
"Apa maksud Yun ke ke ?"
Tanya Min Min heran.
Guo Yun sambil tersenyum lebar berkata,
"Misi Zhong San dan Zhang Yun berjalan lancar.."
"Pihak Qin menyetujui tuntutan ku, menukar sandera dengan Ibukota Guiji dan beberapa wilayah di ujung selatan sana..."
"Jadi kita bisa segera pulang kembali ke kediaman lama kita.."
Ucap Guo Yun gembira.
"Yun ke ke apa bedanya di sana dan di sini, ku lihat di sini Istana nya juga cukup baik.."
"Bila sandera kita lepaskan, bagaimana kalau mereka kembali menyerang kita.."
"Bukankah itu sangat merepotkan..?"
Tanya Min Min dengan wajah polos.
Guo Yun tersenyum lembut menatap istri ketiganya.
Sebelum dia menjawabnya.
Gongsun Li langsung angkat bicara.
"Kota Shoucun setelah pertempuran besar kemarin, sudah banyak dinding pertahanan dan pintu gerbang yang rusak.."
"Pertanian dan perumahan penduduk di luar benteng juga banyak yang rusak tidak bisa di gunakan kembali.."
"Jadi sebenarnya kota ini sudah sekarat, perlu dana besar, untuk membangunnya kembali.."
"Selain itu, kota ini pertahanan nya rendah, terlalu terbuka.."
"Tidak ada benteng alami, yang membantu kita mencegah musuh datang menyerang.."
"Pasukan Qin setiap saat dengan mudah akan sampai kemari, baik dengan merebut Dan Yang, ataupun melewati Sungai Han.."
Ucap Gongsun Li menjelaskan panjang lebar.
Mungkin seumur hidupnya, ini adalah pertama kali dia bicara begitu banyak, selain dengan Guo Yun suaminya.
Ini hanya menunjukkan bahwa Gongsun Li sedang sangat sangat bergembira dan bahagia, menyambut kabar dari Guo Yun barusan.
Hal ini wajar, karena Guiji jatuh, saat di bawah kekuasaannya.
Jadi bagaimana pun di hati Gongsun Li selalu ada ganjalan dan penyesalan.
Selama ibukota tempat kediaman mereka yang penuh kenangan itu, bisa kembali lagi ketangan mereka.
Hanya saja ganjalan ini, selama ini dia simpan dengan rapat rapat.
Tidak dia tunjukkan ke siapapun, bahkan terhadap Guo Yun pun dia tidak cerita.
Dia tidak mau hal ini jadi beban pikiran Guo Yun.
__ADS_1
Kini semuanya berjalan lancar sesuai harapan tentu dia sangat gembira.
Min Min diam sejenak mencerna penjelasan Gongsun Li.
Sesaat kemudian dia masih sedikit penasaran tapi dia tidak berani bertanya pada Gongsun Li.
Melainkan menoleh kearah Si Si yang lebih bersahabat dan berkata pelan,
"Kak Si Si,. lalu apa kelebihan kota Guiji sendiri..?"
Guo Yun dan Gongsun Li tentu mendengarnya, mereka berdua saling lirik dan sama sama menahan senyum, menanggapi pertanyaan Min Min yang polos.
Hal ini sebenarnya wajar saja,
Pertama Min Min memang bukan ahlinya militer dan politik, keahliannya ada di pengobatan..
Kedua Min Min masih lupa ingatan, setelah bangkit dari kematian, jadi yang dia ingin tahu tentu jauh lebih banyak.
Dia juga tidak punya ingatan dan kenangan dengan Ibukota Guiji yang menjadi tempat kediaman mereka bertiga dulu.
Si Si sambil menahan senyum berkata,
"Kelebihan Gui Ji tentu banyak, Guiji adalah tempat kediaman lama kita yang penuh kenangan.."
"Guiji adalah kota kelahiran Yun Ke ke, Gui Ji adalah Kerajaan warisan turun temurun keluarga Guo.."
"Kerajaan Yue baru bisa di anggap ada, bila ibukota itu ada bersama kita.."
"Berbeda dengan Shoucun yang pertahanan nya rentan, Guiji adalah kota dengan pertahanan alami terbaik."
"Dari dengan ada sungai Yang Tze yang membantu pertahanan.."
