
Guo Yun duduk santai di dalam kedai mie sederhana itu, sambil minum arak.
Minum arak adalah formalitas, aslinya Guo Yun sedang menanti aksi A Fei berikutnya.
Hingga lewat tengah hari, Afei belum juga terlihat batang hidungnya.
Guo Yun mulai ragu akan keputusan nya menunggu di sana, jangan jangan A Fei tidak pulang ke rumah, batin Guo Yun meragu sejenak.
Saat dia hampir memanggil pemilik kedai untuk menyelesaikan tagihannya.
Tiba tiba terlihat seorang pria bertubuh tinggi besar berwajah gagah, mengenakan seragam Opas.
Opas adalah polisi keamanan di kota kecil, bila saat ini mungkin mirip Sherif lah istilahnya.
Pria itu dengan langkah gagah melintas di depan kedai mie dan arak, di mana Guo Yun sedang duduk santai.
"Opas Wu,.. baru pulang.?"
tegur pemilik kedai ramah.
"Ya, paman Sam,.."
jawab Opas Wu sambil menganggukkan kepalanya.
"Agak siang hari ini..?"
tegur pemilik kedai kembali.
Opas Wu menghentikan langkahnya dan berkata,
"Ya,.. paman Sam hari ini kerjaan agak banyak di kantor pengadilan, sehingga agak telat pulangnya."
Pemilik kedai mengangguk paham dan berkata,
"Mampir dulu Opas Wu..?"
"Gak lah paman Sam makasih lain kali aja, istri ku ada masak, dia sedang menanti ku pulang makan.."
"Aku duluan paman Sam.."
ucap Opas Wu sambil tersenyum ramah.
Lalu dia melanjutkan langkahnya menuju rumah bercat hijau, yang menjadi pusat pemantauan Guo Yun selama beberapa saat ini.
Opas Wu yang bertubuh tinggi besar terlihat memukul pintu rumahnya.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka dari dalam sesosok wajah cantik terlihat muncul dari dalam.
Dia tersenyum lembut menyambut Opas Wu.
"Suami ku, hari kenapa siang sekali, ? kamu pasti lelah haus dan lapar.."
"Ayo masuk, aku sudah siapkan makanan kesukaan mu.."
ucap wanita itu lembut sambil membantu melepaskan baju luar suaminya.
Kemudian dia membantu membawakan nya, dan menggandeng tangan suaminya dengan mesra.
Mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah.
"Adik ipar kamu pulang juga, aku sudah lama menunggu mu dari tadi.."
terdengar suara A Fei dari dalam ikut menyambut kepulangan Opas Wu.
"Ohh kakak Fei kamu sudah pulang dari dinas mu..?"
"Gimana pekerjaan mu ? lancar..?"
"Lancar semua berjalan dengan baik.."
jawab A Fei sambil tersenyum ramah.
Guo Yun yang kini sedang bersembunyi di balik sebatang pohon besar yang tumbuh di dalam halaman rumah Opas Wu.
Dia bisa mendengar dan melihat semuanya dengan jelas dari tempat persembunyiannya.
Mereka bertiga sambil mengobrol dengan akrab berjalan beriringan masuk kedalam rumah.
Guo Yun bergerak mendekat kearah jendela, di mana Afei dan kedua kakak iparnya.
Mereka bertiga di dalam ruangan, terlihat sedang makan sambil mengobrol dengan akrab.
"Adik Wu aku dalam perjalanan kemaren, secara tidak sengaja menemukan tempat persembunyian buronan pemerintah Lung Tou ( Kepala Naga.).
"Kamu serius ?"
tanya Opas Wu kaget.
A Fei mengangguk dan berkata,
"Terhadap orang lain mungkin aku suka berbohong, tapi kita ini keluarga, mana mungkin aku berbohong.."
"Di mana dia bersembunyi, kenapa kamu tidak langsung laporkan ke hakim Coa..?"
tanya Opas Wu penasaran.
"Ahh adik Wu kamu seperti tidak tahu saja, bagaimana sifat atasan mu itu.."
"Bila lapor ke dia, bukannya tertangkap mungkin malah kabur jauh Si Lung Tou..itu."
ucap A Fei pura pura tidak puas dengan Tuan Coa, rekan kerjasamanya itu.
Opas Wu mengangguk dan berkata,
"Bisa jadi, kalau begitu katakan saja pada ku, di mana buronan itu berada .?"
