
Setelah melakukan perundingan dan persiapan matang.
Meng Thian, Meng Yu memimpin pasukan mereka meninggalkan markas tepi sungai.
Mereka langsung kembali ke kota Yong, untuk mempersiapkan pesta penyambutan bagi barisan pasukan Xiongnu, bila mereka berani datang menyerang kota Yong.
Jalan memasuki kota Yong, hanya ada satu jalan, di mana harus melewati daerah tebing, hutan dan bukit.
Hal ini memudahkan panglima Meng Thian, untuk menempatkan pasukan barisan pendam nya.
Sesuai arahan dan petunjuk dari Guo Yun.
Sedangkan Guo Yun sendiri, kini dia sudah siap menyambut kedatangan pasukan air dari Xiongnu, dengan caranya sendiri.
Pagi itu ditepi dermaga He Xi terlihat dua ratus kapal besar, mulai bergerak pelan pelan meninggalkan tepi dermaga.
Kapal kapal besar kecil itu bergerak menyusuri sungai Yang Tze yang luas dan panjang.
Raja Chan Yu terlihat berada di salah satu kapal paling besar, yang bergerak di posisi paling tengah dari barisan kapal, yang bergerak dengan teratur.
Hal ini karena setiap kapal mereka di hubungkan dengan tali, sehingga kapal bisa bergerak teratur dalam formasi.
Selain itu, kapal mereka juga tidak terlalu banyak mengalami guncangan, saat menghadapi gelombang arus sungai.
Sehingga pasukan mereka yang tidak terbiasa naik kapal, bisa berdiri dengan stabil.
Terutama saat pertempuran pecah, mereka bisa menembakkan anak panah dengan lebih tepat kearah sasaran.
Saat memasuki pertengahan sungai, tiba tiba di bagian depan sana, sungai terlihat tertutup kabut tebal.
Raja Chan Yu segera memberi tanda agar kapal berhenti bergerak.
Setelah berunding sebentar dengan pengemudi kapal, yang ahli dan sudah terbiasa menghadapi seluk beluk sungai.
Raja Chan Yu memerintahkan 10 kapal bergerak maju, memasuki area berkabut.
Baru saja 10 kapal memasuki wilayah kabut, langsung terdengar ledakan beruntun di dalam kabut.
"Duarrr,..! Duarrr,..! Duaarrr..!"
"Duarrr,..! Duarrr,..! Duaarrr..!"
"Duarrr,..! Duarrr,..! Duaarrr..!"
Pecahan kayu kapal berhamburan ke udara, mayat pasukan di dalam kapal yang naas itu, juga terlihat pada mengambang di atas sungai.
Raja Chan Yu menelan ludah sendiri, wajahnya terlihat sangat tidak sedap di pandang.
Dia kembali memanggil pakar ahli sungai dan berkata,
"Kamu tadi bilang cuma kabut biasa bukan masalah, itu kamu lihat nyawa ribuan pasukan ku melayang sia sia jadinya..!"
Para pakar ahli sungai itu, pada menundukkan kepalanya, tidak berani berkat kata.
Tubuh mereka terlihat pada gemetaran, mereka takut salah bicara lagi, bisa di sembelih oleh bangsa bar bar yang terkenal ganas dan tidak kenal ampun itu.
Bila bukan di paksa dan di ancam, mereka juga tidak Sudi menyewakan kapal mereka, untuk kepentingan bangsa bar bar, yang suka merampok membunuh menjarah dan memperkosa rakyat selatan itu.
__ADS_1
"Ayo mikir dan jawab dengan benar, bila tidak, kalian akan tahu sendiri akibatnya.."
bentak Erdogan marah.
Erdogan adalah tipe penjilat, yang tumpul keatas tajam ke bawah.
Para nelayan itu sebenarnya sangatlah membencinya, tapi mereka tidak berdaya.
Sehingga mau tidak mau harus menurutinya.
Kapal kapal mereka yang di sewa dengan harga murah, dan di laporkan dengan harga sewa normal ke Raja Chan Yu.
Juga di ketahui oleh para nelayan itu, meski tidak berani banyak bicara dan protes.
Tapi di dalam hati, mereka semua sangatlah membenci orang ini..
Raja Chan Yu sebenarnya juga menyadari hal itu, dia ada dengar dari gunjingan diam diam para nelayan.
