
Bai Qi yang mendengar hal itu segera berteriak lantang,
"Terus kejar dan tekan mereka..!"
"Jangan biarkan tikusnya lolos..!"
"Mereka sudah terjepit,..!"
"Kejar,..tekan mereka..!"
"Terus...terus..terus..!"
"Tekan habis mereka, Jangan biarkan lolos..!"
"Satu kepala 2 Tael emas,..!
"Komandan 10 Tael emas,..!"
"Jendral 500 Tael emas..!"
"Si Topeng Emas Guo Yun 5000 Tael Emas..!"
"Ayo ayo semangat..!"
Teriakkan Bai Qi membuat semangat pasukan Qin berkobar kobar..
Tidak ada yang lebih menarik daripada bonus itu, mereka bagaikan kesetanan, terus menerjang kearah pasukan Harimau Hitam.
Di mana pasukan harimau hitam sendiri terlihat terus terdesak mundur.
Mereka terus mundur kearah gerbang timur.
Baik pasukan Qin dan pasukan harimau hitam sama sama mengalami pasukan gugur dan terluka, baik ringan ataupun berat.
Tapi pasukan Harimau Hitam lebih sedikit jumlahnya, perbandingan nya adalah 1 banding 4.
4 pasukan Qin satu pasukan harimau hitam, itupun bukan pasukan inti mereka.
Itu adalah pasukan tahlukkan yang mereka rekrut dalam perjalanan menahlukkan kota Shoucun dan kota Cai.
Sehingga mereka belum terlatih dengan baik.
Pasukan Harimau Hitam akhirnya berhasil mundur keluar dari pintu gerbang timur.
Mereka terus bertahan mati matian di sana mengikuti instruksi dari Guo Yun.
Pasukan Qin sendiri terus meluruk masuk dari gerbang barat, tidak putus putus.
Hingga pasukan mereka hampir memenuhi seluruh penjuru kota Dan Yang.
Saat pasukan mereka sepenuhnya memasuki kota Dan Yang.
Sebagian pasukan Guo Yun yang di pimpin oleh jendral Nan, diam diam mengambil jalan memutar kembali ke gerbang barat.
Mereka menutup gerbang itu dari luar.
Pasukan Qin yang terus meluruk kearah gerbang timur dan tertahan di sana tidak ada yang menyadarinya.
Bahkan Bai Qi dan seluruh Jendral dan komandan pasukan nya yang sedang sibuk di barisan depan.
Mereka tidak ada yang menyadari hal ini, mereka masih sibuk memimpin pasukan mereka yang haus kemenangan terus menerjang kearah gerbang timur.
Guo Yun setelah melihat tanda yang di lepaskan oleh jendral Nan.
"Jendral Wen pimpin semua pasukan kita mundur menjauhi jembatan..!"
"Cepat..!"
Selesai berkata, Guo Yun kini melayang kearah depan memberikan Tebasan sapu jagad yang dahsyat.
"Singggg...!"
"Trangggg...!"
"Crasssh...!"
Seberkas sinar merah bergerak horisontal melintas, menghantam barisan depan pasukan Qin.
Begitu sinar itu lewat, potongan tameng dan tubuh barisan depan pasukan Qin beterbangan di udara.
Belum selesai kekacauan di bagian baris depan pasukan Qin, tebasan Sapu Jagad Guo Yun yang susul menyusul sudah kembali datang menyerang.
Setiap kali cahaya merah melintas lewat pasti ada ribuan pasukan Qin yang terpental dengan tameng dan potongan tubuh berhamburan.
Beberapa saat saja aksi Guo Yun, pasukan Qin yang tadinya terus maju mendesak pasukan harimau hitam yang bertahan di gerbang timur.
Kini pasukan Qin perlahan lahan terdesak mundur kebelakang, menjauhi pintu gerbang timur.
Setelah memukul mundur pasukan Qin, dan saat Guo Yun menoleh melihat pasukannya sudah mundur keseberang jembatan pintu gerbang timur.
Guo Yun memberikan satu tebasan terakhir yang membuat ribuan pasukan Qin kembali tewas mengenaskan.
Lalu dengan ringan dia menjejakkan kedua kakinya di atas tanah.
Tubuhnya tahu tahu sudah menghilang dari depan pintu gerbang kota sebelah timur.
