
Begitu melihat Xiang Yan dan pasukan nya benar benar bergerak mundur, meninggalkan pertahanan mereka.
Memanfaatkan situasi di mana moral pasukan Chu sedang turun, karena selain mengalami kedinginan, mereka juga mengalami rasa frustasi.
Frustasi tidak berhasil merebut Ping Yu, padahal jumlah mereka jelas lebih banyak.
Juga frustasi dari pihak mereka gugur begitu banyak tanpa hasil, malah di kirimkan badai salju.
Seolah olah langit tidak memberikan dukungan pada perjuangan mereka.
Dari sini Wang Jian, langsung memimpin seluruh pasukannya keluar dari pertahanan kota Ping Yu, melakukan pengejaran dengan penuh semangat.
Guo Yun dan kelima ajudannya melayang turun dari atas tembok kota.
Sedangkan pasukan harimau hitam menyusul di belakang pasukan Qin.
Guo Yun sambil melayang turun mengerahkan Chi nya, untuk berteriak sekeras kerasnya.
"Serbu,..! serbu..! hancurkan Chu,..! Sekarang saatnya,..! Lihat langit pun tidak mendukungnya..!"
"Ayo semuanya maju hancurkan Chu..!!"
Teriakkan Guo Yun, yang membawa bawa atribut dukungan dari langit, terbukti sangat ampuh.
Seluruh pasukannya menjadi lebih percaya diri, moral mereka meningkat dengan pesat.
Sebaliknya bagi pasukan Chu, teriakan Guo Yun seperti alamat kiamat dan jalan menuju kematian sedang menunggu mereka.
Pergerakan mundur mereka menjadi kacau balau, saling dorong, tidak ada lagi pertahanan.
Masing masing berusaha melarikan diri, mencari selamat.
Xiang Yan dan para komandan pasukan berusaha menenangkan pasukan mereka.
Meyakinkan mereka, untuk bertahan dan memberikan perlawanan.
Meski akhirnya situasi bisa kembali terkendali, tapi setidaknya ada beberapa ribu orang terlanjur melarikan diri, dan sudah terlanjur jauh meninggalkan barisan.
Mereka tidak mungkin bisa disusul ditangkap ataupun di hukum.
Karena musuh sudah di depan mata, itu yang harus di hadapi lebih dulu, ketimbang mengurus pasukan kabur
Perang Pasukan Qin dan Chu akhirnya pecah.
Pasukan Qin datang menyerang dengan penuh semangat, sedangkan pasukan Chu bertahan dengan setengah hati dan terus mundur.
Di tambah dengan bantuan pasukan Harimau Hitam, yang kebal senjata dan pasukan Si Si, yang memiliki senjata rahasia mematikan.
Dimana senjata rahasia mereka mampu menembus tameng perisai dan helm pelindung pasukan Chu.
__ADS_1
Keadaan ini membuat nyali pasukan Chu, semakin terbang jauh meninggalkan arena pertempuran.
Orang nya di sana, hati dan pikiran mereka sudah tidak tahu berada di mana.
Rasa percaya diri dan rasa bangga mereka, sebagai barisan pasukan Xiang Yan dari Chu.
Kini sudah hancur hilang tak berbekas.
Dengan kondisi ini, pasukan itu hanya bisa bertahan dan terus mundur menuju kota Chen.
Tapi kenyataan pahit menyambut mereka, saat mereka dengan susah payah mundur sampai ke kota Chen, yang mereka harapkan sebagai kota pertahanan terakhir mereka, sambil membenahi diri.
Ternyata kota itu kini sudah jatuh ketangan musuh, sudah berganti bendera menjadi bendera pasukan Qin.
Dalam keadaan putus asa, Xiang Yan terpaksa membawa sisa Pasukannya mundur kearah Qinan wilayah Hu Bei.
Daerah yang mengarah ke perbatasan negara Qi bagian selatan.
Guo Yun yang melihat Pasukan Qin sudah berada di atas angin, dia tidak ikut lagi melakukan pengejaran.