"Di sebelah timur kota, tepatnya di hutan sebelah timur, ada sebuah kelenteng tua. Di sanalah dia bersembunyi."
ucap A Fei cepat.
"Bagus,.. terimakasih kakak A fei, atas informasi nya, sore ini biar aku sendiri, yang akan memimpin anak buah ku pergi menangkap nya."
ucap Opas Wu penuh semangat.
"Terserah adik Wu, tapi aku harus ingatkan Lung Tou itu tidak mudah."
"Dia terkenal cerdik juga berkepandaian tinggi."
ucap A Fei sok perhatian.
Opas Wu mengangguk sambil menyelesaikan makannya.
Adik perempuan A Fei tidak berkata apa-apa, dia hanya sesekali menatap kearah suaminya dengan cemas.
Selesai makan Opas Wu langsung berkata,
"Istri ku aku harus kembali ke kantor, mungkin besok pagi baru pulang.."
"Kamu gak perlu menunggu ku, kunci pintu diam di rumah saja.."
"Di luar rumah banyak orang jahat, jangan sembarangan pergi, apalagi malam malam.."
ucap Opas Wu sambil mengenakan pakaian luarnya.
Istrinya yang ikut mendampingi nya, mengantar sampai depan pintu rumah berkata pelan,
"Kamu juga, segala sesuatu harus berhati hati.."
"Jangan terlalu memaksakan diri.."
"Tugas sih tugas, tapi keselamatan mu lebih penting."
Opas Wu mengangguk, setelah mencium kening istrinya yang halus.
Dia pun keluar dari dalam rumah dengan langkah lebar.
Setelah Opas Wu pergi, tak lama kemudian A Fei pun terlihat ikut pergi meninggalkan rumah adiknya.
Melihat A Fei pergi, Guo Yun pun diam diam bergerak mengikutinya.
Ingin tahu apa yang di rencanakan oleh A Fei.
A Fei setelah meninggalkan kediaman Opas Wu,.dia terlihat menemui seorang pria berkumis di sebuah gang kecil.
Mereka berbisik bisik, A Fei menyerahkan sebuah bungkusan kuning kecil kepada pria berkumis itu.
Sesaat kemudian mereka berdua pun berpisah jalan.
A Fei berjalan menuju kediaman Tuan Coa.
Sedangkan pria kumis kecil mengambil jalan berlawanan.
Guo Yun yang mengintil mereka, sempat ragu mau ikutin siapa.
Tapi akhirnya rasa penasaran akan bungkusan kecil.
Membuat Guo Yun memilih bergerak mengikuti arah perginya pria berkumis kecil itu.
Si kumis kecil tiba di depan kantor Opas, dia langsung masuk kedalam.
Beberapa waktu kemudian terlihat Opas Wu dan si kumis kecil memimpin puluhan anggota berpakaian Opas.
Mereka bergerak menuju arah timur, langsung menuju hutan sebelah timur, di mana di tengah hutan itu ada sebuah kelenteng bobrok.
Sebelum memasuki hutan Di kumis kecil berkata,
"Kakak Wu kelihatannya mereka agak letih bagaimana bila kita istirahat minum sebentar.."
"Tenaga pulih baru kita masuk kedalam hutan.."
Opas Wu mengangguk dan berkata,
"Boleh juga,..katakan pada mereka istirahat 10 menit, setelah itu kita bergerak masuk.."
Si kumis kecil pun, bergerak memberikan instruksi kepada puluhan bawahannya.
Setelah itu dia baru kembali kesisi Opas Wu,.dua memberikan sebuah kantung air ke Opas Wu.
"Kakak minumlah dulu.."
"Oh Ya terimakasih.."
jawab Opas Wu menerima kantung tersebut meminumnya.
Setelah itu dia baru mengembalikan ke si kumis kecil kantung kulit itu.
Si Kumis kecil menerimanya kembali lalu menyimpannya.
Setelah itu dia bergerak menjauh dari Opas Wu, bergabung dengan anak buahnya untuk ngobrol. santai.
Beberapa saat kemudian mereka pun bergerak memasuki hutan, menghampiri kelenteng bobrok yang ada di tengah hutan.
Opas Wu memimpin anggotanya melakukan pengepungan, lalu dia dan si kumis kecil menerjang masuk kedalam kelenteng.
