
"Tappp..!"
Kedua ujung jari mereka yang dilapisi oleh cahaya hijau dan putih, bertemu di udara.
Adu kekuatan saling mendorong pun terjadi.
Li Mu Bai yang merasa Guo Yun mampu mengimbangi kekuatan nya.
Dengan penasaran, setahap demi setahap dia terus meningkatkan kekuatan nya, berusaha menekan Guo Yun.
Sebaliknya Guo Yun bersikap tenang, hanya terus mengimbangi, dan melebihkan sedikit kekuatan nya dari Li Mu Bai.
Li Mu Bai yang terpancing akhirnya membentak keras.
"Hyaaaaaat..!!"
Dia mengempos seluruh kekuatannya memberikan dorongan terakhir.
Guo Yun sambil tersenyum dingin, tiba tiba merubah cara pengerahan kekuatannya.
Dari yang tadinya bertahan, membalas memberikan dorongan keras lawan keras.
Kini tiba tiba berubah menjadi kosong melompong, kemudian malah menghisap hawa murni Li Mu Bai.
Ini adalah ilmu khas Guo Yun, "Memindahkan Hawa Memusnahkan Jiwa.."
"Aihhh...!"
Teriak Liu Bai kaget, Tapi Li Mu Bai adalah jagoan kawakan.
Pengalaman bertarungnya sudah tidak terhitung.
Trik seperti ini, hanya mengagetkannya, tapi tidak mungkin bisa menyulitkan nya.
Hanya sedetik dia kaget, berikutnya dengan cepat dia menotok beberapa titik meridian di tangannya.
Sehingga Hawa murninya pun tersendat, berhenti mengalir di sana.
Sehingga dia mampu menarik kembali tangannya dari tempelan dan daya hisap ujung jari Guo Yun.
Daya hisap memang berhasil dia patahkan, Guo Yun juga menyadari.
Jagoan kawakan seperti Li Mu Bai, tidak mungkin mampu dia tahlukkan dengan ilmu Memindahkan Hawa Memusnahkan Jiwa.
Justru ilmu itu adalah ilmu pancingan untuk membuat Li Mu Bai senang dan merasa berhasil.
Di saat dia lengah, itulah kunci Guo Yun yang dalam waktu hitungan detik itu, berkesempatan menghancurkan nya.
Semua sesuai perkiraan Guo Yun, Li Mu Bai, menotok dan mengunci aliran tenaga saktinya.
Dengan cara mengunci beberapa titik meridian di lengannya.
Sehingga lengan Li Mu Bai kini kosong tanpa hawa pelindung.
Di saat ini dengan cepat Guo Yun mendorongkan seluruh hawa saktinya yang datang bagaikan gelombang yang tidak terhentikan.
"Arggghhh...!!"
Jerit Li Mu Bai kesakitan bercampur kaget.
"Duaaar...!"
__ADS_1
Tubuh Li Mu Bai terpental kebelakang bagaikan layang layang putus.
Lengan kanannya terlihat hancur hingga sebatas siku.
Selagi Li Mu Bai terpental mundur, Guo Yun menghilang seperti kilat dari posisinya.
Saat muncul lagi, dia sudah tepat berada di punggung Li Mu Bai.
Dengan tangan mengeluarkan cahaya hijau menusuk lurus kearah punggung kiri Li Mu Bai.
Li Mu Bai merasakan ada angin tajam menyerangnya dari belakang.
Selagi tubuhnya sedang terlempar mundur kebelakang.
Dengan terburu-buru, dia mengerahkan sisa tenaga saktinya untuk melindungi bagian punggungnya yang di serang oleh Guo Yun.
Lagi lagi dia tertipu serangan itu hanya pancingan, serangan asli adalah serangan cakar yang terarah ke Titik Bai Hui Xue nya.
"Tappp..!"
Titik jalan darah yang tepat berada di ubun-ubun kepalanya, titik itu kena maka lumpuh lah seluruh kekuatan Li Mu Bai.
"Ahhh...!"
Jerit Li Mu Bai terbelalak kaget.
Kekuatan Li Mu Bai di lumpuhkan, maka dengan mudah tusukan tangan Guo Yun menembus punggung, menghancurkan jantung, hingga cahaya hijau terlihat muncul menembus dada kirinya.
"Crasssh..!"
"Arggghhh..!"
