itulah yang akan menjadi tugas kami di Shang Qiu nanti.."


"Kami akan mengadakan kesepakatan dengan nya, agar ikut membantu kita menghadapi Lu Bu Wei.."


ucap Guo Yun ragu.


"Apa dia mau ? bukankah mereka itu ayah dan anak, serigala tua dan muda..?"


tanya Li Ba.


Guo Yun tersenyum menepuk pundak Li Ba dan berkata,


"Dalam politik tidak ada musuh ataupun kawan abadi.."


"Segala sesuatu tergantung kepentingan.."


"Kita coba lihat saja nantinya.."


ucap Guo Yun sambil tersenyum.


Li Ba mengangguk.


Lalu dia menyambar cawan di hadapannya mengisinya dan menegak nya hingga habis.


"Ayo kita makan, jangan hanya fokus minum.."


"Setelah ini kalian semua harus pergi bersiap siap besok pagi pagi kita sudah harus berangkat meninggalkan ibukota.."


ucap Guo Yun mengingatkan semua rekan seperjuangannya.


"Baik kak, ini yang terakhir.."


jawab Li Ba sambil tertawa.


"Tringgg..!"


Sekali lagi mereka semua bersulang, setelah itu mereka pun melanjutkan makan makan.


Sesaat kemudian mereka semua sambil tertawa gembira diantar oleh Guo Yun sampai depan pintu ruang kerjanya.


Setelah semua rekannya pergi, Guo Yun baru kembali ke kamar Si Si.


Saat Guo Yun masuk kedalam kamar, Si Si terlihat sedang duduk menghadap meja, menanti kedatangan nya.


Membantunya melepaskan jubah dan pakaian luarnya.


"Aku ada siapkan air hangat, apa Yun ke ke mau berendam dulu menghilang kan lelah..?"


tanya Si Si lembut.


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Boleh, kamu temani aku ya..?"


Si Si sambil tersenyum malu dengan wajah merah berkata,


"Tapi janji tidak boleh nakal.."


"Guo Feng masih kecil, kalau nanti punya lagi akan repot.."


ucap Si Si beralasan menutupi rasa malunya.


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Ada begitu banyak pelayan dan pengasuh, apa masih perlu merepotkan Niang Niang ku untuk urusan begitu.."


Si Si sambil menggandeng tangan suaminya menuju kamar mandi, berkata.


"Meski ada pelayan, tapi kasih seorang ibu tentu akan jauh berbeda.."


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Baiklah aku mana bisa menolaknya, apapun itu meski harus puasa aku juga tidak akan menyesali mu.."


Si Si membantu melepaskan pakaian suaminya, kemudian dia juga melepaskan pakaian nya sendiri.


Mulut saja dia menolak, tapi setelah beberapa saat saling memandikan.


Menghadapi rayuan genit suaminya, akhirnya dia menyerah juga.


Yang harus dan semestinya terjadi pun terjadilah.


Awalnya menolak akhirnya malah mereka bertempur sepanjang malam.


Sehingga saat Guo Yun pagi pagi berangkat meninggalkan Ibukota Si Si masih tertidur pulas.


Dia absen mengantar keberangkatan Guo Yun, di sana hanya ada Gongsun Li Min Min dan ketiga putra putrinya hadir untuk menghantar kepergian Guo Yun.


Min Min dan Gongsun Li hanya saling pandang dan menahan senyum melihat Si Si tidak hadir.


Bila mereka berada di posisi Si Si mereka juga pasti akan mengalami nasib yang sama.


Guo Yun berangkat hanya berdua dengan Zhang Yi di ikuti oleh beberapa ribu pasukan keluarga Zhang.


Zhongshan yang memimpin para menteri dan pejabat, mereka semua juga terlihat hadir di sana, untuk mengantar keberangkatan raja mereka.


Di gerbang lain Li Ba dan rombongan pasukan besar serta beberapa jendral besarnya, juga terlihat bergerak meninggalkan ibukota.


