LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
SURAT UNDANGAN DARI LING YUN LAO JEN


__ADS_3

Karena bila saat ini mereka maju, Lu Bu Wei dan sisa Pasukannya pasti akan bertahan mati matian, untuk bertahan hidup.


Mundur tidak bisa, maju tidak mungkin, mereka hanya punya satu pilihan bertahan hingga titik darah penghabisan.


Ada kemungkinan lain adalah demi bertahan untuk tetap hidup, mereka juga akan memilih menyerahkan diri dan menyerahkan Dan Yang ke Ying Zheng tanpa syarat, bila Ying Zheng dan pasukannya tiba nanti.


Jadi bila perang ini di lanjutkan olehnya, dia hanya akan membawa pasukan nya kearah, lebih banyak kerugian daripada keuntungan yang bisa mereka dapatkan dari kemenangan ini.


Guo Yun adalah orang cerdas, dia tahu, permainan catur kali ini dia sudah kalah total melawan Ying Zheng.


Bila dipaksakan dia hanya akan membuat dirinya dan pengikutnya jatuh kedalam kekalahan yang lebih tragis dan dalam.


Dia sadar dan paham betul hal itu, jadi, dia kini hanya punya satu pilihan, mundur kembali ke Yue, untuk menyusun kembali kekuatan nya.


Bila suatu hari nanti Ying Zheng berani datang melanggar wilayah kekuasaan nya


Berarti Ying Zheng lah yang memulainya, saat itu tentu dua akan punya alasan, yang kuat untuk menyerang dan mengambil seluruh wilayah kekuasaan Ying Zheng kembali.


Dia akan bisa menggunakan istilah Ying Zheng penjahat perang, dia sendiri bergerak berdasarkan mandat langit, menghukum Angkara murka.


Semua ini dengan cepat muncul dalam pikiran Guo Yun.


Sehingga dia langsung berkata,


"Kalian semuanya dengarlah, kita hanya akan bertahan di sini.."


"Kita tidak akan bergerak, kita akan tunggu Ying Zheng datang menahlukkan Lu Bu Wei."


"Anggap saja kita jual belas kasih padanya.."


"Bila dia sudah ambil alih Dan Yang kita semua bisa kembali ke Yue, untuk jalani hari tenang kita.."


ucap Guo Yun kembali terlihat tenang.


"Kakak yang benar saja, Dan Yang dan Xian Yang miliki kita, kenapa malah kita berikan ke Ying Zheng secara cuma cuma..!?"


"Apa itu sikap yang bisa di maafkan oleh saudara saudara kita yang gugur mempertahankan kedua kota itu buat kejayaan kita..!"


protes Li Ba berdiri keluar dan menatap Guo Yun dengan marah dan sepasang mata berapi api penuh semangat.


Guo Yun tidak menanggapi sikap adiknya, yang tidak tahu aturan dan suka semaunya.


Dia sudah terbiasa, tidak heran lagi, Guo Yun hanya menanggapinya dengan tersenyum lembut.


Sedangkan Jendral lainnya, justru menatap dengan khawatir, keadaan yang mungkin bisa menimbulkan terjadi nya perpecahan internal didalam tubuh pasukan mereka.


Mereka semua terlihat tegang, menanggapi sikap yang di tunjukkan oleh Li Ba.


Sebenarnya di hati kecil mereka semua, hampir rata-rata Jendral yang hadir di sana, mereka lebih setuju dengan pendapat Li Ba.


Mereka semua tidak habis pikir potongan daging di depan mata, yang menjadi hak mereka.


Kenapa di lepaskan begitu saja di berikan ke pihak lawan.


Tapi di sisi lain mereka juga tahu, Guo Yun adalah raja mereka, Junjungan mereka, apapun keputusannya, itu adalah sah tidak bisa di ganggu gugat lagi.


Dari sekian banyak Jendral yang turut hadir di sana, hanya Zhang Yi, Jendral Lim dan Fu yang berpikir berbeda.


Mereka yakin, Guo Yun mengambil sikap itu, pasti ada pertimbangan nya.


Tidak mungkin dia mengambil keputusan sembarangan tanpa alasan jelas.


