
"Si Si, Li Er keras kepala, suka berbuat sesuka hati aku maklum dan tidak heran.."
"Tapi mengapa kamu jadi ikut ikutan dengan nya..?"
Guo Yun menegur Si Si dan menatap nya dengan penuh teguran.
Si Si malah membalasnya dengan senyuman dan berkata dengan serius.
"Biasanya aku memang selalu mengalah dan selalu mencoba mengerti dan menuruti keinginan Yun Ke ke..'
"Tapi untuk sekali ini, aku tidak akan mau mengalah, Yun ke ke yang harus mengerti akan keinginan ku.."
Guo Yun menggelengkan kepalanya, dia terlihat tak berdaya.
Menghadapi keinginan Gongsun Li dan Si Si yang nekad.
"Baiklah,.. bila itu keputusan kalian berdua.."
ucap Guo Yun sambil membentangkan sepasang tangannya kesamping.
Menyambut Si Si dan Gongsun Li masuk kedalam pelukannya.
Attila di sana diam diam menatap haru bercampur kagum atas sikap kedua istri Guo Yun.
Di dalam hati dia berpikir alangkah akan bahagianya dia, bila Camelia juga bisa mencintai nya sama seperti kedua wanita itu mencintai Guo Yun.
Tapi sesaat kemudian sambil tersenyum pahit, Attila langsung membantahnya sendiri.
Sepasang matanya yang sempat bersinar lembut, kini kembali dingin dan tajam.
"Guo Yun dengarlah baik baik, inilah syarat ku.."
"Bila tidak terpenuhi, maka tahun depan dari hari ini, akan menjadi hari peringatan kematian mu.."
"Bila mereka ingin turut, aku juga tidak berkeberatan mengirimnya bersama mu.."
ucap Attila dingin.
Nan Thian tersenyum tenang dan berkata,
"Katakan saja, aku siap mendengarkannya.."
Gongsun Li dan Si Si menatap dengan cemas kearah Attila, menunggu Attila menyampaikan syaratnya.
"Syarat pertama, segera serahkan Luo Yang dan Da Liang ke kami..!"
ucap Attila lantang sambil menatap tajam kearah Guo Yun.
Guo Yun tersenyum, lalu mengangguk kan kepalanya dan berkata,
"Setuju itu cukup adil..!"
Attila mengangguk puas, lalu kembali berkata,
"Syarat kedua, mulai hari ini kamu adalah tawanan Ratu Camelia, kamu harus ikut dengan ku menemui nya..!"
Guo Yun terdiam sejenak, tapi sesat kemudian dia pun mengangguk dan berkata,
"Terserah pada mu, sebagai pihak kalah aku hanya bisa menuruti mu.."
Attila mengangguk puas, lalu kembali berkata,
"Syarat ketiga, apapun permintaannya nanti, maksud ku Ratu Camelia, kamu harus menurutinya..!"
Guo Yun kini terdiam sambil berpikir, sesaat kemudian dia berkata,
"Syarat ketiga mu ini aneh dan tidak masuk akal, aku sulit menerima nya.."
"Kamu pun harus mempertimbangkan nya dengan baik.."
Attila dengan wajah datar berkata,
"Apapun keputusan nya, itu keputusan ku juga ."
"Aku tidak akan pernah meragukan nya.."
"Aku sarankan sulit atau tidak kamu harus menerimanya, atau.."
ucap Attila dengan sikap mengancam.
Pedang Panca Warna yang tadinya sudah di simpan nya, kini kembali muncul di dalam genggaman tangannya.
"Attila, kamu dengarkan aku, syarat ketiga ini sangat konyol, bagaimana bila dia minta yang tidak tidak seperti .."
"Meminta ku menceraikan istri ku, lalu menjadi suaminya, apa kamu juga siap menerimanya..?"
tanya Guo Yun mencoba berkilah dengan permainan kata kata.
Dengan memasukkan kepentingan Attila di dalam nya.
Dia tidak ingin menjadi boneka nya Camelia.
Sebisa mungkin dia ingin menghindari hal itu, karena hubungannya dengan Camelia dari awal hingga akhir, dia menyadarinya tidak ada yang baik.
Tapi Guo Yun harus kecewa, dia tidak paham Attila.
