LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MALAIKAT PEDANG CIA HONG


__ADS_3

"Mengapa kakak bisa belum tahu ? apa kakak tidak ingin menjadi penguasa dunia..?"


tanya Li Ba sambil menoleh menatap wajah Guo Yun dari samping.


Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku tidak tahu Ba Er, aku sebenarnya hanya ingin menghentikan perang dan menciptakan kedamaian."


"Menurut pemikiran ku, bila ada dua atau 3 kekuatan berimbang, maka pasti akan tercipta kedamaian.."


"Dimana tidak akan ada pihak yang berani menyerang pihak lain, karena ada kekuatan yang berimbang ."


ucap Guo Yun menjelaskan pandangan nya.


"Tapi bukankah itu hanya menciptakan sebuah keinginan terpendam, suatu hari tetap akan meledak..?"


"Bila hari itu tiba, semua akan saling serang, hingga titik penghabisan.."


"Itu berarti bukan kedamaian dalam arti sebenarnya, itu hanya kedamaian semu.."


"Mengapa kakak tidak mencoba menguasai seluruh nya, dengan demikian baru ada ketenangan mutlak karena dunia di kendalikan di tangan satu orang saja.."


ucap Li Ba mengemukakan pendapat yang sederhana tapi sangat masuk akal.


Guo Yun terdiam cukup lama dan akhirnya berkata,


"Entahlah mungkin pendapat mu benar, tapi aku sebenarnya tidak punya keinginan dan ambisi berdiri keluar menjadi penguasa dunia."


"Aku hanya ingin melewatkan hari hari dengan santai, penuh kedamaian tanpa ikut campur dengan masalah dunia.."


"Kalau begitu kenapa kakak terus terlibat, ? kenapa kakak tidak tinggalkan semua nya..?*


"Cari tempat sepi jauh dari keramaian, hidup dengan bebas di sana..?"


tanya Li Ba kurang puas.


Guo Yun menoleh menatap kearah Li Ba dan berkata,


"Aku juga ingin, tapi keadaan yang selalu memaksa ku kembali ke jalan ini.."


"Jalan penuh persaingan dan peperangan, ini adalah keadaan terpaksa."


"Mau gak mau, aku harus berdiri keluar mengambilnya, bila tidak ingin terlindas.."


Li Ba mengangguk paham dan tidak banyak bertanya hal hal ruwet itu lagi.


Karena dia paham Guo Yun sendiri juga belum punya jawaban pastinya.


Karena Guo Yun sendiri juga masih bingung, intinya dia hanya ingin menciptakan kedamaian di daerah kekuasaannya untuk saat ini.


Sampai kapannya tidak ada yang tahu selain menjalaninya saja.


Sedangkan Li Kui hanya memilih diam, menjadi pendengar setia.


Saat matahari tenggelam Guo Yun pun bangkit dari duduknya dan berkata,


"Ayo kita kembali untuk beristirahat.."


"Aku sudah utus Jendral Yong mengumpulkan informasi di kota Cai.."


"Setelah ada informasi lengkap dan strategi, kita baru berangkat."


"Untuk sementara waktu, kita hanya bisa menunggu informasi.."

__ADS_1


ucap Guo Yun sambil menepuk lembut bahu kedua saudaranya.


Sesaat kemudian mereka bertiga, terlihat saling berangkulan berjalan meninggalkan tempat itu.


3 hari kemudian setelah mendapatkan laporan informasi dari Jendral Yong.


Guo Yun Li Kui Li Ba dan pasukannya mulai terlihat bergerak meninggalkan kota Shoucun.


Tapi baru saja mereka tiba di perbatasan wilayah Cai.


Di sana di tengah jalan yang akan mereka lalui berdiri seorang kakek berambut abu abu.


Menggunakan baju dan pengikat kepala berwarna putih, yang menunjukkan dirinya sedang berkabung.


Sesekali kakek itu akan melempar kertas kertas sembahyang ke udara dan berkata,


"Kalian jalan dengan baik, ! pergilah dengan tenang..!"


"Guru pasti akan membawanya pergi menemani kalian..!"


Melihat keanehan itu, Guo Yun langsung mengangkat tangan yang terkepal keatas.


Memberi kode agar barisan di belakangnya berhenti bergerak.