Guo Yun sambil tersenyum sabar menyapukan pandangannya ke semua yang hadir dan berkata,


"Aku tahu apa yang menjadi pemikiran kalian semuanya ."


"Harap kita semua bisa duduk dengan tenang, biar aku jelaskan semuanya, atas keputusan ku ini."


"Bila nanti setelah aku jelaskan, kalian masih ingin maju merebut Dan Yang dan Xian Yang.."


"Aku akan ikuti kalian, tapi setelah berhasil.."


"Kalian boleh tentukan sendiri siapa yang akan menjadi pimpinan kalian.."


"Karena sejak saat itu aku bukan lagi pimpinan dan Junjungan kalian lagi.."


ucap Guo Yun santai.


Li Ba menatap Guo Yun dengan tidak puas dan berkata,


"Kakak ini sana saja kakak memaksakan kehendak, tidak memberi kami pilihan.."


"Bagaimana mungkin kami bisa memilih yang lain menjadi pimpinan, itu sana saja menyuruh kami membubarkan diri.."


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Makanya kamu tenang dulu, dengarkan penjelasan dan pemikiran ku.."


"Setelah itu baru kita putuskan.."


Li Ba dengan wajah kesal, akhirnya dia duduk juga.


Guo Yun tahu sifat adiknya ini lebih dari siapapun, jadi dia tidak berkhawatir dengan nya.


Dengan perlahan lahan Guo Yun menceritakan semua yang menjadi pertimbangan dan pemikirannya hingga selesai .


Setelah itu dia baru berkata,


"Apa ada yang kurang jelas..?"


Semua yang hadir menghela nafas panjang, meski merasa berat tapi mereka harus akui pertimbangan Guo Yun sangat tepat.


Perang ini sudah tiada gunanya lagi, mereka hanya akan buang energi sia sia, yang menikmati akhirnya tetaplah Ying Zheng.


"Kakak Li Ba minta maaf atas sikap Li Ba yang tidak sopan tadi.."


ucap Li Ba mengawali pembicaraan dengan wajah penuh sesal.


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Bila kamu bersikap sopan setelah keputusan ku tadi, aku justru akan merasa curiga, yang ada di depan ku bukan adik ku Li Ba.."


Mendengar jawaban Guo Yun, Li Ba pun tersenyum canggung dan menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


Sedangkan yang lain pada menutupi mulut mereka menahan tawa.


Guo Yun sambil tersenyum lebar berkata,


"Jadi sekarang suara sudah bulat ya, kita akan jalankan keputusan ku tadi.."


"Setuju semuanya..!?"


tanya Guo Yun untuk memastikan sekali lagi.


"Setuju..!"


jawab mereka yang hadir dengan kompak, sambil menganggukkan kepalanya.


Guo Yun mengangguk dan berkata,


"Sekarang kalian boleh bubar, atur dan bagi tugas siapa yang bertugas ronda, lakukan secara bergilir.."


"Jangan lupa kirimkan beberapa orang untuk menyusup ke Dan Yang dan terus memberikan kita informasi akurat."


Mereka semua mengangguk, sebelum membubarkan diri dari kemah utama Guo Yun.


Setelah semua nya pergi, kini hanya tinggal Guo Yun dan Li Ba berdua saja yang duduk santai sambil minum arak bersama.


"Kakak mungkinkah, serigala kecil itu akan menyerang bapaknya sendiri..?"


tanya Li Ba sambil mengisi mangkuk kosong di hadapannya dengan arak.


Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,


"Kamu pernah lihat singa jantan membunuh anaknya, atau pun terbunuh oleh anaknya, saat terjadi perebutan wilayah kekuasaan..?"


"Begitu pula yang terjadi dalam kawanan serigala, saat mereka ingin menentukan siapa yang yang akan menjadi pimpinan kelompok.."


"Mereka juga akan saling bunuh, jadi aku yakin itu pasti akan terjadi.."


"Hal ini juga ada baiknya, sehingga aku tidak perlu lagi merasa bersalah dengan istri ku.."


ucap Guo Yun santai sambil minum sedikit arak dari mangkuknya.


Mereka masih di Medan perang, seharusnya belum boleh minum..


Minum di saat sedang di Medan perang, itu adalah pantangan.


