
Ching Ke menusukkan pedangnya dari 8 arah dengan 8 bayangan dirinya.
Melihat hal ini, Fan Wu Ji menarik kembali putaran tombaknya, lalu memutarnya seperti baling baling.
Untuk mengelilingi seluruh tubuhnya, menangkis serangan 8 penjuru yang di lancarkan oleh Ching Ke.
"Trangggg...!"
"Trangggg...!"
"Trangggg...!"
"Trangggg...!"
"Tringgg..!"
"Tringgg..!"
"Tringgg..!"
"Tringgg..!"
Fan Wu Ji sambil menangkis, sepasang matanya, melirik dan memperhatikan ke 8 bayangan yang mengurung diri nya dari 8 penjuru.
Tiba tiba Fan Wu Ji memutar tubuhnya menghadap kebelakang, langsung melancarkan serangan tombaknya.
Tombak nya berputar-putar di udara, menarik air hujan gerimis, yang mulai turun membasahi arena pertarungan mereka berdua.
Air gerimis yang tertarik membentuk pusaran air lebih dulu terdorong kearah wajah Ching Ke.
Mengaburkan penglihatan nya, sedangkan tombak yang datang bagaikan mata bor menyusul air yang menghalangi pandangan Ching Ke.
"Crakkkk,..!"
Tombak menusuk sebuah tiang kayu penyangga bangunan paviliun, tempat mereka berdua makan minum dan mengobrol tadi.
Begitu serangan gagal menemui sasaran, tiang penyangga yang menjadi sasaran itu langsung meledak hancur berkeping keping.
Di saat bersamaan, Ching Ke membalas dengan melepaskan pedang nya, berputaran bebas di udara.
Kembali menyerang dari 8 arah, mengelilingi tubuh Fan Wu Ji, hingga Fan Wu Ji terpaksa melepaskan tombak di tangan nya.
Sambil melompat mundur menjauhi serangan yang di lepaskan oleh Ching Ke.
Pedang Ching Ke yang berputaran di udara, tanpa menemui sasaran.
Terbang kembali kedalam genggaman tangan Ching Ke.
"Singggg...!"
Pedang di tangan Ching Ke di dorong kedepan tepat menempel di leher Fan Wu Ji yang telah kehilangan senjata tombaknya.
Fan Wu Ji mengangguk dan tersenyum puas, dia menatap kearah Ching Ke dan tersenyum penuh arti.
Lalu bergerak maju kedepan sehingga pedang Ching Ke tepat menembus tenggorokannya.
__ADS_1
Hingga ujung pedang menembus keluar dari tengkuk Fan Wu Ji.
Dengan darah muncrat kemana mana.
Kepala Fan Wu Ji sesaat kemudian sudah lepas dari lehernya.
Sebelum jatuh menggelinding diatas tanah, sebuah kantong kain putih yang di siapkan oleh Ching Ke.
Langsung menampung kepala Jendral gagah perkasa tersebut.
Sambil tersenyum sedih, Ching Ke berkata,
"Selamat jalan sahabat ku, semoga aku tidak akan mengecewakan harapan mu.
Beberapa saat kemudian, Ching Ke terlihat bergerak keluar dari kediaman Fan Wu Ji.
Sambil membawa sebuah kotak kayu persegi 4 yang berukiran halus.
Keesokan paginya di tepi sungai Yi, terlihat pangeran Dan dan rakyat kerajaan Yan.
Mereka mengenakan baju putih, sebagai pakaian berkabung bagi pahlawan mereka yang pergi menjalankan tugas mulia.
Dalam misi membunuh Ying Zheng demi menyelamatkan negeri Yan dari kehancuran di tangan tirani Qin.
Pangeran Dan dan rakyat kerajaan Yan, berlutut di tepi sungai Yi melepas kepergian pahlawan dari negeri mereka.
Ching Ke yang berdiri di ujung perahu sambil meminum arak perpisahan, dia bersenandung dengan suaranya yang lembut.
Membawakan sebait puisi,
"Melepas kepergian ku, yang tidak akan pernah kembali.."
Seiring suara Ching Ke yang semakin menjauh, perahu yang di tumpangi Ching Ke pun sudah membawanya meninggalkan tempat tersebut.
Ching Ke sambil tersenyum sedih menatap langit dan berkata,
"Li Er Yun Er guru,..apa kabar kalian semua.."
