
"Lapor Yang Mulia.."
ucap salah satu anak buah Meng Da, yang di tugaskan untuk mengamati gerak gerik Liu Qin Lung dan pasukannya di bawah sana.
"Apa yang sedang mereka lakukan sekarang..?"
tanya Meng Da sambil menghapus keringat, yang membasahi wajah dan leher nya.
"Masih sama Jendral, bahkan kini mereka benar benar pulas tidurnya.."
"Bahkan baju perisai dan senjata, mereka geletakkan begitu saja di sekitar mereka."
Meng Da akhirnya bangkit berdiri, lalu pergi sendiri ke pinggir bukit batu, untuk membuktikan sendiri secara langsung.
Saat dia melihat apa yang Liu Qin Lung lakukan bersama pasukannya, yang terlihat sedang enak enakan tidur di bawah pohon bambu rindang.
Sepasang mata Meng Da melotot merah menahan emosi dan kesalnya.
Dia sudah 3 kali mendapat laporan dari bawahannya atas sikap dan perilaku Liu Qin Lung dan pasukannya.
Tapi selama ini dia selalu bersabar dan curiga itu adalah jebakan, yang sengaja Liu Qin Lung persiapkan untuk dirinya.
Karena kecurigaan ini, dia tidak berani bergerak sembarangan selama ini.
Kini melihat keadaan Liu Qin Lung dan pasukannya yang tidur malang melintang seenak perut.
Dia benar-benar kehabisan kesabaran dan sangat menyesal,.dia telah memberikan keuntungan berlebih kepada lawan karena kecurigaan nya itu.
Harusnya dia dari awal sudah harus menyerang, sehingga tidak mempersulit diri sendiri dan pasukannya, hingga kepanasan seperti saat ini.
Semakin melihat keadaan di bawah sana, Meng Da semakin emosi.
Hingga sepasang tangannya terkepal hingga buku buku jari tangan nya berkerotokan.
"Kreekkk..!" Kreekkk..!" Kreekkk..!"
"Kreekkk..!" Kreekkk..!" Kreekkk..!"
Meng Da akhirnya berbisik kepada bawahan nya itu, menyampaikan pesan dengan pelan.
Untuk di sampaikan ke bawahannya yang lain, yang sedang bertahan di bagian tengah bukit.
Pesan berantai segera di sampaikan oleh prajurit itu ke rekan rekannya yang lain.
Sesaat kemudian mereka semua yang berjumlah sekitar 25.000 personil, dengan senjata lengkap.
Bergerak dengan hati hati tanpa menimbulkan suara, mencoba menuruni bukit batu tandus.
Bergerak menghampiri pasukan Liu Qin Lung yang sedang tertidur pulas secara diam diam.
Mereka bergerak dengan cukup cepat mengikuti arahan kode tangan Meng Da.
Tapi sebelum mereka berhasil mendekati area hutan bambu, baru saja mereka melewati batu besar tempat Liu Qin Lung sebelumnya berdiri.
Kaki Meng Da dan beberapa komandan pasukan nya yang bergerak terdepan, tanpa sengaja tersangkut benang halus tipis transparan yang sulit di lihat.
Bila mereka tidak sengaja fokus kan mata mereka untuk melihat nya.
Begitu benang halus tersebut secara tidak sengaja tersentuh oleh kaki mereka.
Suara lonceng kecil yang berisik langsung bergema di sekitar hutan pohon bambu.
Bunyi lonceng ini seperti peringatan bagi Liu Qin Lung dan pasukannya yang terlihat begitu bangun.
Dalam keadaan Linglung karena baru bangun tidur, mereka kemudian berlari terbirit-birit masuk kedalam hutan bambu dengan sangat paniknya.
Melihat situasi di depan mata, Meng Da langsung berteriak dengan wajah penuh semangat.
__ADS_1
"Serbu..! Serang..! Habisi mereka semua nya,..!"
"Jangan sampai ada sisa..!"
"Serbu..! Serang..!"
"Serbu..! Serang..!"
"Serang..!" "Serang..!" "Serang..!"
"Serang..!" "Serang..!" "Serang..!"
"Serang..!" "Serang..!" "Serang..!"
Teriak Meng Da di ikuti oleh teriakan para komandan pasukan dan seluruh pasukan nya.
Suara sorak sorai penuh semangat dan bergema memenuhi seluruh tempat itu.
Terdengar seperti suara bergemuruh, saat mereka semua meluruk melakukan pengejaran hingga masuk kedalam hutan bambu.
Tapi baru saja mereka memasuki hutan bambu, terdengar suara letusan senjata dan lesatan anak panah memenuhi seluruh tempat tersebut.
"Dooor..!" "Dooor..!" "Dooor..!"
