LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
KEMBALI KE ISTANA


__ADS_3

Gongsun Li menoleh kearah Ling Tong dan Zhou Tai dan berkata cepat.


"Jendral Ling Jendral Zhou kalian berdua dan kamu Si Si tolong susul dan lihat keadaan Zhong San dan keluarganya.."


"Aku biar pergi lihat keadaan Sian Sian dan Li Ba.."


ucap Gongsun Li membagi tugas dengan cepat.


Si Si Ling Tong dan Zhou Tai, mengangguk setuju, lalu mereka bertiga bergegas menyusul kearah kepergian Zhong San dan kepala pelayan nya tadi.


Sedangkan Gongsun Li dengan ilmu ringan tubuh nya, langsung melesat menyusul kearah Sian Sian dan Li Ba pergi.


Sian Sian saat tiba di depan halaman istana, melihat sebuah kereta terparkir di sana.


Di kawal oleh rombongan kecil yang di pimpin oleh paman Cia yang sangat dia kenal.


Sian Sian langsung berlari menghambur kearah kereta kuda tersebut.


"Paman Cia apa yang terjadi ? benarkah kakek telah..?"


ucap Sian Sian dengan wajah basah airmata.


"Nona tenangkan hati mu,.."


"Aku akan jawab semua nya, tapi saat ini yang terpenting adalah mengurus pemakaman kakek mu dulu.."


"Kami sudah menempuh perjalanan belasan hari, aku tidak tahu cairan pengawet bisa bertahan berapa lama.."


ucap Paman Cia Sun dengan serius.


Li Ba yang sudah tiba di sisi Sian Sian, sambil memegang bahu istrinya dengan lembut.


Dia berkata cepat.


"Paman Cia, berikan mutiara inti es ini, dia akan membantu menyelesaikan masalah jenazah kakek.."


Paman Cia terlihat dengan girang menerima mutiara tersebut.


Setelah itu dia buru buru menghampiri kereta kuda berisi peti jenazah kakek Huang.


"Buka peti cepat..!"


ucap Paman Cia memberi perintah ke anak buahnya.


6 pemuda di dalam rombongan tersebut, buru buru saling bantu membuka tutup peti yang berat.


Begitu tutup peti kayu Cendana terbuka, bau tak sedap langsung menyebar.


Tubuh kakek Huang mulai mengempis, kulitnya mulai kusam dan layu, membalut tulang tulang nya yang mulai menonjol.

__ADS_1


Tapi paman Cia bertindak sigap, dia langsung memaksa membuka mulut Kakek Huang.


Kemudian mutiara inti es itu dengan cepat di masukkan kedalam mulutnya, sebelum kemudian dia menutup mulutnya kembali.


Begitu mutiara es masuk kedalam mulut kakek Huang, jasadnya yang layu langsung bereaksi.


Dalam sekejab keadaan kakek Huang telah pulih kembali seperti semula.


Dia terlihat seperti sedang tertidur pulas, selain nafasnya dan detak nadinya yang telah berhenti, menunjukkan kakek Huang telah meninggal, hal lain dia terlihat sangat normal.


Bau busuk yang menyebar juga hilang, tergantikan dengan wangi kayu Cendana, dan hawa dingin yang mengelilingi disekitar kereta jenazah.


Sian Sian sambil menangis tersedu-sedu, langsung menubruk kearah peti jenazah kakek Huang.


"Kakek...! kakek..! bangunlah..! jangan tinggalkan Sian Sian kek..!"


"Maafkan Sian Sian yang tidak berbakti, tidak mendampingi kakek.."


"Maafkan Sian Sian kek..!"


tangis Sian Sian penuh sesal.


Sian Sian sangat merasa bersalah, tidak hadir di sisi Kakek nya, di saat saat terakhir dalam hidup beliau..


Padahal kakek nya inilah yang membesarkan nya dengan penuh kasih sayang sejak kecil, hingga dewasa.


Dia teringat dengan semua kebaikan kakek itu, yang selama ini selalu mendukung hubungan nya dan Sian Sian.


Bagaimana kakek itu begitu menghargai dan tidak pernah sedikitpun meremehkan dirinya yang begitu banyak kekurangan nya di bandingkan Sian Sian.