Termasuk pelanggaran dalam hukum militer Guo Yun.


Tapi demi menghibur adiknya yang hobi minum ini, Guo Yun melanggarnya sedikit.

__ADS_1


Tapi dia sendiri, hanya bersifat menemani saja.


Dia hanya minum sedikit saja, sebagai formalitas.


Dia sendiri harus tetap menjaga kesadaran dan kewaspadaan.


Hampir satu juta pasukan harimau hitam.


Mempercayakan nyawa mereka padanya, dia tidak boleh sembarangan bertindak yang akan membahayakan nyawa mereka.


Dia harus bertanggung jawab atas keselamatan mereka semuanya.


tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun juga.


Sesuai prediksi Guo Yun tidak sampai 3 hari, Ying Zheng dan Ratu Camelia, di kawal oleh dua baris pasukan, yang di pimpin oleh beberapa orang Jendral kepercayaan mereka.


Mereka mengepung gerbang barat, membujuk sisa pasukan Qin dan sisa pasukan Xiongnu untuk menyerah.


Tidak sampai 3 kali mereka menawarkan, pintu gerbang barat langsung di buka.


Mereka semua menyerahkan diri, sambil menyeret Lu Bu Wei, yang terlihat berjalan dengan kepala tertunduk, dalam keadaan tangan dan kaki di borgol.


Tanpa berkata apa-apa, Lu Bu Wei langsung di masukkan kedalam sebuah kereta yang ada kerangkeng besinya.


Lu Bu Wei di masukkan kedalam kerangkeng tersebut, lalu di bawa kembali ke Xian Yang.


Tidak lama setelah mereka kembali ke Xian Yang, Lu Bu Wei di kabarkan meninggal bunuh diri di penjara.


Guo Yun dan pasukannya yang sedang bergerak mundur meninggalkan kota Cai.


Mereka juga mendengar kabar berita tersebut.


Guo Yun dan Li Ba tidak terlalu kaget saat mendengar berita tersebut.


Karena jauh jauh hari sebelum ini terjadi, mereka berdua sudah lebih dulu berdiskusi tentang hal ini.


Guo Yun hanya sedang berpikir, bagaimana saat kembali nanti, dia akan menceritakan hal ini pada istrinya.


Saat Guo Yun sedang berpikir bagaimana cara menghibur Min Min setelah kembali nanti.


Jauh di sana, di sebuah taman yang indah dan luas, di sebuah Ting yang terletak di tengah sebuah danau buatan.


Di dalam Ting terlihat seorang pemuda sedang minum arak bosan seorang diri.


Para pengawal dan komandan pasukan terlihat menempati posisi mereka di sepanjang jalan berkelok kelok menuju kearah Ting tersebut.


Mulut jalan menuju Ting terlihat Zhao Kao kepala Kasim kepercayaan Ying Zheng, dia berdiri di sana, sambil membawa sebatang alat kebutan lalat di tangan.


Tidak jauh darinya, di barisan kanan dan kiri jalan, terlihat berdiri Kasim Kasim muda dan pelayan pelayan wanita muda, mereka berbaris rapi di sana, tanpa berani bersuara.


Pemuda yang sedang minum arak seorang diri di tengah tengah Ting, adalah Ying Zheng.


Raja Qin yang kembali bertahta di istana miliknya di Xian Yang.


Yin Zheng duduk termenung mengenang beberapa peristiwa yang terjadi sejak memasuki kota Xian Yang.


Dari mulai pembebasan ibunya, lalu menghukum mati Lao Ai dan kedua putra haram, hasil hubungan ibunya dengan Lao Ai di depan umum.


Hingga dia memasukkan ibunya ke penjara isolasi istana bagian belakang, karena ibunya mengalami stress berat akibat kehilangan kedua putra kesayangan nya yang masih kecil.


Ying Zheng yang tidak mau meninggalkan bibit penyakit di kemudian hari, kedua adik kandung seibu beda ayah yang masih kecil, dan tidak mengerti urusan pun, ikut dia eksekusi bersama Lao Ai.


Ying Zheng yang duduk termenung teringat ekspresi dan tangis sedih kedua adiknya yang ketakutan dan memanggil manggil diri nya .