Saat tubuh Guo Yun muncul lagi, dua sedang terbang melintasi jembatan penghubung gerbang timur dengan jalan masuk menuju kota Dan Yang.
Seperti kota Cai, kota Dan Yang juga di kelilingi oleh parit lebar, untuk melintasinya, harus melalui akses jembatan tarik ini.
Dari udara, Guo Yun melepaskan lagi tiga tebasan sinar merah beruntun kearah jembatan penghubung tersebut.
"Singggg...!"
"Trangggg...!"
"Braakkk...!"
"Blaarrr...!"
Jembatan yang menghadapi tebasan beruntun dari Guo Yun.
Akhirnya amblas kebawah, jembatan itu hancur lebur patah menjadi tiga potong.
Masuk kedalam parit lebar, tenggelam kedasar parit dalam yang di genangi air yang seperti kolam buatan.
Bertepatan dengan hancurnya jembatan penghubung, Guo Yun juga sudah mendarat ringan di seberang jembatan sana.
Pasukan Qin saat menyusul sampai depan gerbang, mereka hanya bisa terdiam di sana.
Tidak bisa menyeberang karena akses jembatan telah di rusak oleh Guo Yun.
Melihat pergerakan pasukan nya terhenti, Bai Qi beserta beberapa Jendral dan komandan pasukan nya, menyeruak kearah depan untuk melihat apa yang terjadi.
Melihat akses jembatan di rusak dia berdecak kesal, sambil menunjuk kearah Guo Yun dengan geram, dia berkata,
"Kamu tunggu saja..!"
"Dasar penghianat bajingan..!"
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu..!"
bentaknya marah penuh ancaman.
Guo Yun hanya menanggapi nya, dengan tersenyum dingin, dia tidak mau buang buang energi, merespon orang yang sebentar lagi akan mampus.
"Berputar arah, ambil akses pintu selatan..!"
teriak Bai Qi lantang..
Mendengar perintah tersebut pasukan Qin di bawah pimpinan Jendral dan komandan mereka.
Mereka mulai bergerak mundur dari sana, mundur kearah gerbang selatan.
Tapi baru saja mereka bergerak menuju gerbang selatan.
"Duaarr...!"
"Duaarr...!"
"Duaarr...!"
Terdengar ledakan dahsyat dari 3 penjuru gerbang lainnya, yang menjadi akses keluar masuk kota Dan Yang
Tidak lama kemudian susul menyusul seluruh penjuru kota Dan Yang, meledak dahsyat di mana mana.
"Duaarr...!" "Duaarr...!" "Duaarr...!"
"Duaarr...!" "Duaarr...!" "Duaarr...!"
"Duaarr...!" "Duaarr...!" "Duaarr...!"
"Duaarr...!" "Duaarr...!" "Duaarr...!"
Seluruh kota Dan Yang di kepung oleh ledakan maha dahsyat yang meluluh lantakkan seluruh kota tersebut.
Termasuk seluruh pasukan Qin yang terlihat kebingungan tidak tahu mau lari kemana.
Mereka sebagian terpaksa berlari kembali, meloncat kedalam parit.
Tapi hujan anak panah api pasukan harimau hitam yang menunggu di sana.
Langsung membuat seluruh kolam membara, karena kolam kolam ini sebelum nya, sempat tersiram minyak, yang di gunakan oleh pasukan Xiong Xin, untuk bertahan dari serangan pasukan harimau hitam, yang di pimpin oleh Guo Yun dan Jendral Wen.
Pasukan Qin yang terlanjur melompat ke dalam sana, langsung habis di lalap si jago merah.
Suara teriakan menjelang ajal yang mengenaskan, di sertai bau sangit daging terbakar, langsung memenuhi seluruh tempat tersebut.
Di depan di hadang lautan api, di belakang di hadang ledakan beruntun yang tidak berhenti.
__ADS_1
Meluluh lantakkan seluruh kota, Bai Qi akhirnya memutuskan menyelamatkan diri nya sendiri.
Dengan terbang menyeberangi parit yang di penuhi oleh lautan api.
Meninggalkan barisan nya di belakang sana.
Tindakan Bai Qi langsung di susul oleh beberapa orang Jenderal nya dan komandan pasukan nya.
Di mana mereka rata-rata memilki kemampuan yang tidak rendah.
Tapi baru saja mereka bergerak setengah jalan, tiga tebasan sinar merah di susul dengan dua bola cahaya matahari dan bulan raksasa.
