
"Ka,..kakak me.. mengapa kakak tidak biarkan sa..saya bicara.."
ucap Li Ba masih kurang puas.
Saat dia dan Guo Yun kembali ke pondok tempat tinggal mereka.
Guo Yun menoleh kearah Li Ba dan berkata,
"Adik Ba, kita di sini posisinya adalah junior, kurangi keributan, perbanyak belajar ilmu, itu adalah paling tepat.."
"Bila tidak terpaksa, jangan pernah membuat gaduh.."
"Bila terpaksa ribut, berarti kita sudah siap pergi dari sini.."
"Apa kamu lupa pesan guru Mo Zi saat kita masuk kemari,?"
"Dia sudah katakan dari awal, segala sesuatunya kita harus dengarkan pendapat senior."
"Kita harus menurut, dan tidak boleh membantah pada senior.."
"Jadi sudahlah, masalah Ching Ke serahkan saya kakak Li yang mengurusnya, tak perlu kita ikut campur."
"Baik kakak Yun.."
ucap Li Ba yang bisa merasakan kebenaran ucapan Guo Yun.
"Kamu pasti lelah, berbaring dan tidurlah, sore nanti kita baru mulai kerja.."
ucap Guo Yun mengingatkan.
Li Ba mengangguk, anak itu begitu berbaring langsung pulas, hingga terdengar dengkuran memenuhi seluruh ruangan.
Guo Yun juga ikut berbaring santai berbantalkan kedua telapak tangannya menyangga kepalanya sendiri.
Menjelang sore, Guo Yun pun membangunkan Li Ba, untuk pergi menyelesaikan pekerjaan mereka.
Setelah menyelesaikan pekerjaan nya, saat lewat di depan pondok Gongsun Li, Guo Yun melirik kearah pondok itu yang terlihat sepi.
Ingin rasanya Guo Yun pergi mencari Gongsun Li, untuk sekedar ngobrol.atau melihatnya.
Tapi semua itu cuma angan angan, Guo Yun tidak mau mempersulit Gongsun Li di mata Ching Ke.
Jadi dia pun hanya lewat saja, tidak berani pergi mencarinya.
Hingga keesokan paginya, saat mengikuti beberapa kelas pelajaran, Guo Yun tetap tidak berhasil bertemu Gongsun Li.
Guo Yun pun mulai bertanya-tanya di dalam hati dengan heran.
Setelah kelas selesai, Guo Yun mencoba pergi menyusul keperpustakaan,
Biasanya Gongsun Li selalu ada di sana, karena dia adalah kepala pengurus di sana.
__ADS_1
Tapi Guo Yun kembali harus kecewa, di sana dia juga tetap tidak berhasil menemukan Gongsun Li.
Untuk mengisi waktu, agar dirinya bisa sekedar melupakan gadis itu sejenak, dia mencoba fokus dengan buku buku tekhnologi militer, yang di bacanya.
Tanpa terasa hari pun sudah malam, tapi Guo Yun yang terlanjur penasaran dengan buku buku yang di bacanya.
Dia menyalakan lampu minyak kecil, sebagai teman satu satunya, yang selalu setia menemani, dia membaca buku buku yang diminatinya.
Menjelang tengah malam, Guo Yun yang secara tidak sengaja mendengar suara di bagian pojok gelap ruang perpustakaan.
Dia menjadi heran, Guo Yun menutup buku yang sedang di bacanya.
Lalu dia berdiri dari duduknya, membawa lampu minyak kecil ditangan, berjalan mencari asal suara.
Awalnya Guo Yun mengira itu mungkin bunyi suara tikus, tapi saat semakin mendekat, suara itu semakin jelas, dan ada desah nafas dan suara Isak tertahan.
Guo Yun pun yakin itu bukan lagi tikus, bulu kuduknya sedikit berdiri.
Dia jadi teringat akan cerita hantu seram, yang pernah di ceritakan oleh beberapa teman kelas belajarnya, saat jam istirahat.
Tapi sambil mengeraskan hati, Guo Yun akhirnya muncul di rak paling sudut, sambil mengangkat lampu minyak nya tinggi tinggi.
Agar dia bisa melihat dengan jelas, apa sebenarnya yang sedang terjadi di sana.