Attila sambil tersenyum mengejek berkata,
"Meskipun itu permintaan nya, aku tetap akan mendukung keputusan nya.."
Guo Yun di buat melengak oleh jawaban Attila yang sangat diluar dugaannya.
Tapi di saat bersamaan otaknya mulai berputar dengan cepat, memikirkan jawaban yang tepat untuk permintaan tersebut.
"Bagaimana keputusan mu..? jangan berbelit-belit, aku tidak ada waktu untuk itu.."
ucap Attila dingin.
Guo Yun yang sudah punya jawaban akhirnya berkata,
"Baiklah aku akan penuhi syarat mu, tapi aku juga punya satu syarat bila tidak terpenuhi.."
"Maka tidak ada yang perlu di bicarakan lagi.."
ucap Guo Yun tegas dan terlihat penuh tekad.
Attila terdiam di buatnya, di dalam hati dia tentu tidak ingin membunuh Guo Yun.
Bukan nyawa Guo Yun yang dia inginkan, dia hanya ingin memenuhi harapan Camelia.
Sejenak kemudian dia akhirnya berkata,
"Baiklah katakanlah, apa kehendak mu..?"
"Syarat ku adalah, aku hanya bisa menuruti dia, satu kali permintaan saja."
ucap Guo Yun tegas.
"Baik aku menyetujuinya, kita sepakati begitu saja.."
"Aku ingin perjanjian tertulis yang mengikat.."
ucap Attila yang tidak mau percaya dengan Guo Yun begitu saja.
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Itu sudah semestinya.."
Guo Yun lalu menoleh keatas benteng dan berkata,
"Han Wei,..! siapkan alat tulis kemari..!"
Han Wei mengangguk cepat, lalu dia pun menghilang dari atas menara.
Sesaat kemudian pintu gerbang Han Gu Kuan mulai terbuka sedikit.
Han Wei seorang diri keluar dari dalam benteng membawa alat tulis, yang di perlukan.
Semuanya dia letakkan di depan pintu gerbang.
Setelah itu dia kembali menghilang kedalam benteng.
Pintu gerbang pun kembali tertutup rapat.
"Li Er tolong bantu aku, bawakan peralatan itu kemari.."
ucap Guo Yun pelan.
Gongsun Li mengangguk kecil, dia segera melesat menuju tepi parit, lalu melayang indah di udara.
Dengan 3 kali salto di udara, Gongsun Li berhasil mendarat ringan di depan pintu gerbang.
Sesaat kemudian Gongsun Li sudah terlihat kembali kesamping Guo Yun.
Gongsun Li menyiapkan sebuah meja kecil lengkap dengan alat tulisnya.
Dia dengan sigap langsung membantu Guo Yun mengasah tinta.
Guo Yun duduk di hadapan meja tersebut memegang Mao Pit di tangan kanannya.
Dia kemudian berkata,
"Kamu bacakan saya tulis, agar tidak salah.."
Attila mengangguk, dia lalu menyebutkan ulang syaratnya, juga syarat Guo Yun dan jawaban Guo Yun atas syarat yang dia ajukan.
Guo Yun menyelesaikan surat perjanjian itu, lalu dia menyerahkan ke Attila untuk di periksa.
Setelah Attila setuju, dia baru membubuhkan cap stempel kekuasaan miliknya di sana.
__ADS_1
Setelah itu, surat tersebut dia berikan kembali ke Attila.
Guo Yun menatap Gongsun Li dan Si Si dengan lembut dan berkata,
"Istriku, aku harus ikut dengan nya, kalian berdua bantu aku tarik mundur kekuatan kita dari Luo Yang dan Da Liang.."
"Han Wei dan Ying Wu beserta seluruh pasukan mereka, tarik kembali ke Guiji.."
"Setelah urusan di sini selesai aku pasti akan kembali ke Guiji.."
Gongsun Li terlihat berat untuk berpisah, begitu pula dengan Si Si.
Mereka berdua menggelengkan kepala dengan pelan, air bening yang menggantung di sepasang mata mereka langsung runtuh.
Guo Yun dengan lembut menggunakan jempolnya membersihkan air bening yang bergulir di pipi kedua istrinya.
"Jangan begini, percayalah pada ku, aku pasti kembali.."
