
Gongsun Li menatap cemas kearah prajurit yang bersimbah darah yang baru saja datang menghadap,
"Apa yang terjadi ?"
"Kamu dari divisi mana ?"
"Kenapa terlihat seperti ini..?"
tanya Gongsun Li heran bercampur khawatir.
"Lapor Yang Mulia, saya ada di bawah Jendral Guan, bertugas di tepi barat sungai Han.."
"Lapor Yang Mulia, seluruh pasukan kita di tepi sungai Han sudah musnah.."
"Apa maksudmu ?"
"Apa yang terjadi ?"
tanya Gongsun Li kaget.
Prajurit itu menelan ludahnya sendiri, karena mulutnya terlalu kering untuk bicara.
Sesaat kemudian dia baru kembali berkata,
"Pertahanan tepi Timur sungai Han di bawah pimpinan Jendral Xing, mendapat serangan mendadak dari pasukan Qin."
"Jendral Guan mendapatkan sinyal permintaan bantuan, Jendral Guan segera membawa setengah pasukan bantuan berangkat kesana.."
"Tapi naas di tengah Jalan Jendral Guan mendapat serangan gelap dan mendadak.."
"Akibatnya Jendral Guan dan keempat komandan pasukan nya gugur, sebagian pasukannya yang hidup tertawan.."
"Kami yang bertahan di tepi barat juga mendapatkan serangan, sebagian gugur, sebagian menyerah, kedua komandan kami gugur dalam tugas.."
"Situasi di tepi timur sungai Han juga sama, Jendral Xing dan keempat komandannya gugur, sebagian pasukan di sana gugur, sebagian lagi menyerah.."
ucap prajurit itu berusaha menjelaskan serinci mungkin yang dia ketahui.
"Apa berita mu akurat, ? bagaimana kamu bisa tahu situasi Jendral Guan dan Jendral Xing yang letaknya jauh dari mu..?"
tanya Gongsun Li masih sulit percaya.
"Semua laporan ku benar adanya,
Jendral Xing Jendral Guan dan 10 komandan pasukan kami, semuanya gugur di tempat."
"Mengenai mengapa hamba bisa tahu banyak,?"
"Sebenarnya saat kami hendak datang kemari melapor, kami terdiri dari tiga orang."
"Tapi di dalam perjalanan kemari kami di cegat lawan, dua rekan ku yang lainnya, yang membawa kabar tentang Jendral Guan dan Jendral Xing.."
"Mereka berdua gugur ditempat, hanya aku seorang yang berhasil menyelamatkan diri.."
"Jadi aku sekalian membawa kabar dari mereka berdua untuk di sampaikan.."
ucap prajurit pembawa berita yang seluruh tubuhnya bersimbah darah itu tegas dan berani.
__ADS_1
Dia menatap kearah Gongsun Li dengan tatapan mata polos penuh kejujuran.
Mendengar semua penjelasan tersebut, Gongsun Li terdiam dengan sepasang alis bertaut.
Tanpa sadar jarinya yang halus lentik, dia gunakan untuk memijit mijit kedua sisi keningnya, yang terasa berdenyut denyut seperti mau pecah.
Gongsun Li memberi kode agar semuanya keluar dari ruang kemahnya dan berkata,
"Kamu sudah bekerja keras, pergilah rawat luka mu dan istirahat.."
"Pengawal tolong panggilkan Si Si kemari, yang lain boleh keluar semua nya.."
ucap Gongsun Li cepat.
Saat ini dia sedang memerlukan waktu dan ruang untuk berpikir dan menenangkan diri.
Tidak ingin ada yang mengganggu.
Untuk mengambil keputusan lebih lanjut agar tidak salah ambil keputusan, dia perlu berpikir dengan tenang.
Selain itu dia juga perlu teman diskusi, dan orang paling tepat untuk diajak berdiskusi adalah Si Si.."
Hanya Si Si yang bisa selalu tenang dan hati hati dalam berbagai situasi sulit, jadi teman diskusi paling tepat memang cuma Si Si.
Dia perlu bicara dengan Si Si agar tidak sampai salah langkah dalam pengambilan keputusan.
Yang bukannya memperbaiki situasi, tapi malah semakin memperumit keadaan..
