
Zhang Yi menoleh kearah asal panah gelap itu.
Dia melihat perdana menteri Li Si sedang tersenyum dingin kearahnya.
"Serrrr..!!"
"Creebbbb..!"
Sebatang anak panah lain kembali melesat, kali ini menembus pergelangan tangan Zhang Yi yang memegang cambuk hingga terlepas.
Zhang Yi menatap kearah perdana menteri Li Si dan berkata,
"Pengecut,..! hanya berani menggunakan panah gelap..!"
"Serrrr..!!"
"Creebbbb..!"
Kini sebatang anak kembali menatap tepat di dada kiri Zhang Yi.
Dengan mulut berlumuran darah, Zhang Yi berdiri menegakkan badannya.
Kepala nya terangkat menghadap langit, dia berkata dengan suara lantang.
"Cu Kung aku berangkat selangkah lebih dulu..!"
"Xiao Tie aku datang...!"
"Ha..ha..ha..ha..!"
Terdengar suara tawa keras Zhang Yi , sebelum akhirnya tubuhnya berdiri kaku di sana tidak bergerak lagi.
Nyawanya sudah pergi dengan tenang, meninggalkan dunia fana, yang penuh dengan ambisi, perebutan kekuasaan, yang tiada henti hentinya itu.
Li Si memejamkan matanya, dia membungkukkan badannya memberi hormat kearah Zhang Yi dan bergumam kecil.
"Selamat jalan teman, aku benar benar salut dan kagum dengan keberanian dan kesetiaan mu.."
Setelah memberi hormat, Li Si pun berkata,
"Rawat dan berikan penguburan yang layak untuk pahlawan ini.."
Selesai meninggalkan pesan, Li Si pun bergerak menuju arena pertempuran lain.
Li Si melihat perlawanan pasukan harimau hitam tinggal dua kelompok kecil lagi.
Kini di sana hanya tersisa dua jendral tua yang masing masing memimpin sekitar 50 personil masih terus melakukan perlawanan dengan gagah berani.
Mayat mayat bertumpuk tumpuk di sekitar kedua orang itu.
Tapi mereka berdua tidak terlihat surut melakukan perlawanan.
"Pasukan panah,.. bersiaplah,
Formasi menara,.. bantu habisi mereka.."
Ucap Li Si memberi komando, setelah beberapa saat mengawasi situasi.
Pasukan panah langsung bergerak bersiap siap mengikuti arahan Li Si.
Formasi menara adalah menara manusia setinggi 3 tingkat, dengan bagian tertinggi di isi oleh dua orang pemanah.
Mereka bertugas melakukan serangan anak panah gelap yang terbidik dengan baik.
Mereka adalah pemanah terbaik, panah panah yang mereka lepaskan bisa mengincar target dengan tepat, tidak pernah ada kata meleset, bila anak panah terlepas dari busur mereka.
Mereka ini bukan penduduk asli daratan tengah, mereka adalah pemanah yang di datangkan dari Kerajaan Goguryeo tahlukkan Qin.
Sama seperti meriam meriam dan senjata, yang bisa meletuskan peluru, semua itu Qin dapatkan dari bajak laut timur dari negeri Thai Yang.
__ADS_1
"Serrrr..!" "Serrrr..!" "Serrrr..!"
"Serrrr..!" "Serrrr..!" "Serrrr..!"
"Serrrr..!" "Serrrr..!" "Serrrr..!"
"Serrrr..!" "Serrrr..!" "Serrrr..!"
"Serrrr..!" "Serrrr..!" "Serrrr..!"
Anak panah yang berasal dari menara manusia mulai di lepaskan mengincar sisa pasukan harimau hitam di bawah pimpinan Ling Tong.
Satu persatu bawahan setia Ling Tong tumbang dengan leher tertembus anak panah.
Hingga akhirnya tersisa Ling Tong sendirian yang masih terus bertahan dengan sepasang pedang di tangan.
Dia masih terus memutar pedang nya menjadi gulungan sinar putih melindungi diri nya, baik dari serangan pengepung maupun serangan pemanah gelap.
"Trangggg..! Tringgg..! Trangggg.!"
"Trangggg..! Tringgg..! Trangggg.!"
"Trangggg..! Tringgg..! Trangggg.!"
"Trangggg..! Tringgg..! Trangggg.!"
Suara benturan senjata terus berkumandang, meski perlawanan sudah sangat timpang.
Ling Tong hampir tidak ada kesempatan melakukan serangan balasan.
Dia hanya bisa melindungi dirinya, di bawah pengepungan pasukan Qin yang berlindung di balik tameng sambil menyerang dengan tombak mereka.