Gongsun Li maju memeluk Guo Yun dengan erat dan berbisik di samping telinga Guo Yun
"Ingat janji mu, aku tidak akan mengampuni mu, bila kamu berani tidak pulang "
Setelah itu dia pun berlari meninggalkan tempat itu, sambil menutupi mulutnya sendiri dengan punggung tangannya.
Agar suara tangisnya tidak sampai terdengar keluar dari mulut nya.
Si Si juga menyusul maju memeluk dan menciumi kedua pipi Guo Yun dengan lembut.
Setelah itu tanpa berkata apa-apa, dia pun berlari menyusul kearah Gongsun Li, sambil membersihkan airmata nya yang mengalir turun tiada henti.
Guo Yun menatap bayangan punggung kedua istrinya, hingga mereka berdua menghilang di balik pintu gerbang Han Gu Kuan.
Sambil menghela nafas panjang, Guo Yun tersenyum canggung kearah Attila dan berkata,
"Begitulah resikonya, bila punya banyak istri.."
"Mudah mudahan kamu jangan meniru jalan ku.."
"Ayo kita jalan.."
ucap Guo Yun sambil menyodorkan kedua tangannya untuk di ikat.
Attila tersenyum menatap Guo Yun dan berkata,
"Aku bukan kamu, kamu bukan aku.."
"Kita tidak sama.."
Attila melirik kearah sepasang tangan Guo Yun, dia menurunkan tangan Guo Yun ke bawah dan berkata,
"Tak perlu, aku percaya padamu.."
Selesai berkata, dia langsung membalikkan badannya dengan langkah gagah dia meninggalkan Han Gu Kuan.
Pasukan Xiongnu yang berbaris rapi di sana, melihat kode dari Attila, mereka langsung bergerak mundur dengan teratur.
Kembali ke Tong Kuan, Guo Yun diam diam menatap kagum dengan kerapian barisan pasukan bar bar itu.
Mereka mundur dengan sangat teratur, sedikitpun tidak ada kekacauan.
Ini hanya membuktikan Attila telah membentuk dan melatih mereka dengan sangat baik.
Guo Yun pernah berhadapan dengan pasukan Xiongnu di bawah pimpinan Chan Yu dan Agahai.
Di bawah Agahai pasukan Xiongnu juga rapi dan teratur.
Tapi bila di bandingkan dengan di bawah pimpinan Attila.
Barisan pasukan Xiongnu di bawah Agahai masih kalah rapi di bandingkan dengan di bawah Attila.
Saat tiba di Tong Kuan, melihat Attila membentuk perkemahan di balik tembok pertahanan Tong Kuan.
Guo Yun semakin kagum dengan ketelitian dan perhitungan Attila dalam mengatur barisannya.
Sebelum memasuki gerbang Tong Kuan Attila berkata,
"Temusa kamu bawa tuan Yun ke bagian tawanan perang, layani dengan baik.."
"Siap Panglima.."
jawab Temusa mantan bawahan Agahai dengan penuh hormat.
Attila menatap kearah Guo Yun dan berkata,
"Sebaiknya kamu tutupi muka mu dulu, sembunyikan identitas mu.."
"Bila waktunya tiba aku akan suruh orang menjemput mu.."
Guo Yun menganggukkan kepalanya.
Dia ikuti saja kemauan Attila, karena saat ini posisinya sepenuhnya adalah tawanan orang.
Guo Yun segera di giring Temusa menuju barisan paling belakang.
Dia di masukkan kedalam sebuah kerangkeng, yang di letakkan di atas kereta, yang di terik oleh dua ekor kuda.
Attila sendiri setelah melewati Tong Kuan dia langsung pergi menemui Camelia yang menunggu di kemahnya.
Saat Attila masuk kedalam kemah, dia melihat Camelia sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya di lengannya sendiri yang di letakkan di atas meja.
Camelia terlihat agak bosan duduk termenung seorang diri di sana.
"Camelia..maaf aku membuat mu menunggu terlalu lama.."
Mendengar suara Attila, Camelia sepasang matanya langsung berbinar penuh semangat.
Sambil tersenyum manis, dia segera menoleh kearah Attila.
Setelah memastikan yang memanggilnya tadi benar adalah Attila tunangannya.