Di dalam kelenteng Opas Wu menemukan kelenteng tersebut kosong.
__ADS_1
Di sana tidak terlihat tanda tanda ada penghuninya.
Opas Wu mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan tersebut.
Tapi dia tetap tidak melihat ada siapapun di sana, kecuali dirinya dan wakilnya si kumis kecil.
Opas Wu mengerutkan alisnya saat melihat rekannya sedang tersenyum sinis kearahnya.
Si kumis kecil tiba tiba mencabut goloknya, menebaskan kearah Opas Wu.
"Wuttt..!"
"Trangggg..!"
Opas Wu menggerakkan golok di tangan nya menangkis serangan dari wakilnya.
"Acui apa yang kamu lakukan..!"
bentak Opas Wu mengingatkan rekannya.
"Kakak Wu terimalah nasib mu, siapa suruh kamu punya istri begitu cantik dan menarik .."
jawab Acui si kumis kecil sambil tertawa mengejek.
"Apa maksud mu..!"
bentak Opas Wu mulai marah,
Karena anak buahnya dengan sikap kurang ajar, berani mengait ngaitkan masalah ini dengan istrinya.
"Tak perlu emosi kakak Wu, aku katakan saja terus terang pada mu.."
"Ini semua adalah pengaturan dari Tuan Coa yang menyukai istri mu, juga kakak ipar mu A Fei.."
"Jadi bila kamu hari ini penasaran kamu boleh pergi cari mereka setelah jadi hantu nanti.."
"Sedangkan aku hanya pelaksana tugas saja.."
"Bersiaplah kakak Wu, biar aku mengantar mu pergi dengan cepat..!"
Bentak Acui.
"Wutttt..!"
"Trangggg..!"
Lagi lagi senjata mereka beradu, tapi Opas Wu kali ini terlihat terhuyung-huyung kebelakang sambil memegang pelipis yang terasa berdenyut hebat.
Pandangan matanya nanar, bayangan Acui yang berdiri di hadapannya terasa berputar-putar dan jumlahnya jadi beberapa orang.
Opas Wu menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa pusing di kepalanya.
Tapi bukan nya hilang, dia malah merasa semakin pusing, bumi serasa berputar-putar.
Di saat Opas Wu sedang berjuang mempertahankan kesadarannya.
Golok Acui kembali datang,
"Wutttt..!"
"Trangggg..!"
Sekali lagi sebelum seluruh pandangan nya menjadi gelap, golok di tangannya terlepas dari pegangan tangannya.
Opas Wu masih mampu menghalau serangan ketiga.
Tapi untuk selanjutnya, dia sudah tidak sanggup bertahan lagi, Opas Wu terlanjur terjengkang kebelakang.
Jatuh tergeletak tak berdaya, diatas lantai kelenteng bobrok yang penuh dengan debu.
"Ha..ha..ha..! maafkan aku kakak Wu, aku hanya jalankan tugas.."
"Kamu pergilah dengan tenang, bila Tuan Coa bosan, aku siap bantu mengurus istri mu.."
"Ha..ha..ha..!"
ucap Acui sambil bergerak menyarangkan golok di tangannya membacok kearah leher Opas Wu yang tergeletak tak berdaya.
"Tranggg..!"
Golok di tangan Acui tertangkis oleh sebuah pedang merah.
Golok di tangan Acui tinggal gagangnya saja, mata goloknya telah patah menjadi 5 bagian berserakan di hadapannya.
Di antara Acui dan Opas Wu yang tergeletak, kini muncul seorang pemuda tampan yang sedang tersenyum dingin kearah nya.
"Kamu,..! siapa kamu..?!"
bentak Acui kaget bercampur ketakutan.
Karena satu tangkisan orang yang muncul di hadapannya, mampu membuat golok nya, hanya tersisa gagang.
Ini jelas bukan hal yang bisa disepelekan.
Guo Yun sambil tersenyum dingin berkata,
"Kalau aku bilang, akulah Raja Guo Yun penguasa wilayah selatan ini apa kamu percaya..?"
"Kamu jangan mengada-ada..!"
bentak Acui tak percaya.
Gagang golok di tangannya langsung dia lempar kearah wajah Guo Yun.
Tapi Acui tidak berhenti di sana, gagang golok yang di lemparkan hanya sebagai pengalih perhatian.
Serangan sebenarnya, ada sepasang belati yang kini di pegang di tangannya.