"Serrrr..!" "Serrrr..!" "Serrrr..!"
Dooor..!" "Dooor..!" "Dooor..!"
"Serrrr..!" "Serrrr..!" "Serrrr..!"
Dooor..!" "Dooor..!" "Dooor..!"
"Serrrr..!" "Serrrr..!" "Serrrr..!"
Dooor..!" "Dooor..!" "Dooor..!"
"Serrrr..!" "Serrrr..!" "Serrrr..!"
"Arggghhh..! Arggghhh..!"
"Arggghhh..! Arggghhh..!"
"Arggghhh..! Arggghhh..!"
"Arggghhh..! Arggghhh..!"
"Arggghhh..! Arggghhh..!"
Sesaat kemudian malah terdengar suara jeritan ngeri dari pasukan Meng Da yang jatuh bergelimpangan di terjang peluru dan anak panah.
Meng Da sendiri dan beberapa komandan nya juga tidak terkecuali.
Mereka sambil bergerak terpincang pincang mundur melarikan diri, mereka berteriak keras.
"Mundur..! Mundur..! Mundur..!"
"Ayo mundur semuanya..!"
"Mundur..! Mundur..! Mundur..!"
Ayo mundur semuanya..!"
Teriak Meng Da berulang ulang, silih berganti dengan para komandan bawahan nya, sambil terus bergerak mundur.
Berusaha meninggalkan hutan bambu, mencoba untuk kembali naik keatas bukit berbatu, untuk bertahan di sana.
Saat berhasil keluar dari dalam hutan bambu, kekuatan pasukan Qin hanya tinggal setengah.
__ADS_1
Itupun sebagian besar dari mereka pada mengalami luka tembak dan luka terkena anak panah.
Tapi saat mereka keluar dari hutan bambu, mulai kembali naik keatas bukit berbatu.
Terlihat batu batu besar bergulingan jatuh kebawah, di atas bukit batu kini terlihat berkibar bendera pasukan harimau hitam di mana mana.
"Duaakkkk..! Duaakkkk..!"
Duaakkkk..! Duaakkkk..!"
Duaakkkk..! Duaakkkk..!"
Duaakkkk..! Duaakkkk..!"
Batu batu besar menggelinding menghantam kearah pasukan Meng Da tanpa ampun.
"Arggghhh..!" "Arggghhh..!"
"Arggghhh..!" "Arggghhh..!"
"Arggghhh..!" "Arggghhh..!"
"Arggghhh..!" "Arggghhh..!"
Suara teriakan kesakitan kembali berkumandang memenuhi seluruh tempat itu.
Pasukan Qin di bawah pimpinan Meng Da sekarang benar benar jatuh dalam situasi sulit.
Maju tidak bisa, mundur juga tidak bisa.
Mereka seperti hanya sedang menunggu ajal menghampiri mereka.
Meng Da yang melihat Liu Qin Lung berdiri di mulut hutan bambu sedang menertawai nya.
Emosi nya langsung mengalahkan akal warasnya.
"Hyaaaaaat...!"
"Mampus kamu, Keparat marga Liu..!"
"Aku hari ini akan beradu nyawa dengan mu.."
teriak Meng Da penuh emosi sambil menyeret senjata andalannya sebatang golok besar bergagang panjang.
Sambil berteriak marah, dia menyeret golok besarnya sambil berlarian cepat mendekati Liu Qin Lung.
Sehingga saat golok besarnya berbenturan dengan bebatuan di atas tanah, menimbulkan bunga api berpijar di mana mana.
Liu Qin Lung hanya menanggapinya dengan tersenyum dingin.
Justru ini yang di nanti nantikan olehnya, momen ini yang sangat sangat Liu Qin Lung harapkan.
Dia bisa memenggal kepala manusia Keparat yang telah berani menyakiti ayahnya yang telah tua dan tidak berdosa.
Hari ini bila dia tidak mencuci bersih kedua tangannya dengan darah binatang di hadapannya ini.
Dia tidak akan pernah bisa menghilangkan rasa kebencian di dalam hati nya itu.
"Trangggg..!"
"Crackkk..!"
Golok besar Meng Da menghantam tanah tempat Liu Qin Lung berdiri hingga debu batu dan pasir beterbangan menuju udara.
Tapi Liu Qin Lung sendiri tidak terlihat berada di sana.
Liu Qin Lung sendiri sudah melompat keudara menghindari tebasan kuat Meng Da.
__ADS_1
Dengan gerakan ringan seperti seekor capung yang sedang melayang di udara.
Liu Qin Lung memberikan satu Tebasan Pedang yang berkilauan, berubah menjadi seberkas cahaya putih, melintas melewati leher Meng Da.