Camelia sambil tersenyum senang, dia langsung berlari menghambur memeluk Attila dengan sangat gembira.
Selama ini mereka tidak pernah berpisah, sejak Attila datang mendampinginya memimpin kerajaan Xiongnu, yang kacau balau tak terkendali, setelah kematian kakak nya Agahai.
Tapi berkat kehadiran Attila, satu persatu suku suku yang memisahkan diri dari kerajaan nya. Lalu membentuk kerajaan kecil kecil, yang ingin berdiri sendiri sendiri, semuanya akhirnya berhasil dipersatukan kembali oleh Attila.
Selama periode itu hingga kini, mereka berdua hampir tak pernah berpisah.
Baru hari ini mereka berdua berpisah cukup lama, di saat inilah Camelia akhirnya menyadari satu hal.
Tanpa kehadiran Attila, dia benar-benar merasa sepi dan hampa hidupnya.
Dia sungguh tidak betah hidup dengan suasana seperti itu.
Dia sangat khawatir dan cemas, bila Attila benar benar tidak kembali.
Seperti yang di alami oleh ayah dan kakaknya juga neneknya, mereka semua pergi meninggalkan dirinya.
Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menjalani hidupnya nanti.
Dia akan menjadi perahu yang kehilangan arah, anak kecil yang ditinggal oleh orang tuanya di keramaian.
Membayangkan hal itu Camelia sungguh takut dan cemas.
Hingga dia memilih sebisa mungkin tidak memikirkan nya.
Makanya tadi untuk mengisi kebosanan nya, dia mengisi cawan hingga penuh, lalu memindahkan nya ke cawan lain yang kosong secara berulang-ulang.
Dia juga menyusun cawan tinggi tinggi keatas, lalu mengisinya hingga penuh.
Pada akhirnya dia bosan juga, dia akhirnya membaringkan kepalanya diatas meja bersandaran pada lengannya sendiri.
"Attila kamu akhirnya kembali juga.."
"Berjanjilah, jangan pernah tinggalkan aku lagi.."
"Aku benar benar bisa gila, di buatnya.."
"Aku takut, aku sangat takut, kamu mengerti kan maksud ku.."
Attila tersenyum bahagia balas memeluk Camilla dan berkata,
"Aku berjanji tidak akan membiarkan mu kesepian lagi.."
"Bagaimana pertarungan mu,? apa kamu baik baik saja ? kamu tidak terluka kan..?"
tanya Camelia sambil melepaskan pelukannya, lalu dia memeriksa sekujur tubuh Attila.
Camelia memutar Attila bolak balik di hadapan nya.
Untuk memastikan Attila dalam keadaan baik baik saja.
Attila sambil menahan senyum bahagia berkata,
"Camelia aku baik baik saja, kamu boleh tenang.."
"Dia bukan lawan ku, kini Luo Yang dan Da Liang juga sedang di kosongkan."
"Mungkin beberapa hari lagi kita bisa minta Ying Zheng, menyerahkan wilayah He Bei, Shanxi, Dai, agar di kembalikan ke kita.."
Camelia mengangguk kecil dalam pelukan Attila.
"Bagaimana dengan dia, ? apa kamu berhasil membunuhnya..?"
tanya Camelia sambil lalu.
Mendengar pertanyaan itu, senyum bahagia di wajah Attila, seketika hilang.
Kini senyumnya terlihat menyedihkan, hanya saja Camelia tidak menyadarinya.
__ADS_1
Karena dia sedang membaringkan wajahnya menyamping di dada Attila.
Attila tidak bisa melihat ekspresi wajah Camelia, saat bertanya, tapi dia bisa merasakan nya.
Sebaliknya Camelia yang juga tidak bisa melihat ekspresi wajah Attila.
Dia tidak menyadari sama sekali, perubahan yang terjadi pada Attila.
"Sesuai harapan mu, aku sudah menyelesaikan nya.."
ucap Attila sejujurnya.
Mendengar ucapan Attila, Camelia yang mengira Attila telah menghabisi Guo Yun.
Tidak tahu kenapa hatinya tidak merasa gembira, sebaliknya dia malah merasa hatinya sedikit sakit dan perih.