Dia memilih mundur kearah, yang menutup jalan menuju kota Shoucun, Lu Bu Wei juga ikut ke sana dengan membawa 25 000 pasukan elite nya, dengan tujuan pergi menahlukkan ibukota Chu di Shoucun.
Setelah tiba di lokasi, Guo Yun menutup jalan di sana, dengan pasukan harimau hitam dan pasukan topeng besi milik Si Si.
Mereka membuat camp pertahanan di sana.
Di luar dugaan, baru satu hari mereka membuat Camp pertahanan di sana.
Selain di bantu oleh sederet jagoan dunia persilatan, Xiang Yan juga ternyata membawa 100.000 pasukan elitenya, ikut datang kemari.
Pasukan elite Chu dan pasukan harimau hitam di bantu oleh pasukan wanita Si Si, langsung pecah dalam pertempuran hebat.
Kini yang belum memulai, hanya tinggal Guo Yun, yang di kepung oleh 7 jagoan andalan Xiang Yan.
Si Si terlihat ikut berdiri di belakang Guo Yun, dengan memegang dua senjata rahasia, ditangan kanan kirinya.
Bersiap melepaskan serangan, bila perang pecah.
Xiang Yan yang merasa diatas angin, sambil tertawa berkata,
"Kenapa? kaget ? tak perlu kaget.."
"Aku katakan pada mu, aku tidak lah sebodoh itu, melarikan diri ke jalan buntu."
"Ketahuilah,.. yang di kejar kejar teman mu itu, si badut marga Wang itu, hanya tubuh pengganti ku, yang mengenakan seragam dan jubah ku saja."
"Jadi bersiaplah, kamu boleh pilih menyerah pada ku, mengabdilah kepada ku, kita boleh tangkap serigala tua berbulu domba itu.
Kita akan menyusul dan meringkusnya di Shoucun ."
__ADS_1
"Atau kamu bersiap mati tanpa kubur disini bersama nya, sayang sungguh sayang secantik itu, harus ikut gugur di sini.."
ucap Xiang Yan sambil tersenyum penuh ancaman.
San Lo Sa yang rakus wanita cantik, Langsung berkata,
"Tidak tuan, dia akan menemani ku dulu sebelum di kirim ke akhirat.."
"Ha..ha...ha..,!"
San Lo Sa tertawa sambil menatap seluruh tubuh Si Si dengan rakus.
Si Si tidak berkata apa-apa, dia hanya mempererat genggaman tangannya, yang sedikit berkeringat pada gagang senjatanya.
Guo Yun menatap San Lo Sa dengan tajam dan berkata,
"Langkahi dulu mayat kami berdua.."
Dia lalu menatap kearah Xiang Yan dan setitik darah, yang berdiri di sebelah Xiang Yan.
"Meski hari ini aku harus mampus, aku akan membawa kalian berdua menyertai ku.."
Selesai berkata,
Guo Yun langsung melepaskan Tebasan Pedang pemusnah jurus ketiga.
"Tebasan Pedang Sapu Jagad..!"
"Singgg...!"
"Wusss...!"
Seberkas cahaya biru tebal seperti bianglala di langit, melesat secara vertikal langsung menerjang kearah Xiang Yan.
Di tengah jalan, tebasan itu membelah diri menjadi dua,.satu kearah Xiang Yan, satu kearah Setitik merah dari daratan tengah.
Bertepatan dengan itu, dari sisi lain tiga Lo Sa terbang kearah Guo Yun,
Mereka masing masing melepaskan pukulan, yang datang dari tiga arah.
San Lo Sa datang dengan tapak biru, Er Lo Sa datang dengan tapak merah. Ta Lo Sa datang dengan sepasang telapak tangan putih hitam.
Melihat Guo Yun di serang, Si Si tentu tidak tinggal diam, senjata rahasianya langsung meletus 6 kali.
"Dorrrr,..! Dorrrr,..! Dorrrr,..!"
Dorrrr,..! Dorrrr,..! Dorrrr,..!"
Tapi berbeda dengan sebelumnya, di mana San Lo Sa dan Er Lo Sa, selalu ketakutan menghindar menjauh.
__ADS_1
Sekali ini mereka dengan tenang terus melesat maju, menerjang ke arah Guo Yun.