Dengan gerakan cepat dan ganas, sepasang belati itu berubah menjadi dua sinar putih, menyerang kearah dada kanan kiri Guo Yun.
Bila bukan Guo Yun mungkin Acui bisa berhasil, tapi kini yang di hadapinya adalah Guo Yun.
Tentu saja peluangnya hampir tidak ada.
"Tabbbb..!"
"Tabbbb..!"
"Plakkkk..!"
"Plakkkk..!"
Sepasang belati Acui terpental terkena tangkisan tangan Guo Yun.
Sebaliknya pipi Acui menerima tamparan bolak balik hingga giginya lepas, sepasang pipinya biru lebam bengkak besar.
Sehingga wajah Acui si kumis kecil kini berubah menjadi kepala babi.
"Kau..!"
teriak Si kumis kecil sambil berusaha mundur menjauhi Guo Yun.
Tapi sekali Guo Yun bergerak, dia tahu tahu sudah muncul di depan Acui.
Dia mengangkat tangan kanannya, otomatis Acui mengakar tangan kirinya menutupi pipi kirinya.
Begitupula saat Guo Yun angkat tangan kirinya, Acui otomatis menutupi pipi kanannya.
Tapi Guo Yun sambil tersenyum dingin tidak menampar pipi Acui.
Kedua tangannya malah menjitak kening Acui.
"Takkkkk..!"
"Takkkkk..!"
"Auwww..!"
jerit Acui kesakitan hingga berjongkok di bawah.
Dia menggunakan sepasang tangannya memegangi jidatnya yang kini muncul dua benjolan sebesar telur ayam kampung.
"Ampun ampun aku menyerah tuan..!"
teriak Acui sambil berlutut ketakutan.
"Ingin selamat bantu sadarkan atasan mu,.."
"Cepat..!"
Bentak Guo Yun.
Ya..ya..ya..tuan ..!"
jawab Acui si kumis kecil panik.
Dia buru buru mengeluarkan sebuah botol kecil, saat mulut botol yang terbuka di dekatkan kearah hidung Opas Wu.
Opas Wu langsung berbangkis, sesaat kemudian Opas Wu pun bisa bangkit untuk duduk.
Dia menatap kearah Guo Yun dan anak buahnya secara bergantian dengan heran.
"Kamu bantu aku cepat ringkus dia, dan jebloskan ke penjara.."
"Setelah itu susul aku ke kediaman Tuan Coa.."
"Aku pergi dulu.."
ucap Guo Yun cepat.
Sebelum suara Guo Yun hilang, orangnya pun sudah tiada.
Opas Wu bahkan tidak sempat untuk bertanya dan sekedar mengucapkan terimakasih.
Opas Wu kini hanya bisa memandang kearah wakilnya Acui yang berlutut ketakutan dengan wajah babak belur.
"Keparat tidak setia, berani kamu mengkhianati ku..!"
"Rasakan ini..!"
Bentak Opas Wu marah, sambil menyambar golok di sampingnya.
Saat dua sinar berkelebat, dua potong telinga, langsung jatuh tergeletak di atas lantai.
"Arggghh...!"
teriak Acui yang malang kesakitan, kedua tangannya dari dahi kini berpindah menutupi bagian telinga nya, yang sudah tidak memilki daun lagi.
Acui terlihat menjerit jerit kesakitan sambil berguling guling diatas tanah.
Suara jeritan kesakitan nya terdengar hingga keluar kuil.
Sesaat kemudian para Opas bawahannya, yang bertugas menjaga sekeliling kelenteng bobrok.
Mereka segera bergerak masuk untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Tapi mereka semua kaget mematung di sana.
Saat melihat apa yang terjadi di depan mata mereka.
"Kalian semua bila masih ingin jadi bawahan ku, ringkus manusia ini, jebloskan ke penjara.."
"Tapi kalau kalian semua berkonspirasi dengan nya, kalian boleh cabut senjata kalian hadapi aku.."
ucap Opas Wu gagah dengan golok di tangan.
Melihat wibawa Opas Wu, para anggota itu segera menjatuhkan diri berlutut dihadapan Opas Wu dan dengan kompak mereka berkata,
"Kami semua akan bersetia dan siap menjalankan perintah kakak Wu.."