Setelah barisan pasukan nya diam berhenti bergerak.


Guo Yun di temani oleh Li Ba dan Li Kui bergerak maju, sambil duduk diatas punggung kuda, mereka menghampiri kakek itu.


Setelah tiba di hadapan kakek itu, Guo Yun pun berkata,


"Kakek apa yang sedang kamu lakukan di sini..?"


Kakek yang sepasang matanya terpejam tadi, dengan mulut berkomat Kamit tiada henti.


"Tiga murid ku di bunuh orang, setelah di permainkan oleh seseorang .."


"Aku kemari sedang menunggu orang itu.."


ucap Kakek itu tenang.


Tapi aura yang di tebarkan oleh tubuh dan tatapan matanya yang mencorong seperti bola mata naga sakti.


Membuat orang bertatapan mata dengan nya, tidak sanggup beradu pandang lama lama dengan nya.


Guo Yun di dalam hati agak terkejut dan menduga duga, apa kehadiran kakek ini ada hubungannya dengan 3 orang yang tewas di tangan nya beberapa hari yang lalu.


Bila ada hubungannya, bagaimana kakek ini bisa tahu, padahal kejadian di sana itu.


Selain dirinya dan ketiga orang itu, sama sekali tidak ada orang lain yang hadir di sana.


Dengan hati hati Guo Yun bertanya pelan,


"Kalau boleh tahu, siapa nama ketiga murid kakek itu..?"


Kakek itu tiba tiba menatap tajam kearah Guo Yun dan berkata,


"Murid ku bernama Cia Bun Cia Tek dan Cia Tiong, mereka adalah Cing Ling San Sia.."


"Apa kamu mengenalinya..?"


ucap kakek itu menatap Guo Yun dengan tajam.


"Apa kamu yang bernama Guo Yun..?"

__ADS_1


tanya kakek itu curiga


Guo Yun tahu kali ini dia tidak bisa lari dari tanggung jawab, bagaimana pun dia harus selesaikan dengan kakek di hadapannya ini.


Guo Yun mengangguk pelan dan berkata,


"Benar aku mengenal mereka, mereka menginginkan sesuatu dari ku.."


"Aku tidak bersedia memberikan tuntutan mereka, sehingga terjadi perkelahian di antara kami.."


"Yang berakhir dengan,..'


Guo Yun tidak melanjutkan kata-katanya.


Dia hanya membalas menatap tenang kearah kakek itu.


"Bagus kamu termasuk masih punya nyali mengakuinya, berani berbuat berani bertanggung jawab.."


ucap kakek itu sambil tersenyum tenang.


Sesaat kemudian baru melanjutkan berkata,


"Apa kamu punya nyali, menerima tantangan duel dari orang tua hampir mampus ini..?"


Guo Yun mengangguk dan berkata,


"Boleh saja, kakek tentukan tempat nya, asal tidak di sini tempatnya, aku setuju setuju saja.."


Kakek itu mengangguk pelan dan berkata,


"Bagaimana bila di dalam hutan bambu sebelah depan sana..?"


Guo Yun mengangguk tenang dan berkata,


"Silahkan saja kakek tentukan tempat nya.."


"Ohh ya kalau boleh tahu, saat ini aku sedang berhadapan dengan kakek..?"


tanya Guo Yun sopan.


Kakek itu tersenyum dan berkata,


"Orang orang dunia persilatan daerah selatan menyematkan gelar Cien Sheng ( Malaikat Pedang ) untuk ku, nama ku sendiri adalah Cia Hong."


Guo Yun mengangguk mengerti dan berkata,


"Mari kita kesana.."


Kakek itu mengangguk lalu dengan gerakan sangat cepat dia sudah menghilang dari tempat tersebut.


Hanya terlihat kertas sembahyang yang berhamburan melayang layang turun dari udara.


"Kakak bagaimana bila kami berdua menemani mu kesana ?"


tanya Li Kui cemas.


Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak kalian berdua di sini saja, mengawasi pasukan kita.."


"Sebarkan mata mata keempat penjuru, untuk mengamati keamanan sekitar tempat ini.."


"Jangan sampai musuh mengambil kesempatan dari kita.."

__ADS_1


ucap Guo Yun berpesan sebelum dirinya pergi.


__ADS_2