Keberangkatan Li Ba dan rombongan nya, diantar oleh pihak keluarga masing masing.


Sian Sian juga terlihat hadir di sana bersama dua orang pelayan setianya yang masing masing menggendong seorang anak kecil berusia 2 tahunan.


Kedua anak kecil itu adalah putri kembar Li Ba dan Sian Sian.


Sian Sian melepas kepergian suaminya dengan derai airmata.


Meski menyadari ini adalah tugas tanggung jawab negara.


Sebagai istri seorang abdi negara, dia harus mengerti dan memaklumi nya.


Tapi pada kenyataannya, teori dan praktek tetap tidak sama.


Perasaan cemas dan khawatir di mana pergi sehat sehat pulang tinggal mayat bahkan ada yang tinggal nama.


Ini adalah suatu kecemasan dan derita istri istri, yang suaminya berprofesi militer, ataupun yang terpanggil untuk ikut wajib militer.


Tentunya ini hanya suasana di jaman itu saja, kalau jaman sekarang tentu beda.


Guo Yun dan Zhang Yi setelah menempuh perjalanan hampir 15 hari akhirnya mereka sampai juga di kota Shang Qiu.


Guo Yun di sambut oleh gubernur dan komandan pasukan kota tersebut dengan penuh kehormatan.


Komandan pasukan kota tersebut adalah Axie atau Jendral Xie salah satu jendral setia kerajaan Song yang masih tersisa.


Guo Yun dan Jendral Xie tentu sangat akrab karena mereka adalah kenalan lama.


Melihat kedekatan itu, gubernur Shang Qiu pun mewakilkan segala pengaturan ke Jendral Xie.


Jendral Xie juga yang langsung membawa Guo Yun dan Zhang Yi menuju istana kediaman gubernur kota Shang Qiu.


Sedangkan gubernur kota Shang Qiu sendiri buru buru kembali ke istananya untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk penyambutan di sana.


Karena Shang Qiu adalah ibukota Negara Song, tentu saja kediaman gubernur Shang Qiu otomatis jauh lebih nyaman dan mewah ketimbang gubernur kota kota lainnya, yang bukan merupakan bekas ibukota suatu kerajaan.


Guo Yun cukup puas melihat perkembangan kemakmuran kehidupan rakyat kota Shang Qiu.


Di banding 3 tahun yang lalu, saat Xue Sun berkuasa, kemudian terjadi kekacauan yang di buat oleh Li Kui.

__ADS_1


Kini kota Shang Qiu sudah normal hampir menyamai suasana kerajaan Song berkuasa dulu.


"Axie apa paviliun bunga hijau masih aktif..?"


tanya Guo Yun saat berjalan beriringan dengan Axie.


"Setelah bunga terindahnya yang mulia bawa pergi ke Yue, mana mungkin paviliun itu bisa bertahan..?"


"Tapi bila yang mulia tertarik, sekarang ada bermunculan beberapa tempat hiburan baru.."


"Apa Yang Mulia tertarik pergi melihat lihat.."


Guo Yun hanya tersenyum dan berkata,


"Lain kali saja, aku masih banyak urusan penting.."


"Lebih baik kamu sebar orang mencari tahu, apa Ying Zheng raja Qin sudah sampai kemari atau belum.."


"Bila sudah tolong undang dia kekediaman ku.."


"Baik Yang Mulia, Axie akan aturkan.."


ucap Jendral Xie cepat.


Dia kemudian berbisik kepada beberapa ajudannya.


Sesaat kemudian beberapa ajudannya langsung bergerak pergi.


Sedangkan Axie melanjutkan mengantar Guo Yun dan Zhang Yi menuju kediaman gubernur Ku.


Begitu sampai Guo Yun di sambut dengan tarian dan hidangan makanan mewah.


Guo Yun mengikuti saja, tapi begitu duduk berdampingan dengan gubernur Ku.


