
Hingga tiba di penghujung peta, di mana saat gulungan terakhir di buka.
Di sana terlihat sebatang pedang pendek yang bersinar kehijauan.
Terlihat tergeletak di sana, raja Ying Zheng sangat kaget melihat pedang pendek itu.
Sebelum dia sempat berbuat sesuatu, Ching Ke sudah mencengkram kerah baju Ying Zheng dengan tangan kirinya.
Di saat bersamaan tangan kanannya menyambar pedang pendek dalam gulungan peta.
Secepat kilat langsung, dia tusukan kearah leher Ying Zheng.
Tai manusia berencana tuhan berkehendak, mungkin karena belum takdirnya Ying Zheng untuk mampus di tangan pembunuh elite Ching Ke, pendekar pedang nomer satu kerajaan Yan.
Di saat kritis itu, lengan Ching Ke yang mencengkram kerah baju Ying Zheng tertebas putus oleh telapak tangan Lu Bu Wei yang berada di sisi Ying Zheng.
"Crasssh..!"
"Krakkkk..!"
Sedangkan tikaman pedang itu patah menjadi tiga potong, saat bertemu dengan telapak tangan Lu Bu Wei, yang keras melebihi baja.
Kibasan lengan baju Lu Bu Wei, membuat tubuh Ching Ke, langsung terpental ketengah ruangan.
Dengan tiga potongan patahan pedang menancap di bagian depan tubuh Ching Ke.
Ching Ke langsung tergeletak di tengah ruangan dengan wajah menghijau .
Dia tewas seketika oleh racun pedangnya sendiri.
Ying Zheng sendiri dengan wajah pucat pasi, langsung di ungsikan oleh Bai Qi keempat Ajudannya di bawah pengawasan Lu Bu Wei langsung.
Acara sidang istana tersebut langsung di bubarkan, pasukan penjaga di luar pintu ruang sidang.
Langsung berhamburan masuk kedalam ruangan, mengamankan situasi, sekaligus mengurus jasad Ching Ke yang sudah tewas.
Setelah tiba di kamar pribadinya, Ying Zheng yang sudah jauh lebih tenang berkata,
"Ayah angkat, terimakasih kamu telah datang tepat waktu, bila tidak akibatnya tentu akan fatal.."
Lu Bu Wei menepuk bahu putranya dan berkata,
"Aku ayah mu juga perdana menteri mu, melindungi dan memastikan keselamatan mu, tentu saja adalah tugas dan tanggung jawab ku.."
"Sudahlah kamu beristirahat saja dengan tenang.."
ucap Lu Bu Wei sambil tersenyum lembut.
Ying Zheng menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah pintu, yang di lakukan oleh pengawal penjaga di depan pintu.
"Yang Mulia Ibunda Ratu Zhao tiba...!"
__ADS_1
Mendengar suara itu, Ying Zheng buru buru bangkit berdiri, kemudian berjalan keluar dari kamar tidurnya.
Untuk menyambut kedatangan ibu kandungnya, Ibunda ratu Zhao Ji.
Terlihat seorang wanita yang sangat cantik dan anggun.
Meski dia sebenarnya sudah berusia 40 an tahun lebih, tapi dia masih terlihat seperti seorang wanita, yang baru berumur 28 hingga 30 tahun saja.
Raja Ying Zheng langsung bersujud di depan kaki wanita yang baru saja tiba itu.
"Ananda memberi hormat pada Ibunda ratu yang mulia.."
ucap Ying Zheng penuh hormat.
"Silahkan berdiri putra ku.."
"Ibunda dengar kamu hampir di celakai oleh pembunuh yang di utus oleh kerajaan Yan.."
"Apa kamu baik baik saja..?"
tanya ratu cantik itu cemas.
Ying Zheng berdiri sambil memberi hormat, dengan badan sedikit membungkuk dia berkata,
"Berkat doa ibu dan perlindungan perdana menteri Lu, ananda dalam keadaan baik baik saja."
Ibu suri cantik itu menatap kearah Lu Bu Wei dengan tatapan mata penuh terimakasih yang sulit di ungkapkan lewat kata-kata.
Saat beradu pandang dengan Lu Bu Wei.