"Zheng ke ke..tolong kami...!"


"Tolong kami, Zheng ke ke..!"


"Kami takut..!"


"Zheng ke ke...!"


"Crasssh...!" "Crasssh...!"


Teringat hal itu, panggilan terakhir kedua adiknya itu, Ying Zheng langsung memejamkan sepasang matanya yang basah.


Sehingga airmata nya jatuh mengalir dan menggantung di kedua pipinya.


Beberapa saat Ying Zheng membuka kembali matanya yang terlihat mengeras tanpa perasaan.


Dia menggunakan lengan bajunya membersihkan sisa airmatanya sendiri.


Lalu dia kembali melanjutkan minum arak bosan di hadapan nya.


Perlahan-lahan satu persatu kenangannya bersama ayah angkat, yang sebenarnya adalah ayah kandungnya muncul di depan matanya.


Mulai dari dua rewel sakit, belajar berjalan, hingga ayah angkatnya mendidiknya dengan keras.


Terus menerus membantunya, menyingkirkan saudara nya dari ibu yang lain.


Hingga dia berhasil menjadi putra mahkota tunggal, setelah itu ayah angkatnya juga selalu mendampinginya menjalankan roda pemerintahan.


Membantunya mengukuhkan kekuasaan dengan berperang kesana kemari, merancang segala cara agar kekuasaan nya menjadi kuat.


"Ayah mengapa ayah harus mengenalkannya pada ibu..? mengapa ayah..?"


"Mengapa ayah tega menghancurkan aku, demi penjahat kelamin itu ?"


"Mengapa ayah harus terlibat dalam skandal memalukan itu..? mengapa..?"


ucap Ying Zheng seorang diri dengan wajah sedih dan bercucuran air mata.


"Mengapa kalian tidak bersabar, hingga aku menjadi kaisar, bila kalian mau bersabar.."


"Aku pasti akan mengatur kalian bersatu kembali, karena kalian berdua lah, ayah ibu kandung ku.."


ucap Ying Zheng penuh penyesalan.


Dia terlihat tertelungkup menangis diatas meja seperti anak kecil, sambil berulang kali tangan nya yang terkepal meninju meja batu marmer, yang keras hingga berdarah.


Setelah puas melampiaskan emosinya, dia kembali duduk dengan sepasang mata mengeras dingin tanpa perasaan kembali meminum arak secawan demi secawan.


Setelah beberapa saat berlalu, dia kembali terbayang peristiwa terakhir dia mengunjungi ayahnya di kamar penjara.


Lu Bu Wei saat itu terlihat berantakan rambutnya di biarkan terurai acak acakan.


Dia hanya mengenakan baju dan celana putih berbahan kasar, baju yang biasa di kenakan oleh semua jenis narapidana.


Melihat kedatangan Ying Zheng yang ditemani oleh Zhao Gao, yang bertugas membawa sebuah nampan berisi sebuah teko arak.


Teko arak terbuat dari giok, lengkap dengan sebuah cawan kecil, yang juga terbuat dari bahan yang sama dengan teko arak.


Lu Bu Wei langsung tersenyum lebar dan berkata,


"Yang harus datang akhirnya datang juga.."


"Kemarilah putra ku, duduk temani ayah angkat ngobrol ngobrol sejenak.."


Ying Zheng mengambil tempat duduk di hadapan Lu Bu Wei.


Ying Zheng menoleh kearah Zhao Gao dan berkata,


"Tolong siapkan meja kecil, sepiring kacang, beberapa macam penganan kecil dan teh wangi."


"Arak nya nanti saja.."


"Tunggu instruksi lebih lanjut dari ku.."


Zhao Gao mengangguk penuh hormat dan segera pergi menyiapkan nya.


Tak lama kemudian semuanya sudah tersaji diatas meja kecil, yang di letakkan tepat di tengah tengah di antara tempat duduk mereka berdua.


"Silahkan ayah.."


ucap Ying Zheng pelan.


Lu Bu Wei tersenyum lembut dia mengambil sebatang sumpit diatas meja.


Dia merapikan rambutnya sendiri, menyanggulnya, menggunakan batang sumpit itu sebagai tusuk konde, agar rambutnya terlihat rapi.