Guo Yun baru berkata dengan pelan,


"Gubernur Ku, terimakasih banyak atas sambutan nya yang sangat meriah ini.."


"Tapi sebaiknya kurangi pemborosan seperti ini."


"Dana ini akan lebih berguna, bila di gunakan untuk pengembangan dan pelatihan rakyat Shang Qiu."


"Agar mereka punya keahlian berkebun, beternak berdagang atau hal lainnya yang bisa mendukung mereka untuk menciptakan produktivitas.."


"Meningkatkan kesejahteraan hidup mereka, sehingga pendapatan kota ini otomatis akan meningkat.."


"Nanti bisa di gunakan untuk membantu kota lain yang ketinggalan, sekaligus bisa meningkatkan kekuatan militer untuk menjaga kestabilan keamanan.."


ucap Guo Yun memberi nasehat panjang lebar ke gubernur Ku.


Gubernur itu mendengarkan dengan wajah pucat dan kepala tertunduk ketakutan.


Dia buru-buru membubarkan tarian dan nyanyian.


Hanya menyisakan makanan mewah yang sudah terlanjur tersaji di hadapan Guo Yun.


Guo Yun mengangguk puas dan berkata,


"Tahu ada yang keliru di perbaiki itu yang paling tepat.."


"Tahu keliru tapi masih di teruskan, atau malah sengaja di lanjutkan.."


"Itu berarti tak tertolong lagi.."


"Jendral Zhang apa peraturan di.militer, tidak mendengar ucapan atasan..?"


tanya Guo Yun ringan sambil menyumpit makanan di atas meja.


"Penggal.."


jawab Zhang Yi dingin.


Gubernur Ku terlihat sedikit tersentak, tubuhnya yang besar tambun, terlihat gemetaran.


Keringat dingin membasahi kening dan punggungnya.


Guo Yun tahu tapi dia pura pura tidak melihatnya, dia kembali berkata,


"Apa hukumnya bila ada tindakan korupsi dan menganggu rakyat..?"


"Penggal.."


jawab Zhang Yi sambil tersenyum dingin melirik kearah gubernur Ku.


Gubernur Ku tiba tiba menjatuhkan diri berlutut dan berkata,


"Ampun Yang Mulia, harap Yang Mulia memeriksa dengan teliti.."


"Hamba tidak pernah melakukan hal yang merugikan rakyat kecil, apalagi korupsi.."


ucap gubernur Ku yang bertubuh tinggi besar, meringkuk ketakutan, di hadapan Guo Yun.


Guo Yun sambil tersenyum membantu gubernur itu bangun untuk duduk dan berkata,


"Gubernur Ku kamu jangan salah paham, aku hanya mengingatkan.."


"Bukan sedang menyalahkan mu, bila menyalahkan mu dan memilki bukti kuat tentu tidak akan berbicara sebanyak itu pada mu ."


"Aku justru berharap setelah pertemuan ini, nantinya kamu bisa tunjukkan kinerja yang seperti ku harapkan barusan ."


"Tenanglah, ayo kita makan.."


ucap Guo Yun tenang.


Gubernur Ku mengangguk, tapi dia mana mungkin punya selera makan lagi.


Sepanjang acara makan makan dia lebih banyak menghapus keringat ketimbang makan.


Pakaian kebesaran yang dia kenakan, bila di peras mungkin ada seember keringatnya.


Zhang Yi hanya tersenyum di dalam hati, beginilah Guo Yun apa yang dia pikirkan sangat sulit di tebak.


Bersama nya, paling baik adalah bekerja dengan sepenuh hati, jujur taat itu saja.


Tidak usah sok berimprovisasi untuk menarik perhatian atau simpatinya.


Salah salah bukan keuntungan yang diperoleh, malah kesialan yang timbul.


Seluruh militer yang pernah di bawahnya semua paham, Guo Yun adalah atasan yang sangat brilian tapi sulit di tebak.


Dari 3 pimpinan orang pasti akan memilih bekerja di bawah Li Kui.


