
Guo Yun tersenyum tawar dan berkata,
"50 Tael perak bayar tunai, kalau minat.."
"Bila tidak silahkan saja.."
ucap Guo Yun sambil mengeluarkan sebuah kantung kain.
Dia menimang nimang nya di tangan, sengaja di tunjukkan di depan wajah kakek materialistis itu.
Dia begitu pandai berhitung, orang ini pasti pelit dan tamak.
Orang tamak, ya harus di hadapi dengan umpan pancingan, pikir Guo Yun sambil tersenyum dalam hati.
Guo Yun bukan tidak punya uang, juga bukan pelit.
Tapi inilah ciri khas dia, dia suka tertantang, bila bertemu orang yang punya sedikit kepintaran.
Guo Yun akan penasaran, bila dia tidak bisa mengkadali orang tersebut.
Hatinya baru puas bila dia mampu mengkadali orang seperti kakek di hadapan nya ini.
Bila kakek ini tidak banyak hitungan, seperti putranya yang rajin jujur dan polos.
Bukan tidak mungkin Guo Yun akan langsung membayar 100 Tael perak untuk nya.
Guo Yun rela berikan itu, karena rasa kasihan, rasa ingin menolong.
Tapi dia pantang memberi, bila dirinya dianggap bisa di tekan dan di tipu.
Guo Yun melempar lempar kantung kain hitam di tangan nya, lalu di sambut nya lagi.
Tiga kali lempar, kakek itu masih belum beri jawaban, dia sepertinya sedang pura pura mikir padahal matanya tidak berhenti terus melirik kearah kantung uang di tangan Guo Yun.
Guo Yun yang tahu hal itu, dia langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi.
Melihat hal itu kakek pemilik kapal itu langsung memanggil Guo Yun.
"Ehh tuan,..! tunggu dulu,.. !"
"Mengapa begitu tidak sabaran sih..!"
teriak kakek itu sambil buru buru menyusul Guo Yun.
Guo Yun tanpa menghentikan langkahnya berkata,
"45..!"
"Ahh, tuan kenapa jadi turun penawarannya..?!"
Keluh kakek itu dengan wajah pucat, dan dia langsung terlihat kaget juga menyesal.
"40 ..!"
teriak Guo Yun sambil melangkah menuruni kapal.
"Haisss,..! baiklah baiklah 40..40.."
"Aku setuju..!"
teriak kakek itu cepat.
"Dasar sial..!"
umpat kakek itu sedikit kesal.
Guo Yun menghentikan langkahnya, memutar badannya menghadap kearah kakek itu, sambil tersenyum puas.
__ADS_1
Dia mengeluarkan sebagian uang di dalam kantung nya itu, lalu sisanya dia lempar ke arah kakek itu.
Sambil tersenyum lebar Guo Yun berkata,
"Bila lebih boleh untuk mu.."
Wajah kakek itu yang kusut dan kesal, langsung sumringah.
Dia buru buru mengeluarkan isi kantung tersebut, lalu dengan cepat dia menghitungnya.
Tapi begitu hitung sampai selesai, wajahnya malah berubah menjadi semakin kesal.
"Ini sih pas 40, mana ada lebih..!?"
Protes kakek itu sambil menatap kearah Guo Yun dengan sangat tidak puas.
Guo Yun sambil tertawa berkata,
"Aku kan bilang kalau ada lebih boleh untuk mu, kalau tidak, ya itu nasib mu.."
"Apa hubungannya dengan ku..?"
ucap Guo Yun sambil berusaha menahan tawa.
"Kau...!"
ucap kakek itu sambil menunjuk kearah wajah Guo Yun dengan kesal.
Tapi Guo Yun malah menanggapinya dengan senyum senyum.
Saking jengkelnya, kakek itu langsung membanting kantung kain kosong di tangan nya keatas kapal.
Tapi begitu sadar dan dia ingin pungut kembali kantung uang itu.
Kantung itu sudah kembali ke tangan Guo Yun.
"Terimakasih.."
ucap Guo Yun dengan gaya yang semakin bikin jengkel.
"Kau...! kembalikan kantung ku..!"
bentak kakek itu emosi.