Lu Bu Wei hanya mengangguk kecil dan tersenyum mesra membalas tatapan wanita cantik itu.
"Paduka dan Ibunda ratu pasti ingin berbicara banyak, bila tidak ada hal lain.."
"Lebih baik saya permisi dulu.."
ucap Lu Bu Wei sambil tersenyum lembut menatap Ibunda ratu dan Ying Zheng secara bergantian.
Setelah itu dia langsung mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Ying Zheng mengangguk tidak membantah, sedangkan Ibunda ratu, diam diam melemparkan senyum mesra kepada Lu Bu Wei.
Sebelum pria setengah tua itu meninggalkan ruangan tersebut.
Lu Bu Wei setelah meninggal kan istana, dia langsung kembali ke kediaman nya.
Beberapa waktu setelah kembali ke kediaman nya, Lu Bu Wei yang sedang asyik membaca buku strategi dan politik negara.
Mendengar lemari tempat penyimpanan bukunya berderak pelan.
Sesaat kemudian dari balik lemari penyimpanan buku yang bergeser terbuka secara otomatis.
Terlihat seorang wanita cantik yang berpakaian tipis transparan melangkah keluar dari balik lemari.
__ADS_1
Lu Bu Wei saat melihat siapa yang keluar dari balik jalan rahasia, sambil tersenyum lembut, dia meletakkan buku yang sedang di baca nya dan berkata,
"Ji er..kamu sudah datang, kemarilah.."
Wanita cantik itu sambil tersenyum manis, dengan langkah anggun, dia mengambil tempat duduk.
Duduk menyamping dalam pangkuan Lu Bu Wei, sambil melingkarkan tangannya yang putih mulus di leher Lu Bu Wei.
"Sayang kamu jahat, setelah pulang mengapa tidak mengunjungi ku.."
"Malah asyik membaca seorang diri di sini.."
"Apa buku buku ini sekarang sudah lebih penting dari ku..?"
ucap wanita cantik itu mengeluh manja.
Tapi meski sedang mengeluh sekalipun, wajahnya tetap terlihat sangat cantik dan menawan.
Justru saat bibirnya di cemberutkan, dia malah semakin terlihat menggemaskan dan menggoda Lu Bu Wei untuk mendaratkan ciuman lembut di sana
Beberapa saat mereka berdua larut dalam ciuman lembut dan hangat, meluapkan perasaan masing-masing.
Lu Bu Wei sambil berciuman memondong tubuh wanita cantik yang aduhai itu.
Menuju ruang peristirahatan pribadinya, setelah merebahkan wanita cantik itu diatas ranjangnya.
Satu persatu pakaian mereka berdua mulai beterbangan keluar dari balik ranjang.
"Owhh,..Wei ke ke kamu tetaplah yang terbaik, aku sangat sangat mencintai mu.."
terdengar suara desah manja suara wanita itu dari balik ranjang..
"Hmmphhmm,..! Ji Er kamu juga semakin luar biasa, ada kamu di sisi ku, rasanya hidup ku, juga sudah tidak ada penyesalan lagi.."
"Owhh,.. Wei ke ke ampun..geli.."
ucap suara wanita cantik itu, sambil men de sah sekaligus terkekeh geli.
Di balik kelambu ranjang Lu Bu Wei, terlihat sesosok wanita sedang terbaring tengkurap dengan tubuh polos sempurna.
Bagian belakang tubuhnya yang menghadap kearah Lu Bu Wei terlihat lekuk lengkung yang sangat ideal dan sempurna.
Dari ujung leher hingga ke ujung kaki yang di biarkan terbuka, terlihat kulit yang begitu putih halus licin sempurna tanpa ada cacat sedikitpun.
Seperti sekotong patung ukir pualam putih yang sangat sempurna.
Hanya saja yang ini jelas jauh lebih sempurna, karena patung pualam keras dan dingin.
Sedangkan yang ini jelas berbeda dia halus lembut dan hangat.
Lu Bu Wei terlihat sedang menggunakan bulu merak mengoleskan madu di mulai dari ujung jari kaki wanita itu.
Lalu mengecup dan menciumnya dengan lembut, meng hi sap, hingga menyapu bersih seluruh madu manis dijari kaki, yang hangat lembut dan halus itu.
__ADS_1