
"Hei siapa kalian..,!?"
Bentak komandan regu patroli, sambil menunjuk kearah rombongan orang berpakaian hitam yang sedang bergerak menuruni tangga.
Tapi pertanyaan itu mereka jawab dengan terjangan pedang yang berkilauan.
"Singg..! Singg..! Singg..! Singg..! "
"Sraat..! Sreeet..! Sraaat..! Sreet.!"
"Arggghhh...!" "Arggghhh...!"
Terdengar suara jerit tertahan pasukan patroli yang bertumbangan, di terjang oleh pedang pedang yang bergerak sangat cepat.
Belum sempat mereka mengangkat senjata memberikan perlawanan, tahu tahu pedang sudah memotong leher mereka, seperti menggorok leher ayam.
Pasukan patroli kedua, yang bertemu di ujung anak tangga, kembali menuai nasib sama dengan pasukan patroli diatas tembok kota sebelumnya.
Satu persatu pasukan patroli jatuh bertumbangan, malang melintang dengan darah berceceran di sekitar tempat itu.
Kelompok manusia berpakaian hitam itu, tidak berhenti sampai di sana.
Mereka masih melanjutkan aksi mereka menarget pos pos jaga di balik pintu gerbang sebelah timur dan Utara.
"Heiii..!"
hanya suara itu yang terdengar, saat pasukan di pos jaga menyadari kehadiran penyusup itu.
"Singggg..!"
"Sraaat..!"
"Arggghhh..!"
"Singggg..!"
"Sraaat..!"
"Arggghhh..!"
"Singggg..!"
"Sraaat..!"
"Arggghhh..!"
"Trangggg..!"
Trangggg..!"
Trangggg..!"
"Sreeet..!"
"Sreeet..!"
"Sreeet..!"
"Arggghhh..!"
Terdengar suara hiruk pikuk desingan pedang, suara senjata beradu, suara bagian tubuh terluka, hingga suara jerit ngeri kesakitan.
Sebelum darah berceceran di seluruh pos jaga, dengan tubuh pasukan harimau hitam terkapar malang melintang tewas tidak bergerak lagi.
Setelah mengamankan beberapa pos jaga di balik pintu gerbang.
__ADS_1
Para penyusup itu segera membuka pintu gerbang kota, sekaligus merusak alat kontrol bila tutup pintu.
Sehingga pintu itu sudah tidak bisa di tutup kembali.
Begitu pintu gerbang terbuka, Wang Jian dan Wang Ben dengan 400.000 pasukan Qin langsung bergerak memasuki benteng pertahanan Kota Guiji.
Begitu masuk kedalam kota, mereka langsung menyalakan api melakukan pembakaran di berbagai penjuru kota.
Mereka juga bergerak cepat melakukan serangan dadakan yang cepat kearah perkemahan militer pasukan harimau hitam.
Pasukan harimau hitam yang tidak siap, saat mendapatkan serangan mendadak.
Mereka hanya bisa memberikan perlawanan seadanya, banyak di antara mereka yang bahkan tidak memegang senjata di tangan.
Mereka juga belum sempat mengenakan seragam baju perang mereka.
Kondisi ini membuat mereka menjadi bulan bulanan pembantaian pasukan Qin.
Perlawanan mereka tidak berlangsung lama, hampir 200.000 personil tewas di bantai dalam serangan dadakan yang cepat itu.
Sisanya 100.000 melarikan diri tanpa arah tujuan, 200.000 lainnya memilih menyerah, setelah terkepung habis oleh pasukan Qin.
Sementara itu di kediaman Xiang Liang Xiang Po dan Xiang Yu, dalam keadaan gelap di tengah malam buta.
Terlihat seorang komandan pasukan harimau hitam yang seluruh tubuhnya bersimbah darah.
Dia datang kekediaman itu, untuk memberikan laporan.
Xiang Liang Xiang Bo dan Xiang Yu yang masih dalam balutan pakaian tidur.
Mereka menyambut kedatangan komandan pasukan itu, yang datang memberikan laporan di sebuah ruangan luas.
"Apa yang terjadi komandan Yang..!?"
tanya Xiang Liang kaget, melihat keadaan anak buahnya itu.
"Kini benteng pertahanan kota dan pintu gerbang sudah mereka kuasai."
"Camp militer kita juga sudah mereka lumpuhkan.."
"Mungkin saat ini mereka sedang menarget pertahanan terakhir istana.."
ucap pengawal itu memberikan laporan.
"Keparat..!"