Tapi kakek itu selalu dengan penuh pengertian memberinya semangat dan nasehat nasehat untuk menyemangatinya.


Agar dia tidak minder dan percaya diri untuk bersanding dengan Sian Sian, yang cantik cerdas dan berumur jauh di bawahnya.


Teringat semua itu, hati Li Ba serasa tercabik cabik melihat kakek yang sangat baik itu, kini telah pergi meninggalkan mereka berdua untuk selama lamanya.


Bagaimana pun Li Ba berusaha menahan kesedihan hati nya, dia tetap sulit untuk menahan airmata nya ikut jatuh menetes membasahi wajahnya.


Sian Sian yang menangis terlalu sedih akhirnya pingsan tidak sadarkan diri di tepi peti jenazah kakek nya.


Li Ba dengan lembut menggendong tubuh Sian Sian yang pingsan.


Lalu dia bergerak keluar dari dalam kereta.


Gongsun Li yang sudah hadir di sana, tidak bisa berkata apa-apa.


Selain turut prihatin dan turut berdukacita melihat keadaan Li Ba dan Sian Sian.


Gongsun Li menoleh kearah Kasim Cao dan berkata,

__ADS_1


"Seluruh Kerajaan Yue berkabung, kamu harus mengatur semuanya dengan baik.."


"Jangan ada kesalahan mengerti..?"


ucap Gongsun Li memberi perintah dengan tegas.


"Siap Yang Mulia, hamba yang tua akan menjalankan dengan sebaik baiknya."


Setelah memberi hormat, Kasim Cao segera bergegas pergi mengatur segala sesuatunya.


Dia terlihat sibuk membagi bagi tugas kesemua bawahan nya.


Sementara itu Gongsun Li dan Li Ba membuka jalan untuk kereta jenazah bergerak menuju bagian dalam istana, menuju kompleks istana bagian belakang.


Dimana gedung tempat tinggal Sian Sian dan Li Ba berada.


Seluruh pelayan dan pengawal istana sibuk mempersiapkan segala macam prosesi berkabung acara sembahyang hingga proses pemakaman kakek Huang.


Jenazah kakek Huang akan di makamkan di sebuah ruangan khusus.


Di bilang di makamkan sebenarnya lebih tepat di simpan, karena Li Ba dan Sian Sian tidak ingin kakek itu hilang sepenuhnya dari sisi mereka.


Mereka masih belum ikhlas merelakan kepergian kakek itu dari sisi mereka.


Dalam acara prosesi sembahyang, sebelum jenazah di antar keruangan pemakaman nya.


Terlihat Li Ba Sian Sian dan putri mereka yang masih kecil Li Mei Lan,. mereka semua mengenakan pakaian berkabung, sambil berlutut di depan peti jenazah kakek Huang.


Mereka bertiga berlutut di sana, menyambut tamu tamu yang datang melayat dan sembahyang terakhir untuk kakek Huang.


Hampir semua pejabat Wen dan Wu datang untuk sembahyang dan menyampaikan rasa belasungkawa mereka.


Tapi mereka tidak bisa berlama-lama di sana, karena mereka semua di saat bersamaan juga harus pergi melayat ke tempat Zhong San yang juga sedang berduka cita.


Kehilangan ibu dan adik kandung tercinta nya.


Kerajaan Yue benar benar dalam keadaan di liputi duka cita.


Seluruh tembok kota maupun tembok istana dan pintu gerbang masuk, semua di pasangi bendera bendera dan umbul umbul tanda duka cita.


Di seluruh rumah di ibukota di pasangi lampion putih tanda ikut berduka cita.


Sehingga Lampion putih, terlihat bertebaran di mana mana.


Guo Yun yang baru tiba di ibukota bersama Xiang Yu kecil dan kedua pamannya, Xiang Liang dan Xiang Bo, mereka semua terlihat heran dengan keadaan kerajaan Yue.


Guo Yun dengan langkah terburu-buru segera bergerak menuju istana bersama rombongan kecilnya.


Setiba di depan gerbang istana, Guo Yun langsung di sambut oleh seluruh penjaga gerbang yang terlihat berlutut di sana menyambut kedatangannya.

__ADS_1


__ADS_2