
Guo Yun menatap kearah istrinya dan berkata,
"Apa kalian masih menyimpan nya..?"
Gongsun Li dengan cepat mengeluarkan nya, lalu dia taruh di atas meja.
Si Si dengan hati hati juga mengeluarkan surat, yang dia simpan di balik pakaian lapis dalamnya.
Di bungkus dengan sapu tangan yang wangi dengan sangat rapi.
Setelah sapu tangan di lepaskan, surat yang di jaga dengan baik dan wangi, dia letakkan di sebelah surat Gongsun Li.
Gongsun Li tersenyum canggung melihat semua yang hadir di sana.
Surat wasiat dari Guo Yun meski masih di dalam sampul surat, tapi sampul suratnya terlihat kontras dengan punya Si Si.
Sampul surat Gongsun Li terlihat lecek karena terlihat banyak lipatan, dan agak menggulung.
Guo Yun menahan tawa melihatnya, tapi dia tidak heran, karena masing masing istrinya mang punya kelebihan dan kekurangan nya.
Tapi dia tetap sangat mencintai mereka, dia mencintai mereka seutuhnya baik kekurangannya maupun kelebihannya.
Min Min sambil tersenyum kecut berkata,
"Sebentar aku tidak membawanya, aku akan pergi mengambilnya.."
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Tidak apa apa biar aku temani kamu mengambilnya."
Min Min buru buru menggoyang kan kepala dan tangannya.
Dengan agak panik dia berkata,
Gak usah,.. gak usah,.. biar aku sendiri saja..'
"Kamu di sini saja, bersantai dengan yang lainnya.."
Si Si yang cerdas tahu Min Min pasti ada sesuatu yang di sembunyikan.
Dia segera memegang tangan Guo Yun dan berkata,
"Min Min benar, sudah kamu di sini saja bersama kita kita..'
"Biar Min Min pergi ambil sendiri saja, putranya di sana sedang berlatih.. emangnya Yun ke ke khawatir dia mau terbang kemana..?"
Ucap Si Si sengaja setengah bercanda, untuk mengalihkan perhatian.
Guo Yun tentu tahu Min Min pasti menyimpannya dengan ceroboh, sehingga kini terlihat panik dan malu.
Sambil tersenyum kearah Si Si, dia mengangguk pelan, dan berkata,
"Ya sudah Min Min kalau masih ada bawalah kemari, bila tidak ada nanti aku tulus ulang saja.."
"Jangan terlalu di pikirkan.."
Ucap Guo Yun sambil tersenyum penuh pengertian.
Berbeda dengan Si Si dan Guo Yun, Gongsun Li yang merasa, kini dia mungkin punya teman yang jauh lebih parah cara menyimpan surat wasiat Guo Yun.
__ADS_1
Dia segera menggandeng tangan Min Min dan berkata,
"Biar aku bantu cari, siapa tahu kamu udah lupa, di mana menaruh nya.."
Min Min jelas tidak berani menolak Gongsun Li yang galak.
Dia terpaksa mengangguk dan berkata,
"Baik kakak Lie terimakasih, tapi aku tidak lupa kok.."
"Mari kita pergi ambil suratnya di kamar ku.."
Mereka berdua segera pergi meninggalkan taman, langsung menuju ke kamar tidur Min Min.
Guo Yun setelah melihat kedua orang itu pergi, dia berbisik pelan pada Si Si.
"Ayo kita ikuti, aku penasaran dia simpan di mana surat itu.."
Si Si menatap Guo Yun dan berkata,
"Buat apa, kamu hanya akan membuatnya malu kesal dan merasa bersalah, kemudian bersedih.."
"Yun ke ke juga tidak ingin lihat dia sedih kan..?"
"Jadi lebih baik kita di sini saja ."
Ucap Si Si sambil tersenyum lembut.
Guo Yun membelai kepala Si Si dan berkata,
"Kamu memang yang paling pintar dan paling pengertian.."
"Sehingga sekarang bisa bertemu dan berjodoh dengan mu.."
Si Si sambil menahan senyum, menyumpit sepotong daging untuk di suapkan kearah mulut Guo Yun.
"Sudah simpan gombal mu, nanti aku semakin meleleh di buat mu, makan ini saja.."
