
Si Si melangkah masuk kedalam pelukan Guo Yun, mereka bersama sama melihat bunga salju yang berterbangan turun dari langit.
"Tidak terasa sudah setahun kita berpisah, terakhir sebelum kita berangkat ke Xian Yang kemudian akhirnya berpisah .."
"Malam itu sama persis seperti malam ini juga."
ucap Guo Yun sambil mengenang hari hari terakhir kebersamaan mereka dulu..
Si Si mengangguk pelan mempererat pelukannya dan berkata,
"Ya semua sudah berlalu, yang penting saat ini kita sudah berkumpul kembali."
"Tidak ada masalah yang selamanya tidak terselesaikan, hadapi saja dengan tenang, pasti bisa.."
"Yun ke ke terkadang ada hal hal yang tidak mungkin kita simpan seorang diri di dalam hati.."
"Sebaliknya keluarkan saja, sebagai istri mu, sudah kewajiban ku berbagi masalah dengan mu.."
"Membantu mu meringankan semuanya, meski belum tentu bisa kasih solusi.."
"Tapi setidaknya aku bisa menjadi pendengar yang bisa meringankan beban mu, bila sudah di keluarkan.."
ucap Si Si pelan.
Si Si sangat lembut pengertian dan cerdas.
Serapi apapun Guo Yun menyimpan perasaannya, dia tetap tidak bisa menutupinya dari Si Si.
Hanya saja Si Si sedang memilih waktu yang tepat, baru dia membahasnya.
Guo Yun tersenyum lembut menatap Si Si, lalu dia menggunakan ujung jarinya dengan lembut, membelai ujung hidung Si Si yang mancung dan berkata,
"Kamu yang paling tahu isi hati ku, untungnya kamu adalah istri ku.."
"Bila kita berdiri di pihak berlawanan, sebelum pertempuran di mulai aku pasti akan menyerah. '
ucap Guo Yun sambil tersenyum.
"Si Si sambil tersenyum berkata,
"Maksud Yun ke ke, Ce Ci Ce Pi, Pai Can, Pai Seng.."
(Mengetahui tentang lawan seperti anda mengenali diri anda sendiri, maka seratus kemenangan pertempuran adalah milik anda ).
ucap Si Si sambil menutupi mulutnya menahan tawa.
"Aku memperhatikan mu, kamu malah menganggap ku sebagai jago strategi militer dasar.."
ucap Si Si sambil memberikan cubitan mesra di pipi Guo Yun.
Guo Yun pun tersenyum lebar.kemudian memberikan ciuman lembut di kening istrinya.
Si Si memejamkan matanya menikmati ciuman hangat suaminya.
Sesaat kemudian mereka berdua sudah larut dalam ciuman penuh kehangatan dan kemesraan.
Si Si terlihat melingkarkan sepasang tangannya di belakang leher Guo Yun.
__ADS_1
Menikmati ciuman hangat dan mesra dari suaminya, melepaskan semua perasaan rindunya.
"Masakan datang..!"
"Ayo kita makan..!"
teriak Gongsun Li dari arah tangga yang membuyarkan kemesraan Guo Yun dan Si Si.
Secara otomatis keduanya saling melepaskan diri, sama sama mundur menjauh.
Mereka berdua saling lirik dan Manahan senyum.
Sesaat kemudian mereka berdua sudah kembali kedalam ruangan, sambil bergandengan tangan mesra.
"Wow..! wangi sekali.."
ucap Guo Yun dan Si Si hampir berbarengan.
Dengan penuh semangat mereka mengambil tempat duduk, menunggu Gongsun Li menyajikan masakannya di atas meja.
Gongsun Li sambil tersenyum malu, berkata.
"Kalian aja yang terlalu kelaparan jadinya bersemangat.."
"Ini cuma mi kuah bawang, tidak ada yang istimewa.."
"Sudah malam, di dapur tidak banyak bahan jadi aku hanya bisa mengolah..'
Belum selesai Gongsun Li berbicara, Guo Yun sudah meraih mangkok besar di hadapannya.
Selain menunjuk kearah mangkok memberi kode, menyatakan makanan itu luar biasa enak.
Juga memberi kode, agar Si Si dan Li Er segera ikut makan dengan nya.