"Singggg,..!"
"Singggg,..!"
"Singggg,..!"
"Wutttt..! Wutttt..!"
Memaksa mereka terpental kembali kedalam gerbang kota timur yang sedang meledak dengan api menjilat jilat, siap mencaplok semua nya.
Bai Qi yang paling duluan terpental balik menabrak tubuh salah satu komandan nya yang sial.
Hingga tubuh komandan tersebut terjatuh kedalam parit lautan api.
Sedangkan Bai Qi sendiri terpental ke dalam ledakan di gerbang kota timur.
Tubuhnya lenyap tertelan lautan api.
3 Jendral Bai Qi termasuk Xiong Xin, juga 4 orang komandan pasukan nya.
Mereka semua tertebas oleh sinar merah energi pedang Guo Yun.
Meski sempat menangkis dengan senjata mereka masing-masing.
Tetap saja tubuh mereka terbelah dua, terpental kembali kedalam gerbang pintu kota timur, menyusul Bai Qi.
Melihat keadaan kota Dan Yang dan ratusan ribu nyawa melayang.
Guo Yun berdiri mematung di sana dengan tatapan mata penuh sesal.
Dia tidak pernah mengharapkan akhir dari pertempuran seperti ini.
Dia lebih menyukai pertempuran cantik, di mana lawannya menyerah tanpa syarat.
Sehingga tidak perlu ada jatuh korban seperti saat ini.
Bagaimana pun, itu adalah nyawa manusia, di mana mereka di rumah ada yang menantinya.
Entah orang tua, entah anak istri ataupun saudara mereka.
Dimana keluarga mereka semua pagi siang dan malam terus berdoa, agar mereka bisa pulang dengan selamat.
Tapi karena dirinya, tidak ada satupun dari mereka yang bisa pulang dalam keadaan selamat.
Memikirkan hal ini diam diam Guo Yun sangat menyesal.
Tanpa sadar dia jadi teringat dengan obrolannya bersama Min Min dulu.
Di mana Min Min bertanya, apa sebenarnya yang dia cari dalam pertempuran perebutan kekuasaan yang tiada akhir.
Apakah dia hendak menjadi penguasa tunggal, atau sekedar membuktikan dirinya.
Mencari ketenaran dan nama besar, bila tidak kenapa dia tidak mundur saja.
Hidup tenang bersama orang orang yang di cintai nya.
Min Min juga pernah mengingatkan nya, bahwa hidup menjadi penguasa tertinggi ataupun menjadi orang nomor satu paling tenar.
Temannya cuma satu, temannya adalah kesepian.
Selama nya akan hidup dalam kesendirian.
Karena dia akan selalu ketakutan, akan di khianati oleh orang terdekat nya.
Yang akan merebut apa yang dia capai dan miliki melalui pengorbanan nya yang tidak terhingga.
Termasuk perasaan dan hati nurani nya sendiri.
Teringat dengan hal ini, Guo Yun sedikit menyesal kenapa dia dulu berkeras.
Tidak mau mendengarkan nasehat dari Min Min.
Bila waktu itu dia tidak berkeras kepala, tentu dia tidak perlu kehilangan Min Min dan mengalami kejadian penuh dosa seperti hari ini.
Guo Yun menghela nafas panjang, sambil menatap kearah langit dan berkata,
"Bila waktu bisa di balik,.. hasil akhirnya mungkin akan berbeda.."
"Sayang nya semua yang berlalu, tidak mungkin bisa di ulang kembali.."
Jendral Wen dan Jendral Nan tidak berani menganggunya.
Mereka diam diam memimpin pasukan mereka kembali ke kemah pertahanan mereka yang letaknya tidak jauh dari gerbang kota timur.
Guo Yun akhirnya sambil menghela nafas panjang perlahan-lahan melangkah meninggalkan tempat tersebut.
Tapi baru Guo Yun bergerak tiga langkah, tiba-tiba dia mendengar suara bisikan di telinganya.
"Anak muda tunggu, "
"Jangan pergi dulu,..aku ada perlu dengan mu.."
Mendengar suara yang datang ke telinga nya, sedangkan orang nya sendiri belum terlihat.
Guo Yun sadar pasti ada orang sakti yang kembali datang mengincar dirinya.
Sambil berdesah kesal, Guo Yun terpaksa menghentikan langkahnya.
