
Guo Yun dan ketiga anaknya akhirnya tiba di depan kuil Dewi Kwan Im, yang sebelumnya di sebutkan oleh dayang istana.
Guo Yun segera mengajak ketiga anaknya, memasuki kuil tersebut.
Saat tiba di halaman bagian dalam kuil, Guo Yun melihat bangunan kuil, yang terletak di bagian puncak. Deretan undakan anak tangga, yang cukup tinggi.
Suasana diatas sana, terlihat agak sepi dan lenggang pengunjungnya.
"Yun Er kamu temani kedua adik m,u bermain main di sekitar halaman sini."
"Bila mereka ingin bermain ke taman patung batu di halaman samping sana , kamu tolong awasi mereka, jangan sampai terjatuh kedalam kolam.."
"Kamu bisa kan ? ayah mau menyusul ibu mu kedalam kuil sana.."
Ucap Guo Yun sambil menatap Meng Yun.
Untuk memastikan kesanggupan Meng Yun mengawasi kedua adiknya.
"Jangan khawatir ayah, Meng Yun bisa.."
Jawab Meng Yun yakin, karena dia memang sudah biasa membantu ibunya, mengurus dan mengawasi kedua adiknya itu.
Lagipula bila sedang bersama nya, kedua adiknya itu jarang nakal.
Mereka baru berani nakal bila ada Ibu Si Si hadir di dekat mereka.
Melihat Meng Yun begitu percaya diri, Guo Yun menjadi lebih yakin untuk melepaskan Guo Feng dan Guo Ling untuk di awasi sebentar oleh Meng Yun.
Guo Yun sebenarnya juga agak terpaksa mengambil keputusan ini.
Dia ingin masuk kedalam kuil yang suci dan tenang itu, dia tidak enak hati bila masuk ketempat tenang itu, sambil membawa kedua puta putrinya, yang masih kecil dan sedang nakal nakalnya itu.
Bila mereka berbuat berisik di sana, atau malah menjatuhkan barang, atau menimbulkan masalah.
Dia tentu akan semakin merasa tidak enak hati dengan pengurus dan pengunjung kuil yang lainnya.
Karena berbagai faktor itu, Guo Yun hanya bisa menitipkan kedua anak itu, untuk sementara waktu di awasi oleh Meng Yun.
Setelah mendapatkan jawaban yang meyakinkan dari Meng Yun.
Guo Yun seorang diri segera bergegas menaiki undakan anak tangga, menuju bangunan kuil yang terletak di atas sana.
Tapi setelah memasuki kuil, di mana di dalam ruangan tempat sembahyang tersebut, hanya terlihat ada beberapa pengunjung saja sedang sembahyang.
Dia tidak melihat Min Min hadir diantara pengunjung yang sedang sembahyang disana.
Guo Yun menjadi heran dan penasaran.
Guo Yun segera masuk kedalam kuil, untuk melihat lebih teliti.
Setelah masuk kedalam, Guo Yun menemukan kuil itu ada pintu samping, yang bisa di gunakan untuk menembus keruangan lainnya.
Guo Yun mencoba mencari ke ruangan lain, dengan melewati pintu samping, yang terletak di dalam ruangan sembahyang.
__ADS_1
Pintu samping itu membawa Guo Yun melewati sebuah koridor panjang, yang di kelilingi oleh kolam ikan, bercampur dengan tumbuhan bunga teratai.
Setelah melewati koridor panjang itu, Guo Yun tiba di sebuah ruangan sembahyang lainnya, yang berisi patung Buddha dan beberapa Budhisatva lainnya.
Ruangan ini hanya terlihat ada beberapa pengurus sedang duduk bersila membaca Parita.
Lagi lagi tidak menemukan istrinya, Guo Yun kembali mencoba keluar lewat pintu samping lain nya
Setelah melewati pintu samping bangunan kuil kedua ini, Guo Yun muncul di taman patung batu yang di kelilingi oleh taman bunga, dan pepohonan bunga Bwee berwarna merah jambu yang indah dan asri.
Di sini Guo Yun menangkap ada suara pria dan wanita sedang berbicara mesra.
Guo Yun mengenali suara itu adalah suara istrinya, jadi dengan langkah seringan mungkin.
Guo Yun menghampiri tempat asal suara itu.
