LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
ISTANA QIN


__ADS_3

Gongsun Li setelah tertidur hampir satu minggu di dalam kereta.


Kini akhirnya dia kembali sadar dari tidur panjangnya.


Satu persatu ingatan semua kejadian peristiwa, kembali muncul di depan mata nya.


Dia sungguh berharap, satu tapak petir Li Ba, bisa langsung mengakhiri hidupnya.


Sehingga dia tidak perlu mengingat semua rangkaian peristiwa, yang sangat menyakiti perasaannya.


Rasa sakit yang sebelumnya sempat hilang, akhirnya kembali muncul.


Dia merasa hatinya yang terluka kemarin, lukanya baru mulai mengering, kini luka tersebut kembali di tusuk dengan tombak runcing.


Hingga kembali terbuka dan berdarah lagi lukanya, rasa sakit dan perih itu sungguh sulit di lukiskan.


Setiap kali terbayang wajah Guo Yun, pasti akan muncul wajah Si Si disana.


Lalu akan muncul bayangan Guo Yun sedang memegang tangan Si Si dengan lembut dan mesra.


Setiap teringat hal itu, dia pasti akan kembali merasa tombak yang melukai hatinya di cabut.


Lalu di tusukkan kembali ke luka sebelumnya.


Gongsun Li memejamkan kembali matanya, airmatanya mulai kembali menetes, mengalir menuju ke lubang telinga nya.


"Kamu sudah sadar akhirnya, bagus lah.."


"Termasuk tidak sia sia si bodoh itu menjaga mu siang dan malam selama ini.."


ucap Lu Bu Wei yang sedang duduk di depan sebuah meja, yang letaknya tidak jauh dari tempat Gongsun Li berbaring.


Mendengar suara itu, Gongsun Li buru buru membuka kembali matanya.


Dia menoleh kearah asal suara itu, tapi dia sangat terkejut, saat mendapati dirinya.


Ternyata sedang tidur diatas sebuah ranjang, yang besar dan mewah, dengan selimut kuning berbahan halus menutupi tubuhnya.


Di samping ranjang justru duduk seorang pemuda yang sangat di bencinya.


Pemuda itu sedang menatap nya dengan tatapan penuh perhatian, dan seolah olah turut prihatin dengan kondisi nya.


Gongsun Li secara reflek buru buru duduk dan memastikan keadaan nya baik baik saja.


Jangan sampai dirinya di kotori oleh pria, yang sangat di bencinya itu.


Setelah memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi, Gongsun Li dengan tatapan mata marah berkata,


"Apa yang telah kalian lakukan !? kenapa aku ada di sini..!?"


Ying Zheng bergerak mundur dan berkata,


"Perdana menteri yang menyelamatkan mu dan membawa mu kemari, aku hanya membantu merawat mu saja.."


"Kamu jangan khawatir, aku tidak melakukan hal apapun pada mu.."


"Aku hanya berusaha merawat mu, agar sembuh kembali.."


"Anggap saja itu untuk mengurangi rasa bersalah ku pada mu.."

__ADS_1


ucap Ying Zheng dengan wajah menyesal.


"Nona Li, dahulu memang adalah salahnya, aku tidak membelanya.."


"Tapi aku harus katakan secara jujur, dia bisa berbuat begitu karena terlalu menyukai dan mencintai mu.."


"Di tambah lagi, saat itu dia sedang tidak waras, sepenuhnya di bawah kontrol minuman keras."


"Makanya bisa timbul tragedi menyedihkan, yang membuatnya juga menderita rasa bersalah dan menyesal pada mu.."


"Makanya dalam kesempatan ini, si bodoh yang punya banyak pelayan, justru memilih untuk merawat dan menjaga mu selama 3 hari tiga malam, hingga makan minum dan tidurpun dia lupakan.."


"Aku tahu yang dia lakukan tidak seberapa, di bandingkan dengan kesalahannya.."


"Tapi setidaknya, dia sudah melakukan dengan tulus untuk mu.."


"Sekarang semua keputusan ada pada mu, aku sudah melarangnya, tapi si bodoh ini sangat keras kepala."


"Sebelum mendapat maaf dari mu dia tidak akan mundur."


"Kalian selesaikan saja sendiri, bila si bodoh hari ini mati ditangan mu.."


"Biarlah adiknya yang masih kecil terpaksa menggantikan posisinya.."