Mengedarkan pandangannya mencari cari dari mana asal suara tersebut.
Akhirnya Guo Yun melihat setitik kecil dari arah barat, bergerak dengan kecepatan luar biasa sedang mendekat kearahnya.
Saat bayangan itu semakin mendekat, Guo Yun bisa melihat dengan lebih jelas.
Siapa orang yang sedang bergerak mendekatinya.
Diam diam Guo Yun kagum dengan kecepatan pergerakan orang itu yang terlihat seperti sedang berjalan santai.
Tapi tubuhnya hilang muncul, sebentar saja, tahu tahu dia sudah tiba di hadapannya.
Kecepatan gerak orang ini, Guo Yun harus akui tidak di sebelah bawah kecepatan Wu Ying Ru Tian miliknya.
Guo Yun berdiri diam menunggu apa yang ingin di katakan oleh orang itu.
Sambil mengamati penampilan orang itu dari atas hingga kebawah.
Dari pakaian yang di selempang kan di bahu dan lehernya.
Juga ada topi kain yang menutupi kepalanya, mirip sorban.
Guo Yun menebak orang ini kemungkinan datang dari gurun Gobi di daerah barat sana.
Wajahnya cukup tampan, dengan jenggot terpelihara rapi, sepasang alisnya tebal hidungnya mancung, bibirnya terkesan keras dan jantan.
Tubuhnya tinggi besar, membuat dia terlihat semakin menarik, untuk ukuran seorang pria berusia 40an tahun.
"Anak muda maaf menganggu waktu mu.."
"Apakah anak muda ini yang bernama Guo Yun..?"
Guo Yun di dalam hati lama lama dia bisa mati kesal dengan namanya ini.
Ingin dia mengganti namanya menjadi Akow Amao Acu ( An Jing, Kucing, Ba BI ) agar tidak ada yang terus menerus mencarinya.
Tapi itu adalah tidak mungkin, itu semua hanya imajinasinya saja.
Pada akhirnya, Guo Yun hanya mengepalkan kedua tangannya kedepan memberi hormat secara sopan dan berkata,
"Benar paman,.. aku lah Guo Yun.."
"Kira kira apa yang bisa aku bantu buat paman..?"
tanya Guo Yun sopan.
Pria itu sambil tersenyum ramah membalas penghormatan Guo Yun, juga dengan kedua tangan terkepal keatas dan berkata,
"Aku adalah Mu Rong Fuk, aku kemari adalah karena aku tertarik dengan kitab pusaka lembah hantu.."
"Kitab itu, adalah kitab pusaka Istana Naga Gurun Pasir milik leluhur kami.."
"Beberapa ribu tahun silam kitab kami itu di pinjam oleh Yi Yin perdana menteri Kerajaan Yin Tsang dari leluhur kami."
"Dengan alasan untuk membantu kerajaan Yin Tsang mempersatukan dunia.."
"Menghindarkan rakyat dari kesulitan dan penderitaan karena derita perang dan kelaparan.."
"Tapi setelah semua berhasil, Yi Yin dan seluruh keturunannya malah menghilang.."
"Mereka bersembunyi di lembah hantu yang sulit di temukan."
"Kini kebetulan kami mendengar, ada pewaris tunggal lembah hantu, yang bernama Guo Yun.."
"Menyimpan kitab itu, makanya di sini aku Mu Rong Fuk, jauh jauh datang dari gurun Gobi.."
"Memberanikan diri untuk meminta kembali kitab pusaka milik keluarga kami itu.."
"Sudi kira nya, saudara Guo Yun mengembalikan kitab itu kembali ke asalnya.."
__ADS_1
Dari cerita nya sih sangat nyambung, dan hal ini merupakan rahasia lembah hantu, yang tidak mungkin orang luar bisa tahu sejelas itu.
Tapi Guo Yun adalah Guo Yun dia tidak mungkin semudah itu percaya dengan orang ini.
Cukup dirinya dulu, di kadalin sekali oleh Lu Bu Wei, dan dia tidak akan pernah mau mengulangi kesalahan yang sama.
"Maaf paman mengenai urusan leluhur, saya tidak paham, juga tidak pernah mendengar cerita itu dari guru ku.."
"Aku hanya tahu, kitab itu di serahkan oleh guru ku pada ku ."