Sedangkan di bawah Li Ba yang emosional adalah pilihan terburuk yang ada.


Selesai acara makan makan Guo Yun dan Zhang Yi pun langsung di antar oleh gubernur ku, hingga depan pintu kamar mereka masing-masing.


Setelah memastikan kedua tamu agungnya sudah masuk kedalam kamar beristirahat.


Dia baru bisa menghela nafas lega, seperti batu ratusan ton yang menindihnya, sudah di bantu terangkat dari atas tubuhnya.


Gubernur Ku buru buru kembali kekediaman nya, keesokan harinya gubernur Ku benar benar terlihat sibuk mengurus semua pekerjaan dan meninjau kelapangan secara langsung.


Sedangkan urusan Guo Yun dan Zhang Yi, dia lebih memilih mewakilkan nya ke Axie.


Sebagai sesama orang militer, mereka akan lebih cocok dalam bergaul, ketimbang dengan pejabat sipil seperti dirinya, pikir gubernur Ku.


Menjelang siang saat Guo Yun sedang duduk santai di taman bersama Zhang Yi.


Jendral Xie sudah kembali menghadap,


"Yang Mulia kami sudah menemukan keberadaan Ying Zheng dan beberapa pengawal nya."


"Mereka menginap di penginapan teratai emas, sudah hampir sepuluh hari rupanya mereka menginap di sana ."


Guo Yun mengangguk dan berkata,


"Baiklah sekarang juga antarkan kami kesana, untuk menemuinya.."


Jendral Xie mengangguk cepat lalu dia bergegas mengantar Guo Yun dan Zhang Yi menuju penginapan tersebut.


Guo Yun dan Zhang Yi menunggu di sebuah ruangan restoran yang terpisah dari tamu lain.


Ruangan privasi yang di sediakan untuk para bangsawan atau hartawan terkemuka.


Axie bertugas pergi mengundang Ying Zheng, untuk menghadiri undangan dari Guo Yun.


Ying Zheng yang mendapat laporan dari pengawalnya, mengenal undangan dari Guo Yun.


Dia pun buru buru keluar dari kamarnya, mengikuti Axie pergi menuju ruangan restoran privasi.


Dimana Guo Yun dan Zhang Yi menunggu di sana.


Begitu memasuki ruangan melihat Guo Yun duduk di sana, Ying Zheng langsung berjalan maju memberi hormat dan berkata,


"Adik ipar lama tak berjumpa,"


"Bagaimana kabar mu dan kabar Min Min adik ku, juga keponakan ku Meng Yun, sehat kah kalian semuanya..?"


ucap Ying Zheng sambil tersenyum gembira.


Guo Yun tersenyum tenang, membalas penghormatan nya dan berkata,


"Kami semua sehat dan baik, silahkan duduk kakak ipar.."


"Bagaimana keadaan kakak ipar sendiri..!"


tanya Guo Yun berbasa basi.


"Seperti yang kamu lihat, aku cukup baik ."


"Hanya saja masalah ayah angkat ku yang kini sudah menguasai Xian Yang."


Di mana dia kini sedang bersiap menarget menarget An Yi dan Luo Yang, ini yang bikin saya sakit kepala di buatnya.."


Guo Yun mengangguk dan berkata,


"Aku juga menghadapi hal yang sama, Dan Yang kami yang berbatasan terdekat dengan Xian Yang, setiap waktu juga bisa menjadi targetnya ."


Ying Zheng menatap Guo Yun dengan serius dan berkata,


"Jadi apa adik ipar punya solusi untuk menghadapi nya..?"


Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Pasukan ku sudah bergerak ke Dan Yang, tapi bisa menang atau tidaknya merebut Xian Yang itu belum pasti."

__ADS_1


"Karena di sisinya, dia di dukung Dewa Naga Gurun Pasir dan Ling Yun Lao Jen."


ucap Guo Yun mengungkapkan kesulitannya..


__ADS_2