"Semoga kalian hidup berbahagia semuanya.."
Ching Ke sambil tersenyum sedih membawa sebuah kotak kayu dan sebuah gulungan peta, melangkah masuk kedalam bilik perahu.
Pagi itu di depan anak tangga menuju bangunan utama istana Qin.
Terlihat Ching Ke di temani oleh asistennya Qin Wu Yang berdiri di bagian paling bawah anak tangga.
Sepanjang kiri kanan anak tangga terlihat pasukan elite Lu Bu Wei berbaris rapi di sana.
Menyambut kedatangan Utusan kerajaan Yan, di wakili oleh Ching Ke dan Qin Wu Yang.
Karpet merah di gelar ditengah tengah anak tangga, untuk menyambut kedatangan Ching Ke dan Qin Wu Yang.
Suara tabuhan genderang bertalu talu dan hentakan ujung tombak di atas lantai gegap gempita menyambut kedatangan mereka berdua.
Ching Ke terlihat sangat tenang dan gagah, wajahnya yang memang pada dasarnya sangat tampan.
__ADS_1
Kini terlihat semakin tampan dan gagah.
Sebaliknya asistennya Qin Wu Yang yang bertugas membawa kotak kayu dan gulungan peta Du Kang, justru terlihat sebaliknya.
Dia terlihat sangat gugup, hingga keringat sebesar biji jagung membasahi seluruh wajahnya.
Wajahnya terlihat pucat pasi, bibirnya gemetaran.
Dia bahkan sulit untuk melangkahkan kakinya.
Saat melihat keangkeran pasukan elite Lu Bu Wei dan kemegahan istana kerajaan Qin yang begitu agung di atas sana.
Melihat keadaan rekannya, Ching Ke akhirnya berkata pelan,
"Saudara Wu Yang kamu tunggu saja di sini, kotak dan peta serahkan saja kepada ku.."
Qin Wu Yang tanpa berkata-kata, dia langsung menyerahkan kotak dan peta kepada Ching Ke.
Meski merasa sangat malu menyesal dan merasa sangat tidak berguna.
Tapi apa mau di kata, dia hanya bisa pasrah, karena kedua kakinya tidak bersedia menuruti perintah pikiran dan kehendaknya.
Qin Wu Yang hanya bisa melepas kepergian sahabatnya dengan tatapan mata penuh rasa malu.
Ching Ke setelah menerima kotak dan gulungan peta Du Kang, dia melangkah gagah, menaiki anak tangga menuju ruangan sidang utama kerajaan Qin.
Saat tiba di penghujung anak tangga, berdiri di halaman luas di depan bangunan ruang sidang utama.
Ching Ke sempat menghentikan langkahnya sejenak, menatap kearah bangunan yang megah dan agung tersebut.
Sesaat kemudian Ching Ke baru meneruskan langkah nya memasuki pintu ruangan sidang istana yang megah dan di jaga dengan ketat oleh pasukan elite Lu Bu Wei.
Saat berpapasan dengan mereka, sekilas lihat pun Ching Ke bisa menebak, seragam yang di kenakan oleh pasukan elite itu sangat tidak biasa.
Ching Ke menebak itu pasti adalah seragam anti senjata tajam yang di desain khusus untuk pasukan elite kerajaan Qin.
Di dalam hati Ching Ke berpikir, pantas saja Tidak ada kerajaan yang sanggup berhadapan dengan pasukan Qin.
Mungkin ini adalah salah satu penyebabnya, teknologi militer Qin jauh lebih maju ketimbang militer kerajaan kerajaan lainnya.
Ching Ke terus berjalan hingga kehadapan raja Qin Ying Zheng.
Dia menjatuhkan diri berlutut di bawah sana menyembah Ying Zheng dan berkata,
"Hamba Ching Ke yang rendah mewakili negara Yan yang mengakui kedaulatan negara Qin.."
"Memberi hormat kepada Yang Mulia Raja Qin, semoga Raja Qin panjang umur dan sehat sejahtera selama lamanya.."
Ying Zheng yang terlihat gembira, tersenyum senang dan berkata,
"Saudara Ching Ke tak perlu banyak peradatan, berdirilah.."
"Katakan saja langsung maksud dan tujuan kedatangan mu ini.."
ucap Raja Ying Zheng yang merasa di atas angin dengan gembira.
__ADS_1