"Maka sudah jadi tanggung jawab ku melindungi dan menjaganya dari siapapun.."
"Jadi sekali lagi maaf paman, aku tidak bisa memenuhi permintaan paman.."
ucap Guo Yun sambil memberi hormat , sebagai sopan santun pada yang lebih tua darinya.
Mendengar jawaban tegas dari Guo Yun, Mu Rong Fuk pun sadar hari ini semua harus di selesaikan dengan cara dunia persilatan.
Mu Rong Fuk mengangguk, sambil tersenyum, dia berkata,
"Baiklah kalau begitu, memang tidak ada cara lain.."
",Kita harus tentukan lewat adu kemampuan, siapa yang lebih kuat dia yang berhak.."
ucap Mu Rong Fuk tenang.
Dia mulai memasang kuda-kuda untuk menghimpun Thian Ti Sen Kung.
Fei Yang tentu mengenalinya, apalagi tidak lama kemudian di kedua telapak tangan Mu Rong Fuk, mulai terlihat lingkaran matahari dan bulan bersinar terang.
Fei Yang semakin yakin Mu Rong Fuk, dan istana Naga Gurun Pasir, pasti memiliki hubungan, yang erat dengan kitab rahasia yang berada padanya.
Tapi apapun ceritanya, kitab itu adalah peninggalan gurunya untuk nya.
Gurunya dan keluarganya, mempertaruhkan hampir seluruh hidup mereka untuk menjaga kitab itu
Dia sebagai bagian dari keluarga mereka sekarang, punya tanggung jawab menjaganya dengan taruhan nyawa.
Sekalipun hari ini dia akan mati, dia juga tidak akan pernah menyerahkan kitab pusaka tersebut ke siapapun.
Dia hanya akan menyerahkan kitab itu pada keturunan langsung keluarga besar Kui.
Selain kakek Kui Yi Sian Seng dan Min Min, tidak akan ada yang berhak meminta kitab itu dari nya.
Melihat lawan sudah bersiap siap, Guo Yun juga tidak mau mundur.
Dia pun mulai memasang kuda-kuda yang hampir miri tapi tidak sama.
Guo Yun juga mulai menyerap hawa Thian Ti Sen Kung memenuhi tubuhnya.
Mu Rong Fuk melihat gerakan yang di tunjukkan Guo Yun, dia mengangguk dan tersenyum puas.
Secara hampir berbarengan mereka berdua berteriak,
"Thian..!"
"Ti.!"
"Wu Pien..!"
Cahaya emas berbentuk tulisan langit dan bumi, dari atas dan bawah menyatu kedalam tubuh Guo Yun.
Sedangkan Mu Rong Fuk meski melakukan gerakan yang hampir mirip.
Tapi tidak ada tulisan emas, hanya ada cahaya kebiruan dari langit dan cahaya kemerahan dari bumi yang menyatu kedalam tubuhnya.
Setelah masing masing menyerap energi langit bumi.
Keduanya sama sama melesat kedepan.
"Matahari rembulan menerangi dunia..!"
Bentak Guo Yun dan Mu Rong Fuk kompak.
Dari sepasang telapak tangan Guo Yun memancar lingkaran cahaya matahari dan bulan yang bersinar keemasan.
Sedangkan dari telapak tangan Mu Rong Fuk mengeluarkan sinar merah dari lingkaran bola matahari dan sinar Biru dari lingkaran bulan.
Gaya melepaskan serangan juga sedikit berbeda, Guo Yun mendorong dengan tangan lurus kedepan, tubuh sedikit membungkuk kedepan.
Sedangkan lawannya bergerak dengan tubuh tegak lurus, tapi tangannya sedikit di tekuk kebawah.
"Blaaaarrr...!"
Terjadi Ledakan dahsyat memenuhi udara.
Tubuh mereka berdua sama sama terpental mundur kebelakang.
Tapi meski terpental kebelakang, posisi kuda kuda kedua kaki mereka tidak berubah.
Tanah di bawah mereka terseret oleh tapak sepatu mereka, menimbulkan garis lekuk yang cukup jelas di atas tanah.
Jarak mereka terpental mundur sama sekitar dua tombak, yang berbeda adalah jejak kaki mereka di atas tanah.
Jejak garis kaki Guo Yun lebih tipis, ketimbang jejak kaki Mu Rong Fuk yang tertinggal di bawah sana.
