LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
BADAI SALJU


__ADS_3

Sambil memejamkan matanya, Si Si berkata,


"Aku hanya tidak ingin mempersulit mu.."


Guo Yun menurunkan Si Si berdiri di hadapannya, saat mereka berdua berada di dalam tenda.


Guo Yun membuka topeng besi yang menutupi wajah Si Si, dia menatap nya dengan lembut dan berkata,


"Aku tidak pernah merasa kehadiran mu, mempersulit ku.."


"Adalah aku yang menyeret mu kedalam pusaran kerumitan hidup ku.."


"Justru kehadiran mu berulang kali, selalu datang, untuk menyelamatkan nyawa ku.."


"Bagaimana bisa di katakan kamu memperumit hidup ku..?"


"Tidak itu sangat tidak tepat.."


ucap Guo Yun sambil membelai dan mengangkat sedikit anak rambut Si Si, yang terjatuh menutupi sebagian wajahnya.


"Tapi Yun ke ke, aku selalu merasa.."


Belum selesai ucapan Si Si, Guo Yun sudah menutupi mulut Si Si dengan bibirnya.


Si Si langsung terdiam dan terisak, menikmati ciuman mesra Guo Yun.


Dia membalas dengan melingkarkan tangannya di belakang kepala Guo Yun.


Beberapa saat kemudian setelah melihat Si Si sudah bisa lebih tenang.


Guo Yun baru melepaskan ciumannya dan berkata,


"Kakak Wang dan semua bawahan kita, mereka di luar sana sedang berperang.."


"Sebaiknya kita ikut melihat keluar, waktu kita bersama masih panjang.."


Si Si hanya bisa mengangguk, sambil tertunduk malu.


Tak lama kemudian mereka berdua bergandengan tangan meninggalkan kemah.


Ling Tong yang sedang mengatur barisan pasukan panahnya, melihat kedatangan Guo Yun sambil bergandengan tangan dengan Si Si.


Dia memberi kode mulut kearah Zhou Tai dan berkata,


"Tuh lihat mata keranjang cap kodok datang.."


"Ehmm,..!"


Zhang Yi berdehem sambil mempelototi adiknya.


Melihat reaksi Zhang Yi, Ling Tong buru buru meninggalkan tempat itu.


Tanpa berani banyak bicara lagi, dia berpura-pura pergi mengatur barisan, melakukan serangan anak panah kearah pasukan Chu, yang pantang menyerah.


Berusaha menggunakan tangga untuk mencoba naik keatas tembok kota.

__ADS_1


Guo Yun dan Si Si yang melihat hal itu, langsung ikut terjun membantu pasukan pertahanan tembok kota.


Pertempuran terus berlanjut hingga matahari tenggelam baru berhenti.


Si Si memimpin barisan pasukan wanitanya, membantu mengobati pasukan yang terluka.


Kehadiran para wanita cantik merawat yang terluka, cukup menghibur para pasukan yang terluka.


Apa lagi anak buah Si Si rata rata adalah ahli menghibur pria, yang berpengalaman.


Suasana menjadi semakin meriah penuh canda tawa.


Tapi para pasukan itu tidak ada yang berani berkurang ajar kelewat batas.


Karena mereka semua tahu, gadis gadis di hadapannya bukan gadis biasa.


Mereka ahli menunggang kuda, juga masing masing memilki senjata rahasia mematikan, yang terselip di pinggang mereka.


Apalagi pimpinan para wanita ini adalah wanitanya Jendral Guo Yun, yang terkenal.


Mereka menjadi semakin tidak berani berkutik, dan bertingkah macam macam.


Menyinggung para wanita ini berarti menyinggung Guo Yun, itu sama saja melempar kotoran ke wajah Wang Jian.


Itu adalah tindakan mencari penyakit, mereka pasti akan menjalani hukuman militer dari Wang Jian.


Meski pasukan Chu sudah menghentikan serangannya, untuk sementara waktu.


Tapi penjagaan tidak pernah kendor, Wang Jian, Guo Yun, Si Si, dan ajudan mereka, masih mengawasi dan berbincang bincang di atas tembok kota.


Sesaat kemudian hujan pun mulai turun membasahi bumi, membersihkan genangan darah yang berceceran di Medan pertempuran.


