
Guo Yun tersenyum tenang dan berkata,
"Bila tidak ada terjadi perubahan di lapangan, aku yakin kelima Jendral akan pulang dengan kemenangan gemilang."
Jendral Meng Thian mengangguk dan berkata,
"Semoga saja semua berjalan lancar.."
"Mari kita tunggu saja hasilnya beberapa hari lagi.."
"Jendral Guo Yun, bila sesuatu yang buruk terjadi pada mereka."
"Aku berharap Jendral Guo bisa mengulurkan tangannya, membantu kami keluar dari kesulitan ini..'
ucap Panglima Meng Thian dengan serius.
Meng Thian sadar kenapa dari awal hingga akhir Guo Yun dan ketiga bawahannya hanya diam saja.
Dia yakin mereka bukan tidak tahu, juga bukan tidak memilki strategi.
Mereka diam karena tidak ingin berebut jasa dengan nya, dengan jendral jenderalnya.
Meng Thian diam diam sangat kagum dengan pola pikir, dan pertimbangan Guo Yun yang sangat teliti.
Guo Yun menjura kearah panglima Meng Thian dan berkata,
"Panglima bicara kemana, kita dalam satu perahu yang memilki tujuan sama.."
"Bila di perlukan pada waktunya, kami tentu akan maju, dan pantang mundur sebelum misi berhasil.."
"Aku sudah berjanji pada Raja dan Perdana menteri, tentu aku tidak akan pernah mengecewakan harapan mereka."
ucap Guo Yun serius.
"Terimakasih Jendral Guo Yun, ada ucapan mu ini, hati ku kini menjadi jauh lebih tenang."
ucap Meng Thian sambil memberi hormat kearah Guo Yun.
Tapi pergerakan nya, keburu di cegah oleh Guo Yun yang berkata,
"Panglima tak perlu begini, ini sudah jadi tugas dan tanggung jawab ku.."
"Aku tidak kuat menanggung penghormatan sebesar itu.."
ucap Guo Yun serius.
Panglima Meng Thian menepuk pundak Guo Yun dan berkata,
"Mari kita duduk duduk dan ngobrol ngobrol, mumpung ada waktu dan kesempatan."
Guo Yun dan ketiga anak buahnya kembali duduk dan mengobrol basa basi dengan Meng Thian.
Sebelum akhirnya mereka berempat pamit dan kembali ke kamp pelatihan pasukan mereka.
3 hari kemudian Guo Yun dan ketiga saudaranya mengikuti Panglima Meng Thian, menunggu di depan pintu gerbang kota.
__ADS_1
Menyambut kepulangan ke 5 Jendral keluarga Meng, yang berhasil menghancurkan serangan pertama pasukan Xiong Nu dengan kemenangan gemilang.
Tidak berselang lama mereka menunggu, dari 5 arah terlihat pasukan keluarga Meng, dibawah kepemimpinan ke 5 Jendral keluarga Meng.
Mereka terus bergerak mendekati pintu gerbang, benteng pertahanan kota Yong.
Saat tiba di hadapan Panglima Meng, kelima Jendral Meng sambil tersenyum lebar.
Melompat turun dari atas punggung kuda tunggangan mereka.
Lalu mereka memberi hormat dengan berlutut di hadapan panglima Meng Thian.
"Salam hormat kami panglima..!"
ucap mereka berlima dengan kompak.
Meng Thian buru buru maju membangunkan mereka berlima dan berkata,
"Tak perlu peradatan, ayo kita masuk.."
Guo Yun juga ikut memberikan selamat kepada ke 5 Jendral itu, sebelum mereka semua bergerak memasuki kota Yong
Tak lama kemudian, terlihat iring iringan rombongan Panglima Meng Thian dan kelima Jendral nya.
Di ikuti oleh Guo Yun dan ketiga bawahannya.
Rombongan besar itu berjalan melewati daerah dalam kota, yang ramai di padati dengan penduduk kota Yong.
Penduduk kota Yong berdiri berjubel jubel ditepi kiri kanan jalan.
Suasana terlihat sangat ramai dan bergembira.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman sementara panglima Meng Thian.
Kelima Jendral itu tidak berhenti mengangkat kedua tangan mereka, terus membalas menjura kemiri kanan jalan.