Ini membuktikan dalam hal tenaga dalam Guo Yun masih sedikit lebih unggul.
Keunggulan ini, karena ilmu Guo Yun lebih murni dan asli, sedangkan Mu Rong Fuk, sudah mengalami modifikasi di mana mana.
Setelah sama sama berhasil menstabilkan goncangan yang terjadi.
Mereka masing masing kembali bergerak maju sambil memainkan jurus kedua dari Je Yek Sen Cang.
"Matahari rembulan menerangi langit..!"
Tubuh mereka berdua berputaran terbang keatas langit, dengan sepasang tapak terbuka.
Menyerap hawa langit, kemudian masing masing melepaskan dua bola cahaya kearah lawan mereka.
Guo Yun melepaskan bola matahari dan bulan yang mengeluarkan cahaya keemasan.
Sedangkan Mu Rong Fuk melepaskan Bola matahari dan bulan yang sama.
Yang berbeda hanya sinarnya, Bola matahari dan rembulan yang di lepaskan Mu Rong Fuk bersinar merah dan biru.
"Booommm..!'
Ledakan yang jauh lebih dahsyat, yang menggetarkan seluruh area pertarungan, membuat nya seperti di landa gempa.
Pasukan Guo Yun yang sedang berkemah tidak jauh dari tepi sungai Huai.
Mereka juga merasakan hal tersebut.
Jendral Wen yang menyadari pasti pimpinan nya, kembali di tantang duel orang sakti.
Dia mengajak Jendral Nan serta seluruh pasukan mereka jangan ada yang mendekat.
Mereka semua fokus mempersiapkan kapal yang bisa memuat mesin pelontar, di atas kapal.
Untuk di pergunakan, saat menyerang pelabuhan kota Xian Yang nantinya.
Dengan kemenangan di Dan Yang, selangkah lagi mereka akan tiba di ibukota Xian Yang, ibukota pusat kerajaan Qin.
Pertempuran terakhir mereka akan di tentukan di sana, bila berhasil menduduki Xian Yang.
Boleh dibilang, perlawanan dari Qin hampir berakhir.
Menundukkan sisa pasukan Qin hanya menunggu waktu saja.
Karena peringatan dari jendral Wen, Jendral Nan hanya menempatkan puluhan orang mata matanya mengamati dari kejauhan sambil terus melaporkan perkembangan situasi pertarungan Guo Yun dengan lawannya.
Kembali ketempat Guo Yun melawan Mu Rong Fuk, setelah benturan jurus kedua mereka.
Guo Yun dan Mu Rong Fuk sama sama terbang melayang mundur saling menjauh.
Mendarat ringan di atas tanah, lalu sama sama kembali melesat kedepan saling serang dengan jurus ketiga.
"Matahari mengelilingi bumi..!"
Terlihat Guo Yun di kelilingi bola matahari yang berputar putar di sekitarnya.
Sepasang tangannya bergerak cepat terus melepaskan cahaya keemasan mengepung pergerakan lawannya.
Mu Rong Fuk sambil bergeser kakinya menghilang kesana kemari.
Dia juga di kelilingi oleh bola matahari merah, yang membantunya menangkis serangan Guo Yun.
Kemudian dia balas menyerang Guo Yun dengan cahaya merah berseliweran di udara.
Puncak dari saling serang itu, sepasang telapak tangan mereka yang mengeluarkan cahaya keemasan dan mengeluarkan cahaya kemerahan, berbenturan di udara.
"Plakkk,..!"
"Booom,..!" Booom,..!" Booom,..!"
"Booom,..!" Booom,..!" Booom,..!"
"Booom,..!" Booom,..!" Booom,..!"
Terjadi ledakan beruntun di sekitar mereka sebagai efek adu dua kekuatan raksasa beradu di udara.
Guo Yun terdorong mundur 3 langkah kebelakang, sedangkan Mu Rong Fuk terdorong mundur lima langkah kebelakang.
Mu Rong Fuk bergerak duluan kedepan dengan tubuh melayang di udara.
Sepasang tangan nya menyerang melepaskan cahaya biru secara bergantian menyerang Guo Yun.
"Rembulan membekukan dunia .!"
__ADS_1
Guo Yun melayang mundur sambil menghalau apapun yang beterbangan kearahnya, akibat serangan bertubi tubi Mu Rong Fuk kearahnya.