Ucap Si Si untuk menutupi rasa malu nya, tapi dia tidak bisa menutupi hatinya sangat bahagia mendengar ucapan suaminya itu.
Ditempat lain Gongsun Li harus menutupi mulutnya menahan tawa, saat melihat Min Min dengan sikap malu malu kucing.
Mengambil surat itu yang dia gunakan untuk mengganjal kaki meja di kamarnya yang kurang rata.
"Aku pikir Yun ke ke kan sudah baik baik saja, jadi surat ini sudah tidak penting lagi.."
Ucap Min Min berkilah, sambil menyerahkan surat itu ke Gongsun Li yang jelas terlihat sedang berusaha menahan tawa.
"Kakak lie aja deh yang bawa ke sana, aku tiba tiba merasa kurang enak badan mau istirahat sebentar.."
Ucap Min Min yang malas kesana dan menjadi bahan olok olok nantinya.
Gongsun Li mengangguk dan berkata, sambil menahan senyum,
"Baiklah kamu istirahat saja.."
"Biar aku yang bawa kesana .."
Setelah Gongsun Li pergi Min Min segera menutup pintu kamarnya, lalu dia mencibirnya, dan bergumam panjang pendek seorang diri.
__ADS_1
Sambi membuat gerak lucu mengacungkan tinjunya kearah pintu kamar, melampiaskan perasaan keki nya.
Setelah itu dia segera meringkuk di pembaringan nya, memunggungi pintu kamarnya, mencoba untuk tidur dan melupakan semuanya.
Gongsun Li setelah kembali, dia segera meletakkan surat wasiat yang dari Min Min diatas meja.
"Loh mana Min Min ?"
tanya Guo Yun .
Sambil menahan tawa, Gongsun Li berkata,
"Sebaiknya kamu pergi lihat keadaan dia nanti, sehabis ini.."
"Apa yang terjadi..?"
tanya Guo Yun kembali dengan heran.
Gongsun Li sambil menahan tawa, menunjuk surat yang bentuknya sudah tidak karu karuan itu dan berkata,
"Surat wasiat mu, dia gunakan untuk ganjal meja.."
"Bagaimana mungkin dia mau kemari.."
Ucap Gongsun Li yang tidak bisa lagi menahan tawa.
Dia tertawa terpingkal pingkal sambil memegangi perutnya yang kram dan mules.
Si Si hanya menanggapinya dengan helaan nafas, sambil menatap Guo Yun dengan tatapan mata kasihan.
Sedangkan Guo Yun memilih berpura pura tenang dan berkata,
"Ya sudah dia tidak mau kemari pasti ada alasannya.."
"Saat ini lebih baik kita rundingkan, bagaimana tehnis pengiriman ketiga surat ini, agar bisa sampai ketangan Liu Qin Lung dengan aman ."
Si Si dan Gongsun Li pun mengangguk mereka bertiga duduk berkumpul dan mulai merundingkan tehnis pelaksanaan rencana mereka.
Setelah menemukan kesepakatan, Guo Yun segera menyusul ke tempat Min Min.
Sedangkan tehnis pengiriman dan penulisan ulang 3 lembar surat itu, Guo Yun serahkan ke Gongsun Li dan Si Si untuk mengaturnya.
Beberapa hari kemudian saat Zhao Guang sedang melakukan inspeksi lapangan di dekat tembok kota Xian Yang.
Seorang anak kecil datang menghampiri nya, membawa sebungkus kantong untuk di tangan.
"Paman Jendral, ini ada sedikit makanan sarapan pagi dari orang tua ku.."
"Sebagai ucapan terimakasih atas pertolongan paman Jendral beberapa hari yang lalu. "
"Harap paman tidak menolaknya, "
Ucap anak kecil yang menghampirinya sambil menyerahkan sebungkus kantong berisi beberapa bakpao di dalamnya.
Zhao Guang adalah orang cerdas, dengan cukup.kata beberapa hari yang lalu, dia langsung tahu.
Asal usul bakpao ini tanpa perlu banyak bertanya, dia segera menerimanya dan berkata,
"Terimakasih adik kecil, tolong sampaikan juga rasa terimakasih ku kepada kedua orang tua mu.."
__ADS_1