LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
PAI YUN CEN JEN


__ADS_3

"Kakak berdua harap bangun, ada masalah apa ceritakanlah,"


"Bila aku bisa dan mampu untuk membantu, aku pasti akan membantu.."


"Coba ceritakan saja, apa yang bisa aku bantu..?"


ucap Guo Yun sambil membantu kedua kakak beradik itu bangun berdiri.


"Begini 3 hari yang lalu, kakak pertama kami Zhang Yi, ribut dengan seorang pertapa dari negara Thian Tu.."


"Kakak kami berhasil mengalahkan pertapa tersebut, tapi tidak di duga pertapa itu melepaskan dua ekor ular merah melukai kakak kami.."


"Saat kejadian, kakak ku tidak apa-apa, dia hanya merasa kedua tangannya yang di gigit ular kecil itu, seperti kehilangan tenaga dan kesemutan saja.."


"Dalam keadaan kehilangan tenaga, kakak kami terpaksa membiarkan pertapa itu dan kedua ekor ular merahnya melarikan diri.."


"Saat kakak kami kembali ke markas, situasi pun memburuk."


"Racun jahat mulai bereaksi, kakak kami jadi tidak bisa bergerak dan sulit berbicara.."


"Secara kebetulan, kami berhasil bertemu tabib dewa Xu Fu, yang sedang melintasi hutan ini.."


"Kami segera mengundangnya kemari untuk mengobati penyakit kakak kami."


"Setelah Tabib dewa Xu Fu membantu memeriksa keadaan kakak kami.."


"Tabib dewa Xu Fu mengatakan kakak kami terkena racun bisa ular api yang langka.."


"Untuk mengobati penyakit kakak kami, dia memerlukan ulat es yang hidup di puncak awan putih.."


"Di mana letak puncak awan putih ? apa kalian sudah mencoba mencarinya kesana..?"


tanya Guo Yun ingin tahu.


Ling Tong menunjuk kearah barat dan berkata,


"Puncak itu ada di sana, dari sini bisa terlihat bagian puncaknya selalu di selimuti awan putih berkilauan, itulah puncak awan putih.."


"Kami berdua sudah coba kesana, tapi kami di usir oleh penghuni puncak awan putih, yang memilki kemampuan jauh di atas kami.."


"Penghuni puncak bukan orang sembarangan, puluhan tahun yang lalu, dia sempat malang melintang di dunia persilatan tanpa bertemu tanding.."


"Dia adalah Pai Yun Cen Jen dengan ilmu pedang andalan nya Pai Yun Piau Piau ( Awan Putih Melayang )."


"Dia mengatakan pada kami, kecuali kami mampu mengalahkan nya, bila tidak lebih baik lupakan saja soal ulat es nya yang langka itu. "


ucap Ling Tong menutup ceritanya dengan wajah lesu.


Guo Yun mengangguk dan berkata,


"Menolong nyawa orang lebih penting, aku akan segera coba kesana sekarang.."


"Siapa tahu bisa mendapatkan ulat es itu, untuk membantu kesembuhan kakak kalian.."


"Terimakasih adik Yun, kami berdua berjanji, asalkan kakak kami bisa di sembuhkan."

__ADS_1


"Kami berdua beserta seluruh kelompok harimau putih dan naga merah, siap mengabdikan nyawa kami untuk adik Yun.."


ucap Zhou Tai sambil menatap Guo Yun dengan serius.


Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,


"Aku tidak berani janji, tapi aku akan usahakan yang terbaik.."


"Kalian tunggu saja kabar ku di sini.."


"Aku pergi dulu..."


ucap Guo Yun sambil membalikkan badannya, kemudian dia melesat cepat meninggalkan tempat tersebut.


Setelah Guo Yun pergi, Ling Tong berkata,


"Kakak anak muda itu, semoga saja dia adalah tuan baru, yang tepat buat kita.."


"Setelah tuan lama kita pergi, kita tercerai berai begini, aku sungguh merindukan kehadiran tuan baru, untuk menggantikan posisi tuan lama kita.."


Zhou Tai menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Aku juga punya pemikiran yang sama, semoga saja, dia bisa membangkitkan kembali kejayaan pasukan Harimau Hitam.."


"Aku sungguh merindukan masa-masa itu.."


ucap Zhou Tai sambil termenung.