Tanpa di sadari, dari sepasang matanya yang terpejam, di sudut mata kanannya, mengalir turun setitik air bening.
Camelia dengan gerakan pura pura merapikan rambutnya, dia langsung menghapus air bening disudut matanya itu.
Sebagai pengalihan Camelia kemudian menarik tangan Attila menuju meja, yang di penuhi masakan yang dia siapkan khusus buat Attila.
"Attila aku sudah siapkan makanan kesukaan mu, ayo kita makan.."
"Kamu pasti sudah lapar kan,? soalnya kamu dari pagi belum makan sama sekali, hingga sekarang .."
ucap Camelia penuh perhatian.
Sambil menarik Attila duduk di hadapan meja yang penuh masakan kesukaan Attila.
Camelia dengan gerakan gesit menyiapkan makanan kesukaan Attila, lalu mengisi nya ke piring di hadapan Attila.
Dia bahkan dengan lembut dan mesra menyuapi Attila dan dirinya sendiri secara bergantian.
Melihat kegembiraan dan kemesraan serta perhatian yang di tunjukkan oleh Camelia
Attila perlahan-lahan mulai melupakan perasaan kecewanya tadi.
Dia terlihat cukup menikmati kebersamaan tersebut dengan sangat bahagia.
Selesai makan Camelia pun berkata,
"Attila kamu pergilah bersihkan diri, aku akan membereskan ini.."
"Nanti aku ingin kamu menemani ku ke kota An Yi, aku ingin jalan jalan ke kota itu.."
"Sebelum kita pulang ke Long Cheng.."
Attila mengangguk patuh sambil tersenyum lembut, dia langsung meninggalkan kemah pergi membersikan diri ke sungai kecil yang tidak jauh di belakang perkemahan mereka.
Setelah Attila pergi, sambil membereskan piring kotor bekas makan mereka berdua.
Camelia terlihat termenung dan bergumam sendiri,
"Camelia sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan."
"Seharusnya kamu bergembira, Attila telah membantu mu, membunuh bajingan yang sudah membunuh Ayah mu Paman mu dan Kakak mu itu.."
"Mengapa kamu malah bersedih untuk nya..?"
"Bajingan itu sudah menghina dan melecehkan harga diri mu, buat apa kamu terus mengenangnya..?"
"Kamu hanya mempersulit diri mu sendiri.."
"Tiada gunanya kamu bersedih dan memikirkan nya, toh si mata keranjang itu, dia tidak pernah memperdulikan perasaan dan Nat hidup mu.."
"Dasar bodoh, hanya Attila, hanya dia yang benar benar tulus menyayangi mencintai dan perduli dengan mu..'
"Kamu seharusnya bersyukur, jangan mengacaukan nya lagi.."
"Atau kamu nantinya akan benar benar menyesal.."
gumam Camelia mengomeli dirinya sendiri lewat pantulan wajahnya, yang terlihat jelas di piring.
Sesaat kemudian, Camelia juga terlihat meninggalkan kemah, dengan membawa setumpuk piring kotor.
Setelah menyerahkan tumpukan piring kotor ke pengawal jaga, Camelia baru kembali ke kemahnya sendiri, untuk berganti dan berias diri.
Setelah cukup puas dengan hasil riasannya sendiri di cermin.
Camelia pun kembali ke kemah Attila.
Sesaat kemudian mereka berdua sambil bergandengan tangan mesra berjalan menuju kota An Yi.
Saat mereka tiba di sana, secara kebetulan di kota An Yi sedang ada perayaan festival kue bulan.
Di sepanjang jalan banyak terlihat hiasan lampu lampion, dengan cahaya berwarna warni bersinar menerangi kota An Yi di malam hari.
Di bawah penerangan yang terang benderang, di dukung oleh lampu lampion dan bulan purnama yang bersinar dengan cemerlang di angkasa yang gelap.
Di sepanjang jalan terlihat banyak pedagang yang berjualan berbagai macam barang.
Hampir semua barang dan makanan lengkap di jual di kanan kiri jalan, seperti ada pasar malam.
Tapi dari sekian banyak pedagang pedagang lampu lampion dan pedagang yang menjual kue bulan, camilan anak dan mainan anak lah yang paling mendominasi.