Opas Wu mengangguk dan berkata,
"Baik, sekarang ringkus dan jebloskan orang ini ke penjara, setelah itu ikut dengan ku menuju kediaman Tuan Coa.."
"Siap..!"
jawab puluhan Opas itu kompak.
Mereka segera bergegas meringkus Opas A Cui , mengikatnya, lalu di giring meninggalkan kelenteng bobrok.
Opas Wu sendiri berjalan di depan dengan wajah cemas dan langkah tergesa-gesa.
Dia dalam hati berharap istrinya tidak terjadi sesuatu, atau minimal tuan penolongnya itu bisa membantu menyelamatkan istrinya.
Di tempat lain di rumah kediaman Opas Wu, A Fei terlihat sedang menggedor pintu rumah Opas Wu.
Istri Opas Wu mengintip dari celah pintu, siapa yang ada di luar sana sedang menggedor pintu rumahnya malam malam.
Sebelum dia membuka palang penutup pintu, sesuai pesan suaminya sebelum pergi.
Tapi saat melihat yang berdiri di depan pintu adalah kakak laki laki nya, A Fei.
Istri Opas Wu pun buru buru membuka palang pintu, lalu membuka pintu rumahnya.
"Kakak ada apa kak ?"
"Kenapa kakak terlihat pucat dan panik begini..?"
"Ayo.masuk dulu kak..!"
"Tidak sempat Siu Ning,..ayo ikut dengan kakak.."
"Adik Wu terluka parah, sekarang ada di kediaman tuan Coa sedang di tolong oleh tabib.."
"Aku takut ada apa apa, makanya cepat cepat kemari."
Mendengar ucapan kakak nya, sesaat Siu Ning langsung limbung tubuh nya.
Sesaat pandangannya langsung gelap saat mendengar berita itu.
Tapi sesaat kemudian dengan wajah cemas dia berkata,
"A..apa.. yang sebenarnya terjadi kak..?"
"Aduh Siu Ning tiada waktu kakak jelaskan pada mu.."
"Ayo kita cepat kesana, kakak jelaskan sambil jalan.."
A Fei dengan cepat menarik tangan adiknya meninggalkan rumah dalam keadaan buru buru.
Hingga pintu rumahnya pun di biarkan terbuka begitu saja.
Siu Ning hanya bisa mengikuti langkah kakaknya dengan buru buru pergi menuju kediaman Tuan Coa.
Dalam perjalanan A Fei pun berkata,
"Adik Wu dalam tugas menangkap Lung Tou terkena senjata beracun.."
"Kini nyawanya sedang kritis, tabib sedang berusaha menolong nya "
"Aku takut kamu tidak sempat bertemu dan mendengar pesan terakhirnya.."
"Makanya kita harus buru buru kesana .."
Mendengar ucapan A Fei, meledaklah tangis Siu Ning, airmata bercucuran membasahi wajahnya yang cantik.
Dia terus menahan suara tangisnya dengan menutupi mulutnya dengan tangan.
Sambil berlari kecil mengikuti langkah kaki kakaknya.
Sepanjang perjalanan airmata nya mengalir tiada henti, wajahnya terlihat sangat menyedihkan karena terlalu cemas memikirkan nasib suami yang sangat dia cintai itu.
Tanpa terasa mereka sudah tiba di kediaman tuan Coa, tanpa halangan mereka dengan mudah masuk kedalam kediaman tuan Coa yang besar dan mewah.
A Fei mengantar hingga depan kamar tuan Coa dan berkata,
"Siu Ning adik Wu ada di dalam sana, kamu masuklah kedalam.."
"Aku tidak ikut.."
Siu Ning me mengangguk cepat, dia berpikir kakaknya mungkin sungkan mungkin tidak tega melihat kondisi suaminya.
Jadi dengan hati cemas, tanpa berpikir panjang, dia segera mendorong pintu kamar mewah itu hingga terbuka lebar.
Lalu berlari menghambur masuk kedalam.
Saat masuk kedalam melihat kamar yang luas tidak ada siapa-siapa.
Siu Ning buru buru berlari masuk kebagian dalam ruangan yang terpisah oleh sebuah penyekat tipis.
Setelah Siu Ning masuk kedalam kamar, sambil tersenyum penuh kemenangan.
A Fei dengan tega, menutup pintu kamar tersebut, lalu menguncinya dari luar.
Siu Ning sendiri begitu tiba di dalam kamar, melihat ada sosok yang tidur miring diatas kasur tertutup selimut.