"Kita hanya perlu menjaga wilayah pertahanan alami depan dan belakang dengan baik itu sudah cukup.."
Ucap Si Si berusaha menjelaskan.
"Sebentar kak Si Si, bila Guiji begitu baik, mengapa kita bisa kehilangan kota tersebut..?"
Tanya Min Min penasaran..
Kini Guo Yun yang angkat bicara menjelaskan, ke Min Min.
"Sayang kota itu hilang, bukan karena pertahanan nya yang lemah.."
"Tapi aku yang salah strategi, salah prediksi, sehingga kota itu jatuh ketangan lawan.."
Ucap Guo Yun menjelaskan nya.
Min Min menggelengkan kepalanya dengan bingung dan berkata,
"Aku masih kurang mengerti.."
Si Si sambil tersenyum sabar berkata,
"Begini Min Min, saat itu Yun ke ke menghadapi dua pilihan, pergi menyelamatkan Li Ba dan Sian Sian di pulau Peng Lai.."
"Atau tetap di istana, menjaga
__ADS_1
keutuhan kerajaan Yue dan semua wilayah kekuasaannya.."
"Waktu itu, Yun ke ke tidak punya pilihan lain, dia harus pergi menyelamatkan Li Ba dan Sian Sian.."
"Jadi dia terpaksa menyerahkan urusan kerajaan Yue kekota bertiga.."
"Begitu Yun ke ke berangkat meninggalkan kerajaan Yue, Qin pun datang menyerang wilayah perbatasan kita.."
"Waktu itu, tidak punya pilihan lain, kakak Li dan aku harus maju mempertahankan garis depan."
"Di Guiji cuma tersisa kamu anak anak, dengan roda pemerintahan di titipkan di perdana menteri Zhong San.."
"Sedangkan, militer di bawah pengawasan Xiang Liang, Xiang Bo, kedua pamannya Xiang Yu."
"Semua Jendral lain ikut dengan kita ke garis depan."
"Celakanya di saat kita semua sedang di garis depan, sedangkan Yun ke ke sedang pergi menolong Li Ba dan Sian Sian.."
"Pihak Qin datang menyerang lewat jalur air, berangkat dari bekas wilayah kerajaan Qi, yang sudah di tahlukkan Qin."
"Mereka melewati perairan Nah Hai, menyerang kedua pelabuhan terdekat dengan Guiji.."
"Karena kelalaian pengawasan pertahanan di kedua dermaga tersebut."
"Pasukan Qin masuk dengan mudah langsung menuju Ibukota melakukan serangan mendadak.."
"Begitulah kejadiannya secara garis besar, Jadi kejatuhan Guiji bukan karena faktor geografis, tapi lebih ke faktor kelalaian manusia nya.."
Ucap Si Si menutup penjelasannya sambil tersenyum sabar.
Min Min kini mengangguk paham, dan berkata,
"Terimakasih semuanya, sekarang Min Min paham.."
"Min Min akan segera pergi bersiap siap, terutama barang anak anak, bawaan mungkin sedikit banyak."
Ucap Min Min berpamit dengan sambil mencium pipi Guo Yun.
Setelah itu, dia langsung buru buru pergi meninggalkan taman peristirahatan.
Setelah Min Min pergi, berturut turut Gongsun Li dan Si Si juga pamit meninggalkan tempat itu, pergi membantu Si Si bersiap siap.
Setelah semua istrinya pergi, Guo Yun menoleh kearah Kasim Cao dan berkata,
"Kamu pergi undang koordinator pejabat sipil menteri Luo, Han Wei , Ying Wu, A Fu, Xiang Yu dan kedua pamannya kemari.."
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mereka..'
Ucap Guo Yun tenang.
"Baik Yang Mulia, siap di laksanakan.."
"Ada pesan yang lain Yang Mulia..?"
"Bila tidak ada, pelayan tua ini mohon permisi.."
"Pergilah Cao Kung Kung.."
__ADS_1
Ucap Guo Yun sambil memberi tanda agar Kasim Cao boleh segera meninggalkan tempat tersebut.
Sesaat setelah Kasim Cao pergi, Guo Yun pun melanjutkan sarapannya, yang sempat terhenti oleh kedatangan Kasim Cao, yang membawa kabar berita cepat dari Zhong San.