Saat penerangan lampu minyak menerangi tempat itu, Guo Yun terbelalak menatap apa yang ada di hadapannya.
Dia benar benar tidak menyangka, akan melihat yang sedang terjadi di hadapannya.
"Kakak Li apa yang terjadi ?
"Mengapa kakak menangis disini sendirian ?"
tanya Guo Yun heran, sambil melangkah maju mendekati Gongsun Li.
Gongsun Li yang tidak menyangka bisa bertemu Guo Yun di sini, dia menatap Guo Yun dengan perasaan campur aduk.
Ada rasa malu, takut, menyesal sedih, bercampur aduk, di dalam hatinya.
Dia sudah berusaha menghindar dari Guo Yun, mengapa mereka justru harus bertemu di sini.
Bila hal ini di lihat orang, bukankah akan muncul gosip baru yang akan semakin merusak hubungan nya dengan Ching ke.
Tapi kini mau menghindar pun dia tidak bisa.
Gongsun Li tidak tahu mau jawab apa, berbohong dia bukan ahlinya, jujur dia sulit mengatakan nya.
Dengan perasaan serba salah, dia hanya bisa mengigit bibir dan menggelengkan kepalanya.
Melihat sikap Gongsun Li yang serba salah, Guo Yun merasa kasihan.
Dia memilih duduk di hadapan Gongsun Li dan berkata,
__ADS_1
"Kakak Li,.. bila ada kesulitan katakan saja, Yun er siap menjadi pendengarnya.."
"Kakak jangan khawatir, ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua saja.."
Gongsun Li meragu sejenak, kemudian dia berkata pelan,
"Adik Yun kakak tidak apa-apa,, kakak hanya sedang ingin menyendiri saja."
"Kamu mau kan tinggalkan kakak sendiri, kakak sedang tidak ingin bicara dan di ganggu oleh siapapun."
Ada banyak pertanyaan melintas di pikiran Guo Yun, tapi demi tidak membuat Gongsun Li semakin sedih dan gelisah.
Dia akhirnya memilih mengalah dan berkata,
"Baiklah bila itu mau kakak, Guo Yun tidak akan menganggu kakak.."
"Silahkan di teruskan, bila kakak butuh Guo Yun, Guo Yun ada di depan sana.."
ucap Guo Yun kemudian sambil menghela nafas.
Dia berjalan meninggalkan tempat itu memberi waktu untuk Gongsun Li menenangkan diri, Guo Yun tidak ingin menganggunya
Saat hari semakin larut, Guo Yun yang tidak mendengar ada suara pergerakan lagi.
Dia dengan hati-hati mencoba kembali mendatangi pojok ruangan, untuk memastikan Gongsun Li baik baik saja.
Melihat gadis itu sudah tertidur meringkuk di sana.
Guo Yun merasa kasihan dan tidak tega melihatnya.
Guo Yun melepaskan pakaian lapis luarnya, untuk membantu menyelimuti Gongsun Li, yang terlihat sedang tidur meringkuk kedinginan.
Gongsun Li hanya bergumam kecil saat di selimuti, dia menarik dan mengeratkan baju luar Guo Yun yang menyelimutinya.
Guo Yun yang melihat hal ini, hanya bisa tersenyum dan menatapnya dengan tatapan mata kasihan.
Tanpa sengaja Guo Yun melihat, ada pecahan benda hijau kecil kecil, yang berserakan di samping Gongsun Li.
Guo Yun yang hampir berdiri menjadi tidak jadi.
Dia kembali berlutut di samping Gongsun Li, untuk melihat lebih dekat benda apa itu.
Sesaat kemudian Gio Yun mulai membantu merekatkan kembali sepuhan kecil kecil itu satu persatu hingga kembali ke posisi semula.
Benda itu setelah direkatkan kembali oleh Guo Yun, menggunakan cairan khusus ciptaannya.
Ternyata adalah sebuah liontin batu giok hijau, berbentuk bulat dengan bagian tengah berlubang.
Batu giok hijau itu cukup lucu dan cantik, setelah melihatnya sejenak, Guo Yun sambil tersenyum puas meletakkan kembali batu giok itu di samping Gongsun Li.
Lalu dengan langkah pelan Guo Yun meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1