Sementara itu di tempat lain Guo Yun yang melesat cepat meninggalkan hutan itu, dia terus bergerak bagaikan bayangan setan, berkelebat di antara pepohonan.


Guo Yun berpikir, bila ingin mendapatkan simpati dan bantuan pengabdian tulus dari Ling Tong dan Zhou Tai.


Tiada jalan lain, dia harus membantu mereka dapatkan ulat es, untuk menyembuhkan Zhang Yi kakak tertua mereka.


Bila Zhang Yi pun bersedia turut bergabung membantunya, ini tentu akan semakin sempurna.


Sambil berlari cepat menggunakan ilmu ringan tubuh menembus Mega, tanpa terasa menjelang matahari terbenam akhirnya Guo Yun tiba di puncak awan putih.


Di atas tanah luas di bagian paling puncak, yang tertutup halimun tipis.


Guo Yun melihat di sana berdiri sebuah pondok sederhana, dengan pekarangan di tanami kebun sayuran.


Baru saja Guo Yun hendak melangkah menghampiri pondok itu.


Dari dalam pondok terdengar suara


"Anak muda apa yang membuat mu tertarik mengunjungi tempat aku menyepi..?"


"Bila tidak ada hal penting, pergilah dari sini.."


"Jangan menganggu ketenangan tempat ini.."


Guo Yun menghentikan langkahnya menjura memberi hormat dan berkata,


"Maaf bila kedatangan ku menganggu ketenangan senior.."

__ADS_1


"Junior datang kemari tidak bermaksud buruk."


"Junior hanya menjalankan permintaan tolong dari sahabat junior, yang sedang membutuhkan Ulat es.."


"Mohon Sudi kiranya, senior meluluskan permintaan kecil junior ini.."


"Ha,..ha,..ha..! sudah kuduga, lagi lagi ada yang datang karena ulat kesayangan ku itu.."


"Anak muda, bila kamu menginginkannya boleh saja, asal kamu mampu mengalahkan ku.."


"Maka aku akan berikan ulat itu pada mu.."


ucap suara itu dari dalam pondok.


Sesaat kemudian pintu pondok terbuka.


Seorang pria berusia 50 an melayang keluar dari dalam pondok, mendarat ringan di depan Guo Yun.


Guo Yun menjura memberi hormat, kemudian mencabut pedang Walet Emas nya dan berkata,


"Bila itu syaratnya, maka junior hanya bisa mencoba membesarkan nyali, untuk menerima tantangan itu.."


Guo Yun sudah mendengar dari Ling Tong nama besar dan kehebatan kakek itu.


Tanpa berani berayal Guo Yun sudah menyalurkan energi 9 langitnya, memenuhi pedang dan melindungi seluruh tubuhnya.


Sedangkan telapak tangan kirinya yang bebas terlihat di selimuti sambaran listrik yang berpijar pijar.


"Ho..Ho..Ho..! rupanya kamu cukup berisi juga anak muda.."


"Bagus bagus,.. Tulang tua ini sudah lama tidak di latih, jadi agak sedikit kaku, "


"Mari kita mulai saja.."


ucap Pai Yun Cen Jen sambil bersiap siap, dengan pedang di tangan, yang di selimuti oleh kabut putih.


Selesai berkata, Pai Yun Cen Jen, telah berubah menjadi sebuah kabut asap putih bergerak menyerang ke arah Guo Yun.


Guo Yun hanya melihat kabut putih bergulung gulung bergerak cepat mendatanginya.


Kemana Pai Yun Cen Jen, dimana pedang yang di gunakan oleh nya.


Semua tidak terlihat sama sekali, Guo Yun hanya bisa menangkis dan menyerang berdasarkan insting dan pendengarannya saja.


Karena seluruh pandangan nya tertutup kabut putih, dia tidak bisa melihat sama sekali pergerakan lawannya.


"Trangggg,..! Trangggg,..! "


"Trangggg,..! Trangggg,..!"


"Trangggg,..! Trangggg,..!"


"Trangggg,..! Trangggg,..!"


Hanya terdengar suara berdentangan dari balik kabut putih, tanpa terlihat mana posisi Guo Yun mana posisi Pai Yun Cen Jen.

__ADS_1


Kondisi ini jelas menyulitkan Guo Yun, tapi tidak bagi Pai Yun Cen Jen yang biasa bertempur dengan cara itu.


__ADS_2