
Di tengah arena pertarungan sendiri terlihat Li Ba dan Sian Sian bergerak bahu membahu menghabisi satu persatu orang yang mengepungnya dengan senjata pedang panjang di tangan.
Sedangkan empat orang bertopeng yang berdiri di depan seorang pria berwajah persegi dengan godek di pipi kiri kanannya.
Mereka berlima berdiri di luar barisan yang mengepung Li Ba dan Sian Sian, mereka berdiri diam terus mengamati arena pertarungan dengan tatapan mata tajam.
Li Ba dan Sian Sian tanpa mengenal lelah terus membantai pengeroyok mereka.
Setiap pengepung yang terkena pukulan ataupun beradu pukulan dengan Li Ba.
Mereka akan langsung terpental dengan Tubun gosong.
Sedangkan yang berhadapan dengan Sian Sian, tubuh mereka yang tersentuh oleh tapak dan cakar Sian Sian, akan langsung remuk.
Mereka akan tergeletak di atas tanah merintih rintih,tidak sanggup bangun kembali.
Pengepung itu jelas kalah kelas, melawan Sian Sian dan Li Ba, tapi karena mereka sangat banyak.
Mereka juga memilki pedang unik yang panjang dan sangat kuat.
Hal ini jadi sedikit merepotkan, Sian Sian harus bertarung dengan sedikit berhati hati, agar tidak sampai di lukai oleh pengepungnya.
Untungnya dia selalu di awasi oleh Li Ba yang memilki perisai Genta Emas.
Sehingga lawan lawan nya itu sulit menembus pertahanan mereka berdua.
"Sayang berhati hatilah, pedang mereka sepertinya mengandung racun mematikan.."
ucap Li Ba mengingatkan.
Sian Sian mengangguk, menyetujui pendapat suaminya, dia juga bisa mencium bau amis dari pedang yang berseliweran menyerangnya.
Selain itu pedang yang tajam harusnya putih berkilauan, sedangkan pedang para pengepungnya ini.
Justru terlihat sedikit berwarna hijau berkilauan.
Untuk meyakinkan Sian Sian, Li Ba sengaja menangkap sebilah pedang yang menyerang nya.
"Tab..!"
"Sraaat...!"
Lalu dia arahkan untuk menggores bahu pengepungnya yang lain.
"Arggghhh...!"
"Brukkkk..!"
Alhasil pengepungnya itu langsung menjerit ngeri, terjatuh berkelenjotan diatas tanah lalu diam tidak bergerak lagi.
Li Ba dan Sian Sian saling pandang, keduanya mengangguk, kini mereka tidak mau mengambil resiko lagi.
Mereka melancarkan serangan jarak jauh kearah pengepungnya.
"Wuutttt..!" "Wuutttt..!" "Wuutttt..!"
"Blaaarrr..! "Blaaarrr..! "Blaaarrr..!"
"Brukkkk..! Brukkkk..! Brukkkk..!"
Kini para pengepung terlihat terpental kesana kemari terkena sambaran tapak darah dan tapak petir 9 langit yang di lepaskan oleh Sian Sian dan Li Ba.
Begitu Li Ba dan Sian Sian memainkan pukulan jarak jauh, keadaan kepungan mulai terlihat kacau.
Para pengepung terlihat berteriak teriak panik dalam bahasa mereka yang tidak di mengerti oleh Li Ba.
Tapi Sian Sian mengerti, karena itu adalah bahasa lokal penduduk kepulauan timur laut.
Melihat keadaan anak buahnya, salah satu manusia bertopeng memberi perintah dalam bahasa mereka.
__ADS_1
Kini para pengepung mulai menyerang balik dengan senjata rahasia mereka yang mirip dengan senjata buatan Si Si.
Hanya bentuknya yang sedikit berbeda, karena senjata mereka ujungnya bisa di pasangi belati kecil.
Jadi di samping bisa melepaskan tembakan kuat, mereka juga bisa menyerang lawan layaknya senjata tombak pendek.
"Doorrrr,..!" Doorrrr,..!" Doorrrr,..!"
"Doorrrr,..!" Doorrrr,..!" Doorrrr,..!"
"Doorrrr,..!" Doorrrr,..!" Doorrrr,..!"
"Doorrrr,..!" Doorrrr,..!" Doorrrr,..!"
Suara letusan senjata rahasia bergema memenuhi tempat itu.
Selain melepaskan tembakan, mereka juga menghujani Li Ba dan Sian Sian dengan hujan senjata berbentuk bintang.
"Singggg..!" Singggg..!" Singggg..!"
"Singggg..!" Singggg..!" Singggg..!"
"Singggg..!" Singggg..!" Singggg..!"
Trangggg,..! Trangggg..!"