Guo Yun sambil tersenyum santai berkata,
"Kamu yang buang kantung ini, di atas kapal ku.."
"Kamu tidak mau aku mau, karena kantung jatuh nya diatas kapal ku, tentu saja kini menjadi hak ku.."
"kakek tidak perlu marah marah, bila tidak puas kita boleh selesaikan di pengadilan."
"Biaya pengadilan bila di daerah ini, aku rasa 20 tael.perak, dan itu nantinya di tanggung pihak yang kalah.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum santai.
Kakek itu menunjuk kearah wajah Guo Yun dengan jari gemetaran tidak tahu mau berkata apa.
Akhirnya dia berteriak kearah putranya,
"A Gong ayo kita pulang,..! mari kita tinggalkan kapal dan pemiliknya yang brengsek ini.."
Selesai berkata kakek itu langsung membalikkan badannya menuruni kapal yang kini jadi milik Guo Yun.
Guo Yun hanya menanggapinya dengan senyum lebar penuh kemenangan.
Saat kakek itu tiba di pinggir dermaga, dari jarak agak jauh.
__ADS_1
Dia kembali melihat kearah Guo Yun dengan sebal dan berkata,
"Aku sumpahin kamu dan kapal mu, tidak akan selamat sampai tujuan.."
Mendengar sumpah serapah kakek itu, Guo Yun tiba tiba merasa hatinya kurang nyaman dan sedikit menyesal.
Telah sedikit berlebihan dan agak kelewatan mengerjai dan bercanda dengan kakek itu.
Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi, mau menyesal juga percuma,.sumpah serapah juga sudah terlanjur keluar, tidak mungkin bisa di tarik kembali.
Meminta maaf pun sudah percuma percuma, pikir Guo Yun dalam hati.
"Maka nya sebelum bertindak berpikir dulu resiko dan efek dari tindakan mu.."
"Bukannya setelah bertindak baru menyesal dan minta maaf, itu sudah percuma.."
"Keadaan tidak akan bisa di rubah lagi.."
pikir Guo Yun dalam hati, sambil mengomeli dirinya sendiri.
Sesaat setelah kakek itu pergi, Guo Yun pun turun dari kapal itu, langsung menuju restoran di mana, Li Kui istrinya anaknya dan kedua kakek aneh itu berada.
Sebelum kembali kedalam restoran, Guo Yun menyempatkan diri membeli beberapa Ping Tang Hu Lu dari pedagang yang ditemuinya.
Dia juga membelikan beberapa macam mainan anak anak perempuan.
Setelah itu dia baru melanjutkan langkahnya kembali kedalam restoran.
Saat kembali ke restoran, Guo Yun melihat mereka semua terlihat sudah selesai makan.
Mereka sedang menanti kedatangannya.
Begitu tiba Guo Yun pun berkata,
"Kapal sudah siap,.kapalnya ada di tepi dermaga sebelah sana.."
"Kapalnya berwarna hijau merah, kapal paling mencolok warna nya, itulah kapal kita.."
"Adik Kui, kalian boleh duluan, aku mau pesan beberapa makanan untuk bekal perjalanan kita nanti.."
"Setelah selesai aku akan menyusul kalian.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum hangat.
Li Kui dan Cu Cu mengangguk cepat dan Li Kui dengan wajah sungkan berkata,
"Terimakasih kak,.."
"Maaf kita kita malah jadi merepotkan kakak.."
ucap Li Kui yang merasa sangat tidak enak hati.
"Dia suka dia rela, mana ada repot,..?!"
"Ayo kita jalan.."
"Aku sudah ngantuk mau tidur.."
ucap Wu Ti Siaw Jen seenak perut.
Lalu berjalan duluan meninggalkan tempat itu.
Cu Cu tersenyum tidak enak kearah Guo Yun dan memberi kode miring di keningnya kearah Guo Yun.
Mengingatkan Guo Yun bahwa kedua kakeknya otaknya sedang tidak beres jangan di tanggapi.
Guo Yun mengangguk mengerti, sambil tetap tersenyum hangat kini Guo Yun berjongkok di depan anak kecil yang tangan nya sedang di gandeng oleh cucu.
__ADS_1