Di saat Gongsun Li sedang duduk termenung sambil memijit mijit keningnya sendiri, untuk mengurangi rasa pusing di kepala nya, sambil berpikir keras mencari solusi.
Tiba-tiba dari luar pintu kemah terdengar suara pengawal penjaga pintu berkata,
Gongsun Li menghembuskan nafas panjang, untuk mengurangi stress dan berkata cepat,
"Bawakan saja kemari suratnya..!"
Pengawal penjaga dengan langkah buru buru, segera memasuki kemah, untuk menyerahkan sebuah tabung kecil yang masih tersegel kearah Gongsun Li.
Gongsun Li menerimanya dengan alis berkerut dan berkata pelan,
"Terimakasih, kamu boleh kembali ke pos mu.."
Setelah pengawal itu pergi, dengan hati hati dia membuka penutup tabung bambu, dan mengeluarkan kertas yang ada di dalam sana.
Belum sempat dia membacanya, dari pintu kemah berjalan masuk Si Si.
"Kakak kamu mencari ku, ada berita apa kak..?"
tanya Si Si sambil melangkah menghampiri Gongsun Li.
Gongsun Li menunda membaca isi gulungan di dalam tangannya dan berkata,
"Barusan ada laporan, seluruh pasukan jaga yang ku tempatkan di tepi sungai Han musnah.."
"Jendral Xing dan Guan, begitu pula dengan 10 komandan bawahan mereka, semuanya gugur dalam tugas.."
"Bagaimana menurut pendapat adik Si Si, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk langkah berikutnya..?"
__ADS_1
tanya Gongsun Li dengan serius.
Si Si terdiam mendengar berita mengejutkan tersebut, dia mencoba bersikap tenang.
Tidak terbawa perasaan dan bisa berpikir realistis.
Si Si sambil berpikir, dia berjalan menuju peta untuk memperhatikan lebih lanjut.
Sesaat kemudian dia berkata,
"Aku yakin target mereka saat ini pastilah Shoucun.."
"Tapi bila kita bergerak ke Shoucun bukannya tanpa resiko.."
ucap Si Si sambil terus menatap kearah peta wilayah selatan.
"Resiko apa ? kalau di sini aku rasa Meng Thian tidak akan berani bergerak setelah kekalahan tragis kemarin di Xiao Yao Ya.."
"Meski kita berdua tidak di sini pun, masih ada Zhang Yun yang bisa gantikan kita menjaga Xiao Yao Ya dan Dan Yang."
ucap Gongsun Li berpendapat.
Si Si mengangguk dan berkata,
"Kakak benar, dan yang aku khawatirkan bukan di sini.."
"Tapi aku khawatir kita berdua, yang akan di target lawan dalam perjalanan ke Shoucun.."
"Sama seperti yang terjadi dengan Jendral Guan.."
"Bila aku jadi mereka, tempat paling cocok untuk turun tangan adalah lembah ini.."
"Lembah merak api, ini adalah titik rawan yang harus kita di hindari.."
ucap Si Si sambil menunjuk titik tersebut di peta.
"Tapi kita tidak mungkin tinggal diam di sini.."
"Kita juga tidak mungkin mengambil jalan melingkar dengan melewati kota Cai.."
"Bila mengambil jalan memutar, saat kita tiba di Shoucun, mungkin saja Shoucun sudah jatuh, atau paling tidak sedang terkepung.."
"Kita akan sulit memberikan bantuan bila terlambat tiba.."
ucap Gongsun Li mengemukakan pertimbangan nya.
Si Si menghela nafas panjang dan berkata,
"Inilah yang di namakan sudah tahu masih masuk.."
"Kita di sini memang sengaja tidak di beri pilihan, kita sudah tahu di sini mungkin ada jebakan menanti.."
"Tapi mau tidak mau kita tetap harus masuk kedalam sana.."
"Ini adalah tehnik jebakan tingkat tinggi, dari awal selangkah demi selangkah, semuanya seperti sudah di atur..'
"Sama seperti Yun ke ke yang di paksa pergi ke pulau Peng Lai, jendral Guan yang di jebak di perbatasan timur barat tepi sungai Han.."
__ADS_1
"Hingga kini kita di paksa memasuki lembah ini, semua sudah dalam perhitungan lawan.."
ucap Si Si yang terlihat sedang berpikir keras.