Setelah rapi dirinya, dia baru dengan tenang minum teh sambil menikmati beberapa penganan di hadapannya.


Setelah itu dia menikmati kacang yang tersaji di sana hingga habis.


Sesaat setelah habis kacangnya, selesai menghabiskan isi cawan di hadapannya.


Dia pun berkata,


"Putra ku, ayah bangga pada mu, kamu telah berhasil melakukan hal yang orang lain belum tentu bisa.."


"Itu adalah tanda awal jiwa kesuksesan seorang penguasa,

__ADS_1


meski ayah tidak bisa melihat mu menjadi kaisar.."


"Tapi ayah yakin kamu pasti bisa, yang penting kamu harus punya tekad dan yakin bisa.."


"Mengenai Guo Yun meski dia sangat berbakat dan serba bisa, tapi dia tidak punya ambisi.."


"Jadi kamu tenang saja, dia bukan saingan berarti bagi mu.."


"Kuncinya ada pada kamu, kamu harus bisa sabar, lakukan pergerakan serangan perlahan-lahan lewat dagang, kacau kan internalnya, dengan korupsi meraja Lela.."


"Kamu paham maksud ayah..?"


Ying Zheng mengangguk pelan.


Lu Bu Wei pun tersenyum puas dan melanjutkan berkata, untuk mengingatkan sekali lagi.


"Ingat pantangan mu adalah, jangan gunakan kekerasan perang, atau kamu pasti akan kalah hingga tersungkur tidak bisa bangkit lagi.."


Ying Zheng kembali mengangguk paham.


Lu Bu Wei kembali tersenyum puas, dia menghabiskan isi cawan nya.


Lalu dia mengisinya lagi dan melanjutkan berkata,


"Putra ku, sebelum ayah pergi, ayah minta tolong pada mu satu hal..bisa kah..?"


Ying Zheng menarik nafas dan menghelanya lalu berkata,


"Apa itu, katakan lah..'


Lu Bu Wei menatap kearah Ying Zheng dan berkata,


"Jagalah dan rawatlah ibu mu dengan baik, apapun kesalahan nya.."


"Jangan pernah kamu salahkan dia, apalagi menyakitinya, salahkan saja ke ayah.."


"Karena dari awal hingga akhir, ayahlah yang paling bersalah dalam semua ini..'


"Dia telah mengorbankan kecantikannya, cintanya, masa mudanya, semua demi ambisi ayah.."


"Dari awal hingga akhir ayahlah yang telah mendorongnya kejalan yang salah dan mencelakainya.."


Ying Zheng menanggapinya dengan anggukan pelan dan berkata,


"Aku akan selalu ingat pesan ayah, aku juga akan kabulkan permintaan ayah barusan.."


Mendengar ucapan putranya, Lu Bu Wei tersenyum lega dan berkata,


"Begitu saja, ayah rasa, itu sudah lebih dari cukup.."


"Jaga diri mu baik baik,.."


"Waktu telah tiba, panggillah bawahan mu kemari.."


ucap Lu Bu Wei sambil tersenyum puas.


Sebelum Ying Zheng memanggil Kasim Zhao, Kasim yang berdiri di luar pintu penjara sudah melangkah masuk kedalam sambil membawa sebuah nampan di tangan.


"Lancang..!"


"Aku tidak memanggil mu, kenapa kamu kemari..!?"


bentak Ying Zheng marah.


Kasim Zhao langsung menjatuhkan diri berlutut dan berkata,


"Maafkan hamba Yang Mulia, hamba cuma mau ingatkan waktu telah tiba.."


Ying Zheng terlihat ingin bangun menghajar Kasim tua itu.


Tapi tangannya di tahan oleh Ku Bu Wei.


Lu Bu Wei sambil tersenyum pahit menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Jangan buat aku kecewa, ingat sebagai penguasa harus tahu memutuskan di saat tepat.."


"Tidak boleh lemah.."


Ying Zheng terlihat bercucuran airmata menatap kearah Lu Bu Wei.


Lu Bu Wei berjalan sendiri menghampiri Kasim Zhao, dia langsung mengambil teko giok itu, membuka penutupnya, dan langsung minum begitu saja dari mulut teko, hingga arak di dalam nya habis.