Jalanan terlihat sangat ramai, sebagian besar di dominasi oleh pemuda pemudi, ada yang berpasangan, ada yang bergerombol ramai ramai, pria dan wanita,.masing masing membentuk kelompok-kelompok kecil.
Di samping itu juga ada pasangan suami istri yang membawa anak anak mereka jalan jalan.
Banyak anak kecil yang terlihat berlari kesana kemari sambil tertawa gembira.
Mereka semua terlihat sangat menikmati suasana meriah di malam festival kue bulan.
Di antara keramaian tersebut Attila dan Camelia juga ikut berbaur di sana, ikut menikmati suasana meriah festival kue bulan di kota An Yi.
Camelia terlihat sangat gembira, dengan antusias dia terus menarik tangan Attila, agar mengikutinya melihat ke sana kemari.
Attila hanya mengikuti arah tarikan tangan dari Camelia sambil tersenyum.
Melihat kegembiraan dan keceriaan Camelia, Attila pun turut merasa gembira dan bahagia.
Dengan sabar Attila menemani Camelia mencoba pernak pernik hiasan rambut dan lain sebagainya.
Lalu berpindah ke pedagang yang menjual bedak gincu dan pewangi, terkadang dengan nakal nya.
Camelia menjadikan Attila sebagai kelinci percobaan nya, sambil tertawa-tawa.
Attila hanya menanggapinya dengan senyum sabar
Mereka juga mampir membeli kue bulan, kemudian mengikuti trend yang sedang berlangsung.
Mereka menghampiri pedagang lampion.
Melihat banyak pemuda pemudi setelah membeli lampion, mereka terlihat sibuk menuliskan sesuatu di secarik kertas kecil.
Lalu sebelum lampion mereka terbangkan keatas, kertas yang mereka tulis itu, mereka rekatkan di seutas benang di bagian bawah lampion.
Melihat apa yang mereka lakukan, dengan penasaran, Camelia bertanya kepada penjual lampu lampion di hadapan nya.
"Paman boleh aku tanya sedikit .?"
tanya Camelia sambil tersenyum manis.
Melihat penampilan Camelia dan Attila yang terlihat agak lain.
Penjual itu dengan senang hati melayaninya.
"Ya nona, silahkan tanya saja, gak pa pa.."
jawab pedagang lampion itu dengan senyum ramah.
"Paman apa yang sedang mereka tulis, dan lakukan pada lampion lampion mereka itu.?"
tanya Camelia penasaran.
"Ohh itu, mereka sedang menulis keinginan dan harapan pribadi mereka masing masing di sana.."
ucap Pedagang itu menerangkan dengan sabar.
"Lalu untuk apa kertas kecil itu, mereka rekatkan di benang halus di bawah lampion itu..?"
tanya Camelia kembali.
"Begini Nona, menurut tradisi dan cerita turun temurun dari nenek moyang kami."
"Konon katanya, di saat pesta perayaan festival di bulan purnama ini.."
"Semua Dewa Dewi juga Thian mereka sedang bersantai berpesta dan berkumpul di atas langit sana.."
"Dengan lampion lampion ini, semua keinginan orang orang itu akan terbawa ke atas.."
"Bagi yang beruntung lampion mereka akan sampai ke langit, keinginan mereka akan terbaca oleh Thian dan para Dewa Dewi diatas sana."
"Bagi yang keinginan nya terbaca oleh Dewa Dewi dan Thian, tentu keinginan mereka akan di bantu di kabulkan oleh Thian.."
"Begitulah ceritanya nona.."
ucap penjual lampion itu menjelaskan dengan sabar.
Camelia terlihat sangat antusias dan bersemangat, dia sepertinya sangat percaya dengan cerita dari penjual itu.
Dia lalu menatap kearah Attila dengan tatapan mata penuh harap, agar Attila mau mengabulkan permintaan nya.
Attila tentu saja tidak percaya dengan cerita pedagang itu, dia lebih percaya pada perjuangan dan takdir.
Bila menginginkan sesuatu tentu harus lewat perjuangan dan pengorbanan, tidak bisa dengan cara meminta dan memohon.
Tapi terhadap keinginan Camelia, Attila tentu saja, tidak mungkin menolak dan membuat gadis itu kecewa.
__ADS_1