
"Setan tua, kenapa diam saja..? ayo kita kejar..!"
ucap Wu Ti Siaw Jen kurang puas.
"Kamu mau kejar, kejar aja sendiri, aku belum mau mati, sebelum melihat dan melatih cicit ku ."
ucap Cui Ming Koai Jen dengan suara datar dan dingin.
"Ehh setan tua, kamu makin tua kenapa jadi penakut ya..?"
"Susah payah kita menyepi dan berlatih, itu lawan tangguh di depan mata, kamu malah mundur."
ucap Wu Ti Siaw Jen mengomel tidak puas.
Cui Ming Koai Jen tidak mau menanggapinya, dia menoleh kearah Li Kui dan berkata dengan suaranya yang dingin dan datar,
"Sudah hampir 3 tahun kamu bawa dia mutar mutar.."
"Ku lihat perutnya juga masih datar, bila tiba waktunya belum ada hasil.."
"Jangan salahkan aku, kamu aku jadikan suami kedua dan menjadi madu cucu Ku.."
Li Kui tertunduk, bahkan tidak berani bersuara.
"Kakek ini mulai lagi deh, paling bisa menindas suami ku.."
ucap Cu Cu menegurnya tidak puas.
"Kakek urusan seperti itu, bila belum waktunya, tidak akan bisa di paksa.."
"Biarpun kami hidup puluhan tahun di pulau, kalau belum ada, ya belum ada.."
"Sudah cepat pulang sana ke pulau, dasar memalukan, sama si topeng itu saja takut.."
"Masih lebih berani kakek paman, biar kecil tapi nyali nya begini.."
ucap Cu Cu mencari pendukung, dengan mengacungkan jempolnya kearah Wu Ti Siaw Jen.
Tentu saja hidung Wu Ti Siaw Jen menjadi Bangir, dia paling doyan di puji.
Bila sudah di puji, dia pasti lupa daratan, ini ada hubungannya dengan rasa minder nya yang terlahir cebol.
Sehingga membuatnya agak over narsis, untuk menutupi rasa minder nya.
"Lihat cucu mu sendiri aja malu, dasar memalukan.."
"Masih berani meremehkan murid ku.."
"Berani kamu menjadikan dia madu, aku akan menghabiskan siapapun yang kamu pilih untuk menggantikan nya..!"
teriak Wu Ti Siaw Jen melampiaskan rasa keki nya.
Cui Ming Koai Jen malas melayaninya, apalagi di sana ada si kompor kecil Cu Cu, yang pandai bicara.
Cui Ming Koai Jen melampiaskan rasa mendongkol nya dengan menendang pantat Li Kui.
"Dessss,..!"
"Byuur..!"
Li Kui yang malang langsung terbang melayang tercebur kedalam sungai.
Li Kui mana berani melawan, bersuara pun tidak.
Dia langsung berenang kearah kapal, yang menantinya di pinggir sungai, lalu melompat ringan naik keatas perahu.
__ADS_1
"Kakek..! mengapa kakek selalu suka menyiksa kakak Kui..!"
"Aku benci kakek..!"
bentak Cu Cu dengan wajah merah, kemudian membanting kakinya dengan kesal.
Setelah itu, Cu Cu langsung melesat kearah kapal.
Setelah tiba di atas kapal, dia langsung membentak anak buah kapal.
"Ayo kita berangkat, tak usah perdulikan mereka..!"
Anak buah kapal mengangguk, lalu buru-buru pergi bersiap siap menggerakkan kapal meninggalkan tempat itu.
"Cu Cu tak boleh begitu sama kakek, dia meski kasar sikapnya.."
"Tapi di mulut dan di hati berbeda, buktinya tendangannya tadi adalah membantu menyalurkan tenaga sakti, mengobati luka dalam ku.."
ucap Li Kui mengingatkan Cu Cu.
"Tapi aku tidak terima, dia bersikap begitu pada mu.."
ucap Cu Cu dengan wajah cemberut.
Li Kui tersenyum lembut, lalu merangkul Cu Cu berjalan masuk kedalam bilik kapal dan berkata,
"Sudahlah jangan marah marah dan merusak kesehatan, aku tahu kamu paling perduli dan sayang dengan ku.."
"Terimakasih ya, daripada marah marah, lebih baik saya bantu pijitin di dalam kamar.."
Cu Cu menahan senyum, lalu mengikuti ajakan Li Kui masuk kedalam kamar.
Cui Ming Koai Jen, mendengus dingin.
Dia mendarat ringan di bagian menara pemantau kapal yang paling tinggi.
