
Li Ba sambil tersenyum polos menatap Guo Yun.
"Ber,..bersama kakak lah..itu baru ma..masa depan ku ."
"Yun er bawalah Ba er bersama mu, dia tidak mungkin bisa betah disini bila kamu tidak ada.."
ucap Mo Zi sambil tersenyum penuh pengertian.
Guo Yun menatap kearah Li Ba dengan tak berdaya, dan berkata,
"Baiklah adik Ba, ayo kita pergi.."
Li Ba mengangguk gembira, kedua orang pemuda itu sambil tertawa bebas, mereka saling berangkulan bahu, berjalan kaki meninggalkan pondok peristirahatan guru Mo Zi.
Setelah Guo Yun pergi Mo Zi menghela nafas panjang dan berkata,
"Talenta amat sangat luar biasa, sayangnya tidak berjodoh dengan sekolah ini."
"Datang karena cinta, pergi pun karena cinta, bertanya pada dunia apa itu cinta..?"
ucap Mo Zi sambil menghela nafas panjang.
Saat Guo Yun, Li Ba, Gongsun Li pulang bersama terpisah dari Ching Ke.
Mo Zi sebenarnya sudah merasa ada yang tidak beres, setelah bertanya jawab dan mendengarkan keseluruhan cerita Gongsun Li.
Tentang situasi yang terjadi saat mereka pergi membantu pangeran Ji Ao.
Mo Zi sudah memperkirakan hal seperti hari ini, cepat lambat pasti terjadi.
Bila tidak Ching Ke yang meninggalkan Su Yuan, kemungkinan Guo Yun lah yang pergi.
Baru saja Mo Zi selesai berucap, Gongsun Li dan Ching Ke, terlihat datang dengan sikap terburu-buru.
"Guru maaf apakah adik Yun tadi kemari.?"
tanya Ching Ke sambil berlutut di hadapan gurunya.
Sedangkan Gongsun Li hanya diam, menatap gurunya dengan wajah sedikit pucat.
Mo Zi mengangguk pelan dan berkata,
"Yang harus datang pasti datang, yang harus pergi pasti akan tetap pergi.."
"Bila ada jodoh kelak kalian pasti akan bertemu kembali.."
"Tak perlu ada yang di sesali.."
ucap Mo Zi memberikan nasehat.
Setelah itu dia pun, sambil menghela nafas panjang melangkah masuk kedalam bilik kamar nya.
Ching Ke terduduk diam di tempat.
Sedangkan Gongsun Li terlihat terduduk lemas, dengan bibir sedikit bergetar dan sepasang mata basah.
Beberapa saat berlalu dalam hening, tiba-tiba Gongsun Li menghapus airmatanya.
__ADS_1
Bangkit berdiri, tanpa berkata apapun, dia langsung berlari meninggalkan pondok peristirahatan Mo Zi.
Dia terus berlari mengejar kearah kota, menuju kearah kediaman kakaknya.
Gongsun Li dengan mudah masuk kedalam kediaman itu, karena semua pengawal kediaman tersebut, dari atas sampai bawah, semua orang mengenalinya.
Semua yang bertemu dengan nya selalu memberi hormat kepadanya.
Tapi Gongsun Li yang sedang kacau pikirannya, mana ada waktu meladeni mereka.
Dia langsung berjalan dengan terburu-buru menuju taman samping rumah, di mana kakak nya dan kakak iparnya biasanya ada di sana.
Tapi saat sampai di sana, Gongsun Li hanya melihat ada kakaknya seorang diri di sana, kakak' nya terlihat sedang memberi makan ikan.
Kakak iparnya tidak terlihat ada di sana.
Gongsun Li mempercepat langkahnya menghampiri kakaknya.
"Eh Li er,.. tumben kamu kemari ada apa..?"
tanya kakaknya heran.
"Kakak ipar kemana kak,?"
tanya balik Gongsun Li, tanpa menghiraukan candaan kakaknya.
"Kamu ada perlu apa dengan kakak ipar mu, ? kelihatannya serius sekali.."
Ucap Gongsun Yan sambil menyerahkan kantong makanan ikan ke pelayannya.
Lalu dia sendiri mencuci tangan, setelah itu dia baru menggandeng tangan adiknya, menuju bangku santai.
Gongsun Li menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap kakaknya secara langsung.
Melihat sikap adiknya, Gongsun Yan tersenyum sabar, dia hanya menunggu tidak memaksa.