Mereka mulai mempersempit jarak sedikit demi sedikit, saat putaran sepasang pedang Ling Tong semakin lemah dan semakin lemah.
Tidak lagi sekuat sebelumnya.
"Serrrr..!"
"Creebbbb..!" "Creebbbb..!"
"Creebbbb..!" "Creebbbb..!"
"Creebbbb..!" "Creebbbb..!"
"Creebbbb..!" "Creebbbb..!"
Di saat bersamaan sebuah panah gelap menembus lehernya.
Kemudian menyusul tombak tombak keluar dari sela sela tameng, menebus tubuhnya dari depan belakang dan samping.
Ling Tong hanya bisa mendelik geram, dengan mulut berlumuran darah.
Saat pasukan Qin bergerak menjauh, tombak tombak tercabut meninggalkan tubuh Ling Tong yang penuh lubang menyemburkan darah.
Ling Tong akhirnya jatuh tergeletak kehilangan nyawa.
Setelah menghabisi Ling Tong dan pasukan terakhirnya.
Menara pemanah, berpindah lokasi, kini mereka mengincar kelompok terakhir pasukan harimau hitam di bawah pimpinan Zhou Tai.
Pasukan menara pemanah, kembali menjatuhkan satu persatu bawahan Zhou Tai dengan panah gelap.
Zhou Tai yang tidak tahu kedua saudaranya sudah berangkat duluan.
Dia masih terus melakukan perlawanan dengan gigih.
Putaran tombaknya yang ganas dan kuat, membuat para pengepung sulit mendekatinya.
Panah panah gelap yang di.lepaskan juga selalu berhasil dia tangkis dengan baik.
__ADS_1
Li Si yang melihat hal itu, akhirnya sengaja berteriak memancing emosi Ling Tong.
"Kerbau dungu, lihatlah sekeliling mu..!"
"Apa masih ada yang hidup..!?"
"Segera lepaskan tombak mu menyerahlah..!"
"Aku akan mengampuni nyawa mu..!"
teriak Li Si dari luar barisan pasukan pengepung.
Zhou Tai mengedarkan pandangannya, dia menangkap kebenaran kata kata Li Si.
Di sana memang hanya tersisa dirinya, kakak pertama dan kakak keduanya tidak terlihat lagi.
Dia hampir yakin, kedua kakaknya pasti sudah tiada di dunia ini.
Sambil mengeluarkan tawa sedih, dia berkata dengan suara lantang,
"Ha..ha..ha..ha..!"
"Tidak memohon lahir di tahun bulan dan hari yang sama,.tapi kami berharap mati di tahun bulan hari yang sama..!"
"Kakak pertama,..! Kakak kedua..! Zhou Tai datang menyusul kalian..!'
teriak Zhou Tai keras.
"Wussssh..!"
Zhou Tai mengerahkan seluruh kekuatannya memberikan tebasan tombak kearah pasukan Qin yang menghadang di depan Li Si.
Seberkas sinar putih berkilauan melesat, menghantam barisan pasukan tameng yang mengepungnya.
"Braakkk..!!"
Pasukan tameng terpental kesegala arah, dengan tameng pecah hancur berantakan.
Zhou Tai berlari secepatnya, sambil melompat keudara.
Sambil melayang di udara Zhou Tai berteriak keras,
"Mampus kau laknat pengecut..!!"
'Wusssshhh...!"
Tombak di tangan Zhou Tai dilepaskan mengejar kearah Li Si.
Li Si yang menyadari bahaya, dia segera melompat dari kereta perangnya.
Dia terjatuh bergulingan diatas tanah, saat dia melihat kearah kereta nya.
Dia melihat kereta perangnya meledak terbelah dua.
Sedangkan 4 orang pengawal yang menjadi pelindung nya, terlihat tergeletak tewas menumpuk, dengan dada Ter sate oleh tombak Zhou Tai.
Zhou Tai sendiri juga terlihat sudah tewas, dengan seluruh tubuh di penuhi anak panah.
Zhou Tai tewas dalam posisi berdiri, sama seperti Zhang Yi, berdiri diam mematung kaku di tempat.
Li Si sambil bangkit berdiri, dia berkata,
"Kuburkan mereka dengan baik,.. mereka bertiga adalah pahlawan sejati dari Yue yang pantas di hormati..!"
Selesai berkata,Li Si memberi hormat secara bergantian kearah mayat Ling Tong yang tergeletak sedikit berjauhan dengan mayat Zhou Tai.
Selesai memberi penghormatan ke Ling Tong dan Zhou Tai,. Li Si bergerak menuju tepi sungai.
Kemudian dia menggunakan perahu kecil menuju kapal perang Qin yang menunggu di tengah sungai Han.
__ADS_1