
Meng Yu hanya bisa mengangguk dengan wajah lesu dan kepala tertunduk.
Guo Yun menepuk bahunya dan berkata,
"Kalah menang belum bisa di tentukan, bersemangatlah.."
"Bahkan hanya tersisa satu prajurit sekalipun, kita tidak boleh berputus asa."
Panglima Meng Thian menatap kearah Guo Yun dengan serius dan berkata,
"Saudara Yun, menurut mu apa yang bisa kita lakukan sekarang..?"
Guo Yun menatap Meng Thian dan berkata,
"Kunci kemenangan kita ada di He Xi.."
"Panglima Meng dan Jendral Yu, bersiaplah di He Xi, untuk melakukan pertempuran terakhir.."
"Begini rencananya.."
ucap Guo Yun sambil menunjuk kearah peta dan memberikan pengarahan.
Apa kira kira yang perlu di lakukan oleh panglima Meng Thian dan adiknya Jendral Meng Yu.
Selesai memberikan pengarahan, Guo Yun langsung meninggalkan kediaman Panglima Meng Thian.
Dia langsung memacu kudanya kembali ke perkemahan pasukannya.
Sampai di depan perkemahan, Guo Yun langsung di sambut oleh Zhang Yi Ling Tong dan Zhou Tai.
Mereka bertiga terlihat sedang menunggu kedatangan nya dengan gelisah.
"Kakak sekarang waktunya, persiapkan barisan pasukan kita..!"
"Kita tunjukkan kepada mereka semua, siapa kita..!"
Ucap Guo Yun penuh semangat.
Zhang Yi dan kedua saudaranya mengangguk cepat.
Mereka langsung berlari cepat pergi mempersiapkan barisan pasukan mereka masing-masing.
Guo Yun sendiri menunggu di depan gerbang camp pelatihan militer mereka.
Begitu semua pasukan nya sudah siap, di mana Zhang Yi Zhou Tai dan Ling Tong. sudah kembali ke sisinya.
Guo Yun langsung berteriak, "Pasukan berangkat..!"
Tiba-tiba dari balik kerumunan pasukan harimau hitam, muncul Gongsun Li, yang berpakaian prajurit.
Dia berlari keluar dari kerumunan pasukan, membawa sebuah bungkusan di tangan.
Guo Yun menahan gerak kudanya, saat melihat munculnya Gongsun Li.
"Adik Yun ini bekal perjalanan, ingat harus kembali.."
"Aku akan selalu menunggu mu di sini.."
__ADS_1
Guo Yun menerima bungkusan tersebut, mengikatnya di pelana kudanya.
Lalu sambil tersenyum, dia mengetuk helm Gongsun Li dengan pelan dan berkata,
"Jangan khawatir, tunggu aku di kemah.."
"Aku tidak akan lama.."
"Terimakasih.."
Setelah melemparkan senyum lembut.
Guo Yun langsung memacu kudanya, bergerak meninggalkan camp militer.
Dia langsung menuju pintu gerbang kota sebelah barat, di belakang nya menyusul 3 ajudannya dan seluruh barisan pasukan harimau hitam.
5000 pasukan harimau hitam, berbaris dengan rapi, meninggalkan benteng kota Yong.
Mereka berangkat menjelang matahari terbenam, sehingga tidak banyak penduduk, yang menyadari pergerakan pasukan itu meninggalkan kota Yong.
Beberapa saat setelah Guo Yun berangkat, panglima Meng Thian dan adiknya Jendral Meng Yu, juga menyusul meninggalkan kota Yong dengan pasukan keluarga Meng.
Kini di benteng kota Yong, hanya tersisa pasukan penjaga kota, yang tidak sampai 1000 orang.
Begitu pasukan keluarga Meng meninggalkan benteng kota Yong.
Pasukan penjaga kota Langsung menutup pintu gerbang kota rapat rapat.
Kemudian 3/4 pasukan penjaga kota bersiaga di atas benteng kota, dengan panah panah mereka.
Sedangkan sisanya berjaga-jaga di balik gerbang pintu kota, dengan tameng dan tombak di tangan.
Dia ingin mencoba menerapkan strategi Mengurung Wei menyelamatkan Zhao, yang pernah di gunakan oleh Sun Tzu dari negara Qi.
Pasukan besar Raja Chan Yu bergerak melalui He Xi, Guo Yun mengambil jalur melewati Yi Qu langsung menuju Ibukota Long Cheng.