Begitu pula dengan Wu Ti Siaw Jen yang kini bisa tersenyum lebar, melihat kekesalan kakaknya.
Dia juga terbang menyusul, lalu mendarat diatas atap geladak kapal paling tinggi.
Di sana dia duduk bersila, menenangkan guncangan akibat benturan keras, yang di terimanya dari si topeng emas.
Di tempat lain, setelah kembali ke kesatuan pasukan Qin, si topeng emas menurunkan Lu Bu Wei dan berkata kepada Bai Qi.
"Paman Lu terluka, carikan kereta buat kami, segera putar arah kembali ke Chang Ping Kuan.."
"Bai Qi mengangguk cepat, lalu pergi mempersiapkan segala sesuatunya.
Tak lama kemudian rombongan pasukan Qin, di bawah pimpinan Bai Qi memutar arah mengambil jalan kembali kearah barat, langsung menuju Chang Ping Kuan.
"Yun Er kamu sudah berhasil mengambil Chang Ping Kuan dari Li Mu..?"
tanya Lu Bu Wei sedikit kaget.
Dia tidak menyangka begitu cepatnya.
Guo Yun sudah mengambil berturut turut, dua kota terpenting dari Kerajaan Zhao.
Kelihatannya menahlukkan kerajaan Zhao hanya menunggu waktu, pikir Lu Bu Wei dalam hati.
Guo Yun benar benar jimatnya yang sangat berharga.
Hari ini bila Guo Yun tidak datang tepat waktu.
Nyawa kecilnya pasti tak akan terselamatkan dari tangan ganas dua manusia aneh itu.
__ADS_1
Guo Yun hanya tersenyum dan mengangguk kecil, tiba-tiba Guo Yun batuk batuk kecil.
Muntahkan darah segar, lalu dia langsung terguling roboh tidak sadarkan diri.
"Ehh Yun er kamu kenapa..!?"
panggil Lu Bu Wei panik.
Dia buru buru memeriksa kondisi Guo Yun, tapi setelah memeriksa dengan teliti.
Di mana dia mendapat kenyataan Guo Yun baik baik saja, hanya pingsan karena lelah saja.
Lu Bu Wei pun tersenyum lega dan puas.
Dia sendiri kemudian ikut duduk bersila memejamkan matanya.
Keseluruhan pertandingan dahsyat itu tidak terlihat, karena tertutup oleh debu pasir dan batu.
Di mana memang sengaja di ciptakan oleh Guo Yun, agar tidak ada yang melihat ilmu rahasia lembah hantu nya.
Selain mereka bertiga yang mengalami langsung tidak ada yang melihat apa yang terjadi dalam pertarungan itu.
Hanya mereka bertiga yang paham siapa menang siapa kalah.
Tidak terkecuali Lu Bu Wei Cu Cu dan Li Kui yang menyaksikan dari jarak dekat.
Saat memasuki Chang Ping Kuan, baik Lu Bu Wei maupun Guo Yun sudah segar kembali.
Mereka langsung mengadakan rapat darurat, untuk merencanakan strategi menahlukkan kerajaan Zhao.
Sepanjang rapat, Guo Yun hanya diam menjadi pendengar tanpa berkata-kata.
Membiarkan rapat sepenuhnya, di pimpin oleh Lu Bu Wei.
"Bagaimana pendapat kalian, ? aku yakin setelah pembantaian saat menahlukkan Shangdang dan Chang Ping Kuan."
"Pasukan Zhao sudah jauh berkurang tinggal sedikit saja.."
"Mereka pasti memilih bertahan mati matian di dalam benteng."
"Bila kita memaksa, korban di pihak kita, pasti akan jauh lebih banyak.."
"Bagaimana menurut pendapat kalian,? apa yang sebaiknya kita lakukan..?"
tanya Lu Bu Wei sambil menatap semua jendral yang hadir di sana.
Bagaimana menurut mu Jendral Bai?"
Tanya Lu Bu Wei, sambil menunggu penjelasan dari pendapat Bai Qi.
Bai Qi menunjuk kearah kota Handan dan berkata,
"Bantai habis..!"
"Kepung dari empat arah, habisi semua pria di sana tanpa sisa, wanitanya buat pasukan kita.."
Mendengar ucapan Bai Qi, Guo Yun tidak berkata-kata,
"Dia hanya sedikit mengerutkan alisnya.."
Membantai pria, dia masih bisa terima, tapi menganggu wanita.
Guo Yun jelas tidak suka.
Cukup dirinya menjadi monster wanita, dia tidak ingin pasukan Qin ikut ikutan menjadi monster seperti dirinya.
__ADS_1