Tapi dia saat ini sedang membutuhkan orang, dia belum punya waktu untuk mengurus Erdogan.
Bila dia menghukumnya saat ini, Raja Chan Yu takut akan mempengaruhi mental pasukannya.
Itu akan menganggu ketenangan hati pasukannya.
Hal itu tidak akan berdampak baik baginya.
Saat ini Raja Can Yu hanya membawa 100.000 pasukan saja.
Sedangkan sisanya 250.000 dia berikan ke Temusa Hanif dan Hasan, untuk pergi menahlukkan kota Yong.
Bila berhasil mendapatkan kota itu, maka mendapatkan Xian Yang hanya perlu menunggu waktu saja.
Raja Chan Yu tidak berkata apa-apa, dia hanya diam menunggu jawaban dari para pakar ahli sungai itu.
Akhirnya dengan takut takut salah satu pimpinan pakar sungai itu berkata,
"Biasanya kabut itu memang sering terjadi, sehari bisa dua kali pagi dan sore."
"Tiba di siang akan hilang sendiri.."
"Biasanya kami melintas dalam kabut memang tidak pernah ada masalah.."
"Ada kemungkinan ada yang sengaja memasang jebakan dalam kabut.."
"Sehingga kapal kita saat membentur jebakan, langsung meledak.."
ucap nelayan tua berpengalaman itu, mengungkapkan analisanya.
"Kalau hal itu tidak perlu kau jelaskan, kami juga tahu,..dasar anjing tua banyak bacot..!"
"Yang ingin kami tahu itu solusinya,..! Dasar bodoh tak berguna!"
maki Erdogan mencak mencak, mencari muka di depan atasannya.
Inilah yang biasanya di sebut anjing penjaga, selalu lebih galak dari tuannya.
Raja Chan Yu berdehem pelan dan berkata,
__ADS_1
"Erdogan tahan emosi mu, kamu hanya menakuti mereka.."
"Pak tua maafkan sikap anak buah ku, yang tidak sabaran. "
"Jangan takut katakan saja apa yang kamu tahu.."
Nelayan tua yang mungkin bisa menjadi ayahnya Erdogan, mendapatkan makian seperti itu, dan ucapan ucapan merendahkan.
Bila tidak sedang berpikir jernih, dia tentu sudah menerkam kearah Erdogan dan mencekiknya hingga mampus.
Tapi berhubung pikiran sadarnya masih jalan, dia hanya bisa menahan semuanya dalam hati.
Pak tua itu menatap kearah Raja Chan Yu dan berkata,
"pertama adalah kita menunggu hingga siang, saat kabut reda baru bergerak.."
"Tapi cara ini masih saja, tetap beresiko yaitu , bila jebakan di taruh di bawah air.."
"Kapal kita tetap saja akan menabraknya kemudian.. Boommm...!"
ucap kakek itu sambil menepuk kedua tangannya dengan keras.
"Habislah kita.."
ucap Nelayan tua
Dia tadi emang sengaja berteriak mendadak kearah Erdogan, yang sedang mendengarkan dengan wajah serius.
Sehingga Erdogan langsung terlonjak kaget di buatnya.
Nelayan yang lain pada menutup mulut mereka, mereka berusaha menahan tawa melihat Erdogan di kerjai oleh kakek tua itu.
Mereka sangat membenci Erdogan, tentu saja mereka sangat gembira melihat Erdogan berhasil di kerjai.
Tapi di samping itu mereka juga takut akan nasib kakek tua, yang merupakan sepuh di perkampungan nelayan mereka.
"Kau bajingan tua sengaja ya mencari masalah dengan ku..!"
"Lihat bagaimana aku menyiksa mu,..!"
bentak Erdogan marah sambil hendak mencabut pedang di pinggang nya.
Kakek itu langsung mundur ketakutan dan berkata,
"Ampun tuan Jendral, jangan marah hamba hanya berbicara apa adanya.."
"Erdogan...! tahan..! jaga sikap mu..!"
Bentak Raja Chan Yu marah.
Erdogan yang tadinya arogan, langsung ciut seperti kucing habis ke siram air.
Nyalinya langsung kuncup, tapi di dalam hati. dia memaki maki Chan Yu yang tidak menghargainya.
"Pak tua jangan takut katakan saja, selain cara tadi apa masih ada cara lainnya..?"
tanya Raja Chan Yu sopan.
__ADS_1