
"Tahan,..!"
Bentak Guo Yun dengan suara menggelegar..
Sehingga pasukan Qin di belakang Lu Bu Wei tidak berani bergerak.
"Siapa jendral yang mimpin di sana..!?"
tanya Guo Yun kembali dengan suara menggelegar.
"Kami Jendral Senior Topeng Emas.."
jawab Lima orang berpakaian Jendral keluar dari barisan.
"Jendral Yong Jendral Yan Jendral Sia, Jendral Zhang dan Jendral Meng.."
"Apa kabar lama tak jumpa ?"
ucap Guo Yun santai.
"Baik, Jendral senior.."
jawab kelima orang itu kompak.
Lu Bu Wei menatap tajam kearah kelima Jendral bawahannya, yang terlihat akrab dengan Guo Yun.
Guo kembali berkata, tanpa memperdulikan sikap Lu Bu Wei.
"Kalian berlima, hari ini kita bertemu di sisi yang berbeda.."
"Sebelum kita nanti saling berhadapan sebagai lawan.."
"Aku tanya untuk yang terakhirnya buat kalian, apa kalian bersedia pindah ke pihak ku..?"
"Mimpi sana,..!"
"Teman teman ayo serang tangkap penghianat itu..!"
teriak Jendral Yong langsung memacu kudanya menerjang Kearah Guo Yun.
Keempat temannya terlihat meragu, tapi akhirnya mereka pun mengangkat senjata menyusulnya.
Pasukan Qin pun bergerak mengikuti kelima Jendral itu menerjang kearah pasukan Qin pimpinan Jendral Wen dan Jendral Nan.
Melihat hal itu Lu Bu Wei pun tersenyum puas.
Tapi dia segera terkejut, saat melihat Jendral Yong malah melompat turun dari kuda nya.
Berlutut di hadapan Guo Yun dan berkata,
"Aku Jendral Yong akan mengabdi pada tuan hingga maut tiba.."
"Di susul oleh keempat jendral lainnya, juga melakukan hal yang sama.
Melihat yang di pilih oleh kelima jendral mereka, seluruh pasukan qin langsung membuang senjata di tangan mereka.
Mereka semua menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
"Kami semua hanya mengabdi pada Jendral Senior Topeng Emas..!"
Suara membahana itu seketika membuat wajah Lu Bu Wei kaget.
__ADS_1
Tapi sesaat kemudian wajahnya berubah merah dan terlihat emosi.
"Awalnya dia telah kehilangan 50.000 pasukan dengan berbelotnya, Jendral Nan dan Jendral Wen.
Kini di tambah dengan Jendral Yong, Jendral Yan Jendral Sia, Jendral Zhang dan Jendral Meng..
Total dia sudah kehilangan 300.000 pasukan.
Ini benar benar suatu pukulan yang sangat memalukan bagi dirinya.
Di dalam hati Lu Bu Wei justru sangat khawatir, di tubuh pasukan Qin sendiri, jendral Jendral nya bisa terpecah belah.
Ini adalah hal yang sangat berbahaya, batin Lu Bu Wei.
Bila berhasil keluar dengan selamat dari tempat ini.
Dia harus segera melakukan pembenahan dan memikirkan cara menanggulangi, Jendral Jendral yang setia kepada Si topeng Emas, yang memilki reputasi tinggi di tubuh pasukan Qin.
"Kalian semua berdirilah ambil kembali senjata kalian.."
ucap Guo Yun memberi kode agar semuanya berdiri.
Lalu dia menatap kearah Jendral Yong, Jendral Yan Jendral Sia, Jendral Zhang dan Jendral Meng.
"Kalian berlima, aku mengandalkan kalian, untuk mengatur dan merapikan barisan, bergabunglah dengan Jendral Wen dan Jendral Nan.."
ucap Guo Yun sambil memberi hormat kearah mereka berlima.
Kelima Jendral itu membalas hormat Guo Yun dan berkata,
"Kami mengerti siap laksanakan.."
Kelima Jendral itu langsung pergi mengatur barisan pasukan mereka masing-masing.
Guo Yun membuka topeng Emas nya.
Sambil menatap tajam kearah Lu Bu Wei beberapa waktu.
Akhirnya Guo Yun berkata,
"Kamu cepat pergilah,..!"
