
Tapi sayangnya cengkraman tangan Mo Kam menemui tempat kosong, karena Sian Sian sudah berlindung di belakang Li Ba.
Tusukan pedangnya kearah leher Li Ba di tangkis oleh tangan Li Ba yang tepat menghantam pergelangan tangannya, yang memegang pedang.
Pedangnya terpental lepas dari pegangan tangannya.
Sebelum kagetnya hilang, tubuh Mo Kam sudah terpental keluar dari dalam perahu, sambil menyemburkan darah dari mulutnya.
Sebelum akhirnya tercebur ke dalam sungai.
Mo Kam mengalami luka yang tidak ringan di dadanya, akibat di hantam oleh tinju Li Ba, yang berkekuatan dahsyat.
Mo Kam terlalu meremehkan Li Ba, sehingga harus menelan pil pahit di tangan Li Ba, hanya dalam satu gebrakan.
Bila dia tidak menganggap enteng Li Ba, tentu hasilnya akan lain.
Dengan hasil kemenangan tersebut, perlawanan dari pihak bajak sungai pun terhenti.
Sisa bajak sungai yang ada, langsung melemparkan senjata mereka keatas lantai kapal.
Mereka pada menjatuhkan diri berlutut memohon ampun.
Guo Yun menatap tajam kearah sekumpulan bajak sungai itu,
"Siapa diantara kalian yang mahir mengendalikan perahu..?"
"Saya bisa tuan,.."
jawab seorang bajak sungai muda, yang usianya tidak beda jauh dengan Guo Yun.
"Siapa nama mu..?"
ucap Guo Yun sambil menatap tajam kearah pemuda itu.
"Nama ku Li Kui tuan."
ucap pemuda itu cepat.
"Baiklah Li Kui, kamu pindah ikut ke perahu ku, kamu bantu antarkan kami menuju Ling San."
ucap Guo Yun dingin.
"Baik tuan muda, jawab Li Kui cepat."
Li Kui dengan sigap menggunakan tali kapal untuk turun ke perahu kecil, di mana Li Ba dan Sian Sian berada.
Guo Yun menyapukan pandangannya kearah sisa bajak yang ada, lalu bertanya,
"Apakah di antara kalian masih ada yang ingin menjadi bajak sungai..?"
Seluruh anggota bajak sungai itu dengan kompak menggelengkan kepalanya.
Tapi mereka terlihat ragu, untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan.
Akhirnya diantara mereka ada seorang pria bermata satu, berkata,
"Kami bila ada pekerjaan lain, tentu kami tidak akan jalankan profesi ini.."
"Sayangnya sebagian besar dari kami, adalah orang buta huruf."
__ADS_1
"Kami hanya sekumpulan orang kasar, yang tidak punya keahlian, jadi selain profesi ini, kami sudah tidak tahu mau kerja apa lagi ?"
Ucapan Pria mata satu itu, mendapatkan sambutan ramai dari rekan rekannya yang lain.
Mereka pada setuju dengan pendapat si mata satu.
Guo Yun menatap mereka sejenak kemudian berkata,
"Kalian yang berusia di atas 40 tahun coba keluar dari barisan.."
Sesaat kemudian 20 orang bajak sungai, memisahkan diri dari temannya, berjalan maju kedepan.
Guo Yun menghitung jumlah mereka, yang hampir mencapai dua puluh orang lebih, lalu dia berkata,
"Ini ada sedikit uang, kalian bagi rata, pulanglah kedesa kalian masing masing, cobalah untuk berusaha.."
Dua puluhan orang itu langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Guo Yun, mereka menyembah sambil mengucapkan terimakasih.
"Tak perlu seperti itu, ayo kalian semua bangunlah,.."
ucap Guo Yun sambil membantu mereka berdiri.
Guo Yun kemudian menoleh kearah bajak sungai sisanya dan berkata,
"Kalian semuanya pergilah ke kota Xia, temui jendral Zhong Yu, bilang padanya, Guo Yun lah yang menyuruh kalian kesana.."
"Dia pasti akan mengatur pekerjaan buat kalian, di jamin tidak akan kekurangan makan minum pakaian dan tempat tinggal."
"Terimakasih tuan muda Yun, kami akan menuruti anjuran mu pergi kekota Xia.."
jawab si mata satu cepat.
"Siapa nama mu,..?"
"Nama ku Tuo Lung ."