Li Mu Bai menjerit ngeri, sebelum tubuhnya tumbang kedepan, saat tangan Guo Yun yang berlumuran darah di tarik keluar dari punggungnya.
Guo Yun mengerahkan hawa sakti langit dan bumi kelengannya.
Seketika darah Li Mu Bai yang menempel di lengan dan pakaiannya menguap hilang tak berbekas.
Kini Guo Yun memberi kode kearah Han Wei dan pasukannya agar kembali bergerak maju kedepan.
Han Wei melihat kode dari Guo Yun, dia segera memberitahu beberapa komandan pasukan nya.
"Rapikan barisan kita maju lagi..!"
Ucap Han Wei tegas.
"Siap Jenderal..!"
Jawab beberapa komandan itu cepat.
Setelah itu mereka segera pergi menjalankan perintah dari Han Wei.
Sesaat kemudian terlihat Han Wei memimpin barisan pasukan besarnya, mengepung benteng pertahanan kota Xuan Yang.
Han Wei kembali maju kedepan pintu gerbang dan kembali berteriak ke arah menara pengawas.
"Wahai kalian tikus pengecut, cepat buka gerbangnya,..!!"
"Jangan berani mencoba kesabaran kami..!"
"Aku akan berhitung sampai 3, bila tidak juga menyerah dan membuka gerbang.."
__ADS_1
"Aku memimpin pasukan ku meratakan ibukota Xian Yang..!"
"Satu...!"
"Dua...!
"Tiga..!"
Teriak Han Wei mulai berhitung.
Tepat hitungan ketiga, pintu gerbang kota Xian Yang yang besar dan berat, perlahan lahan terbuka.
"Krieet...!! Krieet...!! Krieet...!!"
Terdengar suara berderit, saat pintu gerbang yang besar itu, sedikit demi sedikit terbuka.
Sesaat kemudian terlihat ribuan pasukan elit penjaga keamanan istana Qin berlari keluar dari dalam pintu gerbang membentuk blokade.
Berbaris rapi dengan senjata siaga di arahkan ke Han Wei.
Jan Wei sudah mengangkat tangan keatas, bersiap memberikan perintah untuk melakukan serangan terakhir.
Tapi tangan nya jadi tergantung di udara, saat melihat siapa yang berjalan pelan keluar dari balik gerbang.
Dia terlihat ragu, lalu Han Wei menoleh kearah Guo Yun menunggu pendapat atasannya.
Guo Yun menghela nafas panjang, dan berkata,
"Han Wei kamu mundurlah dulu.."
"Biar aku yang mengurusnya.."
Ucap Guo Yun sambil tersenyum pahit.
Han Wei mengangguk cepat, dia segera memacu kudanya, kembali ke barisan depan pasukannya.
Han Wei beserta beberapa komandan pasukan nya, menatap dengan tegang kearah situasi di hadapan mereka.
Guo Yun menjalankan kudanya dengan gerakan tenang, maju mendekati barisan pasukan elit istana Qin.
Hingga jarak mereka hanya terpisah 3 Depa, Guo Yun pun menghentikan langkah kuda nya.
Di depan nya berbaris pasukan elit pengamanan istana Qin yang berlapis lapis.
Di bagian paling ujung masih ada barisan pasukan pemanah yang terlihat bersiap dengan panah di tangan.
Di belakang mereka, yang berjarak tidak kurang dari seratus langkah dari posisi Guo Yun.
Terlihat Yin Zheng berdiri di lindungi oleh 2 orang pendekar dunia persilatan berambut putih, yang berpakaian hitam dan putih.
Wajah kedua orang itu terlihat dingin dan datar, tapi sepasang mata mereka mencorong tajam, bagaikan mata naga sakti.
Ini membuktikan kedua orang itu, memilki tenaga dalam yang tinggi, mereka minimal adalah pendekar ranah dewa abadi.
Di depan mereka terlihat Meng Yu, mengawal Gongsun Li yang seluruh tubuhnya terikat tali dan borgol.
Pedang tajam Meng Yu terlihat menempel erat di leher Gongsun Li.
Saking eratnya, terlihat ada goresan luka sayat, yang mengalirkan darah.
Gongsun Li tidak berkutik, untuk sekedar berjalan pun sulit, apalagi mencoba meloloskan diri.
__ADS_1
Gongsun Li hanya bisa menatap kearah suaminya dengan wajah menyesal dan airmata bercucuran membasahi wajahnya.
Sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan kearah Guo Yun.