LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
KEDATANGAN AGAHAI


__ADS_3

Wanita cantik itu buru buru membawa jarinya di masukkan ke dalam bibirnya, yang berbentuk indah.


"Apa yang telah terjadi, ? mengapa perasaan ku sangat tidak enak?"


"Apakah sesuatu yang buruk menimpa putra ku atau dia..,?"


"Ohh Tuhan semoga saja tidak keduanya, semoga mereka berdua baik baik saja.."


ucap wanita cantik itu sambil merangkap kan sepasang telapak tangan nya, yang putih halus di depan dada.


Wajah nya yang cantik dengan mata terpejam, menengadah menghadap langit.


Dia terlihat sedang memanjatkan doa keselamatan, bagi orang orang yang di cintai nya.


Wanita itu adalah ibu kandungnya Agahai, pertalian batin nya dengan raja Chan Yu yang belum putus.


Membuatnya bisa merasakan firasat, sesuatu yang buruk telah terjadi pada dua orang yang paling penting dalam hidupnya.


Pertama adalah putra kandungnya, yang dia besarkan dengan susah payah seorang diri.


Kedua adalah pria yang pernah menjadi penolong hidupnya, sekaligus pria pertama yang bersamanya.


Hingga dia hamil dan melahirkan Agahai kedunia ini.


Ada rasa benci kecewa sedih sekaligus sayang cinta dan rindu yang bercampur aduk.


Di dalam perasaan nya yang sulit dia ungkapkan kesiapapun juga, selain menyimpan semuanya di dalam hati.


Kembali ketempat pertempuran di tengah sungai He Xi, Guo Yun yang memimpin pasukan nya.


Terus menerus menembakkan anak panah kearah pasukan Xiongnu, yang terjebak dalam kepungan api.


Akhirnya berhasil memenangkan pertempuran berat sebelah itu, dengan hasil gemilang.


100.000 pasukan Xiongnu beserta raja dan Jendral nya, semuanya tewas di sungai He Xi tanpa pemakaman.


Setelah memastikan tidak ada lagi pasukan atau pimpinan pasukan Xiongnu yang berhasil lolos dari sana.


Guo Yun memimpin pasukan nya, menggunakan kuda cepat meninggalkan tempat itu, langsung menuju kota Yong.


Beberapa waktu setelah pasukan Guo Yun pergi, terlihat seorang pemuda tampan bermata biru .


Memimpin pasukan nya mendatangi tempat itu.


Pemuda tampan itu bukan lain adalah Agahai.


3 hari perjalanan menuju kota Long Cheng.


Di hari ketiga dia sudah pulih.


Begitu pulih tanpa mengindahkan nasehat Kasim Umar dan Tabib Luo.


Agahai langsung memimpin barisannya menyusul ke tepi sungai He Xi.


Di tepi dermaga mendapat kenyataan ayah nya, sudah berangkat dua hari sebelumnya dari dermaga.


Agahai segera melakukan pengejaran dengan menyusuri tepi sungai He Xi, dengan perasaan cemas.

__ADS_1


Saat tiba di.lokasi pertempuran, di mana hanya terlihat api berkobar kobar di tengah sungai.


Sedang melalap puing puing kapal yang berbendera kerajaan Xiongnu.


Sadarlah Agahai bahwa kedatangannya telah terlambat.


Ayahnya dan seluruh pasukannya telah gugur di tengah sungai itu.


Agahai yang duduk di punggung kuda sambil tertawa sedih dia menghapus airmatanya.


Dia berteriak dengan suaranya yang menggelegar.


"Ayah,.. aku bersumpah tidak akan pernah kecewakan harapan dan pesan pesan mu..!"


"Ta Qin,..! Harimau hitam,..! kalian tunggulah pembalasan ku.."


"Dendam diantara kita tidak akan pernah usai..!"


"Lapor panglima, menurut mata mata kita, pasukan Temusa Hanif dan Hasan sedang bergerak menuju kota Yong.."


ucap seorang pasukan Agahai sambil berlutut dengan kaki sebelah.


"Berdirilah, kita harus menyusul mereka, agar kejadian tragis di tempat ini, jangan sampai terulang.."


ucap Agahai tegas.


"Siap panglima laksanakan.."


"Seluruh pasukan ku, dengar perintah..!"


"Ayo kita berangkat ke kota Yong sekarang juga..!"


Sehingga terdengar dengan jelas oleh seluruh pasukannya.


