
"Kalau bisa di atur itu bukan mimpi, itu berkhayal, dasar genit.."
balas Gongsun Li sambil menahan senyum.
"Ya gak papa lah kak, aku kan cuma genitnya sama kakak Seorang.."
ucap Guo Yun sambil makan dan minum dengan sangat lahap.
"Gak boleh, nanti otak mu jadi mesum dan jorok, gak bisa berkembang.."
ucap Gongsun Li cepat, sambil menahan tawa.
"Gak papa lah, aku rela otakku gak berkembang asal... berkembang.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum nakal, sengaja menatap kearah perut Gongsun Li yang rata..
"Hei semakin ngeres aja nih anak, aku malas meladeni mu, aku mau pergi cuci muka, lalu bobo.."
ucap Gongsun Li sewot, wajahnya merah padam menahan malu.
Mereka kini sama sama sudah dewasa, bercanda tentu ada batasnya.
Omongan seperti itu, tentu terdengar menggelikan dan menakutkan bagi Gongsun Li.
Dia pun buru-buru pergi meninggalkan Guo Yun, yang sedang asyik melanjutkan makannya.
Melihat sikap Gongsun Li, Guo Yun hanya menahan senyum dan meneruskan makannya.
Guo Yun sendiri juga merasa heran pada dirinya sendiri.
Berhadapan dengan Gongsun Li, entah kenapa dia bisa tiba-tiba berubah menjadi seorang yang lain dari biasanya.
Dia bisa begitu gembira, ceria dan bebas berekspresi sesuka hati, tidak perlu berpikir panjang, sebelum berucap dan bertingkah laku.
Sangat berbeda jauh dengan kebiasaannya selama ini.
Kini setelah tinggal seorang diri, Guo Yun baru mulai berpikir dan melakukan simulasi dalam pikirannya.
Bagaimana dan apa yang akan dia lakukan, saat bertemu dengan pasukan bar bar bangsa Xiong Nu, yang mahir memanah dan berkuda.
Guo Yun sambil makan sambil berpikir, apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi bangsa bar bar itu saat bertempur.
Berbagai kemungkinan muncul dalam pikirannya, berbagai strategi juga melintas dalam kepalanya.
Sambil makan sambil berpikir, tidak terasa semua masakan yang di siapkan oleh Gongsun Li, sudah ludes semua, berpindah kedalam perutnya.
Meski Gongsun Li tadi mengatakan ini masakan kakak nya, yang di panaskan saja.
Tapi Guo Yun tidak percaya, dia sangat yakin ini murni masakan Gongsun Li.
Selain Gongsun Li, tidak ada yang bisa menciptakan rasa ini dalam masakan nya.
Di paviliun kemaren, dia sempat mencicipi masakan kakaknya, Gongsun Yan.
Masakan nya meski terlihat di tata dengan sangat cantik, tapi rasanya sangat hambar.
__ADS_1
Saat sumpitnya menemui tempat kosong, Guo Yun baru tersadar dari lamunannya.
Ternyata semua makanan di atas meja telah habis semua
Sambil tersenyum canggung dan mengangkat kedua bahunya sendiri.
Guo Yun buru buru membantu membereskan semua bekas peralatan makan.
Lalu dia membawanya keluar dari kemah, untuk di bawa kedapur dan mencucinya sampai bersih.
Setelah itu Guo Yun baru pergi pergi mandi membersihkan diri.
Saat kembali ke dalam kemah, melihat Gongsun Li sudah tidur pulas di tempatnya.
Guo Yun dengan hati hati membantu menyelimutinya.
Setelah itu dia baru kembali ke sudut lainnya, di mana tempat tidurnya berada.
Di sana Guo Yun berbaring berbantalkan kedua telapak tangannya, untuk menyangga kepala nya sendiri.
Dengan cara itu Guo Yun memejamkan matanya, hingga akhirnya dia tertidur pulas.
Hingga matahari mulai terbit di ufuk timur, suara burung mulai berkicau.
Guo Yun dan Gongsun Li dengan kompak bangkit dari tempat tidur mereka.
Setelah membereskan dan merapikan tempat tidur yang bisa di gulung itu.