Setelah menghabiskan isi arak dia tersenyum puas menatap putranya.


Dari sudut mulutnya tiba mengalirkan darah segar, begitu pula panca Indra nya yang lain.


Seiring dengan jatuhnya teko keatas lantai pecah berantakan, di saat itu pula Lu Bu Wei sang perdana menteri Qin yang memilki kecerdasan dan kemampuan luar biasa.


Akhirnya jatuh tergeletak di atas tanah diam tidak bergerak, dia telah pergi untuk selama lamanya.


Ying Zheng sendiri menutupi mulutnya sendiri menahan suara Isak tertahan nya, segera membalikkan badannya dan berkata,


"Urus pemakamannya dengan baik.."


Lalu dia melangkah pergi dengan terburu-buru meninggalkan ruangan penjara tersebut.


Ying Zheng yang yang terkenang kilas balik kenangan terakhir bersama guru ayah angkat, wali, sekaligus ayah kandung nya itu.


Dia kembali memejamkan matanya, hingga dua butir air bening kembali bergulir, menggantung di pipinya.


Setelah menghapusnya, dengan lengan baju, sepasang mata Ying Zheng kembali terbuka.


Sepasang mata nya kembali terlihat keras dan dingin, sambil menghirup dan mengeluarkan nafas panjang berulang kali.


Akhirnya dia bergerak meninggalkan Ting dengan wajah kembali datar dan dingin.


Saat Ying Zheng meninggalkan taman kembali ke ruang kerjanya.


Semua yang hadir di sana dengan teratur berjalan mengikuti Kasim Zhao yang ikut berjalan di belakang Ying Zheng.


Sementara itu jauh di ujung selatan sana saat Guo Yun dan rombongannya hampir naik keatas kapal.


Terlihat seorang tukang perahu yang membawa sepucuk surat di tangan, berteriak dari luar barisan pasukan harimau hitam yang menjaga ketat area tersebut.


"Tuan Guo Yun ada surat untuk mu..!!"


teriak nelayan itu dari luar barisan, sambil mengangkat tinggi tinggi surat di tangan nya.


Guo Yun menghentikan langkahnya, menoleh kearah asal suara.


Melihat tukang perahu yang terhadang di luar barisan itu, Guo Yun pun memberi tanda.


Agar komandan pasukan jaga di sana membiarkan nelayan itu lewat.


Komandan pasukan merespon cepat, pria itu pun di biarkan masuk tanpa di halangi lagi.


Nelayan itu berlari cepat menghampiri Guo Yun, saat tiba di hadapan Guo Yun nafas nya terlihat tersengal sengal.


Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menyodorkan surat itu kearah Guo Yun dengan kedua tangannya.


Sedangkan tubuhnya membungkuk dalam dalam di hadapan Guo Yun.


Guo Yun menerima surat itu, kemudian memberikan sekantung uang untuk nelayan itu.


"Terimakasih tuan,..tapi ini terlalu banyak.."


ucap Nelayan itu kaget bercampur gembira.


Dia tentu sangat senang menerimanya, dia hanya sedang berbasa basi sungkan.


Guo Yun hanya menanggapinya dengan senyum dan berkata, "Pergilah, tidak apa-apa itu untuk mu.."


Nelayan itu sekali lagi memberi hormat dan berkata,


"Terimakasih banyak tuan, saya permisi dulu..'


"Pergilah,"


jawab Guo Yun sambil memberi kode, agar nelayan itu boleh segera pergi.


Saat nelayan itu berlalu dari sana, Guo Yun pun membuka sampul surat, mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop.


Surat itu di tulis dengan garis coretan yang kuat indah dan rapi.


Guo Yun setelah membentangkan surat di hadapannya, dia membaca dengan pelan, satu bait demi satu bait, tulisan yang menurun dari atas kebawah.


Selesai membaca, dia menutup kembali surat itu memasukkan kembali kedalam amplop surat.


"Apa isi surat itu kak,..dari siapa ?"


tanya Li Ba penasaran.

__ADS_1


Guo Yun tersenyum pahit dan berkata,


"Surat tantangan dari Ling Yun Lao Jen.."


__ADS_2