"Sebelum aku berubah pikiran.."
Tanpa menunggu Guo Yun untuk mengucapkan ulang.
Lu Bu Wei tanpa berkata apa-apa, langsung memutar kudanya, melarikan diri dari tempat itu.
Gongsun Li dan Si Si, yang melihat hal itu meski mereka tidak puas dengan keputusan Guo Yun.
Padahal hari ini adalah peluang yang sangat bagus, untuk melenyapkan si biang masalah.
Tapi mereka mengerti mengapa Guo Yun ambil keputusan seperti itu..
Mereka menepuk bahu Guo Yun, memberikan dukungan dan pengertian atas semua keputusan Guo Yun.
Guo Yun menoleh kearah kedua istrinya secara bergantian dan berkata penuh penyesalan.
"Maaf aku telah ambil keputusan itu.."
Gongsun Li dan Si Si dengan kompak menggelengkan kepalanya dan berkata,
__ADS_1
"Tak perlu Yun ke ke, kami mengerti dan kami mendukung keputusan mu.."
Guo Yun mengangguk lalu dia pergi menghampiri ke tujuh jendral bawahan nya yang sedang sibuk.
Melihat kedatangan Guo Yun, ketujuh orang itu segera memberi hormat.
"Jendral Yong, kamu tolong segera hubungi Jendral Kho, Jendral Liu, Jendral Sun minta mereka berhati hati.."
"Segera tinggalkan Qin.."
"Gunakan merpati cepat.."
"Kalian juga harus cepat sebarkan orang untuk mengevakuasi keluarga kalian, terutama yang tinggal di sekitar Xian Yang, harus segera pindah ke negara Yue.."
"Semua harus bergerak lebih cepat dari Lu Bu Wei dan Ying Zheng.."
"Aku masih ada sedikit urusan di sini, kalian segera pimpin pasukan kalian berangkat kerajaan Yue.."
"Gunakan plakat ini serahkan kepada kedua saudara ku Li Kui dan Li Ba, mereka akan atur segala sesuatu buat kalian.."
Ucap Guo Yun berpesan.
"Siap tuan, terimakasih tuan.."
ucap Jendral Yong dan yang lainnya cepat.
Setelah memberi pesan, Guo Yun dan kedua istrinya kembali ke perahu mereka.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat yang menjadi tujuan mereka sebelumnya.
Perahu kini bergerak dengan cepat, karena Guo Yun ingin cepat cepat menyelesaikan semua urusan pribadinya.
Dia kini punya beban tanggung jawab baru atas keselamatan, keluarga dari pasukan Qin yang memilih mengikutinya.
Dia tidak boleh kecewakan mereka yang memilih mengikutinya.
Guo Yun ingin mewujudkan janji nya, memberikan kedamaian dan ketenangan bagi seluruh rakyat nya.
Gongsun Li dan Si Si tanpa di minta juga ikut membantu mengayuh perahu agar bisa lebih cepat.
Guo Yun tidak mendaratkan perahunya di tempat dia kemaren bertemu dengan Ta Mao.
Tapi dia langsung mendaratkan perahunya, di aliran sungai kecil di belakang rumah lamanya.
Dengan begini mereka bisa lebih cepat sampainya.
Tapi baru saja mereka menepi, Ta Mao dan anak anaknya yang terlihat jauh lebih besar.
Sudah muncul menyambut kedatangan Guo Yun.
Kehadiran mereka membuat Gongsun Li dan Si Si sedikit kaget.
Meski mereka pernah dengar cerita dari Guo Yun, tapi mereka masih agak sangsi dan belum berani terlalu dekat dengan kucing kucing besar itu.
Guo Yun langsung memeluk Ta Mao dan bercengkrama dengan nya.
Sesaat semua beban pikiran dan kekhawatiran Guo Yun langsung terangkat, saat dia dengan gembira dan penuh rindu bermain bergulingan dengan sahabatnya di tepi sungai halaman belakang rumah nya.
Sementara Ta Mao asyik bercanda dengan Guo Yun, Siau Mao satu persatu, mendekati Gongsun Li dan Si Si yang berdiri tegang di sana.
Mereka menggosok gosok kan tubuh mereka di kaki Gongsun Li dan Si Si.
__ADS_1
Kemudian mencium dan menjilati tangan Gongsun Li dan Si Si.