Meng Yu yang masih muda dan sangat tampan dan gagah, tentu saja merupakan daya tarik tersendiri bagi kaum hawa di kota Yong.
Mereka pada berlomba lomba menyorakinya dari lantai dua, ada yang melemparinya dengan taburan bunga.
Ada juga yang melemparinya dengan sapu tangan sapu tangan wanita yang wangi.
Tapi Meng Yu hanya menanggapinya dengan dingin, tidak terlalu menanggapi sikap dari para gadis itu.
Guo Yun yang mengikuti dari belakang rombongan pun ikut kecipratan terkena lemparan bunga dan sapu tangan.
Bukan untuk menyambut kemenangan, tapi lebih karena ketampanannya.
Guo Yun menjadi grogi, wajahnya sedikit merah padam, karena dia kurang biasa menghadapi sambutan seperti ini.
Ketiga bawahannya hanya bisa menahan tawa, melihat sikap atasan mereka yang terlihat canggung.
Guo Yun baru bisa bernafas lega saat tiba di kediaman Panglima Meng Thian.
Di ruang rapat mereka kemarin, satu persatu dari kelima Jendral keluarga Meng, mulai menceritakan pengalaman mereka masing-masing di medan tempur.
__ADS_1
Meng Yu yang membuka cerita pertama pengalaman pertempuran nya, baru di susul dengan keempat jendral yang lain, bercerita pengalaman mereka satu persatu.
Sesuai dengan perkiraan awal Meng Thian, pasukan Xiong Nu di bawah pimpinan 5 komandan pasukan kepercayaan Jendral Mobi.
Masing masing membawa 50.000 pasukan melakukan pengejaran kelima arah berbeda.
Dua mengejar kearah Padang stepa, tiga lagi mengejar kearah Padang gurun pasir.
Meng Yu adalah salah satu yang kebagian memancing pasukan musuh menuju arah gurun pasir.
Meng Yu membawa 5000 pasukan nya melakukan pertempuran sebentar dengan pasukan pengejarnya.
Lalu mundur melarikan kearah gurun pasir, di bawah salah satu bukit gurun.
Meng Yu memasang barisan pendam nya bersembunyi di bawah pasir.
Mereka bersembunyi di 5 arah, semua pasukan berbaring terkubur dalam pasir.
Mereka bernapas, mengandalkan sebatang bambu kecil yang menjulur keluar sedikit dari balik tumpukan pasir.
Ketika pasukan Xiongnu yang sedang melakukan pengejaran melewati tempat tersebut.
Mereka langsung melakukan penyergapan dari 5 arah.
Pasukan Xiongnu, menjadi kaget dan kacau balau, meski mereka berjumlah lebih besar.
Tapi karena kaget, di kepung lawan dari berbagai arah, akhirnya mereka tercerai berai barisan nya.
Hal ini mempermudah pasukan Meng Yu untuk menghabisi mereka.
Apalagi setelah komandan tertinggi pasukan mereka tewas di tangan Meng Yu.
Makin kacau dan makin kritis lah posisi pasukan Xiongnu yang berjuang tanpa pimpinan.
Tapi di saat pasuk
an Xiongnu itu sedang terdesak hebat, tiba-tiba muncul barisan pasukan onta, dibawah pimpinan orang kepercayaan Jenderal Agahai.
Kemunculan mereka yang tiba-tiba berhasil mengejutkan barisan pasukan Meng Yu.
Mereka berhasil membantu menarik mundur pasukan Xiongnu itu, menghilang di balik bukit gurun pasir.
Kejadian sama juga di alami oleh Jendral Meng Huan dan Jendral Meng Han, yang bertarung di gurun pasir.
Saat mereka hampir mencapai kemenangan menghancurkan pasukan Xiongnu yang mengejar mereka.
Lagi lagi komandan pasukan Agahai yang muncul menunggang unta mengacaukan semuanya.
Meski mereka juga sama berhasil menewaskan komandan pasukan Xiongnu, anak buah Jendral Mobi.
Tapi sebagian besar pasukan Xiongnu berhasil diselamatkan oleh barisan pasukan onta Agahai.
Jendral Liang yang memancing pasukan Xiongnu mengejarnya ke daerah Padang rumput stepa.
Di mana dia memasang barisan pendam nya, bersembunyi di parit parit yang di gali dan ditutup dengan rumput.
__ADS_1