Agahai langsung memacu kudanya meninggalkan tempat itu, bergerak menuju Kota Yong.


Agahai dan Guo Yun menempuh jalur berbeda, Guo Yun mengambil arah selatan langsung menuju kota Yong.


Sedangkan Agahai mengambil jalur timur, karena dia ingin potong jalan Temusa Hanif dan Hasan.


Dia ingin menarik mereka kembali ke Long Cheng, untuk melakukan persiapan lebih matang.


Saat ini bila ngotot maju, mereka hanya akan merugikan diri sendiri.


Mereka harus punya taktik dan perhitungan jitu, baru boleh bergerak.


Apalagi di sana ada orang berbahaya seperti Guo Yun dan pasukannya.


Dia harus pergi cari pamannya dulu, baru memikirkan cara untuk menghabisi semua musuh musuhnya itu.


Saat ini tujuan dia hanya satu, asal bisa menyelamatkan keluarga ayahnya, itu adalah yang terpenting.


Hal lain bisa di tunda, hanya hal ini yang tidak bisa.


Sambil bergerak cepat, di dalam otak Agahai terus berputar. Bagaimana cara dia bisa menyelamatkan keluarga ayahnya, yang di tahan oleh Guo Yun dan pasukannya.


Kalau saja Agahai mengambil jalur sama seperti Guo Yun, dia pasti akan mampu menyusulnya.

__ADS_1


Rombongan Guo Yun ingin bergerak cepat, tapi tidak bisa, karena diantara mereka ada rombongan keluarga raja Chan Yu yang merepotkan.


Terutama para anak anak dan wanita, tuntutan mereka banyak dan macam macam.


Di penuhi jadi lambat, tidak di penuhi bila terjadi sesuatu itu sangat tidak berperikemanusiaan, agak sedikit bertentangan dengan hati nurani Guo Yun.


Akhirnya Guo Yun memilih mengalah menuruti kemauan mereka.


Selain rombongan keluarga raja, perbekalan rampasan yang begitu banyak juga jadi kendala.


Andaikan ada banyak kota yang di lewati, tentu perbekalan ini sudah Guo Yun lego dengan di tukar duit.


Tapi berhubung yang mereka lewati hanya Padang rumput stepa tanpa penghuni.


Terpaksa beban ini tetap harus di tarik kekota Yong.


Ibarat tulang ayam di buang sayang, di pertahankan bikin repot


Hal ini membuat pergerakan Guo Yun menjadi jauh lebih lambat, ketimbang rombongan Agahai.


Di tempat lain rombongan pasukan besar Xiongnu, yang mencapai 250.000 personil, di bawah pimpinan Hanif Hasan dan Temusa.


Mereka telah tiba di daerah jejeran tebing, yang menjadi pintu masuk menuju wilayah Yong.


Hanif Hasan dan Temusa, mengangkat tangan mereka, memberi kode agar pasukan mereka berhenti.


Mereka bertiga saling pandang dengan wajah ragu.


"Temusa,..apa kita tidak punya jalan lain menuju kota Yong selain melewati jalur ini..?"


tanya Hanif sambil menatap rekannya.


"Hanif benar jalan ini terlalu beresiko , sangat rawan terkena serangan tersembunyi lawan.."


ucap Hasan membenarkan.


Temusa menghela nafas panjang dan berkata,


"Kalau saja aku tahu ada jalan lain, yang lebih baik tentu kita tidak akan lewat sini.."


"Selain lewat sini, memang ada jalur satu lagi, yaitu melewati rawa rawa beracun dan sangat berbahaya.."


"Jalan itu harus di tempuh dengan rakit, kuda kuda kita akan kesulitan di bawa.."


"Selain itu kita juga perlu banyak waktu untuk membuat rakit."


"Itu pun jika berhasil kita lewati semua, kita masih harus hadapi serangan panah, yang di lepaskan dari tepi rawa, karena ada kemungkinan di seberang sana di jaga ketat oleh pasukan Qin."


ucap Temusa.


"Hadeh, sama repot nya.."


"Seandainya ada Agahai, tentu semua akan jadi lebih mudah.."


ucap Hasan mengeluh.


Kedua rekannya juga mengangguk setuju dan menghela nafas berat.

__ADS_1


"Kenapa kalian begitu merindukan ku,..!? ini aku datang penuhi panggilan kalian..!"


teriak Agahai dari jauh sambil memacu kudanya mendekat.


__ADS_2