Dia terlalu hapal dengan sikap dan sifat adiknya itu
"Kakak aku mencari kakak ipar, mau bertanya apakah Guo Yun ada pulang kemari,? atau dia sedang bersama kakak ipar saat ini.?."
"Kenapa,? kamu mulai suka kan dengan pemuda itu,..? dulu kakak dan kakak ipar mu, mau jodohkan kalian, kamu yang menolak paling keras.."
"Sekarang menyesalkan..?"
ucap Gongsun Yan sambil tersenyum lembut menatap adiknya.
"Kakak,.. sudahlah aku sedang serius,..jangan bahas hal itu dulu.."
ucap Gongsun Li dengan wajah sedikit merah.
Gongsun Yan sambil tersenyum berkata,
"Kakak ipar mu sedang ke istana menghadap. ayahnya raja Xian, dia berangkat seorang diri, tidak bersama adik Yun.."
"Adik Yun bukannya masih ada di Su Yuan.. kenapa kamu malah cari kemari ?"
tanya Gongsun Yan heran.
__ADS_1
Gongsun Li dengan wajah lesu menghela nafas sedih, sesaat kemudian dengan perlahan-lahan, dia baru menceritakan semua yang terjadi antara dirinya, Guo Yun, dan kekasihnya Ching Ke.
Setelah mendengar keseluruhan cerita adiknya, Gongsun Yan sambil menghela nafas panjang berkata,
"Aku sudah banyak dengar soal Guo Yun dari kakak ipar mu.."
"Guo Yun adalah seorang pemuda yang baik, setia dan memilki kecerdasan dan talenta luar biasa.."
"Siapapun yang dekat dengannya, menyadarinya, pasti akan menyukainya.."
"Tapi pertanyaan kakak kini adalah perasaan mu sendiri, sebenarnya yang kamu suka Ching Ke atau Guo Yun..?"
"Kamu harus pastikan dulu hal itu, bila tidak, taruhlah kamu menemukannya, hal itu tetap akan jadi percuma.."
"Kamu harus bisa memilih, sebenarnya kamu ingin bersama Guo Yun atau bersama Ching ke..?"
Mendengar ucapan Kakaknya, Gongsun Li terlihat termenung cukup lama.
Akhirnya dia berkata,
"Aku tidak tahu kak, aku juga masih bingung."
"Dulu aku sangat mencintai dan bangga bisa bersama Ching Ke."
"Bagi ku dia adalah yang paling sempurna.."
"Tapi akhir-akhir ini, tidak tahu mengapa,? hubungan kami semakin lama semakin renggang, aku mulai merasa kesepian.."
"Aku ingin di perhatikan, di sayangi dan di cintai, sedangkan dia selalu sibuk dengan pedangnya.."
"Di saat itulah Guo Yun muncul, dengan segala kelebihan dan ketulusannya, aku sangat tersentuh dan sangat nyaman bersamanya.."
"Tapi di lain sisi, aku ingin tetap setia pada Ching ke, aku tidak ingin meninggalkannya karena ada kehadiran pria lain.."
"Kakak aku bingung.."
ucap Gongsun Li sambil menutupi wajahnya yang cantik dengan kedua tangannya.
Dia mulai kembali menangis penuh kesedihan.
Sambil menghela nafas, Gongsun Yan berkata,
"Adik ku, kakak tidak akan meminta mu memilih Ching Ke atau pun Guo Yun.."
"Itu masalah pribadi mu, kamu yang harus pikirkan dan pilih sendiri.."
"Sebagai seorang wanita, adalah wajar kita ingin di sayang di cintai di perhatikan dan selalu di prioritaskan.."
"Tapi bila kita benar mencintai seseorang, kita juga harus bisa mengerti dan mau menerima segala kelebihan dan kekurangannya.."
"Dengan begitu kehidupan kita baru bisa harmonis dan bahagia.."
"Kamu harus ingat, tidak ada manusia yang 100% sempurna.."
"Keinginan kita tak terbatas, sedangkan kemampuan pasangan kita sangat terbatas.."
"Bila kita tidak bisa memaklumi dan mengerti menerimanya apa adanya.."
__ADS_1
"Selamanya kita tidak akan pernah merasakan arti kebahagiaan itu sendiri.."
"Kamu masih muda waktu mu masih panjang, kelak kamu akan mengerti sendiri.."