Trangggg,..! Trangggg..!"
Trangggg,..! Trangggg..!"
Trangggg,..! Trangggg..!"
Tapi semua hujan senjata itu terhenti saat membentur perisai lonceng emas Li Ba.
Semua senjata berguguran di luar cahaya perisai keemasan yang melindungi tubuh Sian Sian dan Li Ba.
Sian Sian dari balik perisai tidak berhenti melepaskan pukulan tapak darah.
"Wuttt..! Wuttt..! Wuttt..! Wuttt..!"
"Wuttt..! Wuttt..! Wuttt..! Wuttt..!"
"Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..!'
Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..!'
Melihat keadaan pasukannya yang tidak berdaya, melawan Li Ba dan Sian Sian.
Pria ber godek berwajah persegi bermata sipit, yang bukan lain adalah Musashi, musuh besar Li Ba dan Sian Sian.
Dia memberi kode agar keempat orang bertopeng maju membantu pasukan pengepung mereka.
Keempat orang itu mengangguk cepat, mereka segera mencabut sepasang pedang panjang pendek dengan satu sisi mata pedang..
Langsung bergerak ikut maju menerjang kearah Sian Sian dan Li Ba dengan tebasan sepasang pedang mereka yang menimbulkan suara bercuitan.
"Cuittt,..! Cuittt,..! Cuittt,..! Cuittt,..!"
Cuittt,..! Cuittt,..! Cuittt,..! Cuittt,..!"
Cuittt,..! Cuittt,..! Cuittt,..! Cuittt,..!"
Energi pedang berseliweran menerjang ke arah perisai pelindung Li Ba.
"Trangggg..!" Trangggg..!"
"Trangggg..!" Trangggg..!"
"Trangggg..!" Trangggg..!"
__ADS_1
"Trangggg..!" Trangggg..!"
Perisai pelindung Li Ba tergetar hebat dan mulai terdorong mundur.
Oleh serangan cepat keempat orang itu, mereka juga menebas hancur bayangan tapak darah Sian Sian dengan energi pedang mereka.
"Booommm..! Booommm..!"
Booommm..! Booommm..!"
Terjadi Ledakan dahsyat yang membuat tubuh keempat orang itu langsung terlempar kebelakang, hingga bergulingan di atas tanah.
Saat mereka menerima serangan sepasang telapak tangan yang bisa memanjang dan memendek.
Di tengah arena pertarungan kini terlihat Guo Yun Li Kui dan sepasang kakek aneh muncul di sana.
Begitu muncul Cui Ming Koai Jen pun berkata dengan suaranya yang seperti datang dari kuburan.
"Yang sayang nyawa segera tinggalkan pulau ini.!"
"Selamanya jangan pernah berani muncul mendekati wilayah sekitar sini..!"
Mendengar suara Cui Ming Koai Jen yang bisa berbicara dalam bahasa mereka.
Dengan nada yang begitu mengerikan, anak buah bajak laut timur itu mulai kalut dan ketakutan sendiri.
Mereka sudah menyaksikan kehebatan Sian Sian dan Li Ba, tadi pun begitu muncul pemuda berwajah polos, yang sepasang tangannya secara aneh bisa memanjang.
Sekali gebrak, sudah berhasil membuat keempat ketua cabang mereka terpelanting hingga berguling guling.
Ini hanya menunjukkan bala bantuan yang datang ini rata rata memiliki kemampuan tinggi.
Mental mereka langsung jatuh, mereka semua mulai bersiap siap ingin mundur melarikan diri.
Tapi kemunculan seorang yang berpakaian jubah luar merah dalaman putih, mengenakan cadar penutup wajah.
Hingga sulit di kenali apa dia seorang wanita atau pria.
Membuat semangat pasukan bajak laut timur itu kembali bangkit.
Mereka dengan penuh percaya diri kembali melanjutkan pengepungan.
Li Ba dan Sian Sian berteriak gembira,
"kakak pertama, adik ketiga kalian semua telah datang..?"
"Terimakasih banyak.."
ucap Li Ba bersemangat.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Mau pergi juga tidak pamit, untung kami tiba cepat.."
"Terlambat sedikit kacau lah sumpah kami untuk mati bersama.."
Li Ba tersenyum canggung, tidak bisa menjawab.
"Ta Puo jangan salahkan Ba Ke ke, dia hanya ingin melindungi ku.."
"Dia juga tidak mau kakak ikut repot karena masalah kami.."
ucap Sian Sian cepat.
"Masalah kalian ada masalah ku, kalian berdua yang satu adalah adik angkat ku, yang satu adalah adik seperguruan ku.."
"Kalian dalam masalah bagaimana aku bisa diam berpangku tangan..?"
ucap Guo Yun menegur sambil menahan senyum.
__ADS_1