"Baiklah kakak Tuo, kamu Pimpinlah mereka semua berangkat ke kota Xia.."
"Untuk uang perjalanan, kalian bisa ambil apapun yang ada di kapal ini, bagilah secara rata, untuk bekal perjalanan kalian "
"Siap tuan muda Yun terimakasih banyak.."
ucap Tuo Lung sambil memberi hormat, yang langsung di ikuti oleh yang lainnya.
Guo Yun membalas penghormatan mereka dan berkata,
"Sampai jumpa semuanya, bila ada jodoh kita akan bertemu kembali.."
Setelah memberi hormat ke mereka semuanya, Guo Yun pun melayang turun dari kapal besar itu kembali kedalam perahu nya.
Kakek Sian Sian yang sudah terlebih dulu kembali ke perahu, diam diam dia menatap kagum kearah Guo Yun, yang memiliki bakat kepemimpinan yang besar.
Li Kui langsung menjalankan tugas nya mengendalikan perahu bergerak meninggalkan tempat itu.
Sian Sian sudah kembali ke bilik perahu bersenda gurau dengan Li Ba.
Setelah menempuh perjalanan sepanjang malam, akhirnya saat matahari mulai bersinar di ufuk timur.
Perahu kecil mulai merapat di sebuah bagian, yang landai di tepi sungai.
__ADS_1
Tidak jauh dari tepi sungai terlihat sebuah tebing yang menjulang tinggi ke angkasa.
Di mana di tengah tengah Tebing, ada ukiran dua huruf besar, yang berderet rapi.
Tulisan itu terdiri dari dua kata, huruf Ling dan huruf San, yang artinya Gunung Ling.
Saat perahu merapat, terlihat 4 pemuda yang memakai seragam putih, dengan rambut di Gelung keatas, ala pendeta Taoisme.
Mereka berempat berdiri di sana, menyambut kedatangan tamu dengan penuh hormat.
"Maaf,. tuan tuan datang ketempat kami, kira kira ada urusan apa yang bisa kami bantu..?"
ucap salah satu dari keempat pemuda itu sopan.
Saat melihat Guo Yun melompat turun dari atas perahu.
Guo Yun segera bergerak maju memberi hormat dan berkata,
"Kami datang karena ingin belajar di Zhuangzi Su Yuan, ini adalah tanda pengenal kami.."
Guo Yun mengeluarkan plakat hitam, yang di berikan oleh kakek tua yang ditemuinya di restoran.
Melihat plakat itu keempat pemuda itu sangat terkejut.
Mereka buru buru memberi hormat dengan membungkukkan badannya dalam dalam dan berkata,
"Maaf kami tidak tahu, yang datang adalah tamu istimewa, silahkan lewat sebelah sini tuan.."
Salah satu pemuda yang mungkin adalah pimpinan diantara keempat orang itu.
Dia segera menjadi penunjuk jalan buat Guo Yun.
Guo Yun menoleh kearah perahu dan berkata,
"Adik Ba ayo,..!"
Li Ba menoleh kearah Sian Sian dan berkata,
"A..ayo Sian er,.. Ka..kakak gendong mau..?"
Sian Sian sambil tertawa gembira Langsung melompat kepunggung Li Ba.
Sesaat kemudian terlihat Li Ba melompat ringan turun dari atas kapal, sambil menggendong Sian Sian di punggungnya.
Kakek Sian Sian menyusul berjalan santai di belakang Li Ba.
Melihat rombongan nya sudah turun dari atas perahu, Guo Yun pun menatap pemuda yang menjadi pimpinan keempat orang itu, dan memberikan penjelasan,
"Kedua orang itu adalah rekan ku, sedangkan kakek itu, adalah kakek dari teman kecil kami itu.."
ucap Guo Yun memberikan penjelasan.
Tapi keempat pemuda itu saat melihat kemunculan kakek Sian Sian.
Mereka buru-buru memberi hormat dengan membungkukkan badannya dalam dalam dan berkata,
"Kakek Huang apa kabar mu ?"
"Maaf kami tidak tahu kakek Huang sendiri yang datang berkunjung, sehingga kami terlambat memberikan sambutan.."
__ADS_1
"Silahkan kakek Huang, guru besar kami sudah menanti kedatangan anda, di tempat biasa.."
ucap pemimpin kelompok itu dengan penuh hormat.