Guo Yun dan Gongsun Li dengan kompak keluar dari dalam kemah, menuju ke arah anak sungai yang terletak di bagian belakang dapur.
ucap Guo Yun, sambil duduk di balik sebuah batu sungai.
Gongsun Li mengangguk dengan wajah sedikit merah, kemudian dia bergerak menuju balik batu itu.
Dia melepaskan seluruh pakaiannya di letakkan di atas batu,
baru dia menikmati mandinya dengan puas.
Setelah Gongsun Li selesai, Guo Yun baru bergantian mandi di sana.
Sedangkan Gongsun Li sudah langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan buat Guo Yun.
Saat Guo Yun kembali ke kemahnya, di sana sudah menunggu Paman Kai, kepala pelayan kediaman perdana menteri Lu Bu Wei.
"Selamat pagi paman Kai, maaf telah membuat mu menunggu lama di sini.."
"Silahkan duduk paman Kai.."
ucap Guo Yun sopan.
"Terimakasih tuan muda Yun, saya biar berdiri saja.."
"Saya hanya ingin mengantarkan peti peti ini, sekaligus menyampaikan pesan dari perdana menteri.."
"Saat ini pesanan tuan muda Yun baru sebagian dulu, nanti di hari ketiga sebelum berangkat, pesanan dari tuan muda Yun akan tiba sebagian lagi.."
__ADS_1
"Sisanya nanti akan di kirim menyusul ke benteng perbatasan kota Yong secara menyusul."
"Pokoknya sebelum pertempuran di mulai, pesanan tuan muda Yun pasti akan tiba di sana.."
"Tuan muda Yun, di sini juga ada seperangkat pakaian prajurit, yang khusus di buat untuk prajurit pribadi tuan Yun.."
Guo Yun segera menerima nya dan berkata,
"Terimakasih paman Kai, maaf jadi merepotkan anda."
"Tuan muda Yun tak perlu sungkan, itu adalah tugas dan tanggung jawab ku.."
ucap Paman Kai, sambil membungkukkan badannya dengan sopan.
"Tuan muda Yun, tugas ku sudah selesai, bila tidak ada pesan lain, aku mohon permisi..'
"Silahkan paman Kai, mari saya antar kedepan.."
ucap Guo Yun sambil menemani paman Kai keluar dari dalam kemahnya.
Guo Yun mengantar paman Kai sampai di depan pintu gerbang barak militer.
Setelah paman Kai berlalu dengan kereta kudanya.
Guo Yun baru kembali ke tenda nya, mengambil buntalan kain berisi seragam khusus Gongsun Li.
Guo Yun membawanya menuju dapur, suasana di dapur terlihat sepi, di sana hanya ada Gongsun Li.
Semua prajurit yang bertugas di dapur ataupun garis depan, semuanya jam segini, biasanya mereka sedang sibuk melakukan latihan wajib militer secara rutin.
"Kakak Li lihat aku membawakan apa untuk mu..?"
ucap Guo Yun sambil tersenyum menghampirinya.
"Adik Yun kamu tidak pergi mengawasi pasukan mu berlatih, kenapa malah kemari.?"
ucap Gongsun Li yang sedang merebus mie dan pangsit tanpa menoleh.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Aku khusus bawakan ini untuk mu, nanti berganti lah, aku taruh di sini.."
"Aku mau ke lapangan latihan sekarang.."
Gongsun Li melirik sekilas kearah buntalan kain yang di bawa Guo Yun untuk nya.
Meski penasaran, tapi dia sedang masak tidak bisa di tinggal.
Jadi dia terpaksa menahan diri, untuk pergi melihat nya.
Sementara itu Guo Yun sendiri sudah berlalu dari sana, langsung menuju kamp pelatihan pasukan nya.
Untuk mencapai camp pelatihan pasukannya, Guo Yun harus melewati beberapa camp pelatihan pasukan Wang Jian.
Diam diam Guo Yun kagum dengan sistem pelatihan pasukan Wang Jian yang sangat teratur dan berdisiplin.
__ADS_1
Suasana sangat jauh berbeda, sangatlah terasa bila di bandingkan dengan suasana pelatihan di camp militer pasukan negara Lu.