Dalam sekejap saja, semangkuk mie porsi besar sudah berpindah kedalam perut Guo Yun.
Gongsun Li yang melihat hal itu, dia memberikan sebagian jatahnya lagi, ke mangkuk Guo Yun.
Dan memberi kode agar Guo Yun menghabiskannya.
Tanpa berbasa-basi lagi, Guo Yun dengan penuh semangat langsung menghabiskan nya.
Setelah habis semua dia baru duduk berselonjor puas karena perutnya sudah kenyang.
Gongsun Li sambil tersenyum membereskan semua peralatan makan dan berkata,
"Sudah malam kalian berdua beristirahat lah.."
"Aku mau bereskan ini dulu.."
ucap Gongsun Li sambil tersenyum.
"Kakak aku bantu ya..?"
ucap Si Si merasa tidak enak hati.
"Tidak usah aku bisa sendiri, kamu sebaiknya di sini temani Yun ke ke saja.."
__ADS_1
"Aku malam ni tidur di kamar bawah sana.. kalian di atas sini saja.."
ucap Gongsun Li sambil tersenyum penuh arti.
Guo Yun mengerti maksud baik Gongsun Li, sambil tersenyum dia berkata,
"Terimakasih Li er,..aku pergi mandi dulu kalau begitu.."
Gongsun Li mengangguk, lalu dia juga ikut berlalu dari sana.
Setelah mereka berdua berlalu, Si Si buru buru pergi kearah meja rias untuk merapikan diri.
Dia terlihat penuh semangat, setelah merapikan diri, dia juga merapikan tempat tidur untuk menyambut Guo Yun.
Selesai merapikan tempat tidur melihat Guo Yun belum juga datang.
Si Si memadamkan penerangan, hingga suasana menjadi sedikit remang remang.
Setelah itu dia baru melepaskan seluruh pakaiannya, lalu bersembunyi di balik selimut.
Berbaring sambil.menunggu kedatangan suaminya dengan jantung berdebar keras.
Mereka sudah hampir setahun berpisah, tidak pernah melakukannya.
Si Si sangat haus akan hal itu, tapi di sisi lain dia juga sedikit takut, dirinya tidak bisa memberikan servis yang memuaskan buat Guo Yun.
Kalah dari Gongsun Li ataupun Min Min, meski bisa menerima kenyataan dirinya harus berbagi perasaan dengan Gongsun Li dan Min Min.
Apalagi Min Min juga kini sudah tiada, hanya tersisa Gongsun Li dan dirinya.
Tapi sebagai wanita, perasaan ingin bersaing dan menjadi yang paling di sayang tetap saja ada.
Tidak mungkin bisa hilang begitu saja, meski di luar tidak di tunjukkan secara berterang.
Tapi di dalam hati dan pikiran ketakutan dan kekhawatiran tetaplah ada.
Hal inilah yang terkadang dalam kehidupan berumahtangga yang memilki istri banyak.
Terkadang jadi ruwet dan sarat pertengkaran persaingan dan saling iri.
Positifnya si pria akan mendapatkan pelayanan dan penghargaan terbaik dari istri istrinya yang saling bersaing ingin dapatkan perhatian darinya, haus akan belai kasih sayang darinya.
Tapi di sisi lain hal ini juga bisa berdampak negatif menimbulkan persaingan dan pertengkaran di internal.
Hingga terkadang sampai saling mencelakai, bukan hanya sesama mereka saja, bahkan hingga ke keturunan mereka yang satu ayah beda istri pun.
Jadi saling bersaing, saling membenci saling mencelakai, tidak akur.
Di mana pada akhirnya sang kepala keluarga akan pusing sendiri di buatnya.
Bila di ikuti hal hal penting pekerjaan nya bisa terabaikan, tidak diikuti keadaan di dalam rumah tangganya akan semakin kacau dan ruwet karena tidak ada penengahnya.
Keributan akan terus terjadi tanpa henti.
Demi kekuasaan terkadang saudara kandung pun bisa saling bunuh saling tikam, saling menghianati.
Apalagi bila itu saudara tiri, maka kejadian akan menjadi semakin menjadi jadi dan brutal.
__ADS_1