Hujan semakin lama semakin deras, bahkan di sertai suara petir yang terus menggelegar.


Tak lama kemudian terdengar suara para pasukan penjaga pada berkata,


"Hujan es...! Hujan es...! Hujan es...!"


"Waduh...Hujan es...!"


Guo Yun dan Wang Jian keluar dari dalam menara pengawas, melihat keributan para pengawas tembok kota.


Guo Yun tersenyum dan mengangguk.


Wang Jian menoleh kearah Guo Yun dan berkata,


"Apa ini yang di maksud kejutan oleh perdana menteri Lu..?"


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Ini baru permulaan, kejutan masih banyak, kita tunggu saja, dan lihat perkembangan lawan."


Wang Jian mengangguk, dia sadar baik Guo Yun dan Lu Bu Wei itu sama, mereka selalu punya perhitungan yang sulit ditebak..


Jadi dia juga tidak mau banyak bertanya, hanya diam mengamati perkembangan.

__ADS_1


Keesokan paginya sebelum matahari terbit, di mana hujan baru saja reda, pasukan Chu kembali bergerak melakukan serangan besar-besaran.


Pasukan Qin di bawah komando Wang Jian dan pasukan harimau hitam di bawah komando Guo Yun, mereka kembali memberikan perlawanan.


Pasukan Guo Yun yang kebal terhadap anak panah, mereka dengan gagah terus melepaskan tembakan anak panah, mengincar pasukan Chu.di bawah sana.


Korban terus berjatuhan di pihak Chu, tapi mereka seperti sekumpulan semut yang pantang menyerah, terus berdatangan mengerubuti sepotong permen.


Menjelang matahari terbit salju mulai turun berjatuhan dari langit.


Angin kencang berhembus dengan kencang, membawa butiran bunga salju beterbangan kemana mana.


Salju yang turun semakin lama semakin deras, hingga matahari yang tadinya harus keluar menjalankan tugas nya.


Jadi memilih bersembunyi kembali di balik peraduannya.


Meski hujan salju berjatuhan dari langit dengan lebat, tanpa ada perintah dari Xiang Yan.


Pasukan Chu tetap bergerak maju tanpa henti, sedikitpun mereka tidak mengendorkan serangan mereka sama sekali.


Pertempuran harus terus berlanjut di bawah guyuran salju dingin, yang membekukan baju dan kulit


Kondisi pasukan diatas tembok benteng cukup memprihatinkan, mereka harus bertempur di bawah guyuran salju.


Tapi mereka sedikit lebih beruntung, mereka masih bisa bertempur secara bergantian,


Setiap setengah jam sekali, mereka akan bertukar dengan teman mereka, yang berlindung di menara pengawas.


Kondisi berbeda justru terjadi pada pasukan Chu, yang bergerak tanpa tempat berlindung.


Mereka mulai mengigil kedinginan, bertempur dalam kondisi cuaca buruk seperti ini, terasa semakin berat buat mereka, untuk menahlukkan pertahanan pasukan Qin di Ping Yu.


Banyak diantara pasukan Chu, mulai tumbang karena kedinginan, tidak sanggup melanjutkan serangan mereka.


Melihat hal itu, Xiang Yan dengan terpaksa, menarik mundur pasukannya kembali ke kemah.


Menghentikan pertempuran, untuk sementara waktu, sambil menunggu hujan badai salju berhenti.


Tapi dia belum menarik mundur sepenuhnya pasukan mereka.


Dia hanya mundur dan membuat pertahanan sementara.


Tapi tunggu di tunggu bukannya reda, badai salju malah semakin hebat.


Hingga saat keluar dari tenda pun sepatu mereka terbenam kedalam tumpukan salju setinggi betis.


2 hari bertahan di dalam hujan badai salju, hari ketiga badai salju belum juga terlihat mereda.


Xiang Yan dengan sangat terpaksa, akhirnya harus menarik mundur pasukannya, kembali ke kota Chen.


Di pihak pasukan Qin yang bersembunyi di balik tembok kota Ping Yu.


Wang Jian dan Guo Yun sudah mendapatkan kabar dari Lu Bu Wei, kota Chen telah dia kuasai sepenuhnya.


Kini mereka tinggal menunggu langkah yang di ambil oleh Xiang Yan selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2