"Bagaimana mungkin 500.000 personil pasukan harimau hitam kita yang terlatih bisa di lumpuhkan secepat itu..!?"
bentak Xiang Po penasaran.
"Maaf jendral mereka datang menyerang terlalu mendadak, pasukan kita masih sedang asyik tidur saat mereka tiba.."
"Saat perang pecah, pasukan kita memberikan perlawanan tanpa senjata, juga tanpa baju perisai pelindung.."
"Itu yang membuat perlawanan kita di hancurkan dengan mudah.."
ucap komandan itu memberi penjelasan.
Xiang Liang buru buru menyambar pedang yang tergantung di dinding ruangan.
Xiang Po menyambar sepasang pedang nya yang di terpajang rapi diatas rak senjata.
Xiang Yu juga menyambar senjata tombak Hua Ci andalan nya.
Mereka bertiga bergegas meninggalkan kediaman mereka langsung menuju kearah istana.
__ADS_1
Tiba disana mereka bertiga langsung di sambut oleh kepungan pasukan Qin yang sangat banyak.
Mereka bertiga mengamuk menghabisi siapapun yang berani mendekati mereka.
Xiang Yu adalah yang paling menonjol meski usianya masih kecil, tapi kekuatan nya mampu menahan kekuatan 30 orang dewasa.
Dengan tombak Hua Ci di tangan Xiang Yu berhasil memukul mundur berulang kali para pengepungnya.
Tapi hingga saat matahari terbit, mereka belum juga mampu menembus kepungan, untuk bergabung dengan pasukan penjaga istana.
Xiang Liang akhir nya, memberi kode agar mereka berputar arah, membuka kepungan untuk meloloskan diri.
Mereka bertiga bahu membahu membuka kepungan, dengan membantai pasukan Qin yang mengepung mereka.
Akhirnya mereka bertiga berhasil kabur meloloskan diri dengan pakaian bersimbah darah musuh yang mereka bantai.
Sementara itu di dalam istana sendiri, terlihat Zhong San, Zhang Liang dan Han Xin.
Mereka bertiga dengan langkah terburu-buru mendatangi tempat kediaman Selir Raja, putri Min Min.
"Ada apa perdana menteri ? kalian bertiga kenapa terlihat begitu panik dan cemas.?"
tanya Min Min yang menyambut mereka bertiga di ruang tamu dengan heran.
"Maaf Yang Mulia situasi sedang kurang baik, kelihatannya ibukota dan istana tidak akan bertahan lama.."
"Kita harus mengungsi secepatnya.."
ucap Zhong San cepat.
Min Min mengangguk cepat, tanpa banyak berkata, dia langsung mengangguk.
"Baik perdana menteri, tapi aku harus mengatur anak anak dulu, agar mereka tidak kaget dan panik.."
"Silahkan Yang Mulia,.."
"Kami akan menantinya.."
ucap Zhong San cepat.
Min Min langsung bergegas masuk kedalam, tidak lama kemudian dia sudah datang bersama 4 orang dayang pengasuh, yang masing masing menggendong seorang anak kecil dalam pelukan mereka.
3 diantaranya adalah anak Guo Yun, sedangkan satunya lagi adalah putrinya Li Ba.
Selama mereka semua tidak ada dan sibuk, semua anak anak itu memang menjadi tanggung jawab Min Min untuk mengawasinya.
"Perdana menteri, jendral Zhang Jendral Han.."
"Mari ikut dengan saya.."
ucap Min Min sambil bergerak menjadi penunjuk jalan.
Min Min membawa rombongan itu melewati jalan rahasia di dalam kamar Guo Yun.
Jalan rahasia itu membawa mereka semua keluar dari tembok kota Guiji di sebelah gerbang selatan.
Dengan menggunakan dua buah kereta kuda dan di kawal 5000 pasukan elite istana.
Rombongan kecil itu bergerak menjauhi ibukota Guiji, menuju kearah hutan selatan.
Saat tiba di pinggir hutan selatan, langkah rombongan tersebut terpaksa berhenti.
Karena di depan mereka terlihat Wang Jian dan Wang Ben yang memimpin pasukan tidak kurang dari 100.000 berjaga di depan mulut hutan, menanti kedatangan mereka.
Zhong San yang melihat hal itu, dua segera mendatangi kereta yang di tumpangi oleh Min Min dan berkata,
__ADS_1
"Yang Mulia, lawan telah menutup jalan mundur kita.."
"Apa yang harus kita lakukan..?"