Dari balik sebuah patung yang sedikit tertutup rerimbunan pohon.
Guo Yun mencoba untuk memastikan siapa yang sebenarnya sedang berbicara mesra di tempat sepi itu.
Begitu melihat pemandangan di hadapannya, Guo Yun berdiri diam mematung di sana.
Dari bayangan punggung pasangan yang sedang membelakanginya itu.
Guo Yun yakin sang wanita, yang sedang bersandar mesra dalam pelukan pria bertubuh tinggi jangkung itu.
Jelas adalah Min Min istrinya, suaranya, bentuk tubuhnya Guo Yun yakin itu adalah Min Min tidak akan salah lagi.
Tapi supaya lebih jelas, Guo Yun mencabut selembar daun yang tumbuh di dekatnya.
"Sreeettt..!"
"Aduh..!"
Pria itu menjerit kecil dan otomatis dia memegangi daun telinganya yang tergores daun.
Pria itupun menoleh kearah belakang untuk mencari tahu siapa yang mengusik nya.
"Siapa !?"
Tegurnya kesal.
Otomatis tindakan pria itu, membuat wanita yang berada di pelukannya ikut menoleh kebelakang.
"Ada apa Ling Lung Ce..?"
Tanya wanita yang bersama nya heran.
Pemuda itu menatap kearah wanita didalam pelukannya dan berkata,
"Tidak apa apa, mungkin hanya semut nakal yang mengigit daun telinga ku tadi.."
Wanita itu mengedarkan pandangan matanya sebentar kearah rerimbunan pohon dengan tatapan mata curiga.
__ADS_1
Sesaat kemudian dia kembali membalikkan badannya, menghadap kearah pemuda itu dan berkata,
"Ling Kung Ce, aku meninggalkan rumah sudah cukup lama.."
"Aku sudah harus kembali."
Ucap wanita itu sambil tersenyum manis menatap pemuda yang dia panggil Ling Kung Ce itu.
"Aduh sayang, aku masih belum puas melepas rindu ku, kamu sudah mau pergi.."
"Tidak bisakah kamu tahan sebentar lagi demi aku.."
"Sayang,.. tidak kah kamu kasihan dengan ku, yang setiap hari seperti orang gila merindukan kehadiran mu di sisi ku..?"
Ucap pemuda itu dengan mimik wajah sedih bercampur kecewa.
"Tidak bisa Ling Kung Ce, kamu juga bukannya tidak tahu akan status ku.."
"Bukannya dari awal aku juga sudah jelaskan pada mu posisi ku.."
"Jadi ku mohon mengertilah, saat ini aku benar benar harus pulang dulu."
"Besok saja, kita kembali bertemu dan ngobrol lagi."
"Tapi sayang,.. aku benar benar tidak rela melepaskan mu kembali ke sisi nya.."
"Aku ingin kamu sepenuhnya hanya milik ku seorang.."
Ucap Ling Kung Ce, sambil mengeratkan pelukannya di pinggang wanita itu yang langsing.
Wanita itu menghela nafas panjang, dia tidak mencoba melepaskan diri atau menolak pelukan erat pemuda itu.
Dia malah Menggunakan kedua telapak tangannya, dengan lembut memegangi wajah pemuda itu.
Sambil tersenyum lembut, dia berkata,
"Ling Kung Ce, aku tahu yang kamu rasakan, percayalah aku pun merasakan hal yang sama.."
"Tapi dalam hal ini kita mesti sabar, tidak boleh gegabah.."
"Membuatnya marah, bahkan dewa sekalipun tidak akan bisa menyelamatkan nyawa mu.."
"Aku bukan takut dengan nya, aku melakukan semua ini, semata mata hanya tidak ingin kamu celaka.."
"Semua ini demi keselamatan mu, demi masa depan perasaan cinta kita.."
Ucap wanita itu sambil menatap sepasang mata pemuda itu dengan serius.
"Siapa sih sebenarnya dia, mengapa kamu selalu ketakutan setiap membahasnya..?"
"Aku jadi makin penasaran saja.."
"Masa aku Ling Tai, putra nya Jendral senior Ling Tong, adik kandung nya Jendral Ling Wu harus takut dengan nya..?"
__ADS_1
Ucap Ling Kung Ce sedikit emosi.