"Aku keluar dulu.."


ucap Lu Bu Wei sambil berpura-pura berjalan meninggalkan tempat itu.


Menyambung Lu Bu Wei, yang bergerak menjauh, Ying Zheng maju mendekati Gongsun Li.


Membawa sebuah nampan yang berisi seragam militer dan jubah merah nya yang di lipat dengan rapi.


Di bagian paling atas ada sepasang belati tajamnya, yang berkilauan saking tajamnya.


Gongsun Li dengan gerakan cepat menyambar sepasang belati itu, lalu menggerakkan nya terarah ke leher Ying Zheng.


Tapi Ying Zheng tidak bergeming, dia tetap diam di sana dan memejamkan matanya.


"Lakukan lah, bila kamu anggap itu bisa mengurangi rasa sakit di hati mu, aku siap dan rela..'


Adalah Gongsun Li yang menjadi ragu ragu, dia hanya menodongkan senjata itu keleher Ying Zheng.


Hanya hawa belati itu saja, yang menggores sedikit kulit leher Ying Zheng.


Tapi hal itu tidak akan sampai merengut nyawa Ying Zheng.


Tangan Gongsun Li gemetaran, terjadi pertentangan batin di dalam hatinya.


Menuntaskan dendam, atau memaafkan nya.


Budi dan dendam membuatnya sulit memutuskan.


Perlahan-lahan satu persatu kenangan saat dirinya pernah berteman baik dengan Ying Zheng.


Satu persatu kembali muncul dalam pikiran nya.


Gongsun Li akhirnya menarik kembali belati ditangannya dan berkata,


"Pergilah,.. kamu sedang beruntung hari ini.."

__ADS_1


"Tapi ingat jangan pernah berpikir untuk mencoba, menguji keberuntungan mu, untuk yang kedua kalinya.."


"Atau aku pasti akan membuat mu menyesal.."


Ying Zheng tersenyum di dalam hati penuh kemenangan, tapi di luar dia bersikap sedih dan menyesal.


"Baiklah aku akan selalu mengingatnya, terimakasih Nona.."


"Kamu beristirahatlah dengan baik, aku tidak akan menganggu mu."


"Permisi.."


ucap Ying Zheng, kemudian dia berjalan meninggalkan tempat tersebut.


Setelah Ying Zheng pergi, Gongsun Li dengan wajah sedih dan penuh penyesalan berkata,


"Maafkan aku kakak Yan,.. maafkan aku adik Xiao Tie, aku sungguh sungguh mengecewakan kalian.."


"Aku terlalu lemah, makanya dia pun lebih memilih melupakan janjinya, melukai perasaan ku, dan memilih pergi dengan nya.."


Gongsun Li kembali menjatuhkan diri nya tengkurap menangis seorang diri di sana.


Tidak tahu berapa lama, hingga akhirnya dia tertidur karena kelelahan.


Menjelang sore saat pintu kamarnya ada yang mengetuk dari luar.


"Tok,..! Tok..! Tok..!"


Gongsun Li baru membuka kembali matanya.


dengan malas dia bangun duduk dan berkata,


"Siapa ? masuklah,.. pintu tidak di kunci..!"


"Hamba nona Gongsun, Baginda yang menyuruh kami kemari untuk mengantar ini.."


ucap suara seorang wanita di luar sana .


Sesaat kemudian dia dengan hati hati baru mendorong pintu, dan melangkah masuk kedalam ruangan.


"Nona Gongsun ini sup ginseng yang sangat bagus, untuk pemulihan kesehatan nona.."


"Harap di minum selagi hangat.."


ucap salah seorang pelayan itu dengan sopan.


"Taruh saja di sana, aku sedang tidak ada nafsu untuk makan apapun.."


jawab Gongsun Li malas.


"Nona kami di minta untuk memastikan Nona Gongsun menghabiskan sup ini baru boleh pergi..'


ucap pelayan pertama tadi dengan sopan.


"Nona sup ini di siapkan oleh Baginda sendiri, harap Nona Gongsun tidak menyia nyiakan niat tulus Baginda pada mu.."


"Selama kami melayani Baginda, ini adalah pertama kalinya, kami melihat Baginda turun kedapur sendiri menyiapkan sup untuk seseorang..'


ucap pelayan yang satunya lagi.

__ADS_1


"Siau Cui jangan banyak mulut..!"


bentak pelayan pertama tadi.


__ADS_2