"Suami ku..aku datang..!"
"Ba.. bagaimana keadaan mu..!"
"Jangan tinggalkan Siu Ning suamiku..!"
teriak Siu Ning langsung berlari menghambur kearah kasur pembaringan, dengan wajah bercucuran air mata.
Tapi saat dia berdiri di dekat pembaringan, di mana orang yang berbaring, dengan tubuh sebagian tertutup selimut membalikkan badan menatap kearah nya dengan senyum penuh kecabulan.
Siu Ning langsung pucat ketakutan dan mencoba melangkah mundur menjauh.
"Ahh Tuan Coa..maaf aku..aku.."
ucap Siu Ning gugup sambil mencoba mundur menjauh.
Tapi pergerakan nya terlambat kedua lengannya telah terkunci oleh sepasang tangan Tuan Coa yang lebar dan gemuk.
Sekali sentak tubuh Siu Ning yang kecil ramping langsung jatuh terlentang di atas kasur pembaringan.
"Ahhh...!"
jerit Siu Ning kaget bercampur ketakutan.
Sepasang matanya membelalak ketakutan, seperti seekor kelinci terjepit menghadapi ancaman seekor serigala kelaparan.
"Kakak tolong...! kakak Fei tolong..!"
"Ahh jangan lepaskan jangan tuan Coa tidak boleh..Ahhh jangan..!"
"Breeet..!"
terdengar suara permintaan tolong teriakan ketakutan Siu Ning disertai kain robek.
Akibat pergulatan dan perlawan Siu Ning yang berusaha meronta, meski sepasang tangan dan tubuhnya terkunci dibawah.
Selimut yang menutupi sebagian tubuh tuan Coa jadi tersingkap, kebetulan Siu Ning yang sedang berusaha untuk bangun melihatnya.
Tuan Coa ternyata tidak mengenakan apapun dari bagian pinggang kebawah.
Siu Ning langsung menjerit histeris ketakutan.
"Jangan...tidak...Ahhhhh...kakak Wu..tolong...!"
"Ahhh demi tuhan jangan...ampuni aku..!"
"Breeet...!"
lagi lagi terdengar suara kain robek disela suara teriakan ketakutan Siu Ning.
Saat sepasang kaki Siu Ning yang putih jenjang kini terbuka lebar meronta ronta tanpa sehelai benang pun menutupinya.
"Ahhhhh,... tidak...jangan...aduh...jangan...
tidak boleh...jangan...Ahhhhh...!"
"Brakkkk...!"
"Bresss..!"
Saat Siu Ning hampir jadi korban keganasan Tuan Coa.
Tiba-tiba genteng langit langit kamar hancur meluruk kebawah, dari atas melayang sesosok pemuda.
Dengan gerakan cepat, dia menarik kerah baju Tuan Coa, lalu melempar tuan Coa seperti orang melempar sampah.
Tuan Coa langsung terbanting menabrak kearah meja di dalam kamar hingga meja dan kursi pecah hancur berantakan tertimpa tubuh tuan Coa yang gemuk.
Siu Ning buru buru menarik selimut menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
Meringkuk sambil menangis ketakutan di pojok pembaringan.
Tuan Coa yang sesaat pandangan matanya sedikit nanar dan gelap,
akibat terbanting keras.
Sesaat dia hanya bisa merintih rintih kesakitan, sulit bangun dari atas lantai.
Sebelum dia bisa bangkit berdiri, dadanya sudah di injak oleh pemuda yang menerobos masuk ke kamarnya dengan cara paksa.
Saat melihat siapa orang yang berani masuk menerobos kediamannya.
Seketika wajah Tuan Coa menjadi pucat seperti kertas.
"Ampun Yang Mulia..hamba..hamba..."
Tuan Coa saking gugup dan takutnya, dia sampai tidak tahu mau bicara apa.
Dia pernah lihat wajah ini di istana pusat kerajaan Yue, saat dia pergi kesana untuk memberikan laporan sidang pagi.
Dia tidak mungkin bisa lupa dengan wajah tampan dan muda itu.
Bahkan mereka sebagai pejabat masing masing di ruang kerja mereka ada tergantung lukisan gambar pria di hadapannya ini.
Jadi meski dia jadi hantu sekalipun, dia tidak mungkin tidak mengenali wajah junjungan nya ini.
__ADS_1