Guo Yun dan pasukan harimau hitam, yang mengenakan pakaian ringkas bukan baju perisai baja.
Mereka bisa bergerak lebih cepat.
Di tambah dengan melewati jalur Yi Qu, yang lebih banyak melewati Padang rumput stepa.
Guo Yun bisa tiba lebih cepat di kota Long Cheng.
Pasukan Agahai yang berjumlah besar tidak mungkin bisa bergerak cepat.
Di tambah mereka melewati jalur He Xi, yang lebih banyak Padang gurun nya, dalam perjalanan mereka menjadi lebih lambat.
Perjalanan menyusuri sungai Yang Tze tidak mungkin mereka lakukan.
Karena pasukan Agahai paling tidak suka melewati jalur air.
Agahai dan pasukannya lebih memilih melewati jalur gurun pasir, karena di sini pasukan Qin akan lebih tidak terbiasa bertempur di Medan gurun pasir.
Bila melalui jalur Padang rumput stepa, mereka akan lebih rawan terkena serangan bokongan dari pasukan Qin, yang bisa bebas menggunakan kuda cepat.
Semua ini sudah dalam perhitungan Guo Yun.
__ADS_1
Saat fajar menyingsing, Guo Yun dan pasukannya sudah tiba di depan ibukota Long Cheng.
Guo Yun langsung melemparkan tantangan perang ke pasukan penjaga kota Long Cheng.
Genderang perang dan terompet pun di lepaskan.
Guo Yun di ikuti ketiga ajudannya memacu kuda mereka, mendekati gerbang kota Long Cheng.
Dengan pengerahan suara yang di dukung oleh energi Chi, suara Guo Yun berkumandang dengan sangat jelas, hingga ke atas tembok kota.
"Hei,.. sampaikan kepada pimpinan kalian, aku menantangnya duel di sini..!"
"Bila punya nyali jangan bersembunyi, keluar lah sambut tantangan kami..!"
teriak Guo Yun dari bawah benteng.
Setelah melepaskan teriakan nya, beberapa saat kemudian dari atas tembok kota Long Cheng.
Muncul 3 orang ajudan Jenderal Tuli, yang ditugaskan untuk menjaga benteng ibukota Long Cheng.
Mereka membawahi 50.000 pasukan pertahanan kota, untuk melindungi dan menjaga ibukota dari serangan musuh.
Ibukota Long Cheng aslinya adalah milik negara Zhou, tapi saat kerajaan Zhou jatuh, masing masing aristokrat di negara itu.
Satu persatu berdiri sendiri sendiri.
Kota Long Cheng akhirnya di rebut oleh bangsa nomaden Xiongnu, di jadikan sebagai basis istana dan pertahanan mereka.
Makanya bangsa bar bar itu kini punya istana dan ibukota tersendiri.
Tantangan Guo Yun, langsung di sambut oleh suara tertawa dari 3 orang di atas benteng kota.
"Hei tikus kecil,.. dengan pasukan mu yang cuma segelintir itu, kamu berani besar mulut di sini..!"
"Takutnya bila kami turun kamu akan melarikan diri ketakutan..!"
teriak salah satu dari ketiga orang itu sambil tertawa menghina.
"Aku menantang mu,..! jelas tidak ada hubungannya dengan pasukan yang ku bawa..!"
"Apa selain mengandalkan pasukan mu, Jendral bangsa Xiongnu, yang katanya pemberani, kini semua telah berubah menjadi tikus pengecut..!?"
balas Guo Yun sambil tersenyum tenang dan hilir mudik di depan pintu gerbang kota, bersama ketiga ajudannya.
Melihat ketiga Jendral itu terlihat berunding sibuk sendiri, sepertinya mereka ragu ragu.
Guo Yun kembali berteriak,
"Tak perlu ragu, kalian boleh pilih diantara kami berempat siapa yang ingin kalian hadapi..!?"
"Bila kami kalah sebanyak 2 ronde dari kalian, kami akan kembali, tidak akan menganggu lagi di sini..!"
Salah satu dari ketiga ajudan jenderal itu, tanpa menghiraukan panggilan dari kedua rekannya yang lain.
Dia langsung meninggalkan bagian atas tembok kota.
Guo Yun sedikit menoleh kearah ketiga ajudannya dan berkata pelan.
__ADS_1
"Hanya boleh kalah, tidak boleh menang."